TANTE YAYA

TANTE YAYA
POV Pernikahan Rani


__ADS_3

Keinginan Rani untuk berpisah dengan Firman sudah sejak hari ke 3 mereka menikah, tapi dalam benak Rani, masa iya dia sudah jadi janda lagi dalam waktu 3 hari! Feeling Rani saat menuju pernikahan sebenarnya sudah tidak sreg dengan Firman, Rani sudah merasa ada yang nggak beres dengan kepribadian Firman.


Pikiran solutif Rani berpikir keras bagaimana agar pernikahannya tetap bertahan namun sambil mengarahkan attitude dan kepribadian Firman selayaknya laki-laki dewasa bersikap, mengambil keputusan, berbagi dan terutama bertanggungjawab.


Rani membeli berbagai macam koran dan mulai mencari sekolah kepribadian. Saat itu menemukan kelas Oki Asokawati, tapi bagaimana dia menyampaikan hal ini pada Firman, Rani bingung!


Maka keinginan itu ia pendam sampai ia tuliskan segala kejadian yang menimpanya dalam buku tulis biasa dengan menggunakan pensil. Berharap jika sesuatu terjadi pada Rani dan sampai Rani meninggal minimal mereka mengetahuinya dari catatan-catatan Rani. Karena Rani tak ingin ibu dan keluarganya tahu tentang kepribadian Firman yang aneh.


Terlebih saat minggu pertama Rani tak langsung di sentuh Firman, ia beralasan sedang puasa.


Justru hal itu dijadikan satu keuntungan buat Rani. Firman meminta selama 7 hari puasa dan itu bukan masalah untuk Rani toh menurutnya hubungan suami istri dalam pernikahan bukan satu-satunya tujuan untuknya, tapi ada hal lain yang ingin ia tuju, yaitu segera keluar meninggalkan rumah Mama.


Tapi sayang tujuan Rani tak tercapai hingga 3 tahun lamanya ia bersama Firman menghuni kamar utama rumah mama Rani yang sejak remaja ia tempati.


Pertanyaan Rani saat hari pertama menikah.


"Mas, rencana kita mau tinggal dimana setelah hari ini?" tanya Rani.


"Udah aja disini, rumah kamu besar, kamarnya juga banyak kan, gede-gede lagi?" Jawab Firman, sambil membuka koper yang dia bawa dari hari pertama akad meminta Rani membereskannya disatukan dalam lemari Rani.


Mendengar itu dada Rani terasa di tohok ada rasa sesal menyelimuti,


"Kenapa nggak ditanya dulu sebelum nikah ya?"


Rani mengangkat alis melihat koper tipis berwarna coklat itu, berasa aneh dilihatnya. Rani mengambil gantungan baju dan menggantung baju Firman, koper itu buru-buru Firman tutup kembali, dan Firman tak mengijinkan Rani membuka atau sekedar menyentuhnya, ia langsung menyimpannya di bagian paling atas lemari.


"Koq dia ngga ada malunya ya, nggak nanya dulu tiba-tiba main bawa baju aja pindahan." Monolog Rani dengan dirinya.


Awan kelabu menggelayut di kepala Rani, mengingat niat awalnya menikah ingin segera meninggalkan rumah mamanya dan membangun rumah tangga sendiri.


Mengingat perlakuan ibunya yang lebih sayang pada Ranti menantunya daripada Rani anak kandungnya sendiri.


...


Flash back ke selesai masa sekolah Rani dari SMA,


Bulan Maret selepas ujian kelas 3 SMA, Rani berharap bisa melanjutkan studinya di jurusan Bahasa Inggris yang dia suka, namun harapannya pupus saat obrolannya dengan mamah pagi itu,


"Tugas Mama udah selesai nyekolahin kamu, kamu sudah harus balikin semua biaya yang kamu pake buat pendidikan kamu." Ujar Mama dalam satu obrolan santai di warung ketika tidak ada pembeli.


"Mama udah nyariin kamu kerjaan ke Kak Ana, dia kerja di produk kecantikan di mall." mungkin maksud mama Rani, Kak Ana sebagai Beauty Advisor product M***.


"Kak Ana sudah bersedia masukin kamu ke kantornya, nanti sore dia kesini mau ngobrol dulu sama kamu."


"Tapi ijazahku belum keluar Ma." Ujar Rani.


"Gak apa-apa, kak Ana bilang bisa di siasati, dia mah butuh anak yang badannya tinggi, soal ijazah bisa menyusul."


...


Sore harinya Rani bertemu Kak Ana yang sengaja jajan ke warung sambil bertemu Rani,


"Eh Ran, gimana katanya udah lulus sekolah ya?"


"Iya kak," Jawab Rani pendek.


"Kebetulan ni ada lowongan buat BA di tempat kakak kerja, kerjanya enak cuma nawarin produk aja. Nanti segala kebutuhan seperti make up, seragam, gaji bulanan dan bonus kalo nyampe target bisa Rani dapet. Kerjanya 2 shift dari pagi sampai sore atau siang sampai malam." Jelas Kak Ana antusias.


"Rani pikir-pikir dulu ya kak."


"Eh Ran, enaknya lagi bisa nawarin ke om-om juga, Rani bisa dapet handphone, jalan-jalan, uang tambahan juga bisa dapet tuh."


"Ini jualan kosmetik koq sama om-om ya?" tukas Rani.


"Ngga jualan kosmetiknya Ran, tapi dapet fasilitas aja gitu."


Rani berpikir keras, dan .. keesokan harinya Rani memutuskan untuk menolak tawaran tersebut karena menurutnya tidak masuk akal.


Mama Rani tau, dan marah besar.


"Dasar anak bodoh!, kerjaan udah di depan mata malah di tolak!"

__ADS_1


"Nggak gitu mah, masa nawarin kosmetik ke om-om mau ngapain coba!"


"Perkara itu abaikan dulu yang penting kamu dapetin dulu kerja, dapetin uang biar kamu bisa bayar utang kamu bekas sekolah!."


Ada perasaan nelangsa dalam hati Rani saat itu.


"Ya sudah berarti mama terima tawaran mas Hendro kalo gitu!."


"Tawaran apa Ma?"


"Nikah sama dia!"


Rani teringat Mas Hendro dengan bau badannya Hendro yang mirip dupa setiap kali ke warung, pantesan sering berlama-lama nongkrong di warung ternyata ngeceng dia, tapi dia nggak pernah berani ngomong sama Rani tapi langsung ngomong sama Mama.


"Tapi Ma, mas Hendro itu kan non muslim."


"Iya nggak apa-apa, kamu masuk aja dulu pindah agama ikutin mas Hendro secara formalitas. Perkara doa dan sholat mah bisa sambil sembunyi-sembunyi juga yang penting beban mama berkurang nafkahi kamu."


Rani merengut, sedih.


...


Sejak saat itu Rani bekerja keras mencari pekerjaan yang bisa menghidupi dirinya, karena ia tak mau menerima 2 tawaran dari mamanya, sampai adiknya mengenalkan Firman yang menurut adiknya Firman pemilik yayasan pendidikan besar, Rani pikir jika bergelut di dunia pendidikan akan bersentuhan dengan orang yang berkualitas dan berattitude tinggi.


Perkenalan berlangsung cepat selama 3 bulan, dan dalam jangka waktu itu pula komunikasi dengan Firman on-off.


Tanpa Rani selidiki terlebih dahulu bibit, bebet, bobot tentang Firman.


...


Karena di buru kepentingan mama untuk tak lagi terbebani, Rani tak bisa mengharapkan pacarnya Indra yang sedang di tugaskan ke Magelang setelah mengikuti pendidikan Pilot di Curug. Meski surat darinya tak henti-hentinya datang tiap minggu, sampai pak pos hafal betul pada Rani.


Indra saat itu meminta Rani untuk menunggunya selama 3 tahun sampai ia kembali untuk menikahi Rani, namun 3 tahun menurut Rani sangat tidak mungkin karena keadaan yang memaksa Rani berpikiran bagaimana caranya agar segera keluar dari rumah mama dengan cara menikah.


Namun nasib berkata lain.


...


Rani yang bekerja di bagian promosi dan event planner satu produk German, saat itu belum berjilbab. Berhubung lingkungan Firman di lingkungan pendidikan maka Rani berinisiatif untuk mengubah penampilannya lebih syar'i dan sedikit-sedikit menyesuaikan pakaiannya dengan model-model tunik yang menutupi aurat.


Hingga hari pernikahanpun tiba dan keanehan-keanehan mulai mengiringi Rani. Sehari sebelumnya ia resign dari perusahaan tempatnya bekerja, mengetahui itu Firman dan ibu mertuanya kecewa,


"Kenapa keluar kerja, kan nanti bisa ngeringanin beban nafkah Firman." Ujar ibu mertua.


namun Rani bertujuan menghargai keluarga Firman yang agamis, sedangkan ia bekerja tidak diperbolehkan berjilbab.


...


Satu waktu, dalam kesempatan perkumpulan ormas yang Firman ikuti, beberapa hari setelah menikah, salah satu istri sahabat Firman Mba Ina, yang kurang lebih satu tahun di atas Rani bertanya,


"Nggak ada yang aneh selama nikah?" Ujarnya serius,


"Nggak Kak." Jawab Rani.


"Beneran?."


"Beneran kak, aku udah lama kenal mas Firman koq." Rani ngeles


"Oya selamat deh kalau gitu." sambil tersenyum miris.


Entah apa maksud pertanyaan Ina padanya, Rani tak coba menggubrisnya. Ternyata berbagai pengalaman tidak mengenakan selama perjalanan rumah tangga dengan Firman satu persatu menampakan diri, seperti misalnya .. ini,


...


Niat Firman puasa di 7 hari pertama setelah menikah,


Tanpa sepengetahuan Rani dalam 7 hari itu Firman berusaha mengobati eksim di daerah sensitifnya, namun setelah ia mencoba ternyata tidak berhasil. Akhirnya pada satu waktu Firman tak tahan lagi ingin berhubungan **** dengan Rani.


Rani terkaget daerah sensitifnya merah melepuh seperti eksim basah.


Melihat itu Rani merasa jijik dan bertanya,

__ADS_1


"Kenapa bisa gitu?"


Dengan nada setengah malu Firman menjawab dan merangkul Rani,


"Nggak ini karena keringat aja"


"Ah kalau gitu ngga usah dulu, Mas Firman pergi dulu ke dokter periksa dan diobati dulu"


Firman menolak, selama satu minggu itu Rani memaksa mengajaknya ke dokter tapi dia enggan. Tangannya terus memegang dan menggaruk area sensitifnya.


Rani teringat saat 2 minggu sebelum menikah, Firman menemui Rani ngobrol dengannya berdua di teras tak henti-hentinya ia menggaruk area sensitifnya. Melihat keanehan itu Rani berpikir mungkin tidak nyaman, tapi sempat berpikir juga kenapa tangannya sering menyentuh area sensitifnya itu jangan-jangan pakaian dalamnya kotor.


...


Setelah satu minggu kulit area sensitifnya semakin parah. Rani berpikir ini akan berbahaya buat dia juga. Rani berusaha membeli obat luar dari apotik, namun setelah di coba berbagai merk nggak ada yang mempan dan nggak sembuh-sembuh.


Rani bingung sendiri, sedangkan Firman terlihat santai dan tidak khawatir sedikitpun. Firman memaksa untuk berhubungan badan dia nggak sadar diri kalau dirinya sedang tidak sehat.


Memasuki minggu kedua di hari senin, Pak RW memberikan pengumuman pada warga untuk memeriksa kesehatannya dan memberitahukan ada kunjungan dokter umum yang melakukan pengabdian pada masyarakat secara gratis, plus masyarakat mendapat obat gratis.


Mendengar itu Rani memanfaatkan moment nya, Awalnya Rani mengajak Firman untuk pergi ke kelurahan, tapi lagi-lagi Firman menolak!


"Kamu aja yang pergi, bilang minta obat aja"


"Ya ngga bisa mas kan yang sakit, masa aku yang minta obat"


"Pokoknya nggak mau!"


Firman memilih diam di kamar dan tidur.


Rani berpikir jika ia sengaja pergi ke klinik hanya untuk minta obat, dokter akan memintanya membuka bagian yang harus diperiksa sedangkan Rani tidak mengidap penyakit apa-apa dan nanti akan dianggap berbohong untuk meminta resep obat, tapi jika ia pergi ke kelurahan Rani pikir tidak akan mungkin dokter meminta membuka area ***********, karena di kelurahan tidak disediakan ruangan periksa.


Dengan sepengetahuan Firman, Rani pergi ke kelurahan. Rani melihat sekeliling area kelurahan hanya terdapat meja pendaftaran, meja ukur tensi darah dan meja periksa dokter masing-masing dilengkapi satu-dua kursi berhadapan dengan meja, tanpa sekat atau partisi untuk ruang periksa.


Rani pikir, posisinya aman karena hanya ingin meminta resep obat yang ampuh benar-benar dari dokter.


...


Giliran Rani dipanggil, ditanya identitas mulai nama, umur dan RT/RW. selanjutnya Rani tensi darah Rani diperiksa dan di timbang badan. lanjtu duduk menghadap dokter,


"Sakit apa bu?"


"Anu saya gatal-gatal dok!"


"Boleh di lihat bu?"


"Duh malu dok" Jawab Rani.


"Nggak apa-apa biar saya lihat kasusnya"


Rani bersikukuh tidak mau diperiksa, dalam dadanya ada rasa khawatir bohongnya ketahuan.


"Kalau ada ruang periksa ya nggak apa-apa dok, kalau harus disini diperiksanya saya malu." ujar Rani ngeles.


"Kira-kira sudah berapa lama gatal-gatalnya?" tanya dokter muda itu.


"Dua minggu dok,"


"Baik kalau begitu, saya berikan obat oles dan antibiotik ya, antibiotiknya diminum sampai habis."


Lalu dokter mengambil obat merk Erphamaz*l dan memberikan tablet antibiotik untuk diminum selama 3 hari,


Rani merasa lega, dirinya lolos.


Seminggu kemudian eksim Firman sembuh total, namun meninggalkan bekas.


...


Jangan lupa kebahagiaan diri kita akan menentukan orang-orang di sekeliling kita. Jika batin kita tidak bahagia maka akan di kelilingi orang yang satu frekuensi dengan kita.


Bahagiakanlah diri terlebih dahulu agar dikelilingi kebahagiaan dari luar. Setujukah?

__ADS_1


#tobecontinue #truestory


__ADS_2