
Nissa dan Rani sedang menghandle persiapan event seminar Pelatihan Tari Nusantara bagi guru taman kanak-kanak se-Indonesia, beberapa hari ini mereka mencari properti yang diminta pemateri. Hingga jelang maghrib mereka masih berjibaku dengan traffic jalanan demi berburu properti dari dosen seni tari yang baru pulang ke rumahnya jelang malam.
Handphone Rani tak henti-hentinya bergetar sepanjang perjalanan,
[16.00] Misscalled
[16.05] Misscalled
[16.10] Misscalled
[16.12] Misscalled
[16.15] Misscalled
[16.21] Misscalled
[16.25] Misscalled
[16.31] Misscalled
[16.45] Misscalled
[16.49] Misscalled
[17.00] Misscalled
[17.05] Misscalled
[17.10] Misscalled
[17.12] Misscalled
[17.15] Misscalled
[17.21] Misscalled
[17.31] Misscalled
[17.41] Misscalled
[17.55] Misscalled
[17.56] Misscalled
[17.57] Misscalled
[17.58] Misscalled
[17.59] Ran Angkat!! Kalo nggak di angkat aku kejar kamu ke rumah kamu!
[17.59] Ran Angkat!! Kalo nggak di angkat aku kejar kamu ke rumah kamu!
[17.59] Ran?
[17.59] Ranii?
...
Sementara itu motor Nissa memasuki komplek perumahan dosen, berhenti tak jauh dari portal depan pos satpam.
"Ini kayaknya bu rumahnya" Ujar Nissa menghentikan motornya depan pagar sebuah rumah tua berwarna hijau.
Rani turun dari motor melepas helm dan menunggu Nissa memarkirkan motor.
"Tapi kayaknya gak ada orang, Niss"
"Iya bu"
"Biar aku telpon dulu bapaknya" lanjut Rani.
Rani mengambil telpon dan melihat puluhan misscall, Rani abaikan ia lebih memilih kontak telpon seseorang dan menghubunginya.
"Assalamualaikum pak, saya sudah depan rumah bapak ya, tapi maaf kayaknya nggak ada orang"
"Iya saya masih di jalan, ditunggu bu Rani sebentar beberapa menit lagi saya masuk komplek"
"Baik Pak, saya tunggu"
__ADS_1
Telpon di tutup, lanjut Rani membuka pesan, dan membalas SMS Tante Yaya.
"Aku lagi nyari properti di jalan"
"Properti untuk apa?"
"Properti untuk event"
"Iya apa propertinya?" Balasan tante Yaya Kepo.
Rani tak lagi tertarik membalas pesan, ia lebih tertarik melihat kedatangan Pak Danu yang turun dari mobil.
"Assalamualaikum Pak, selamat sore"
"Sore bu Rani, Maaf menunggu ya .. Mari masuk"
Rani dan Nissa masuk ke halaman mengikuti Pak Danu dari belakang dan Handphone Rani bergetar tak henti-henti.
...
"Besok saya bawa ya pak propertinya, karena ngga mungkin kalau dibawa sekarang, besok sekalian saya mencari kuda lumping di tempat lain."
"Baik Bu Rani, mudah-mudahan dapat ya dari tempat yang saya rekomendasikan, kalau bisa di telpon dulu biar Bu Rani ngga repot"
"Baik pak saya telpon sekarang"
...
"Duh ternyata kuda lumpingnya habis di sewa orang lain pak katanya"
"Hmmm sayang ya .. "
"Ya sudah besok pagi saya ada di rumah, tapi bu Rani jangan terlalu siang karena saya harus ke kampus"
"Baik pak, terima kasih, kita pamit."
...
Handphone Rani kembali bergetar, dan Rani angkat.
"Ya ada apa?" Ujar Rani kesal.
"Aku lagi ketemu orang ngurusin properti masa harus meladeni telpon kamu terus-terusan."
"Ya kan aku nanya properti apa? kali aja aku bisa bantu" Ujar tante Yaya merajuk.
"Aku lagi pusing nyari kuda lumping! puas?"
"Bilang dong dari tadi .. ntar aku bantu cariin" ujar Tante Yaya.
...
Motor Nissa melaju kembali ke arah kantor sesuai permintaan Rani. Ia merasa khawatir Adisti tidak nyaman karena dari pagi memakai seragam. Nissa tahu Rani meninggalkan Adisti bersama Firman di kantor Yayasan dan dia tahu pasti laki-laki itu takkan peduli dengan yang dilakukan Adisti, bahkan sebisa mungkin jika bajunya bladus Firman akan lebih senang karena dengan begitu ia berhasil mempermalukan Rani di mata orang-orang, sebagai ibu yang gak becus ngurus anak dan mementingkan diri sendiri di bandingkan anak-anak dan suaminya.
...
Handphone Rani bergetar, Rani lihat dan mengangkatnya sementara motor Nissa melaju menembus sorotan lampu-lampu kendaraan malam itu.
"Kuda lumpingnya butuh berapa Ran?" Suara tante Yaya diujung telpon
"Butuh 5 pcs aja"
"Kalau segitu ada ni, mau aku bookingkan atau mau langsung di ambil?"
"Boleh langsung di ambil aja kalau gitu takut ada yang sewa lagi" Ujar Rani sumringah.
"Ok, ambil ke rumahku kalau gitu ya"
"Ok, daerah mana rumahnya Ya?"
Lalu tante Yaya menunjukkan arah dari posisi terakhir Rani bersama Nissa.
"Dapet Kuda lumpingnya Niss, ada dari tetangganya tante Yaya" Ujar Rani mendekatkan suaranya ke telinga Nissa.
"Akhirnya berguna juga tu orang" ujar Nissa.
"Hush! jangan gitu ah!" Ujar Rani seraya menepuk bahu Nissa.
__ADS_1
...
Motor Nissa memasuki gang sempit, lalu berhenti depan rumah berpagar tinggi berwarna hitam di kelilingi kawat berduri dan beling-beling kaca di sepanjang tembok atas.
Rani mengambil handphone dan menelpon tante Yaya,
"Aku dan Nissa udah di depan pintu"
"Kamu sama Nissa?"
"Iya" Balas Rani pendek
"Bentar"
"Waaa, tolong bukain pintu ada tamu!" teriak tante Yaya pada Uwa Asih, persis di telinga Rani.
Mendengar itu segera Rani menutup telpon,
Tetiba suara slot pintu pagar dibuka dari dalam, seorang ibu paruh baya dengan tubuh pendek gempal menyambut Rani dan Nissa.
"Tantenya ada di kamar atas, masuk aja lewat tangga depan." Ujar perempuan itu.
tercium aroma mie rebus sepanjang Rani dan Nissa menyusuri tangga naik menuju kamar.
Semangkuk besar mie rebus lengkap dengan berbagai topping tersaji di atas meja setrikaan depan pintu kamar yang penuh dengan gelayutan baju-baju.
Rani dan Nissa bingung harus kemana, mereka berdiri mematung dekat mie rebus.
Terdengar suara berat langkah kaki menaiki anak tangga, sesaat kemudian muncul raut wajah perempuan berambut cepak yang Rani dan Nissa kenal. Tante Yaya!
...
Tante Yaya mengambil mangkuk mie rebusnya lalu membukakan pintu kamarnya, dan mempersilakan mereka masuk. Nampak diatas kasur tumpukan baju, berbagai mainan, celana jeans, kemeja, bantal dan selimut serta sepatu-sepatu milik shaira menjadi satu, hampir tak nampak ujung celah spring bed untuk mereka duduki, mirip sebuah gudang.
"Ayo duduk!" pinta tante Yaya.
"Dimana?" Tanya Rani.
"Diatas sini, gak apa-apa barang-barangnya dudukin aja" tambah tante Yaya.
Rani dan Nissa saling tatap.
"Nissa berdiri aja Bu, biarin disini." Ujar Nissa.
"Aku pikir kamu sendiri, nggak bareng anak tengil ini." Ujar tante Yaya keki.
Rani menyingkirkan beberapa barang, dan berusaha untuk menduduki ujung spring bed dengan kaki menekuk menapak lantai.
Tangannya refleks mengambil satu baju anak kecil yang dia pikir mungkin milik Shaira dan melipat baju itu.
"Jadi berapa harus aku bayar?" Tanya Rani sambil tangannya sibuk melipat baju.
"Nanti aja bayarnya kalau barangnya udah dipake". Ujar tante Yaya sambil menyeruput kuah mie dan menyalakan TV dengan remote dari kejauhan.
"Barangnya dimana?"
"Mang kamu nggak lihat tadi di balik pintu pagar masuk?"
"Oh nggak!" Jawab Rani.
"Lain kali kalo kesini sendiri aja, jangan bareng siapa-siapa", Pinta tante Yaya sambil mendelik ke arah Nissa.
Nissa membuang muka, Rani paham mereka sama-sama tak nyaman.
"hmmm, Kalo gitu aku pamit dan ijin aku bawa kuda lumpingnya"
"Hmmm" Suara tante Yaya tertahan.
Rani dan Nissa balik badan, membuka pintu kemudian mereka menuruni anak tangga kembali ke halaman depan. Sepanjang menuruni anak tangga benak mereka riuh dengan berbagai asumsi dan spekulasi kehidupan tante Yaya setelah melihat keadaan kamarnya di kunjungan pertama mereka malam itu.
...
"Aku tak bisa bayangkan suaminya mau tidur dimana?" Ujar Rani.
"Iya bu" Jawab Nissa pendek yang sudah terlihat lelah.
...
__ADS_1
#tobecontinued
#truestory