
Sebuah flashback.
Bagi sebagian orang mengekspresikan perasaannya menjadi sebuah tantangan sendiri. Kadang mereka merasa rentan dan khawatir saat mengungkapkan perasaannya kepada teman, keluarga, dan orang-orang yang dicintainya.
Jujur! satu kata ini so simple tapi praktiknya sungguh sangat sulit bagi seorang yang bernama Firman! seringkali denied dengan apa yang seharusnya ia akui membuatnya nyaman, namun entah kenapa ia lebih memilih menyangkalnya.
Ternyata Firman mengidap gangguan mental 𝘢𝘭𝘦𝘹𝘪𝘵𝘩𝘺𝘮𝘪𝘢 atau sulit dalam mengidentifikasi, mengenali, menggambarkan dan menyampaikan emosi.
Rani seringkali bernostalgia bercerita pengalamannya waktu sekolah, saat melewati gedung almamaternya dan hal-hal menarik lainnya di masa sekolah. Tapi tidak dengan Firman ia kesulitan membagikan pengalaman masa lalunya dan itu membuat Rani bertanya-tanya saat masih bersamanya, ia merasa Firman menyembunyikan rahasia besar di balik perlakuannya yang tak masuk akal, ternyata dalam jiwanya ada yang gagal mental.
Firman tak pernah menceritakan pengalamannya semasa SD, SMP atau SMA. Bagi Firman hidup terasa seperti membingungkan karena trauma masa kecil pola asuh yang di over ke beberapa kerabat secara bergilir dan bergantian oleh baba atau ibunya ketika dia adik-adiknya lahir.
Firman mengalami kesulitan mengenali status dia sebagai suami, kesulitan bertanggungjawab sebagai seorang ayah yang harus mendidik anak-anaknya. Firman seolah sengaja mengabaikan namun salah satu alasannya adalah berasal dari gangguan mental 𝘢𝘭𝘦𝘹𝘪𝘵𝘩𝘺𝘮𝘪𝘢 ini.
Firman kesulitan untuk terkoneksi dengan orang lain, humornya garing dan sering mengalami ketidakwasapadaan akut. Dengan seringnya Rani, Firman dan anak-anaknya mengalami kecelakaan yang menurut Rani itu bisa di antisipasi jika lebih berhati-hati namun menurut Firman menganggap takdir musibah yang harus dijalani meski harus jatuh di lubang yang sama berkali-kali.
Satu pagi ketika Rani dan anak-anaknya minta diantar Firman ke sekolah, jalanan yang dilewati merupakan satu-satunya jalan raya utama tidak ada jalan alternatif lainnya.
Pikir Rani lubang sekecil apapun jika sudah sering dilewati Firman akan hafal dan akan lebih waspada ketika melewati jalan tersebut namun bagi Firman sangat sulit mengidentifikasi hal itu oleh karenanya saat Rani satu motor ber-empat dengannya, terhitung sampai 9 kali kecelakaan di tempat yang sama. Alhasil lengan Akbar, pipi Adist dan Kaki Rani terdapat banyak luka yang sampai puluhan tahun mereka takkan lupa karena meninggalkan banyak bekas luka permanent disana sini.
Rani merasa bosan dan heran, ada apa dengan Firman?. Rani berpikir seolah dia sengaja melakukannya. Membuat diri dan anak-anaknya yang seharusnya ia jaga, dibuat nyaman dan menjadi tanggungjawabnya ia lukai dan celakai. Puluhan kali kecelakaan, dan puluhan kali itu pula jawabnya sederhana,
"Musibah!"
Selalu itu yang Rani dan keluarga Rani dapatkan ketika kecelakaan berulangdi moment yang sama saat berangkat mengantarkan, menjemput anak pulang sekolah dan saat pulang bekerja.
Dengan pertimbangan itulah Rani memutuskan untuk membeli motor sendiri dan ketidaknyamanan berkendara bersama Firman ia masukkan dalam ajuan gugatan cerai dimana sebagai kepala keluarga tak mampu menjaga anak dan istrinya serta dianggap tak mampu memberikan kenyamanan namun Firman menolak pernyataan itu saat surat akta cerai ia terima dan ia baca. Ia merasa benar dan tidak ada yang salah dengan dirinya. Pengacara menganjurkan Firman berkonsultasi dengan psikolog namun Firman menolak. Rani pasrah.
...
Tak punya boundaries/batasanpun menjadi masalah tersendiri untuk Rani dan Firman. Dimana Rani sangat menutup diri segala kehidupan pribadinya dari kacamata umum dan media sosial. Tetapi tidak berlaku bagi Firman, ia akan dengan berani berpose bertelanjang dada dengan kaos butut disana sini.
__ADS_1
Sikapnya yang impulsif yang tidak pada tempat dan waktu yang tepat seringkali harus Rani tutupi namun lama kelamaan Rani lelah dan menyerah, Setelah bercerai dengan Rani postingan media sosialnya diisi dengan status-status galau,
"Kenangan bersama mungkin sudah terlupakan, tapi berkeringat bersama tak mungkin bisa dilupakan." #dearmantan
Potret kehidupannya yang tinggal di gudang yayasanpun menjadi hiasan beranda facebook Firman. Bagi Firman ia ingin membuktikan pada dunia bahwa seolah ia menjadi seorang terdzolimi yang ditinggalkan oleh mantan istrinya. Ia berharap dunia tahu bahwa ia tak bersalah, istrinyalah yang bersalah telah meninggalkannya dalam keterpurukan. Playing victim, kurang lebih sama dengan karakter tante Yaya.
Masih terngiang di telinga Rani saat Firman berkata,
"Tuh lihat istriku tak pernah mengurusku, tak pernah mempedulikanku, ia tak pernah mempedulikan anak-anaknya, ia hanya peduli pada dirinya sendiri."
Ternyata semesta menjawab doa Firman yang tak lagi di urus dan dipedulikan oleh Rani. Sesuai dengan keinginan dan harapan Firman.
Keputusan Rani menceraikan Firman lebih memilih mengorbankan 1 jiwa demi menyelamatkan 3 jiwa untuk menjalani kehidupan yang sehat dan membahagiakan dan Rani berpikir pilihannya sangat tepat.
...
"Mam, papa tu lebih memprioritaskan dan memilih membiayai adik-adiknya kalo lagi kunjungan keluarga ke luar kota di banding Akbar dan Adist. Padahal adik-adiknya sudah bersuami ya Mam!"
Rani sedih! "Itu kenapa Mama selalu khawatir kalo kalian di ajak pergi sama Papa kamu bareng bibi bibi kalian, dan itu kenapa mama suka bekalin kalian uang lebih biar kalian bisa beli makan dan jajan sendiri."
"Iya Akbar tahu, tapi saat Akbar dan adist jajan atau makan malah di recokin makanan kita terus mereka ngambil paling banyak dan ngabisin jatah makan kita! kan jadinya Akbar dan Adist malah bengong.!" Saat Akbar bercerita tentang pengalamannya diajak pergi oleh papanya, Rani tak pernah melarang mereka bertemu dengan Firman agar mereka masih merasa memiliki ayah.
"Ya udah itu kan dulu waktu kalian kecil, sekarang kalo pergi bareng mereka masih sama gitu juga?"
"Sama Mam! gak ada beda!" Ujar Akbar.
"Makanya Akbar sama Adist paling males kalo di ajakin pergi sama Papa."
"Koq mereka nggak malu ya masih jadi tanggungan papa! Jadinya Akbar sama Adist yang kehilangan jatah buat jajan dan makan kalo lagi di ajak jalan. Akbar dan Adist di suruh nahan ngga usah makan katanya."
Rani menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Udahlah itu dulu waktu kalian masih kecil, gak usah di ingat lagi. Sekarang Akbar sama Adist mau makan apapun bebas. Kalo ikut bareng mereka tinggal beli sendiri karena bawa uang sendiri, jangan ngandelin papa kamu!" Ujar Rani, mencoba menghindari topik pembicaraan tentang Firman yang menurutnya hanya akan mengorek luka lama.
Satu obrolan Rani dengan Pak Adi saat Rani menghadiri undangan pernikahan miss Fath setelah mereka bercerai.
"Firman itu sebenernya memperjuangkan siapa?" Ujar Pak Adi.
"Dia memperjuangkan keluarganya boleh, tapi ia lupa bahwa sesungguhnya keluarga kecilnya yang membuatnya bahagia bukan keluarga besarnya yang sudah punya keluarga masing-masing."
"Saya sering lihat postingan facebooknya! ia nampak kesepian, keterasingan dan ketidakbahagiaan. Padahal dulu waktu masih bersamamu Ran, Wajahnya nampak selalu bahagia, meski ia sering menyangkal namun orang bisa melihat kebahagiaan hati pada raut wajah seseorang. Saya sebenarnya kasian sama Firman, Ran. tapi orangnya ngeyel susah di kasih tahu." Ujar Pak Adi panjang lebar.
Rani tersenyum miris. Ia tak mau mengomentari apapun tentang mantan suaminya karena dengan membuka satu topik saja tentang Firman sama saja dengan merusak energi kebahagiaannya yang sudah ia perjuangkan selama ini dengan susah payah.
Selama Pak Adi mengomentari Firman, Rani memilin kedua jari telunjuk kiri kanannya ke belakang bokongnya pertanda pikirannya menolak semua komentar tentang Firman agar tak terekam masuk ke dalam pikiran bawah sadar Rani.
...
Pengidap gangguan mental alexithymia bermasalah dengan rasa empati yang sangat minim, di awal perceraian Akbar dan Adist yang masih berusia SD ikut pulang mudik ke kampung halaman baba ayah mertua Rani, berhubung masih bisa ditempuh 3 jam perjalanan mereka memutuskan pergi pulang dalam satu hari.
Mereka pergi selepas sholat subuh dan sekitar jam 9 pagi sudah berada di kampung halaman, setelah beres silaturahmi mereka melanjutkan perjalanan pulang setelah dhuhur dengan estimasi perjalanan maghrib sudah berada di rumah kembali.
Namun ternyata dalam perjalanan adik-adik Firman ingin dibawa mampir ke tempat renang, anak-anak mereka membawa bekal baju untuk persiapan ganti saat pulang. Akbar tak Rani siapkan baju ganti saat pamit pergi di bawa Firman karena Rani pikir hanya bersilaturahmi dan Firmanpun tak mengatakan bahwa mereka akan pergi renang.
Saat sepupu-sepupu Akbar terjun ke kolam renang, Akbar hanya jadi penonton, sebenarnya Akabr ingin ikut renang namun tahu dirinya tak di bekali baju ganti maka ia lebih memilih memperhatikan sepupunya di pinggir kolam.
Anjuran Adik-adik Firman, meminta Firman mengajak Akbar berenang juga tanpa pikir panjang Firman menceburkan Akbar ke kolam renang lengkap dengan kemeja, celana jeans dan sepatu yang masih melekat di badan Akbar. Sehingga saat perjalanan pulang Akbar masih memakai baju basah selama 6 jam perjalanan pulang karena macet arus balik.
Saat Rani mendengar cerita itu dari Akbar, Rani meradang karena Rani membayangkan sepanjang perjalanan Akbar kecil menggigil kedinginan dalam mobil ber-AC dan akhirnya masuk angin dan demam, saat Rani tegur jawaban Firman ringan,
"Salah sendiri anaknya nggak bawa baju ganti!"
....
__ADS_1
#tobecontinue #truestory #addakumiko #Kumiko