
Dalam sebuah obrolan saat makan bareng selepas Firman membawa dan membuka nasi box selepas rapat dari kantor yayasan untuk ketiga adik perempuannya,
"Koq aku kurang suka ya mas, lihat cara pake baju kak Rani, pake celana jeans, high heels meski pake baju tunik atau blazer kerja dan kerudung mbok ya menyesuaikan dia kawin dengan siapa", Ujar Yanti adik perempuan Firman dengan mulut penuh makanan sambil menggigit tulang ayam dan mengunyahnya.
Yanti adik perempuan kedua yang belum menikah di usianya yang ke 45 cukup pedas kalau ngasih kritik.
"Iya, padahal apa salahnya pake rok dan baju kurung kayak kita" timpal Yani masih adik perempuannya Firman yang sama-sama masih jomblo di usianya yang ke 48.
"Kalo aku sih di kasih bajunya juga gak apa-apa, soalnya bagus-bagus hehe", tambah Yeni adik bungsu Firman seusia Rani menyela.
Firman terdiam, dia mengakui baju yang Rani pakai bagus-bagus dan bermerk termasuk jaketnya yang saat itu ia pakai dari sejak hari kedua pernikahannya dengan Rani jadi piala bergilir antara Firman dan ketiga adiknya berebutan.
...
Rani bersiap ke kantor, setelah ia mandi masih dengan balutan handuk yang melekat menutupi 3/4 badannya, ia memilih baju dan membuka lemarinya yang sejak remaja ia miliki, hanya 2 pintu namun ke 3 susunan sebelah kanan lemari terisi penuh sementara 1 susun sisi kiri ataspun penuh juga ditambah dengan baju yang menggantung sisi bawah kiri.
Firman melihat isi lemari Rani yang penuh dengan baju-baju yang cukup bermerk seperti jeans Lea, Lee Cooper, Tira, Calvin Klein, Hush Puppies, Dickens dan brand-brand lainnya.
Pikiran manipulatifnya mulai bekerja,
"Aku ada gamis dari arab, kamu kayaknya lebih bagus pake itu deh daripada baju-baju dalam lemarimu itu."
"Ini masih di pake mas, dan sebagian besar baju kerja."
"Kerja pake gamis juga kayaknya gak masalah! karena lingkungan kantormu area yayasan pendidikan, jadi nggak bakalan aneh kalau pake gamis arab."
Rani terdiam,
"Kamu mau kan pahala yang besar? selain nurut apa kata suami, shodaqoh barang-barang yang kamu sayangpun jadi pahala lho." Tukas Firman.
...
Pagi itu Rani tak menggubris Firman, karena ia pikir, ia belum mampu beli baju baru karena nafkah bulanan dari Firman sebesar 50 ribu tak cukup untuk beli baju dan pastinya Firman akan sangat keberatan. Maka ia harus berusaha bekerja keras untuk mencari event untuk ia garap agar mendapat uang tambahan untuk membeli baju baru yang sesuai keinginan Firman.
...
Beberapa hari kemudian,
__ADS_1
"Bibiku Bi Wati dari kampung sedang berkunjung ketemu Bapak disini, Kalau kamu ikhlasin baju-bajumu disana banyak sekali orang yang membutuhkan, dan sumbangan baju kamu bisa sangat berarti buat mereka." Ujar Firman
"Sampai kapan Bi Wati disini?"
"Sampai Rabu sih jadi kamu punya waktu 2 hari ngumpulin dan packing baju-bajunya. Nanti aku carikan karung untuk membawanya."
"Baiklah kalau gitu." Suara Rani lemah.
...
Tiga karung besar terisi penuh dengan baju-baju Rani, dan siap Firman bawa ke rumah ibunya. Mama dan Kakak ipar Rani melihat karung-karung berisi baju itu di ruang tamu.
"Mau dibawa kemana baju-bajumu itu Ran?" tanya mama.
"Mau disumbangkan ke kampungnya mas Firman?"
"Memangnya sudah nggak dipakai?"
"Mama lihat ada yang masih sering kamu pakai disitu, apa sudah kekecilan?"
"Nggak sih mah, Firman yang bilang di kampungnya banyak yang lebih membutuhkan dan nanti Firman ganti bajunya dengan baju-baju yang lebih baik." Tambah Rani setengah hati.
"Sudah di tali mba, dan siap di angkut" Sela Firman keberatan.
Ranti terdiam ..
...
Mobil yayasan sudah nangkring depan rumah, Firman tergopoh mengangkutnya satu persatu dibantu Rani. Mama hanya melihat, begitupun Ranti sambil memangku Anaknya yang masih kecil.
Firman pamit untuk segera mengantarkan baju-baju Rani agar bisa terbawa bi Wati ke kampungnya hari itu juga.
...
Mama masuk rumah, dan melihat lemari Rani yang kosong melompong!.
"Kamu kosongin semua itu Ran?"
__ADS_1
"Iya mah"
"Ngga salah kamu?"
"Nanti kata Firman akan di ganti baju arab" jawab Rani.
"Ya terserahlah" Ujar mama pasrah.
"Bukan kamu banget Ran pake baju gamis obrog-obrog gitu!"
Rani memakai (Thawb) baju gamis pria berwarna abu blusuk dengan saku kiri-kanan. mendapat tatapan aneh dari Ranti.
"Bukan kamu banget deh Ran pake baju gitu, aku paling suka liat kamu pake Blazer tunik, Celana kulot dan Jeans juga udah bikin aku ngiler, kamu tu trensetternya aku" Ujar Ranti yang sebaya dengan Rani sedikit menyesal.
Rani tak menggubris.
...
Setiap hari minggu, merupakan hari wajib Rani untuk mengunjungi mertuanya meski Firman hampir setiap hari bertemu keluarganya tapi jadi ritual wajib Firman membawa Rani bertemu dengan orangtua, adik dan kakaknya.
Masih satu kota dan bisa di tempuh dalam perjalanan tak lebih dari 1 jam. Biasanya Rani mengunjungi mertuanya selepas jogging pagi lalu mampir ke pasar untuk membelikan mertuanya buah tangan.
Tangan Firman menjinjing buah yang di beli Rani dari Pasar, Rani memasuki pagar dari bambu yang sudah di gesernya dengan 2 tangan.
Memasuki ruang tamu pandangan Rani sedikit tertohok. Baju-baju Rani tersusun rapi dengan aneka ragam gantungan baju plastik dan tiga area tumpukan masing-masing tumpukan baju itu bertuliskan nama Yani, Yanti, Yeni!
...
Firman melihat roman Rani yang aneh saat melihat baju-bajunya tergelar di ruang tamu, dengan sedikit gelagapan Firman mengeles,
"Itu bajunya lagi di sortir dulu dibagi-bagi, biar gak kelenger bau lemari", ujar Firman dengan suara terbata-bata. Yanti keluar dari ruang tengah, membawa sepiring nasi dan lauk bermaksud akan makan di ruang depan berpapasan dengan Firman dan kakak iparnya, raut wajahnya mendadak klemer-klemer,
Rani melihat Yanti mengenakan celana permanent press Lea miliknya yang berwarna krem dan tak bisa berkata-kata lagi,
"Eh kak, celananya pas banget di aku, di kakak pasti udah kekecilan ya?" Tukas Yanti dengan muka dableg.
Firman langsung melengos menuju dapur, suara bisikannya pada adik perempuan lainnya masih bisa Rani dengar. Saat itu juga Rani terdiam merasa di khianati.
__ADS_1
...
#tobecontinued #truestory