
Melihat kinerja Rani yang selalu ada setiap hari dan gesit, Pak bendahara mengusulkan Rani menjadi bagian dari staf yayasan, Pak Rasmin sebagai ketua yayasan menyambut baik, dan Rani pun mendapat gaji bulanan dari yayasan.
Satu tahun menjelang perceraian Rani, ia kewalahan harus mengcover kebutuhan makan harian dan anaknya sekolah, ia minta pendapat pada Firman gimana kalau dirinya meminjam uang pada koperasi asuhan pak Bendahara,
"Untuk bayar sekolah Akbar aku masih kekurangan uang, dan jatah uang belanjaku sudah habis juga gimana kalo pinjam ke pak Bendahara mas?"
"Maksudnya atas namaku yang harus pinjam?"
"Kalo mas gak keberatan."
"Nggak! nggak, enak aja! aku gak mau gaji bulananku terpotong!"
"Kalo atas namaku gimana mas?"
"Ya boleh saja yang penting jangan jadi tanggunganku, tapi awas jangan bilang untuk resiko makan harian!." Ancam Firman.
...
Keesokan harinya,
Dengan memberanikan diri, Rani menghadap pak bendahara.
"Pak, aku boleh kasbon ngga?"
"Kasbon untuk apa?"
"Untuk bayar sekolah anakku pak"
"Berapa?"
"Tiga juta pak, kalo boleh."
"Pembayarannya gimana?"
"Aku cicil pak di potong dari gaji bulanan boleh pak?"
"Ya boleh" lalu Pak bendahara mengeluarkan kuitansi dan Formulir.
"Isi kolom ini sesuai kesanggupan bayar perbulannya." Ujar pak bendahara sambil menyodorkan form ajuan pinjaman lalu ia sibuk mengisi kuitansi dan menghitung uang.
...
Posisi keuangan Firman mulai membaik setelah menerima desakan tawaran Rani yang ke-2 kalinya untuk menjadi salah satu instruktur ekskul di Sekolah Dasar bertaraf Internasional,
"Ran, aku ada teman yang lagi butuh guru SD, tapi untuk ekskul, cuma ngisi 2-3 kali seminggu sesuai kesanggupan kamu ngisi." ujar Siti.
"Aku SMS in ya syarat dan kualifikasinya". Tambah Siti saat bertemu di salah satu event yang di garap Rani di salah satu taman bermain di hari minggu.
Rani melihat syarat dan kualifikasi yang diminta, dari SMS yang di kirim Siti.
"Kalau aku sih kayaknya ngga certified di bidang ini apalagi untuk ngajar anak SD, tapi aku coba ya tawarin ke Mas Firman kayaknya cocok, ini bidang dia banget".
"Oke, jangan lama-lama Ran, itu open rekruitmennya cuma satu minggu ini, aku dan suamiku juga ikutan seleksi mudah-mudahan ada Rezeki." Ujar Siti.
"Oke, aku sampaikan ke suami sekarang juga biar dia siapin aplikasinya."
...
Tawaran pertama,
Senin pagi,
"Mas ikut ini deh, kamu kan bisa ni kebetulan bidang kamu kan?"
"Iya ntar." Jawab Firman.
Rabu Malam,
"Gimana mas, udah di siapin aplikasinya belum?"
"Aku lagi sibuk, untuk nyiapin acara yayasan, ntar deh kalau aku sempat."
Minggu malam,
"Gimana mas jadi kirim aplikasinya?".
__ADS_1
"Kalau mau juga kamu yang kerja, nggak usah nyuruh-nyuruh orang kerja!" bentak Firman.
Rani terdiam,
"Maksudku biar kamu punya uang tambahan, gajimu selama ini kan untuk bantu keluargamu, kalau ada tambahan mungkin bisa bantu uang dapurku."
"Nggak usah ngedikte dan bawa-bawa keluargaku, itu urusanku! mereka mau aku nafkahi berapapun itu urusanku, uang, uangku kamu nggak berhak ngatur-ngatur keuanganku!" teriak Firman marah besar.
Rani malas berdebat, ia melengos pergi ke kamar menidurkan anak-anak meski dengan hati dongkol.
...
Keesokan harinya Rani bertemu dengan sahabat Firman, Pak Adi yang berkunjung ke sekolah miss Fath, sebentar dia nongol di pintu kantor Rani.
"Eh Ran apa kabar?"
"Baik pak, mampir masuk"
"Ngga, bentar aja koq mau ketemu miss Fath"
"Baik Pak."
"Eh, Firman ikut seleksi di sekolah internasional nggak?"
"Kemarin sih aku suruh pak, tapi dia nggak sempat katanya sibuk"
"Sayang ya, saya lolos Ran lumayan lah gajinya besar meski cuma 2x perminggu."
"Padahal cocok lho buat Firman" Sambung Pak Adi.
"Ya mau gimana lagi pak, Rani gak bisa maksa."
"Seminggu di kasih 750 ribu, kalau sebulan lumayan lah 3 juta. Cuma itu waktunya mesti gesit jam setengah 7 pagi sudah harus ada di sekolah nggak boleh kesiangan kalo kesiangan kena potong dan gak di perpanjang."
"Semangat Pak."
"Thanks Ran, Saya ketemu miss Fath dulu ya"
...
3 Bulan kemudian tawaran dari sekolah Internasional itu datang kembali menghampiri Rani, tak menunggu lama ia bantu Firman menyiapkan aplikasinya. Ia kumpulkan sertifikat dan ijasah SMA Firman. Rani ketikan ajuan lamarannya tinggal minta tanda tangan Firman beruntungnya Rani, Firman tak menolak, lalu Rani kirimkan via Pos.
Setidaknya harapan Rani menafkahi keluarga terbantu Firman, Rani pikir itu akan sedikit meringankan dirinya.
Hari pertama seleksi wawancara, Rani siapkan kemeja, dasi, celana dan sepatu terbaik untuk Firman. Hari itu juga berita baiknya, Firman di terima dan selang satu minggu di hari Senin Firman mulai berangkat ke sekolah internasional tentu sepengetahuan yayasan dan yayasan tidak keberatan.
...
3 Bulan pertama, Rani merasa terpicu untuk menyiapkan keperluan Firman lebih dini dibandingkan dirinya, Setiap gajian dari bulan pertama sampai bulan ketiga Firman memberikan uang gajinya meski nggak ful, ia memberikan 1 juta perbulan sisanya, Rani tak mau bertanya dan itu urusan Firman.
Saatnya masuk kontrak kedua, Rani merasa lega pihak sekolah memperpanjang kontraknya karena performa kehadiran Firman baik.
"Mas, Akbar butuh bayar ujian sekolahnya, kalau belum bayar dia nggak akan bisa ikut ujian semesteran." Satu percakapan saat Firman sudah rehat di rumah.
"Urusan kamu lah bukan urusan aku." Ujar Firman
"Oiya, selama tiga bulan kemarin aku ngasih ke kamu kan sebulan 1 juta, udah 3 bulan jadi harus ada 3 juta tu dalam tabungan." ujar Firman merasa diingatkan.
"Maksudnya uang yang mana mas?" Tanya Rani heran.
"Uang yang aku titipkan ke kamu tiap dapet gaji bulanan dari sekolah internasional lah." Tambah Firman bersungut.
"Uang itu mau aku ambil, aku ada perlu untuk kebutuhan adik-adikku."
"Bukannya itu uang untuk tambahan nafkah harian mas?"
"Kan tiap aku kasih uang itu, aku bilang 'titip', bukan buat di pake!"
"Ya Allah, aku pikir itu buat ngebantu makan harian kita mas!"
"Enak aja, nyiapin makan itu tugas kamu bukan tugasku."
"Iya menyiapkannya tugasku, tapi setidaknya kamu bantu untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya dari kamu."
"Kamu tu jadi perempuan kurang bersyukur ya! udah bagus aku masih ada buat kamu dan anak-anak!"
__ADS_1
"Pokoknya aku nggak mau tau, uang 3 juta harus ada besok untuk keperluan adik-adikku." Firman marah besar lalu ia pergi meninggalkan Rani.
Malam itu juga Rani menemui ayahnya, ia bermaksud meminjam uang 3 juta itu untuk memenuhi keinginan Firman,
"Ayah, punya uang nggak?"
"Berapa?"
"tiga juta aja ayah, Rani pinjam dulu nanti kalau Rani udah ada rezeki Rani ganti."
"Kalau hari ini nggak ada, coba besok ayah pinjam dulu ke bibi biar ayah jual sawah yang dikampung ke bibi kamu."
...
Keesokan harinya ayah dan mama Rani, pagi-pagi sudah pergi menemui bibi Rani pengusaha tong, dan pulang kembali sebelum tengah hari.
"Nih uangnya, 3 juta ya."
"Nggak usah dibalikin, ini kasih sayang ayah buat kamu."
Rani terenyuh,
"Makasih ayah."
...
Adzan dhuhur berkumandang, ayah sudah pulang dari masjid dan masuk ke dalam rumah, disusul kemudian Firman dan babah datang menemui Rani,
"Gimana uang titipanku udah ada?"
"Mas nggak mikir ya, itu uang udah di pakai untuk keperluan harian koq dianggap tabungan." Ujar Rani kesal.
"Udah aku bilang itu bukan untuk kamu pake tapi 'titip'!" ujar Firman bersikukuh.
"Mana uangnya, mau aku kasihin ke babah. babah udah nunggu."
Ada perasaan tersayat dalam hati Rani, saat menyerahkan amplop coklat berisi uang 3 juta itu ke tangan Firman.
"Tuh kan ada uangnya! aku tau kamu nggak pake ni uang." Firman sumringah.
...
Masuk season kontrak ke-2 Firman diwajibkan datang ke sekolah 5 kali dalam seminggu tentu dengan gaji tambahan dan fasilitas lain dari sekolah internasional itu, rutinitas Rani mendukung suaminya tak berubah, ia selalu sigap menyiapkan kebutuhan Firman mulai dari baju dan sarapan setiap pagi. Jam 6 pagi Firman sudah berangkat.
Disusul Rani jam 7.30 berangkat ke yayasan, namun Rani heran hari itu kenapa ada Firman disana.
"Mas kenapa ada disini? bukannya tadi pagi berangkat ke sekolah?"
"Macet jadi kesiangan, balik lagi." Ujarnya pendek.
...
Kunjungan rutinitas minggu ke rumah mertua Rani,
Saat Rani ngobrol dengan ibu mertua,
"Firman tu tiap pagi sarapan disini Ran, setengah tujuh udah ada disini, katanya kamu nggak pernah bikinin sarapan buat dia jadi selalu mampir kesini"
"Maksudnya Mas Firman kesini tiap pagi bu? bukannya Firman berangkat dari rumah jam 6 itu dia harus sudah ada di sekolah pukul setengah tujuh."
"Firman baru pergi dari sini jam 12 an setelah dia tidur dulu, katanya tiap malam begadang baru selesai dhuhur pergi katanya mau langsung ke yayasan." tambah ibu.
Rani merasa gondok di pecundangi Firman, kenapa Firman harus berbohong kalau dari rumah pergi ke sekolah tiap hari tapi ternyata diam di rumah ibunya. Hingga akhirnya season kontrak kedua tidak lagi diperpanjang oleh pihak sekolah internasional karena performa kehadiran Firman sangat buruk.
"Tuh kan jadi di putus kontraknya, sayang deh" Ujar rani di hari terakhir kontrak ketika Firman menyodorkan surat dari sekolah internasional bahwa mereka tak lagi memperpanjang kontraknya dengan Firman.
"Ya mau gimana lagi, itukan semua salah kamu! tiap pagi lelet menyiapkan kebutuhanku udah tau jarak dari rumah ke sekolah jauh!." Ujar Firman playing victim.
...
Rani bertemu pak Adi, dan ngobrol panjang lebar dengan dia.
"Firman itu sebenernya bagus Ran, cuma dia malas ketika saya tanyapun dia kurang antusias, padahal menurut saya ini kesempatan langka. Alhamdulillah saya udah masuk perpanjangan kontrak ke-4 dan insyaallah bulan depan yayasan sekolah berjanji saya diangkat jadi guru tetap disana. Jadi tunjangan kesehatan, gaji pokok, tunjangan untuk keluarga, gathering keluarga di luar kota dan fasilitas lainnya mudah di dapat. Terlebih diberikan inventaris kendaraan. lumayan lah jadi saya bisa nabung untuk beli mobil Ran, doain ya." tambah Pak Adi antusias.
Rani hanya bisa menelan ludah.
__ADS_1
...
#tobecontinue #truestory #cerbung #kumiko #tanteyaya