TANTE YAYA

TANTE YAYA
Borong Kain


__ADS_3

Hari itu diam-diam Rani bergegas pulang, mukanya merah padam menahan amarah dan rasa sakit yang di pendam. Firman baru menyadari Rani tak lagi di rumah orangtuanya setelah setengah perjalanan Rani menuju Rumah dan membaca SMS Rani,


[11.01] "Aku pulang"


Persis kumandang adzan dhuhur langkah kaki Rani bergegas masuk ke dalam rumah, setelah mendorong pagar tralis besi berwarna coklat yang baru di cat Mama, melihat itu Mama Rani penasaran.


"Kenapa Ran?"


"Mana suamimu?"


"Dia pergi piket nungguin kantor jadi kuncen!" seru Rani kesal.


"Kenapa kesal gitu?"


Ranti memasuki teras mengikuti Radit anaknya,


"Tau nggak Ma, baju-baju aku yang kemarin di karungi itu ternyata nggak dikirim ke kampungnya Firman, malah di pake Yani, Yanti, Yeni. Katanya mereka nggak suka lihat penampilanku yang nggak sekufu dengan mereka, tapi nyatanya baju-bajuku di embat juga!" Seloroh Rani kecewa, wajahnya terlihat memerah menahan emosi,


Ranti yang mendengar cerita Rani ikut menahan kesal.


"Kurang ajar! bukannya melindungi istri malah nguras morotin harta istri! ih dasar!" gumam Ranti,


"Mending kalau ganteng, udah mah buntet, numpang hidup pula, dasar gak tau malu!" Gumam Ranti dalam hati.


Sepertinya Rantipun ingin berkata kasar, namun ia masih menghargai Rani.


...


"Terus janji dia beliin baju arab itu gimana?."Tanya mama.


"Ya, cuma yang aku pake kemarin mah, mas Firman cerita ketemu orang arab saat sholat berjamaah, dia mau menyedekahkan baju-bajunya yang dia bawa termasuk yang kemarin aku pakai, rencananya itu baju untuk dipakai imam masjid itu tapi sayang imam masjid itu badannya kecil dan pendek jadi bajunya kebesaran, dan dia minta Mas Firman ngasihin sama orang yang mau pake biar lebih berkah katanya berhubung ga ada orang yang mau pake jadinya dia bawa tu baju ke rumah dan dikasihin ke aku."

__ADS_1


Ujar Rani panjang lebar, terlihat dadanya timbul tenggelam saat bercerita ia berusaha menahan emosi dalam kebingungan.


"Aku punya uang tabungan dikit Mah, kalau dibelikan baju hanya cuma dapet 1 stel buat aku kerja, gimana ya?"


"Beli kain kiloan aja di Toko Kain Kiloan, beli satu stelan tapi di kilo, jahit sendiri tu mesin jahit kan ada. Abis sholat kita pergi" tambah mama berusaha tenang.


Setelah mama siap, mereka bergegas pergi ke Toko Kain Kiloan perjalanan cukup dengan 1 kali angkutan kota, tak lama Rani dan Mama sudah berada di deretan toko-toko kain dan berhenti di salah satu toko, Rani memilih dan memilah kain-kain stelan beberapa corak yang akan segera di kilo. Tertera angka digital di timbangan 158.900.


"Jadi berapa Bang?"


"Semuanya di bulatkan jadi 150 ribu"


Rani mengeluarkan uang dari dompet 3 lembar uang lima puluh ribuan, tersisa di dompet 3 lembar lagi.


"Alhamdulillah hari ini ngeborong kain dapet 5 stelan lah, kalau kurang nanti balik lagi kesini." ujar mama.


Selesai sholat ashar mereka sudah berada kembali di rumah, mamah mengambil air wudhu dan sholat, Rani kembali ke kamar dan melihat lemarinya kosong melompong, ada rasa seperti tersayat dalam hatinya dan dadanya terasa sesak. Tangannya terus-terusan mengusap mata dengan kain mukenanya yang perlahan basah dan matanya sembab.


...


Rani mencoba menyesuaikan cutting dengan model tunik sesuai selera Rani. Bukan kebetulan ukuran badan mama dan dirinya tak jauh beda hanya tinggal menambahkan panjang badannya saja karena Rani berpostur tinggi sedangkan mama lebih pendek darinya.


Setelah kain di potong, mama coba menjahitnya dan tepat pukul 9 malam saat Firman pulang. Jadilah satu baju atasan yang siap di pakai Rani untuk kerja.


"Besok pagi ke tukang obras di depan jalan dan tinggal di rapihin." Ujar Mama seraya melihat menantunya datang membawa ransel yang tak lepas kemanapun dia pergi.


Rani tahu Mama gak bisa jahit celana lantas, teringat Kang Afif penjahit celana langganan Rani yang cocok hasil jahitan dan cuttingnya pass di pakai Rani,


"Bahan celananya gimana ya mah?"


"Besok pergi ke kang Afif aja tetangga kita dulu di rumah lama."

__ADS_1


"Oiya, suaminya teh Ani"


"Iya, Kang Afif bisa express sesuai kita minta, bilang aja mau di pake 3 hari lagi gitu pasti di prioritasin"


"Iya" sahut Rani pendek.


Lanjut Rani memotong kain yang lain, sementara Firman masuk ke kamar depan, setelah melihat Mama dan Rani sibuk dengan kain.


Pintu kamar di tutup, selang setengah jam handphone Rani berdering, dan Rani abaikan.


Handphone Rani berdering lagi berkali-kali, Rani lihat suaminya menelpon dari kamar hanya terhalang tembok dan pintu kamar dengan posisi Rani berada.


Mama bertanya,


"Siapa?"


"Firman mah kayaknya pengen di anterin makanan!"


"Subhanallah! cuma kehalang tembok aja pake misscall miscall segala keluar kamar kenapa? kaya pangeran aja mesti di asongin makan di kamar!" Mama menggerutu kesal.


Rani berdiri dan membuka pintu kamarnya,


"Ada apa misscall-misscall segala?"


"Hehee .. apa kabar, kan aku kangen sama kamu?" Mulut monyongnya Firman membentuk raut wajah merajuk manja, Firman berusaha bertingkah menutupi rasa bersalahnya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa sepanjang hari itu, antara Rani, adik-adiknya, dirinya dan Mama Rani.


...


Apa yang terasa dalam dadamu setelah membaca part ini?


#truestory #tobecontinue

__ADS_1


__ADS_2