
"Papih aku beristri dua Tant, aku dibesarin sama mamah istri ke-2 papih di Singapore dan sekolah disana sampai lulus SMA baru aku pindah ke Indo." Ujar Kirey.
"Udah lama jalan sama Abeng?"
"Lumayan tant, cuma Abeng gitu orangnya moody, suka bikin aku kesel."
"Kesel kenapa?"
"Ya hari ini contohnya, aku telpon dia ngga di angkat-angkat. Gara-gara hal sepele dia langsung pulang, padahal semalam Abeng tidur di apart nya aku. Aku kan jadi syedih tant. Sambung Kirey sambil membuang kepulan asap rokok ke arah taman di salah satu resto depan sekolah elite."
"Papih baru beliin aku Pajero, Abeng kurang suka, dia bilang mobil lama juga masih bisa di pake. Kita cekcok tu semaleman. Aku suruh balikin Pajeronya ke Papih, jelas Papih pasti nolak lah Tant... orang mobilnya udah ada di parkiran apart. ku .. drama banget kan,
tant?" Ucap Kirey dengan lengkingan suara manja.
“Papih juga ngasih aku condo tant”
“Terus Condonya sekarang gimana?”
“Baru mau disewain Tant, belum laku” Percakapan Kirey dengan Tante Yaya, Kirey Janda anak satu pacar Abeng adik
bungsu Tante Yaya
...
Rani baru mengantarkan Adisti masuk kelas dan suasana kelas pagi itu belum terlalu ramai, baru beberapa orang anak yang datang. Pagi itu Tante Yaya udah nongol di kantor Rani, datang lebih pagi
dari Nissa.
"Aku bawain sesuatu buat kamu, nih", Tante Yaya menyodorkan paper bag besar.
"Apa ini?"
"Buka aja!"
Rani membuka bungkusan, sebuah tas berwarna ungu merk Louis Vuit*n lengkap dengan kartu sertifikat, tanda tas tersebut original.
"Wah buat apa ini?"
"Buat kamu aja, biar bisa ganti-ganti tas"
"Tasku udah banyak, Ya! maaf ga bisa ah aku terima, kalo harus nyicil juga aku belum ada budget"
"Ngga, itu buat kamu bukti aku sayang kamu"
"Aiiih pagi-pagi udah main sayang-sayangan aja ni! boleh sayang
tapi ngga gini caranya ah, biasa aja ntar akunya risih" sergah Rani.
"Ngga usah takut! gua cuma mau kamu koq!" Ucap tante Yaya dengan mimik ketus.
"Beugh ngga gitu ah!, ntar aku gak enak sama Firman pulang ke rumah bawa barang baru"
"Bilang aja nyicil dari arisan." Saran tante Yaya. Lanjut tante Yaya duduk di ruang tamu Kantor.
Perasaan Rani mulai dihantui, pikirnya bakalan berbuat apalagi ni tante Yaya setelah kemarin ngasih telpon dan dia tak berkutik harus selalu menjawab teleponnya yang tak henti-henti, melayani dan membalas SMS nya tak kenal waktu.
Dan sekarang ngasih tas, artinya Rani harus mengorbankan waktu, energi dan pikirannya untuk memberikan perhatian lebih padanya. Dada Rani terasa penuh.
Rani menghela nafas sejenak.
...
Tante Yaya menerima telpon dari Abeng, adik bungsu tante Yaya,
__ADS_1
"Ya, nanti sore Shaira jemput"
"Ok"
"Nanti sore kamu jangan langsung pulang ya Ran, anter aku jemput Shaira."
"Loh jemput! emang lagi dimana?"
"Lagi nginep di tempatnya Kirey, pacarnya Abeng"
...
Sore harinya,
Sepanjang perjalanan 1 jam handphone Rani menyelip di helm, tante Yaya tak henti-hentinya nyerocos cerita soal obrolannya dengan Kirey. Meski Rani berkali-kali ngeluh dan coba memanipulasi tante Yaya dengan alasan baterenya handphonenya lowbatt, tante Yaya memaksa dengan menukarkan handphone Rani dengan Handphone kedua miliknya untuk tetap terus terhubung via telpon dengan Rani.
Rani murung.
"Abeng itu beruntung Ran, dapetin janda kaya dia kerjanya kayak kamu ngurusin event orang namanya apa tu Wedding Organizer" Raut wajah dan tone suara tante Yaya bernada bangga.
"Oh, Aku bukan WO Ya, tapi EO aku belom bisa garap Event Wedding", Sela Rani.
"What ever lah yang penting aku taunya sama-sama ngurusin event lah!" Jawab Tante Yaya.
"Tau gak Ran, tu Pajero nya ada sun roofnya lho baru di kasih Papinya dan Papinya itu orang kaya dia punya Condominium di Singapore."
"Oh ya", tanggapan Rani datar.
“Dari kemarin Shaira di ajak nginep di apartnya, luas Ran enak tempatnya makanya Shaira betah gak mau pulang. Tapi berhubung Abeng dan Kirey ada perlu makanya dia minta suruh aku jemput."
Rani tersenyum simpul,
“Ni orang kayaknya baru pertama kali punya temen yang punya apartment kaliya koq ceritanya hyperbola banget” gumam Rani dalam hati.
...
hasta dari kepala Rani.
Rani mengetahui itu ketika sempat diajak kerjasama oleh kliennya beberapa developer untuk menjadi agen property di Jakarta dan Bandung salah satunya apartment Meikarta, namun setelah
beberapa tahun Rani jalani ternyata passion Rani bukan di property.
Tante Yaya menelpon Kirey untuk menjemput ke bawah, karena untuk masuk menggunakan lift harus membawa ID card sebagai penghuni. Beberapa saat kemudian Kirey melongok dari arah lift
dan mengajak mereka segera masuk lift.
Tak lama kemudian mereka sampai di lantai 16, jalan melewati beberapa lorong. Rani dan tante Yaya mengikuti Kirey dari belakang, tiba di salah satu pintu room. Saat pintu dibuka nampak
mini bar di sebelah kiri dengan 2 kursi barstool, sebelah kanan disambut dengan toilet, ruang tivi dan 1 kamar utama dan 1
kamar kecil.
Abeng bertelanjang dada dengan celana kolor nampak terburu-buru mencari t’shirtnya sedangkan Shaira sedang asyik di depan tivi dengan mainannya full berantakan di meja.
Kirey mempersilakan tante Yaya dan Rani masuk, mereka duduk mendekati Shaira.
Lalu tante Yaya membuka obrolan,
“Abeng ada ni, kirain ngga ada?”
“Iya dia udah seminggu nginep disini Tant”
Rani mengernyit, ingat obrolan tante Yaya tadi sepanjang jalan bukannya Kirey nyariin Abeng yang pergi ninggalin dia?.
__ADS_1
“Oh gitu ya” Tukas tante Yaya salah tingkah.
“Kebetulan kita mau keluar tant, kasian Shaira kalo ditinggal sendirian makanya Abeng aku suruh telpon Tante Yaya.”
“Iya, Yuk Shai kita pulang” ajak tante Yaya.
Shaira enggan naik motor,
“Aku mau dianterin Ateu Kiyey”, Sahut Shaira.
“Mobilnya kecil Shai, Aku bareng temenku nanti mereka dateng kesini, rencananya kita mau survei gedung sekaligus meet up
buat acara nanti, daripada entar saling tunggu mending kita pergi barengan jadi hemat waktu.” Ujar Kirey.
“Kalo mobilnya gede mah Shai, ateu ajakin. Tau sendiri lah Tant Brio segede gimana.” tambah Kirey.
Mendengar itu Rani langsung melirik tante Yaya yang salah tingkah.
"Eh Pajero hadiah dari papinya kemana ni?” tanya Rani.
“Ah, Kaka ini, Pajero darimana? orang Papinya juga lagi sakit butuh biaya buat berobat. Justru mau jual rumah dulu ni rencana kita pindah ke pinggiran aja, biar Papi bisa istirahat juga”.
“Maksudnya jual Condo yang di Singapore ya? tambah Rani.
“Condominium atau Condotel maksudnya? Condo darimana ah Kaka ini ngarang!” Tawa Kirey cekikikan.
“Aku sewa condo sih pernah, waktu liburan ke Singapore 5 hari kalo nggak salah 2 tahun lalu itu juga paketan dari travel. Biasalah sewa bareng-bareng rame-rame. Beugh kalo aku punya Condo mah nggak akan tinggal di apart kecil begini kali Ka!” Terang Kirey sambil tertawa kecil.
Rani ikut membersamai Kirey tersenyum, Tante Yaya salah tingkah.
“Terus obrolan yang tadi itu datangnya darimana?
“Ngehayal gitu!”
“Drama banget! cocok ni jadi tukang skenario” Gumam Rani.
...
Tante Yaya, Rani dan Shaira pamit.
Abeng melongo dari kamar meng-iya kan.
Mulut Rani gatel, pengen becandain tante Yaya,
“Eh Pajero yang ada sunroof nya parkir dimana tuh?”
“Nggak tau!” Jawab tante Yaya ketus dan buru-buru melengos mendahului Rani.
“Maksudnya apa coba? pake ngarang-ngarang cerita segala? biar
terlihat high gitu? Drama banget!” Gumam Rani.
“Eh Ya, aku mau nanya, kenapa ya orang yang deket aku atau baru ketemu sekali atau dua kali ngomongnya setinggi langit?” Tanya Rani.
“Jangan tanya gua, tanya tu sama orangnya langsung!” Tukas tante Yaya ketus.
Rani terkekeh kecil.
...
Orang toxic (beracun) itu cenderung suka mendramatisir keadaan, bahkan hal kecil sekalipun. Bener gak?
#tobecontinued #truestory
__ADS_1