
Pertengahan Pebruari ..
"Ran kamu dimana?"
"Ran kamu dimana?"
"Ran kamu dimana?"
"Jawab telponku Ran!"
"Aku otw ke rumahmu Ran!"
"Ran, aku udah depan jalan ke arah rumahmu. Aku nganterin makanan kesukaan kamu Ran!"
"Aku gak tau rumahmu Ran!"
SMS tante Yaya bertubi-tubi, sengaja nggak Rani gubris sungguh hati kecil Rani menyesal mengenal dan menerima pemberian tante Yaya yang membuat gerak langkahnya menjadi terikat, meski ia tak pernah memikirkan pulsa namun seolah ditukar dengan waktu, energi dan pikiran yang direnggut paksa oleh tante Yaya. Ia merasa hidupnya terasa tergadai pada tante Yaya.
...
Kali itu Rani sedang melobby kepala sekolah satu sekolah dasar yang sudah dikenalnya dengan baik, sempat beberapa kali Rani cerita soal rencananya untuk melobby sekolah itu pada tante Yaya dan dengan polos sempat memberitahukan posisi sekolah tersebut.
...
Telpon dan SMS nya tak diangkat, Tante Yaya tak kehabisan akal, ia menelpon Nissa di kantor, menanyakan posisinya.
"Heh, anak kecil! lagi dimana?" tanya tante Yaya songong.
Mendengar panggilan khusus dengan karakter suara bass bariton berat mirip pria, Nissa sudah bisa menebak.
"Aku di kantor tant. ada apa?"
"Boss kamu ada nggak disitu?"
"Kalo ada mau apa? kalo nggak ada mau apa hayo?" canda Nissa.
"Ngga ada-apa, mau nitip makanan aja buat dia."
"Oh siniin aja, entar kalo udah balik kantor pasti Nissa kasihin."
"Mang lagi dimana gitu?"
"Lagi ngelobby Kepsek!."
"Ke sekolah mana?"
"Ke SD Negeri." Jawab Nissa pendek.
"Oh ya udah." Tante Yaya menutup telpon.
__ADS_1
"Aih! Geje!" gumam Nissa seraya menurunkan hendphone dari telinganya.
Tante Yaya selalu berusaha mendekati orang-orang terdekat Rani, meminta telponnya agar ia bisa memantau keberadaan Rani melalui orang-orang tersebut, meski orang yang ia tidak sukai sekalipun.
...
Motor tante Yaya memburu satu sekolah di perbatasan kota kabupaten, sekitar 35 menit kemudian ia memasuki halaman sekolah.
Segera ia mencari ruangan kepala sekolah namun ia tak mendapati Rani disana, hanya seorang lelaki paruh baya good looking dengan postur tinggi atletis.
Tante Yaya melihat nama ruangan yang tertera, "Ruang Kepala Sekolah".
"Tok Tok Tok .. "
"Ya silahkan, mau bertemu siapa mas?" Ujar pak Kepsek.
"Saya Yaya, saya perempuan pak. Saya mencari teman saya yang katanya sedang berada disini, dan sedang menemui pak Kepala Sekolah.." Ujar tante Yaya sembari masih berdiri di depan pintu ruangan.
"Oh maksudnya siapa ni mba?"
"Saya mencari Rani pak barangkali bapak bertemu dengannya hari ini?"
"Oh bu Rani EO?"
"Iya betul pak!" Ujar tante Yaya sedikit girang.
"Beliau lagi survey ke ruang aula, silakan masuk dan tunggu di dalam." Tambah pak Kepsek sambil melihat tante Yaya dari atas sampai bawah.
...
Pak Kepsek mengirim SMS.
"Siapa pak?"
"Namanya Yaya, orangnya tomboy dia nunggu."
Rani terdiam.
Setelah selesai melihat Aula dengan bu Amel, Rani segera menuju ke ruang Kepsek. Rani melihat kehadiran tante Yaya sedang menunggunya, dan segera menghampiri pak Kepsek, untuk pamit.
"Rani pulang dulu ya pak, nanti di kabari lagi setelah ada estimasi."
"Iya jangan lama, usahakan 2-3 hari bapak udah dikabari, biar dimasukkan anggaran bulan ini."
"Baik pak."
Pak kepsek mengangguk sambil melihat tante Yaya yang bringsut mendekati Rani untuk segera meninggalkan ruangan dan mengangguk padanya tanpa kata-kata.
Rani berjalan menyusuri lorong sekolah di susul tante Yaya.
__ADS_1
Tatapan pak Kepsek mengantarkan mereka keluar ruangan dan sampai menghilang dari lorong kelas, dan itu membuat Rani tak nyaman, tak lama kemudian pak Kepsek mengirimkan SMS.
"Oh jadi itu bodyguardnya sekarang, waper! wanita perkasa 😀?"
"Ih bapak apaan sih!"
...
"Apaan Ya koq sampe nyusul-nyusul aku lagi kerja!"
"Kamu inget ya! kemanapun kamu berusaha lari dariku aku pasti akan kejar kamu!"
"Salah kamu sendiri kenapa telpon dan SMS ku nggak di jawab!"
"Kalo kamu mau nyaman menjalani segalanya, biarkan aku tau semua yang kamu lakukan." Cerocos tante Yaya yang mengintervensi Rani.
"Salah aku apa Ya, sampai kamu mengikat aku kayak begini?"
"Salah kamu? Kamu bikin aku nyaman dengan perhatian-perhatian kecil kamu! dan aku nggak mau kehilangan itu!" Ujar tante Yaya diiringi senyum simpul bermaksud menggoda Rani.
Tapi Rani tak menggubris, sesaat kemudian badan Rani terasa greges dan tak berenergi, karena energi negatif yang tante Yaya yang mendominasit ia tak sadari telah telah menyedot energi Rani meski itu energi positif.
Rani lalu berusaha mendekati kantin dan bermaksud membeli minuman.
"Mau kemana kamu?" sergah tante Yaya.
"Mau beli minum!"
"Ni ambil.", sebotol minuman jeruk disodorkan tante Yaya dan ia bantu memutar tutup botolnya agar memudahkan Rani segera meneguk minuman tersebut.
Rani menerima dan segera meminumnya, namun energinya tak langsung pulih. Seolah-olah tersedot dengan kehadiran tante Yaya yang menjadi magnet energi buruk untuknya.
Rani memutuskan untuk pulang meski baru masuk jam makan siang,
"Aku mau pulang, badanku sepertinya kurang enak." Ujar Rani.
"Sebentar, ni buat kamu happy valentine ya sayang.." tante Yaya menyodorkan kota panjang berwarna pink elegan dengan sisi atas berlapis kaca mika, dan nampak setangkai bunga mawar merah segar.
Rani terperanjat!
"Ah Ya, aku nggak suka mawar dari dulu juga. Apalagi ini dari kamu." Ujar Rani
"Jangan banyak nolak! kamu udah nggak akan bisa lari lagi dariku." Power tante Yaya begitu kuat memaksa, sehingga Rani tak bisa berkutik.
"Ayo aku antar kamu pulang." Lalu dua motor itu berjalan berurutan, Motor tante Yaya mengikuti Rani sampai sebuah pintu gerbang berwarna hitam.
"Aku nggak masuk ya Ran, aku langsung pulang."
Tak menunggu Rani menjawab, tante Yaya menarik tuas gas menjauh dari rumah Rani menuju jalan raya kembali ke rumah.
__ADS_1
...
#tobecontinue #truestory