Taqdir Cinta

Taqdir Cinta
Makna cinta dan kisah cinta manusia mulia


__ADS_3

...🌻🌸🌼🌸🌻...


...3.Āli 'Imrān : 31...


...قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ...


...Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.


...


...*🌻🌼🌸*🌻...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


*Cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki* .


dan setiap insan Muslim pada dasarnya harus mencintai Sang Maha Cinta.


Karena ketika seorang Muslim mencintai Allah.


maka ia akan mendapatkan perlindungan dan pengampunan dari-Nya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Sepulang dari rumah kakanya Khairul dan istrinya langsung beristirahat di kamarnya, sebelum tidur


Seperti biasanya Khairul akan mengajari ilmu agama kepada istrinya.


Malam itu Khairul menceritakan tentang hakikat cinta, Dan cerita cinta dari orang mulia yaituh kisah cinta syaidina ali dan syaaidah fatimah RA.


Cinta dan rindu.


Dua rasa yang mampu membuat seseorang seolah terbang melayang.


Saat cinta dan rindu menyapa, tak ada seorang pun yang sanggup menolaknya.


Bak kekuatan yang super dahsyat, cinta dan rindu bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan.


Tidak ada definisi yang pasti atas cinta. Tiap orang yang pernah merasakannya, tentu akan memiliki pemahaman yang berbeda tentang cinta begitupun dengan rindu.


Tiap orang memiliki cara berbeda untuk mengungkapkan kerinduannya.


Seperti kita semua ketahui, di dunia ini begitu banyak cerita cinta yang berkembang.


Namun dari semua cerita cinta itu, hanya cinta kepada Allahlah yang memiliki derajat dan kenikmatan paling tinggi.


Lalu, cinta kepada Rasulullah dan sesama manusia karena cinta kita pada-Nya.


Kemudian, cinta sekadarnya saja, yang hanya untuk memuaskan nafsu duniawi semata.


Semua pengertian tentang cinta dan rindu memang kembali lagi kepada kita.


Namun, Imam Al-Ghazali


mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik


Akarnya tetap di bumi ,Cabangnya di langit


Dan buahnya lahir di batin, lidah dan anggota badan


Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu


Dalam hati dan anggota badan,Seperti ditunjukkannya asap dalam api

__ADS_1


Dan ditunjukkannya buah dalam pohon


Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati


Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hambaNya


Dia berikan cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, dan kaum muslimin.


Yang semuanya tidak melebihi cintanya pada Allah.


Banyak orang yang tidak sadar bahwa dia telah tunduk pada cinta, yang seharusnya cintalah yang harus tinduk pada kita.


Kita yang mengendalikan cinta, bukan cinta yang mengendalikan kita.


Mungkin kita semua pernah mendengar kalimat “cinta itu buta”, dan itu bisa jadi benar adanya.


Oleh karnanya, ketika kita tau kalau cinta itu buta, kita yang harus bisa mengendalikan cinta supaya kita tidak dibutakan olehnya.


Berbeda dengan orang yang dikendalikan oleh cinta, dia akan mengikuti apapun yang diinginkan cinta, saat cinta buta, maka dia pun ikut buta sehingga tidak bisa membedakan mana cinta yang seharusnya diperjuangkan dan mana yang tidak.


Kita tidak tau apakah cinta yang kita rasakan ini harus diperjuangkan atau tidak.


banyak orang yang salah kaprah tentang cinta yang harus diperjuangkan, sebelum kita memperjuangkan cinta, kita harus lebih dulu tau tentang hakikat cinta itu apa, agar kita tau cinta mana yang harus diperjuangkan.


Setiap orang pasti punya pendapat sendiri tentang makna cinta, dan sejarah mencatat bahwa manusia tidak pernah satu suara terntang maknanya walaupun maksudnya sama.


Bahkan para penyair yang kesehariannya menumpahkan tintanya untuk menuliskan kata-kata cinta bersepakat untuk tidak bersepakat dalam pemaknaan cinta.


Cinta adalah kecondongan hati terhadap sesuatu yang ia sukai dan berkeinginan untuk menjadi suatu tersebut atau menirunya dalam segala hal, dan menafikan semua rasa cinta didalam hati kecuali cintanya pada sesuatu tersebut.


Dan satu hal yang harus kita perhatikan, mencintai sesuatu harus dilandasi dengan pemahaman terhadap rambu-rambu yang sudah ditetapkan juga kita harus tau kepada siapa dan kapan kita mencintai.


Oleh karnanya, cinta yang hakiki adalah cinta yang berpangkal manis didunia, dan berujung manis di akhirat.


Cinta yang membuat kehidupan didunia penuh dengan kebahagiaan, serta membawa keselamatan di akhirat.


Kisah cinta antara syaidina Ali dan syaidah fatimah yang berlandaskan pada iman dan keyakinan hanya pada Allah semata.


Meski keduanya saling mencintai satu sama lain dari jauh hari sebelum keduanya menikah, keduanya mampu menyimpan cinta di hati masing-masing untuk satu sama lain dengan sangat baik.


Keduanya mampu menyimpan cinta di hati masing-masing hingga akhirnya mereka bisa saling mencurahkan cinta keduanya dalam ikatan yang halal. Yakni ikatan pernikahan.


Meski akhirnya keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan, perjuangan dan pengorbanan keduanya untuk sampai ke pernikahan tidaklah mudah.


Berkali-kali syaidina Ali harus merasa kecewa dan berusaha ikhlas menerima kenyataan bahwa syaidah Fatimah telah dilamar pria lain yang jauh lebih sukses, jauh lebih berpengaruh dan jauh lebih dekat dengan Rasulullah, ayah dari wanita mulia bernama Fatimah.


Hati syaidina Ali Bin Abi Thalib sekita hancur setelah mengetahui wanita pujaannya dilamar oleh seorang pria.


Terlebih lagi, pria tersebut memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan juga di mata Rasulullah.


Pria tersebut adalah Abu Bakar As Shidiq.


Ya,Ya syaidina Abu Bakar telah memberanikan diri menghadap Rasulullah dan mengutarakan niatnya untuk mempersunting putri kesayangan Rasulullah, syaidah Fatimah Az Zahra.


Tapi ternyata, syaidah Fatimah menolak lamaran syaidina Abu Bakar.


Mendengar penolakan ini, hati Ali kembali sedikit tenang. Wanita yang begitu ia cintai dan setiap hari ia sebut namanya dalam doa untuk diberikan keridhoan Allah atas dirinya, tidak jadi menjadi milik orang lain.


Sayang, ketenangan dan keceriaan di hati syaidina Ali kembali sirna.


Hatinya kembali hancur ketika mendengar kabar bahwa sahabatnya, seorang yang juga memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan Rasulullah serta sangat gagah perkasa dan memiliki segalanya yakni syaidina Umar Bin Khatab menghadap Rasulullah dan mengatakan bahwa ia ingin meminang syaidah Fatimah.


Beruntung, sekali lagi takdir berpihak kepada syaidina Ali. Lamaran syaidina Umar ditolak oleh syaidah Fatimah juga Rasulullah.


Hati syaidina Ali pun kembali menjadi lebih tenang. Namun, di sisi lain hatinya juga sangat gundah, sedih dan galau.

__ADS_1


Jika kedua pria yang memiliki kedudukan tinggi di mata Allah juga Rasulullah saja ditolak lamarannya, bagaimana dengan dirinya yang hanya seorang pemuda miskin dan tak punya apa-apa.


Kondisi inilah yang membuat syaidina Ali menjadi pasrah. Ia hanya meminta kepada Allah agar diberikan yang terbaik padanya.


Kalau pun memang syaidah Fatimah akan menjadi istrinya, di dunia dan insyaallah di akhirat, pasti Allah akan memberikan jalan terbaik dan termudah baginya.


Dalam sebuah riwayat dikatakan, suatu hari syaidina Ali berbincang dengan syaidina Abu Bakar dan ia mengatakan.


”Wahai Abu Bakar, engkau telah membuat hatiku yang sebelumnya tenang menjadi goncang. Engkau telah mengingatkanku akan sesuatu yang sudah aku lupakan. Demi Allah, aku menghendaki Fatimah.


Tapi, yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk memberanikan diri datang padanya.”


Mendengar pernyataan syaaidina Ali, syaidina Abu Bakar pun tersentuh lantas mengatakan.


“Wahai Ali, janganlah engkau berkata demikian. Bagi Allah dan RasulNya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka.”


Mendengar nasehat syaidina Abu Bakar dan atas dukungan beberapa sahabat yang lain, syaidina Ali pun lantas memberanikan diri menghadap Rasulullah dan mengutarakan isi hatinya.


Apa yang disampaikan Rasulullah pun begitu mengharukan dan menyentuh hati.Dengan perasaan ragu-ragu namun penuh harap, syaidina Ali pun menghadap Rasulullah.


Ia mengutarakan niatnya untuk meminang Fatimah Az Zahra. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa wajah Rasulullah berseri-seri atas kedatangan syaidina Ali.


Beliau lantas mengatakan,


“Apakah engkau memiliki suatu bekal mas kawin?.” Dengan penuh ketulusan Ali pun menjawab, “Demi Allah, engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku ya Rasulullah.


Tak ada sesuatu tentang diriku yang tak engkau ketahui. Aku tidak memiliki apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.”


Mendengar jawaban syaidina Ali, Rasulullah pun tersenyum lantas mengatakan.


“Tentang pedangmu, engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah.


Dan untamu, engkau tetap memerlukannya untuk mengambil air bagi keluargamu juga bagi dirimu sendiri.


Engkau tentunya memerlukannya untuk melakukan perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkanmu dengan mas kawin baju besi milikmu.


Aku bahagia menerima barang itu darimu Ali. Engkau wajib bergembira sebab Allah lah sebenarnya yang maha tahu lebih dulu.


Allah lah yang telah menikahkanmu di langit lebih dulu sebelum aku menikahkanmu di bumi.”


(HR. Ummu Salamah r.a).


Rasa syukur pun tak henti diucapkan oleh syaidina Ali. Ia akhirnya menikah dengan seorang gadis yang telah lama dicintainya dengan sangat tulus.


Pernikahan antara syaidina Ali dan syaidah Fatimah pun dilangsungkan dan penuh hikmah.


Setelah menikah dengan syaidah Fatimah, sesaat hati syaidina Ali kembali dibuat sedih setelah syaidah Fatimah mengatakan bahwa ia pernah mencintai seorang pemuda sebelum menikah.


Tapi, selama ini ia menyimpan rapat cinta tersebut dan hanya ia juga Allah yang tahu.


Bahkan, di dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa cinta syaidah Fatimah untuk seorang pemuda ini tidak diketahui oleh jin ataupun setan sekalipun.


Namun, kesedihan tersebut tak berlangsung lama dan syaidina Ali pun kembali merasa sangat bahagia luar biasa ketika syaidah Fatimah menjelaskan lebih dalam bahwa seorang pemuda yang ia cintai sebelum menikah adalah dirinya.


Ia adalah seorang pemuda yang mampu membuat detak jantung syaidah Fatimah berdetak semakin cepat setiap kali ia berada di dekatnya atau bertatap muka dengannya.


Ia adalah pemuda sederhana namun sangat mulia dan istimewa di hadapan Allah, Rasulullah juga semua umat muslim.


Ia adalah seorang pemuda yang kini telah menjadi suaminya, . Ia adalah syaidina Ali Bin Abi Thalib.


Syaidina Ali dan syaidah Fatimah adalah sepasang suami istri yang begitu mencintai dengan tulus satu sama lain.


Meski kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan mulus seperti apa yang ada di bayangan mereka, mereka tetap saling mendukung satu sama lain.


Mereka juga saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain dengan kasih sayang yang tulus serta mengesankan.

__ADS_1


Khairul pun, mengecup kening istri ya dan berbisik di telingan istrinya, akang belajar mencintai mu seperti kemuliaan cinta Syaidina Ali terhadap Syidah Fatimah.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2