
Beberapa notifikasi penggunaan kartu kredit masuk ke email Rani, Rani mengernyit. Tante Yaya baru sampai di teras kost an Rani.
𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘤𝘩𝘢𝘯 𝘰𝘧𝘧𝘪𝘤𝘪𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘗𝘰𝘯*** 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘬𝘰𝘯 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘐𝘋𝘙. 25.667.654
"Aku koq dapet notif penggunaan kartu kredit beberapa bank, aku ngerasa nggak buka kartu kredit. Ada yang pembelian material batu bata semen hampir 50 juta di toko material yang alamatnya aku nggak kenal, 25 juta lebih di mall, 15 juta di supermarket dan 5 jutaan di merchan yang lain. Tapi beda-beda bank! Antar aku ke bank M***, BC**, BR**, Ma*** yang dekat sini aja. Ya, Aku mau komplain."
"hhmm Nggak usah Ran, tadi aku beliin Shaira alat make up dia mau belajar jadi MUA katanya."
"Maksud kamu?" Alis Rani mengangkat dengan suara kaget meninggi.
"Iya, aku yang apply kartu kreditnya."
"Astaghfirullah Ya! sejahat itu kamu! udah kriminal ini."
"Nggak gitu Ran nanti tiap bulan aku bayar koq."
"Mana lihat kartu kreditnya?" teriak Rani.
Tante Yaya mengeluarkan dompet dan memperlihatkan 4 kartu kredit, 2 gold, hitam platinum dan silver dari berbagai bank.
Rani merebut kartu itu namun tante Yaya langsung mengelak.
"Berikan padaku mau aku blokir semuanya." Ujar Rani geram.
"Silahkan aja blokir, tapi lihat akibatnya aku akan kasih tau anakmu kelakuanmu selama ini!."
"Kelakuanku yang mana maksudmu?"
"Merebut suamiku! pelakor! dan kamu juga menyukaiku!"
"An***!! Najis! Jangan bikin drama kamu!"
Rani menampar tante Yaya. Tante Yaya tak terima. Rani mencoba merebut kartu-kartu itu namun tante Yaya sigap mengelak keduanya bergumul hebat, Rani kalah tenaga ia dibanting ke sudut pintu lengannya terbentur gagang pintu. Raut Tante Yaya memerah marah.
"Aku berbuat begini juga karena kamu!" Tante Yaya mencoba playing victim, ia tak mau menyadari kesalahnnya dan membalikan semua atas kesalahan Rani.
"Tas, sepatu, baju dan barang-barang branded yang kamu pake itu aku usahain buat kamu tapi ini balasanmu sama aku!" teriak tante Yaya.
"Aku gak minta semua itu!"
"Kamu gak akan bisa lari dan macem-macem dariku." Ujar Tante Yaya dengan suara terengah-engah. Rani tetap berusaha merebut kartu-kartu itu dengan merangkul tante Yaya. Tante Yaya menghindar.
Ia segera lari ke luar rumah dan meninggalkan Rani. Rani kecewa. Ia berpikir harus membuat laporan ke polisi dan memblokir kartu-kartu itu.
...
Beberapa jam setelah Rani tenang, seraya mengompres lengannya yang lebam. Ia berpikir ulang dan mempertimbangkan kembali apakah tindakannya benar untuk melapor polisi dan memblokir kartu-kartu itu. Rani memutuskan pergi ke kantor polisi.
"Kalau saya laporkan Yaya atas perbuatan tidak menyenangkan bagaimana pak polisi?"
"Berhubung semua riwayat pembukaan kartu kredit menggunakan identitas ibu, Kartu Keluarga, KTP, email dan tanda tangan ibu. Kami pikir tidak ada yang salah dengan itu dan tidak bisa melaporkan teman ibu tersebut atas tindakan tidak menyenangkan. Langkah yang bisa kami sarankan ibu hanya melapor ke bank untuk memblokir kartu-kartu kredit itu dengan penghantar kehilangan dari kami pihak kepolisian. Itu saja bu langkahnya."
Rani kecewa mendengar penjelasan polisi tersebut.
"Mau kami buatkan surat kehilangan saja ya bu, ibu tinggal ke kantor Bank untuk memblokir kartunya." Tambah pak polisi.
"Baiklah pak"
"Boleh pinjam KTP nya bu?"
Rani menyodorkan KTP nya dan menunggu pak polisi membuatkan surat keterangan kehilangan.
Langkah Rani lunglai saat keluar meninggalkan kantor polisi, ia menarik tuas gas segera menuju salah satu bank. Rani berpikir hari itu ia harus memblokir semua kartu-kartu itu karena ia khawatir akan terjadi sesuatu di kemudian hari.
__ADS_1
...
Beberapa hari kemudian, tante Yaya datang menemui Rani. Ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Rani bungkam tak menyapa.
"Koq kartuku gak bisa aku gesek ya di pom bensin saat ngisi bensin tadi mau kesini?" Tante Yaya membuka obrolan.
"Nggak tau!" Jawab Rani ketus.
"Nggak kamu blokir kan Ran?" Tanya tante Yaya kembali.
"Over limit kali!" Sahut Rani pendek.
"Aku coba kartu yang lain juga sama!" ujar tante Yaya.
Rani memilih diam dan bersiap pergi.
"Mau kemana kamu? biar aku antar."
"Nggak usah."
Tante Yaya bringsut mendahului Rani.
"Liat aja kalo Lo berani pergi sendiri liat akibatnya!." Tante Yaya menggiring Rani menuju mobil. Tante Yaya membuka pintu bagian kiri dan menarik Rani untuk masuk.
Pintu ditutup, tante Yaya masuk dan duduk di belakang stir. Sesaat kemudian Rani merasa limbung, tiba-tiba lehernya terasa tercekat, ia kesulitan nafas. Rani membuka jendela namun tak membaik nafasnya tersengal Rani kesulitan bernafas. Tante yaya menyodorkan air mineral yang ia bawa dari rumah air ritual Selasa Kliwon, tutupnya sudah terbuka Rani menerima air mineral dan mencoba menarik nafas pelan. Wajah Rani pucat dan lemah tak berdaya.
"Mau kemana ini?" tanya Tante Yaya.
Rani berusaha bersikap normal. Setiap kali ia berdekatan dengan tante Yaya reaksi tubuhnya bermacam-macam dari mulai sakit kepala yang tak kunjung sembuh, kehilangan energi yang tiba-tiba lemah dan lunglai tak bertenaga, sampai sakit berminggu-minggu. Rupanya energi orang toxic beracun membuat orang di dekatnya menangkap dan menyerap energi buruk yang ditularkan tante Yaya.
...
Sebelum tante Yaya menemui Rani,
"Uwaa, sesajen yang di bawah tangga boleh beresin, ganti dengan bunga melati yang baru aku beli dari pasar bunga Wa!" teriak tante Yaya.
"Anter Shaira sekalian ya pap!" pinta Tante yaya pada Windu.
"Itu pulsa bekas Shaira kamu ganti, jangan minta ke aku terus dia pake pulsa sebulan ini udah 400 ribu." Ujar Windu dingin.
"Pulsanya kan di pake anak kamu, wajar lah kamu nafkahin dia."
"Pokoknya aku gak mau tau, ganti sekarang uangnya." Pinta Windu seraya memakai helm.
"Nih Bangs**!" tante Yaya merogoh uang dari saku celana dan melemparkannya ke wajah Windu.
Windu tak terima, ia menampar wajah tante Yaya, "Heh! ******! jangan coba macem-macem denganku! aku tak segan membeberkan kelakuanmu pada semua keluarga kalau kau pengedar narkoba, dan penyuka perempuan. Paham kamu!" ancam Windu sambil menunjuk hidung tante Yaya.
"Aku bertahan disini hanya karena menghargai persahabatanku dengan kakakmu dan ibu mertuaku!" Tambah Windu.
Windu bergegas keluar, menyalakan motor dan pergi meninggalkan tante Yaya.
Rumah tangga tante Yaya yang sangat berharap membuatnya berbunga-bunga layaknya novel yang dia baca, film yang dia tonton ternyata pada kenyataannya tak seindah itu. Hati dan perasaannya selalu di gelisah dengan semua keadaan, Shaira yang tak bisa ditebak perangainya selalu mengejutkan, Windu yang sangat dingin tak pernah perhatian. Nafkah lahir yang seharusnya ia dapat dari Windu tak sesuai harapan. Nafkah batinpun tak sanggup Windu penuhi. Ia seolah kehilangan gairah setiap kali menghadapi malam. Selepas pulang dari kantor jam 5 sore Windu lebih memilih diam dan ngobrol di warung tetangga sampai dini hari, lalu ia pulang tidur sampai pagi dan pergi kembali bekerja. Itu membuat tante Yaya menyimpan dendam yang di bawa selama ia tertidur. Dendam karena merasa tidak diinginkan dan dibutuhkan, maka ia merangsek masuk pada kehidupan Rani dan berusaha sekeras mungkin memenuhi kebutuhan Rani meski semu, agar ia merasa dibutuhkan orang yang menurutnya spesial.
Demi memenuhi kebutuhan seksnya, Tante Yaya seringkali masturbasi sambil membayangkan wajah Rani. Saat sesekali tante Yaya menelpon pagi hari kemudian mengirimkan lendir masturbasinya di whatsapp pada Rani ada kepuasan tersendiri dalam hatinya. Meski Rani mencak-mencak memarahinya tapi ia menganggap kemarahan Rani bukti bahwa ia berhasil menarik perhatian Rani dan ia sangat bangga dan bahagia.
Di satu sisi hatinya hampa, Tante Yaya kesal seolah hidupnya tanpa arah, ketika rumah membuatnya tak nyaman dengan konflik yang tersulut dalam rumah tangganya ia akan melarikan diri menemui Rani. Dengan membawa perasaan yang tak bahagia dan hati hancur setengah mati mengingat kelakuan Windu. Hati dan pikirannya diliputi awan mendung. Dalam dadanya menyimpan ribuan luka. Ia segera mencari Rani untuk melupakan semuanya.
Namun energi negatif yang tante Yaya bawa rupanya sangat memengaruhi Rani. Dan setiap kali ia bertemu tante Yaya setiap kali itu pula reaksi tubuhnya menjadi 𝘥𝘳𝘰𝘱 𝘥𝘰𝘸𝘯, seolah energinya terkuras habis tertarik oleh tante Yaya.
...
Laju mobil membelah sebuah jalanan ibukota, tante Yaya memaksa mengikuti Rani untuk event besar yang Rani 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘭𝘦. Ia sangat terobsesi dengan apa yang Rani lakukan. Sampai status Whatsapp dan media sosial Rani ia pantengin setiap saat. Tante Yaya mencandui Rani.
__ADS_1
Tetiba dalam perjalanan suara kucing kecil terdengar dari mesin bawah mobil. Rani sedikit heran, ia kembali meruncingkan telinganya untuk memastikan apa yang ia dengar namun ia sedikit tak percaya karena tak mungkin mobil menabrak kucing di tengah laju jalan tol. Tante Yaya yang sedari berangkat memang sudah mengetahui seekor kucing menyelinap masuk ke dalam mesin mobil, sontak mencak-mencak mencaci maki,
"Anj*** dari kemarin aku cari tu kucing nggak mau keluar-keluar dari mesin malah suaranya kedengeran lagi!" Tante Yaya kesal.
"Ada kucing masuk mesin?" tanya Rani.
"Iya! Udah aku cari dari kemarin aku gubrak-gubrak mobilnya malah ada mesin yang rusak gegara aku hantam pake linggis aku kesal cuma buat nyari suara kucing itu dan biar kucingnya keluar tapi malah menyelinap masuk lebih dalam."
"Gegara mesin mobil yang kuhantam, sebelum kita pergi aku ke bengkel dulu dan abis dua setengah juta buat beli 𝘴𝘱𝘢𝘳𝘦 𝘱𝘢𝘳𝘵 dan dan servis. Tapi kucing itu nggak ketemu-ketemu heran aku!" Tante Yaya sewot bersungut-sungut.
"Sekarang ngak! ngik! nguk! lagi"
"Kasian dong tu kucingnya kepanasan, kamumelipir dulu aja di bahu jalan." Pinta Rani.
"Biarinlah mati! mati dah tu kucing bukan salah gua juga!" sungut tante Yaya kesal.
Rani terdiam, dalam hatinya tahu keruwetaan yang di alami tante Yaya berkaitan dengan mobil bukti bahwa semesta tak pernah diam, tante Yaya selalu saja mengalami hal-hal mengerikan berkaitan dengan mobil Rani yang ia kuasai. Mulai dari rutinnya turun mesin mobil padahal baru berjalan beberapa tahun sejak pembelian. Tante Yaya terpaksa merogoh kocek yang dalam untuk mengurus mobil itu. Ia terlalu memaksakan diri agar terlihat hipe dilingkungan sosialnya. Maka dengan berbagai cara iapun melakukan apapun termasuk memanipulasi, berbohong, mengintimidasi dan merebut hak Rani.
...
Lahan parkir yang tante Yaya pakai untuk menyimpan mobil Rani sehari-hari di lahan kosong penuh dengan semak belukar, karena rumahnya tak memiliki lahan untuk parkiran. Ia sempat bersitegang dengan pemilik lahan gegara setiap hari menyimpan mobil itu tanpa ijin namun tante Yaya tak punya lahan lain selain disana. Ia menggunakan kekuasaannya sebagai ketua RT mengancam pemilik lahan. Namun tetap masing-masing bersikukuh tante Yaya harus mencari lahan lain. Pemilik lahan segera membuat benteng pagar tinggi agar tante Yaya tak lagi semena-mena menggunakan lahannya.
Selama beberapa bulan mobil parkir di pinggir jalan.
Goresan baret demi baret nampak di beberapa bagian mobil dalam jangka hitungan hari. Satu pagi,
"Mam, anter aku ke sekolah. Aku paling suka kalo di anter ke sekolah pake mobil. Temen-temenku yang lain juga di anterinnya pake mobil." Ujar Shaira pagi itu seraya menarik baju seragamnya agar perutnya tak terlihat membuncit. Ia menolak di antar ayahnya pake motor beat. 𝘓𝘪𝘧𝘦𝘴𝘵𝘺𝘭𝘦 ibu anak ini sangat hedon, mereka selalu mencari cara agar mereka selalu mendapat pengakuan dari lingkungannya 'orang kaya'.
Shaira membuka mobil nampak jutaan semut merah kecil di seluruh lapisan kursi jok yang akan di duduki Shaira, ia tak menyadarinya. Shaira langsung duduk dan sibuk memainkan handphone.
Tante Yaya masuk, meminta Shaira membukakan spion kiri karena kebiasaannya di lipat saat pulang. Namun tante Yaya kaget, spion kiri tak nampak lagi nampak sisa-sisa di bobol maling.
"Haduh Tuhan! cobaan apalagi ini! setelah kemarin turun mesin dan sekarang hilang spion!"
"Mam, aku gatel-gatel." Jerit Shaira merasa ada sesuatu menggerayangi paha, kaki dan badannya. Badan Shaira dipenuhi semut merah kecil yang tak tau darimana asalnya. Beberapa kecoa mulai menampakkan diri di sela-sela tuas rem tangan. Tante Yaya hari itu sibuk membawa Shaira ke rumah sakit karena gigitan semut membuat badannya seperti bilur-bilur merah karena garukan-garukan Shaira tanpa henti.
"Ran, ini spion ada yang ngambil. Aku lagi di rumah sakit."
"Kenapa laporan sama aku?"
"Ya kan ini mobil kamu!"
"Terus aku masih berhak tau gitu kalau ada trouble" Tanya Rani kesal.
"Nggak marah gitu dong sayang, aku hanya ngasih tau kamu aja, takutnya kamu mau keluar hari ini minta anter aku."
"Aku nggak akan minta anter kamu! aku bisa pergi sendiri pake ojek online juga bisa. Gak perlu pengen gaya tapi gak modal." Sindir Rani.
"Ya udah kalo gitu, aku ngurus dulu Shaira ke rumah sakit, dia di gigit semut."
"Digigit semut aja pake laporan! Laporan sama suamimu sana."
Handphone di tutup tante Yaya karena merasa Rani tak suka dengan topiknya hari itu. Ia sibuk membersihkan mobil, jok dibuka dan nampak ribuan kecoa kecil-kecil baru menetas dibawah jok dan karpet. Tante Yaya begidik, ia memanggil Wawan untuk membantu membersihkan mobil.
"Tante, gua baru nemuin mobil penuh kecoa dan semut kayak gini, ini mah kayak kiriman orang!"
Tante Yaya langsung berpikir pada Rani yang berbuat, Tapi dia tahu keseharian Rani. Ia tak mungkin melakukannya, ia tahu tentang perdukunanpun dari tante Yaya yang pertama kali mengajaknya ketemu berbagai dukun dimana-mana.
"Udah jangan banyak bacot. Lo bantu bersihin aja ntar gua kasih."
...
Dalam hati kecilnya tante Yaya tahu ini karma dari perbuatannya merebut mobil dan usaha Rani, semesta seolah mengambil kerugian yang Rani terima dengan mengambil waktu, harta dan segalanya dari tante Yaya perlahan-lahan namun pasti yang justru sangat banyak menguras keuangannya.
__ADS_1
...
#tobecontinue #truestory