
Tubuhnya sedikit atletis namun kekar, berperawakan tinggi menjulang sekitar 198 centimeter, dengan nomor sepatu sama dengan tante Yaya, berkulit kuning langsat, Windu si pemilik wajah cool selalu di bangga-banggakan tante Yaya yang merasa jadi perempuan paling beruntung sedunia karena berhasil menaklukkan hati Windu sahabat kakaknya sekaligus kakak kelas SMAnya dengan selisih satu tahun di atasnya yang ia incar sedari awal masuk.
Windu yang di gilai para perempuan tak pernah berpikiran menjadikan tante Yaya pasangannya karena ia menganggap tante Yaya adalah adik sahabatnya selain itupun mereka tak seiman.
Kebiasaan nongkrong dan bercengkrama dua sahabat ini yang sejak kelas 1 SMA terbawa sampai mereka lulus. Di Tahun kedua kenaikan kelas ibu Eyang memutuskan menambah kamar untuk Windu yang sudah dianggap anaknya sendiri.
Satu malam saat keduanya selesai melakukan hobby mereka balapan motor trail bersama komunitas Trab*s terlihat mereka pulang dengan wajah berbinar dan bahagia.
Pengalaman yang mereka jalani hari itu membuat mereka sangat antusias terutama bercerita tentang para perempuan-perempuan berbody bohay kecengan mereka di komunitas itu, sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya mereka menceritakannya kembali sambil sesekali tertawa lepas layaknya ABG sedang di masa pubertas diselingi saling mengejek satu sama lain dengan candaan yang membuat mereka kembali tertawa.
Tante Yaya yang saat itu insecure dijauhi teman-teman SMA nya karena dinilai tomboy, pongah, songong dan arogan, pulang sekolah memilih mengurung diri di kamarnya di lantai atas, karena badannya yang tambun dan menghindari gerah saat tidur, stelan baju tidurnya cukup bersinglet pria merk kesayangannya croc*dile dan ****** ***** katun pria bermerk durb*n.
Malam itu tante Yaya mendengar kakaknya dan Windu membuka pintu gerbang lalu mendengar tawa mereka terbahak-bahak hingga larut malam, sejenak terdengar senyap lalu mereka riuh kembali.
Tante Yaya mengintip dari jendela dan mendengarkan percakapan mereka. Terlihat beberapa botol Cointr*au minuman beralkohol yang didapatkan dari warung internasional turut menemani mereka sepanjang malam.
Ditemani Tivi yang menyala dan hembusan angin dari jendela yang dibuka, tante Yaya akhirnya terlelap tanpa mengunci pintu kamarnya.
Lewat tengah malam, setelah kedua sahabat itu lelah, mereka memutuskan masuk ke kamar masing-masing. Kepala Windu terasa berat, pandangan matanya kabur saat menaiki anak tangga badannya sempoyongan, di ujung bordes tangga Windu segera mendorong pintu kamar yang nampak di depannya lalu menghempaskan dirinya di kasur.
Jelang subuh, setengah sadar Tante Yaya terbangun karena merasa ada sesuatu yang berat menindih badannya. Saat membuka mata ia melihat wajah Windu berada tepat di depan wajahnya dengan nafas memburu. Tante Yaya merasakan gerakan memompa yang membuat dirinya terguncang berkali-kali dan berusaha menahannya, lalu dia melihat kembali wajah Windu yang mengerang sesekali. Tante Yaya di gagahi Windu.
__ADS_1
Dirinya yang sudah sejak lama menyukai Windu, saat ia di gagahi Windu dirinya tak berusaha mengelak dan berontak. Selanjutnya ia pun larut berbagi keluh dan peluh lalu berburu nafas bersama laki-laki idamannya. Tante Yaya memutuskan menikmati sentuhan, aroma tubuh Windu dan berkeringat bersama.
Windu sadar dengan apa yang telah dilakukannya pada tante Yaya, dalam hati Windu selalu digelayuti rasa penyesalan pada dirinya kenapa ia tak mampu menahan diri saat itu, padahal type perempuan yang ia idam-idamkan bukan tante Yaya, typenya seperti perempuan dalam komunitas trail nya bertubuh tinggi langsing dan mandiri. Namun ia sadar setelah kejadian itu ia takkan bisa lari dari keluarga itu.
Perubahan kecil yang dilakukan Windu setiap pulang sekolah selalu menunggu tante Yaya untuk pulang bersama sebagai bukti bahkan Windu bertanggungjawab atas apa yang terjadi dan itu membuat tante Yaya merasa berbesar hati dan pongah, dihadapan para perempuan-perempuan sok famous angkatan SMAnya.
Kejadian malam itu terus berulang saat keduanya bersama, sejak saat itu pula tante Yaya sangat antusias dan selalu mencari cara untuk terus membuat Windu terikat dengannya dengan membuat jebakan-jebakan kecil agar Windu ikut bereksperimen mencoba berbagai macam rasa kond*m yang ia dapatkan dari warung international.
"Gua beli kond*m yang lebih tipis dari yang sebelumnya dan akan lebih berasa enak, percaya deh! cobain yuk" Ajak tante Yaya.
"Kalo tipis ntar gampang sobek Ya!"
"Gua gak mau loe hamil Ya!" Tambah Windu.
"Bukan gitu Ya, gua gak enak sama kakak dan ibu loe! kalo gua sering masuk kamar loe entar mereka curiga kita ngapa-ngapain!"
"Kakak gua nggak bakalan protes kalaupun loe sering masuk kamar gua!"
"Gua tau kartu dia koq, orang pacarnya aja sering masuk kamarnya dia dan sering ikut mandi disini."
"Ah! gila loe! yang begituan jangan di umbar lah! entar ketauan bapak bisa babak belur loe!"
__ADS_1
"Kalaupun gua hamil juga gak bakalan minta tanggungjawab loe!, gua sadar gua suka koq ngelakuinnya" Tukas tante Yaya menantang nyali Windu.
"Terserahlah, gimana loe aja!" Balas Windu.
"Sini dong cobain" rajuk tante Yaya.
Tante Yaya membuka bungkus kond*m, lalu matanya excited dengan 'sizenya' Windu dan merayu serta menggoda Windu agar ' sizenya' di foto, Windu tak bisa mengelak.
Windu pasrah menuruti tante Yaya yang mendominasi.
...
Hingga akhirnya 11 tahun kemudian tante Yaya memutuskan mengikuti keyakinan Windu dan mereka resmi menggelar pernikahan, setahun sebelumnya pernikahan mas Bagus menjadi muslim lebih dulu dan menikah sehingga ia bisa menjadi wali pernikahan tante Yaya, karena pak Suroso tak diperkenankan menjadi wali untuk menikahkan tante Yaya.
...
Sepanjang perjalanan pernikahannya, Windu seringkali di ejek dan di cemo'oh tante Yaya salah satunya gegara ngga bisa nyetir mobil jenis SUV dan hatchback karena Kakinya terlalu panjang hingga lututnya pasti kebentur batang stir. Maka jika ia diminta nyetir mobil ia lebih nyaman mengendarai sedan daripada mobil jenis itu karena dengan begitu kakinya leluasa selonjor memanjang.
Celoteh dan bahasa tante Yaya yang pedas dan arogan karena seringkali betinteraksi dengan preman pasar seringkali membuat orang sakit hati dan tak nyaman berlama-lama dengannya, Kebiasaan mencemo'oh dan meremehkan orang lain inilah sering membuat Windu illfeel hingga dia dijauhi orang-orang bahkan suaminya sendiri untuk menghindari konflik dengannya.
Karena sesiapa yang bermasalah dengannya meski hal sepele dan sekecil apapun akan tante Yaya buat urusannya runyam dan penuh dengan konflik dan drama jika perlu ia akan menyetting kesalahan seolah menjadi milik rivalnya (playing victim) sehingga dengan demikian orang yang dekat dengannya lebih memilih diam mengalah atau bahkan pergi meninggalkannya untuk membiarkan tante Yaya merasa puas dan menang.
__ADS_1
...
#tobecontinued #truestory