
Keinginan Rani untuk lepas dari cengkeraman tante Yaya sudah sangat menggebu dari tahun-tahun sebelumnya namun melepaskan diri dari dajjal perempuan ini sangat sulit dan berliku, ia tak kan membiarkan Rani lepas dengan mudah begitu saja karena ia sangat tahu Rani tak punya siapa-siapa yang membuatnya gentar, Adisti masih tante Yaya anggap remeh ia akan dengan mudah menghasut, mengadu domba ibu dan anak ini agar Rani membenci Adisti dan terpisah dengannya.
Rani mulai sedikit waras, pengaruh sihir tante Yaya mulai memudar saat kehadiran Akbar kembali ke rumah Rani setelah menyelesaikan pendidikannya di boarding school dan ini mulai membuat tante Yaya ketar ketir. Tingkahnya blingsutan ketika ada Akbar, awalnya Rani tak peka namun akhir-akhir ini tante Yaya tak berani menampakkan batang hidungnya jika ada Akbar.
...
"Mam, Akbar nanti di jemput pulang ya, banyak barang yang mesti di bawa." Pesan direct message Akbar di akun jualan Rani.
"Iya, giliran hari apa diijinkan pulang." balas Rani.
"Senin Mam."
"Iya nanti Mama pinjam mobilnya dulu."
"Kenapa pinjam Ma? itu kan mobil kita!" Balas Akbar.
"Iya tapi gak bisa pakai sembarang, kecuali dia yang nyetir!"
"Bosan! dia lagi dia lagi! mang dia siapa ngatur-ngatur hidup mama? Akbar nggak suka dia!"
Percakapan direct message itu terpantau tante Yaya karena diapun meminta Rani untuk bisa mengakses akun instagram jualan Rani.
Rani baru menyadari kalau percakapannya di akun bisnisnya ini di baca tante Yaya karena sebelum Rani buka direct massage sudah dalam keadaan terbaca. Rani tau tante Yaya ikut membaca. Rani khawatir akan terjadi sesuatu khususnya pada Akbar. Benar saja, tak lama kemudian tante Yaya datang melabrak Rani.
"Dasar anak kurang ajar! Aku jadi tau sekarang dibelakang kamu ngomongin aku ya sama anak-anak kamu"
"Wajar aku berbicara pada anakku apa adanya? lalu maumu aku berdrama sepertimu begitu!" Sungut Rani.
"Aku nggak pernah ngomong apa-apa tentang kamu ke anakku!"
"Ya silakan saja omongin apa adanya tentang aku sama anakmu, aku tak keberatan!"
Sejak hari itu, intensitas tante Yaya membersamai Rani berkurang meski ia seperti candu, ia intip kegiatan Rani dan bertanya melalui tetangga Rani. Ia intip status whatsapp, media sosial dan selalu mendapat update dari tetangga. Tak biasanya datang berkunjung ke tetangga Rani lalu pergi. Begitu seterusnya.
...
Rani merasa tenang selama beberapa minggu tinggal bersama anak-anaknya tanpa kehadiran tante Yaya. Ada perasaan damai dan tenang di hati dan pikirannya. Ia teringat almarhum Mamanya,
__ADS_1
"Jangan-jangan dia yang bawa penyakit yang bikin kamu sering sakit!" bisik Mama menunjuk pada tante Yaya yang sedang anteng memainkan handphone.
Rani memberi kode dengan berkedip.
...
Rupanya tante yaya tak bisa menahan diri tak bisa bertemu Rani.
"Kamu enak ya beberapa minggu gak ketemu aku, gak di telponpun lempeng aja. Kamu nggak tahu betapa kesepiannya aku tanpa kamu!" Ujar tante Yaya dramatis.
Rani yang sedang merasa bugar, ketika bertemu dengan tante Yaya mendadak badannya demam, kakinya lunglai, telapak kakinya terasa menginjak ratusan batu kasar, nafasnyapun sesak.
Melihat Rani terbujur sakit, tante Yaya bermaksud mengajak Rani berziarah kubur tengah malam dan bertapa di tengah sungai. Akbar melarang. Rani mengikuti saran Akbar.
"Buat apa Ma?"
"Nggak ngerti!" Jawab Rani.
"Biar ibu kamu sehat nggak sakit-sakitan terus, masa sepanjang tahun sakit terus."
"Iya Mama sakit itu bukan sakit fisik biasa, bisa jadi berada dikuasai lingkungan orang toxic atau beracun otomatis badan Mama ngerasa dan jadi sakit."
...
Rani masih berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Jika usaha sebelumnya gagal di rebut tante Yaya, kali ini dia berpikir tidak mungkin karena yang punya akses hanyalah Rani. Rani diam-diam menghubungi temannya untuk ikut memasarkan air mineral. Dewinta seorang single parent lincah mengajaknya kerjasama memasarkan air mineral maklum langsung dari perusahaan daerah Air Minum.
Dewinta memanggil Rani ke kantornya, terjadilah obrolan penawaran dimana dalam satu grup maklun itu terdiri dari 10 perusahaan dan dalam grup tersebut masih kurang 1 perusahaan maklun. Maklun air mineral akan dapat diproduksi apabila memenuhi kuota kuantity dan kuota legalitas perusahaan.
Dewinta meminta Rani untuk membuat perusahaan dan menjadi penggenap untuk usaha maklun tersebut agar bisa langsung beroperasi. Tentunya dengan membawa merk masing-masing pinta Dewinta.
Rani bersedia dan bukan kebetulan ia sudah memiliki CV yang sedang di jalani sebagai EO ia tinggal menambah ijin perdagangan ke kantor pelayanan satu atap agar bisa mulai beroperasi. Modalnya Rani pikir masih bisa di jangkau, hanya dengan uang 10 juta ia sudah bisa mendapatkan ratusan karton air mineral siap edar.
Rani sudah memikirkan strategi memasarkannya, bekerjasama dengan katering, toko klontong dan lain-lain. Rupanya aktifitas ini tercium tante Yaya, ia mendapatkan info dari tetangga Rani, diam-diam tante Yaya mengikuti sampai ke kantor Perusahaan Daerah Air Minum selama beberapa hari terakhir. Saat Rani bertemu dengan Dewinta untuk menyerahkan legalitas dan administrasi serta patungan modal usaha tante Yaya diam-diam memantau Rani dari kejauhan.
Ketika Rani pamit pulang, mobil terios yang Rani kenal sudah berada di gerbang kantor PDAM itu. Seseorang membunyikan klakson dari dalam mobil yang sedang parkir di bawah pohon rindang. Rani sangat tahu siapa orang tersebut. Ya! tak lain dan tak bukan dia tante Yaya.
"Kamu punya usaha diam-diam! takut sama aku!?" Ujar tante Yaya ketus saat Rani sudah berada di dalam mobil yang sengaja tante Yaya jemput.
__ADS_1
Rani diam, "Aku sudah tahu aktifitas kamu dan aku tahu ngapain saja kamu disitu. Aku tahu kamu akan maklun air mineral kerjasama dengan CEO perempuan disana."
"Kamu ngapain memata-matai pergerakkanku?"
"Aku berbuat begini karena ulah kamu! coba kalau kamu jujur sama aku, aku nggak akan berbuat begini." Tante Yaya mulai playing victim seolah-olah apa yang Rani lakukan salahnya.
Aku sudah mendapat info banyak dari orang suruhanku di dalam pabrik air itu. Mau tak mau Aku harus ambil bagian dari perusahaanmu, kamu pasti akan kewalahan menghandle semuanya sendiri.
"Aku tak sendiri, ada anakku dan keluargaku yang membantu!"
"Jangan coba-coba melibatkan keluargamu!, kalau sampai melibatkan keluargamu kamu akan tahu akibatnya." gertak tante Yaya.
...
Rani menawarkan air mineral ini ke salah satu pabrik kertas dan mereka langsung deal minta di kirim 1000 karton. Namun kebingungan Rani selanjutnya sopir untuk mengangkut 1000 cup mineral ini siapa yang mau melakukannya?
Rani berpikir, mungkin kakak adiknya mau terlibat dalam proyek ini. Sebelum niatnya di utarakan.
"Awas jangan sampai keluargamu terilibat, hanya kita berdua!
...
Keesokan harinya,
"Eh Ran, kayaknya kakak aku cocok jadi driver nganterin air mineral dan aku ufah ngomongin soal ini juga ke kakakku, dia aku minta invest di usaha kita. Dia lagi mikir mau nggaknya" Ujar tante Yaya sumringah.
"Bukannya aku gak boleh bawa keluarga, sedangkan kamu bebas gitu?" Gelagat tante Yaya yang akan mengambil usaha Rani krmbali tercium.
Tante Yaya bersikukuh ingin memasukan kakak-kakaknya di perusahaan air mineral Rani.
...
Mungkin semesta mrmbaca pergerakan 2 orang ini, tetiba handphone Rani berbunyi,
"Maaf bu zepertinya kita cancel ngambil air cupnya. Karena sudah ada penawaran yang lebih murah. Maaf ya bu."
Semesta tak meridoi tante Yaya ikut campur lagi.
__ADS_1
#tobecontinue #truestory