
Rani mengambil buku nikah dua-duanya yang akan di serahkan pada pengacara atas permintaan tante Yaya, namun ia urung beberapa kali berpikir kembali. Sampai akhirnya tante Yaya memaksa Rani menyerahkan buku itu keesokan harinya karena ditunggu pengacara yang sudah di sewa tante Yaya.
Rani alergi dan phobia dengan status janda. Ia bingung dan dilema, apa yang harus ia lakukan dalam masa proses ajuan gugatan? sedangkan Rani dan Firman masih satu atap, pikirnya. Lalu kehidupan yang akan Rani jalani setelah menjanda bagaimana? Rani galau.
Dalam hal **** pun Firman gak bisa minta ampun, sehari sampai 5x ia sanggup karena koleksi blue filmnya tersimpan di handphonenya dan tak henti-hentinya Rani diperlakukan seperti budak **** Firman. Apalagi saat ia tau di gugat cerai, phsyco seperti Firman malah sangat paham trik agar gugatan itu gagal jika seminggu sebelumnya masih berhubungan badan maka hakim berhak membatalkan gugatan karena dikhawatirkan terjadi kehamilan setelah perceraian.
...
Setelah Rani sebelumnya memberitahu Firman ia gugat, tanggapan Firman dingin dan langsung meninggalkan rumah malam itu juga tanpa menanggapi apapun. Ternyata sikap diamnya Firman, bukan berarti hal sama ia lakukan pada ayah ibunya,
Ia mengadu pada ayahnya, Firman minta tolong pada orangtuanya untuk merayu Rani agar tidak menggugat cerai dirinya.
Esok paginya jam 10, babah dan ibu datang berkunjung menemui ayah dan mama Rani,
Ayah dan mama Rani heran dapat kunjungan besannya, selama belasan tahun mereka tak pernah sengaja berkunjung kecuali saat lamaran dan hari itu.
Dengan mimik heran, kedua alisnya kerung bertemu kerut,
"Ada apa ini ma?" Sambil melirik pada mama.
"Eugh! silaturahmi aja udah lama gak ketemu." Babah membantu menjawab pertanyaan ayah Rani.
Kedatangan mereka hari itu mengundang tanya, karena bahkan saat lebaran sekalipun besannya gak pernah mau bersilaturahmi dengannya karena mereka merasa derajatnya lebih tinggi dari ayah dan mama Rani.
Mereka terlibat obrolan garing yang terlihat kurang akrab namun dipaksakan, dan sama sekali tak menyinggung soal aduan gugatan menantunya pada Firman.
Saat pamit pulang, babah melihat-lihat rumah mama yang lebih luas daripada milik babah. Di ujung pintu pagar saat mereka pamit babah mengeluarkan uang 10 ribuan 2 lembar, babah sambil pamit menggamit tangan ayah Rani lalu menyelipkan uang itu ke tangan ayah dan satu lembar lagi ke tangan mama.
"Permasalahan anak ya tinggal anak, jangan sampai ayah dan mama ikut campur urusan rumah tangga mereka" ucap Babah sambil menggenggam tangan ayah Rani erat pertanda meneguhkan keinginannya untuk tak ikut campur rumah tangga Firman.
Saat mereka pergi, mama merasa dihinakan dengan pemberian uang tersebut.
"Apa-apaan ini? nyogok biar anaknya ga di gugat cerai gitu, dasar gob**?!"
...
__ADS_1
Rupanya malam itu Firman mengadu pada babah dan ibunya kalau Rani berani menggugat dirinya karena di suruh dan di dukung orangtuanya, padahal ayah dan mama Rani tak pernah ikut campur.
Bahkan mama baru tau kalau Rani ada masalah dengan Firman dari tante Yaya, yang bukan siapa-siapa mereka. Dan hari itu mulut Firman yang membuka segalanya pada tante Yaya, bukan dari Rani. Justru Rani selalu menutupi masalah mereka agar Rani punya alasan untuk menolak kehadiran tante Yaya.
...
Mama dan ayah memanggil Firman duduk bareng,
"Kenapa sampai babah dan ibu kesini gak ada hujan gak ada angin?"
"Nggak cuma Firman bilang kalau Rani pengen pisah."
"Lalu kenapa mereka bilang kami jangan ikut campur urusan rumah tangga anaknya, kalau tidak ada obrolan sebelumnya dari Firman?"
Firman menunduk,
"Kalau sekiranya sudah nggak sanggup mikul, lepaskan!" Ujar ayah.
"Jangan sampai Rani dibiarkan menanggung segalanya, bahkan kesulitan rumah tangganya nggak pernah ayah tau, tau-tau ada orang luar yang lebih tau dari kami!"
"Itu perempuan yang bergaya laki-laki!" jawab Mama.
"Rani nggak pernah curhat soal rumah tangga kita ke Tante Yaya, tapi kenapa dia jadi tau banyak persoalan rumah tangga kita, sampai Rani dianggap jadi orang gila" ujar Rani.
"Aku pikir kamu dekat dengan dia dan menjelek-jelekkan tentang aku sama dia!"
"Aku nggak sama dengan kamu mas!, kalau kamu berpikir aku menjelek-jelekkan kamu, berarti itu yang kamu lakukan selama ini pada orang-orang bukan! sampai punya prasangka kayak gitu"
"Aku pikir kamu sudah dekat dengan dia"
"Iya dekat, tapi aku punya batasan, aku nggak pernah menjelekkan nama kamu supaya kamu punya harga diri dan curhat soal rumah tanggaku pada dia, sekalipun sangat berat aku jalani bahkan ayah dan mamapun baru tau persoalan kita saat kamu nelpon tante Yaya."
Wajah Firman seketika muram menyesal.
"Selama 12 tahun aku ngga pernah di ajak main bareng satu keluarga dengan kamu, bahkan untuk sekedar makan di luar sekalipun aku tak petnah ngeluh, aku baru katakan itu sekarang karena aku berharap sebentar lagi kita tak lagi bersama" Ujar Rani kesal.
__ADS_1
"Harus selalu aku yang ngajak, itupun aku dan anak-anak harus bersiap tiba-tiba di tinggalkan kamu saat enak-enaknya kami makan karena kamu ngga mau membayar makanan keluarga kecilmu, dengan alasan yayasan nelpon lah! ditunggu pak Rasmin lah!. itu bukan sekali mas, tapi sepanjang kita menikah!" Tambah Rani panjang lebar mengeluarkan unek-unek.
....
Keesokan harinya, Firman membawa mobil bak pinjaman, ia berencana mengajak Rani dan anak-anak makan di resto depan Ayah dan mama.
Rani heran, nggak mungkin dia berubah dalam semalam. Rani ikuti kemauan Firman sampai dimana. Dalam perjalanan Firman bahkan tak tau restoran terdekat dari rumahnya.
"Mau kemana ini?" Tanya Firman.
"Kamu maunya kemana?" Tanya Rani.
"Kalau kejauhan ini macet, kalau sekedar makan akupun sudah kenyang." Ujar Firman sepertinya berubah pikiran.
"Jadi gimana?",Tanya Rani.
"Yah ini mobilnya mau di balikin lagi, takut mogok."
Dada Rani terasa Full,
Kenapa ia percaya pada orang pelit dan pembohong ini.
Rani dan Akbar minta diturunkan di sebuah mall, sementara Firman mencari tempat parkir. Setelah mobil Firman menghilang dari pandangan Rani dan anak-anak melanjutkan perjalanan dengan naik taksi pulang, Rani tersedu sepanjang perjalanan.
...
"Kenapa kamu selalu mengecewakan kami!" Tanya Rani sebelum turun dari mobil.
"Karena akupun diperlakukan demikian oleh orangtuaku tapi aku baik-baik saja! jangan terlalu di masukan dalam hati."
"Hanya sekedar makan saja beberapa piring, kamu sangat sayang mengeluarkan uangmu membeli kebahagiaan untuk dirimu sendiri berkumpul dengan keluarga kecil kamu!"
"Karena aku sangat bahagia jika melihat kamu dan anak-anak kecewa." Ujar Firman menyeringai pamer giginya yang panjang dan tonggos.
...
__ADS_1
#tobecontinue #truestory #tanteyaya #Kumiko