Taqdir Cinta

Taqdir Cinta
Keindahan ciptaan Tuhan


__ADS_3

🌷 Keindahan 🌷


...🌹🌹🌹...


...Wanita itu sangat indah dengan sifat malunya. Jika sifat itu sudah hilang, maka hilanglah pula keindahannya....


...Habib Ali Zainal Abidin....


...🌹🌹🌹...


🌻🌻🌻🌻🌻


Kerana engkau adalah wanita, sudah selayaknya engkau menyedari tentang bagaimana Allah menciptakan dirimu dan Nabi memperingatkan tentang fitnah yang muncul darimu.


Kerana engkau adalah wanita, maka banyak para lelaki melemparkan pandangan matanya kepada dirimu kecuali mereka yang memiliki kemuliaan jiwa menundukkan pandangannya kerana takut tentang fitnah yang ditimbulkan olehmu.


Dunia ini hiasan dan sebaik baik perhiasan dunia adalah wanita solehah.


🌻🌻🌻🌻🌻


Pagi-pagi setelah selesai sholat duha Khairul menemui abah guru Sayuti, mereka mengobrol di belakang rumah, suasana pagi nan asri, terdengar kicawan burung nan merdu, mentari pagi pun menyapa hangat ya memberi kenyamanan tiada tara, nikmat tuhan memang luar biasa, semua karunia dari sang maha pencipta.


Rumah guru Sayuti memang berada di bawah kaki gunung pemandanganya begitu indah mempesona, terlihat rimbun hutan Kalimantan yang begitu alami.


Keindahan alam yang elok dan sedap di pandang mata, berjajar dari ujung timur ke barat, utara ke selatan. membentang luas di daratan maupun di kedalaman Lautan.


Membuat siapapun yang melihat dan mencicipi keindahan alam Indonesia akan berdecak kagum memuji-Mu, karena ciptaan Allah SWT inilah yang sangat menyejukan hati dan menenangkan jiwa.


Semua manusia, tak terkecuali, pastinya akan cinta pada keindahan yang sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia. Itulah salah satu karunia yang Allah SWT berikan kepada manusia. Karena itu, jika ada seseorang yang tidak mencintai keindahan alam dengan berbagai keragamannya ini, maka sesungguhnya ada yang salah pada dirinya. Bahkan, Allah SWT sendiri indah dan mencintai keindahan.


Ketika kita menikmati keindahan ciptaan Allah yang Maha Perkasa, langit dengan bintang gemintangnya, bumi dengan hamparan laut dan pemandangan alam dengan pegunungan, perbukitan yang menakjubkan, maka semua itu menjadi sarana bagi kita untuk selalu bertafakkur, lebih termotivasi, bermuhasabah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya.


Dan juga selalu memuji kebesaran dan keagungan-Nya. “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Ali Imran: 190-191).


Menikmati keindahan alam yang Allah SWT ciptakan ini, pastinya dapat mendamaikan, menenangkan dan mempesonakan pandangan. Hayati satu persatu keindahan alam ciptaan Ilahi ini. Kesempurnaan ciptaan yang tiada bandingan.


Keindahan alam berbagai rupa dan warna sungguh mengagumkan. Memukau pandangan, terpaku dengan ciptaan Ilahi. Kita pun akan bersyukur.


Karena itu, jangan sekali-kali kita tidak bersyukur atas nikmat Allah SWT yang kita nikmati itu seperti pandangan mata yang dapat menikmati keindahan ciptaan Ilahi.


Bersyukurlah, di kala susah dan senang, sedih dan gembira. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita apabila ujian besar menimpa. Jangan buta hati, karena jika hati buta, maka pandangan mata hati kita juga akan buta.


Sungguh indah alam ciptaan ilahi. Hanya dengan memandangnya dapat menenangkan dan mententeramkan hati dan jiwa kita. Nikmat yang tidak ternilai harganya yang Allah SWT berikan kepada kita semua.


Semoga kita semua mendapat ketenangan, disaat menikmati dan mengagumi akan kekuasaan Maha Pencipta. Rehat sejenak menenangkan hati dan pikiran agar kesegaran dan ketenagan hati ini datang dari Nya.


Di saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba Nissa datang membawa mampan makanan dan 2 cangkir kopi untuk Khairul dan guru Sayuti, rasa cangung terlihat jelas dari keduanya, melihat tingkah keduanya guru Sayuti hanya tersenyum.


Khairul hanya bisa menunduk, dia tak mampu melihat wanita pujaan hatinya itu, entah mengapa setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu Khairul malah semakin cangung dia tak bisa bersikap seperti biasanya.


Tak bisa di pungkiri jauh dari lubuk hati Khairul sangat mencintai Nissa, tapi dia sadar dan yang dia tau Nisa akan segera menikah, sedangkan melamar di atas lamaran saudaranya itu haram.


Berdasarkan buku Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd dijelaskan, melamar wanita yang sudah dilamar orang merupakan hal yang dilarang sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih.


Namun demikian, para ulama berselisih pendapat apakah larangan tersebut menunjukkan batalnya perbuatan yang dilarang atau tidak?.

__ADS_1


Menurut Imam Dawud, pernikahan tersebut otomatis batal. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah, pernikahannya tidak batal. Sedangkan Imam Malik memiliki tiga versi pendapat mengenai hal ini.


Pertama, pendapat beliau sama dengan Imam Dawud yakni batal. Kedua, pendapatnya sama dengan Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah. Dan di pendapat yang ketiga, beliau berpendapat bahwa pernikahan batal jika terjadi sebelum adanya hubungan suami istri, dan tidak batal jika terjadi sesudahnya.


Sedangkan menurut Ibnu al-Qasim, maksud larangan tersebut adalah jika seseorang yang saleh melamar atas lamaran sesama orang yang saleh. Akan tetapi, jika seseorang yang saleh melamar atas lamaran orang yang tidak saleh maka hukumnya boleh.


Namun begitu perkara melamar atas lamaran orang lain menurut mayoritas ulama, hukumnya haram. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh al-Hafizh dalam kitab Fathul Bari.


Dalam kitab tersebut dijabarkan, menurut Al-Khittabi menegaskan bahwa sebagian besar ulama ahli fikih menegaskan larangan akan hal tersebut.


Larangan dilakukan sebab mendahulukan adanya etika. Sehingga larangannya bukanlah larangan haram yang bisa membatalkan akad.


Sedangkan Imam An-Nawawi berpendapat, para ulama sepakat bahwa hal tersebut merupakan larangan yang bersifat haram namun demikian mereka berselisih pendapat mengenai syarat-syaratnya.


Menurut ulama-ulama dari mazhab Imam Syafi’i dan Imam Hambali, hukum haram diterapkan apabila lamaran sudah dijawab dengan tegas atau sang wali sudah merestuinya. Namun jika lamaran sudah ditolak dengan tegas, maka hal itu tidak menjadi haram.


Sedangkan Imam Dawud berpendapat, jika lelaki kedua menikahi wanita tersebut, maka akad nikahnya akan batal.


Adapun hadis-hadis yang menegaskan adanya larangan tersebut antara lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Hadist tersebut berbunyi:


“Dari Uqbah bin Amir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:


seorang mukmin adalah saudara dari mukmin yang lain. Seorang mukmin tidak halal menjual atas penjualan saudaranya, dan tidak halal melamar atas lamaran saudaranya sebelum ia meniggalkannya,”.


Selanjutnya, hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam An-Nasa’i nyang bersumber dari Abu Hurairah. Hadist tersebut berbunyi:


“Sesungguhnya tidak boleh melamar atas lamaran orang lain sebelum ia menikahi atau meninggalkannya,”.


Larangan tersebut juga dipertegas kembali dengan hadist berikutnya.


Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Seseorang tidak boleh melamar lamaran orang lain sebelum pelamar sebelumnya meninggalkan lamarannya, atau ia sudah memberi izin kepadanya,”.


Tak jauh berbeda dengan Khairul, Nisa pun merasakan hal yang sama, entah mengapa setelah lama tidak bertemu dengan Khairul dia malah begitu canggung, walau tak bisa ia pungkiri jauh dari lubuk hatinya dia sangat merindukan Khairul.


Mungkin seandainya dia laki-laki dia pasti sudah mengungkapkan dan mengejar cintanya itu, tapi dia hanya seorang wanita, yang hanya bisa menanti, dan berdoa.


Nisa tau laki-laki dan wanita itu tidak sama


Menyamakan wanita dengan lelaki, jelas kedzaliman. Karena dua makhluk ini memang Allah ciptakan berbeda. Allah menegaskan, “Laki-laki tidak sama seperti wanita.” (QS. Ali Imran: 36).


Di sana ada banyak kelebihan yang Allah berikan kepada lelaki, yang tidak dimiliki oleh wanita. Baik dari sisi fisik maupun non fisik.


Akan tetapi, jangan lupa, pada beberapa keadaan, posisi wanita sangat menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan hidup dirinya atau orang lain. Berikut diantaranya,


Pertama, sebelum menikah, wanita adalah palang pintu surga bagi orang tuanya. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


“Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya.” (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).


Dalam riwayat lain, “Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


“Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669).


Kedua, setelah menikah, suami menjadi palang pintu surga bagi wanita. Dalam hadis dari Abdurrahman bin Aur radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Apabila wanita shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka disampaikan kepadanya: Silahkan masuk surga dari pintu manapun yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad 1683 ).

__ADS_1


Lebih tegas lagi disebutkan dalam hadis dari Hushoin bin Mihron, bahwa bibinya mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyampaikan masalahnya. Selesai urusannya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki suami?”


Si bibi menjawab: “Ya”.


Nabi bertanya lagi, “Bagaimana kedekatanmu dengannya?”


Si bibi menjawab, “Aku berusaha keras untuk taat kepadanya, kecuali untuk pekerjaan yang tidak mampu aku lakukan.”


Beliaupun bersabda: “Lihatlah bagaimana kedudukanmu di sisinya. Karena sesungguhnya suamimu itu pintu surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad 19003)


Ketiga, setelah memiliki anak, wanita adalah pintu surga bagi anaknya Dari Jahimah as-Salami radhiyallahu anhu, bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam. “Ya Rasulullah, saya ingin ikut berjihad. Saya datang untuk meminta penndapat kepada Anda.” Tanya Jahimah.


“Apakah kamu punya ibu?” tanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.


“Ya, masih ada.” Jawab Jahimah.


Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Selalu dampingi ibumu, karena surga di bawah kaki ibumu. (HR. Nasai 3117, Baihaqi ).


Keempat, karena kecantikannya, wanita sangat menarik pandangan kaum lelaki. Karena itu, dengan daya tariknya, wanita bisa menjadi sumber dosa bagi lelaki. Dalam hadis dari Usamah Bin Zaid radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari 5096 dan Muslim 2740).


Untuk itulah, Allah perintahkan kepada para wanita agar lebih banyak berdiam di rumah dan tidak suka keluar rumah. Rumah adalah hijab yang paling syari bagi waita. Allah berfirman, “Menetaplah di rumah kalian dan jangan tabarruj seperti tabarrujnya orang jahiliyah.” (QS. Al-Ahzab: 33).


Allah gandengkan perintah untuk menetap di rumah dengan larangan tabarruj. Karena umumnya, ketika wanita mulai senang keluar rumah maka dia akan melakukan tabarruj.


Itu artinya, ciri wanita solihah di sisi Allah, bukan mereka yang aktif keluar rumah, tapi mereka yang lebih aktif di dalam rumah.


Kelima, karena kedekatannnya dengan anak, ibu adalah madrasah bagi putra putrinya. Merekalah akan membentuk generasi. Para ulama menyebutkan, “Ibu adalah pencetak generasi.” Karena dia memiliki peran terbesar dalam mendidik anak.


Simaklah, di sana ada Ibunda Imam as-Syafii. Beliau menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin, “Aku tumbuh sebagai seorang yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku (untuk upah mengajar). Dan ketika itu guruku merasa cukup dengan hanya aku menggantikannya apabila ia pergi. (sebagai ganti upah ngajar).”


Beliau juga mengatakan: “Aku tidak memiliki harta. Dan aku menuntut ilmu ketika masih muda.” Setelah tinggal beberapa lama untuk membesarkan Syafii kecil di daerah Ghazah, Asqalan, Yaman, ibunda al-Imam asy-Syafii membawanya ke negeri Hijaz. Ibunda asy-Syafii memasukkan Syafii kecil ke dalam kaumnya, yaitu kabilah al-Azdi, karena ibunda Syafii keturunan kabilah al-Azdi. Dan mulailah Syafii kecil menghafal al-Quran hingga berhasil menghafal seluruh al-Quran pada usia tujuh tahun.


Di sana ada ibunda Imam Ahmad, yang ayahnya meningga ketika Ahmad masih kecil. Imam Ahmad bercerita, “Ibu-ku yang menuntun diriku hinggal aku hafal al Quran ketika masih berusia 10 tahun. Dia selalu membangunkan aku jauh lebih awal sebelum waktu shalat subuh tiba, memanaskan air untukku karena cuaca di Baghdad sangat dingin, lalu memakaikan baju dan kami pun menunaikan shalat tahajud semampu kami.”


Usai menunaikan shalat malam, sang ibu pergi ke masjid dengan mengenakan cadar untuk menunaikan shalat shubuh bersama Ahmad semenjak beliau berusia 10 tahun. Sejak pagi hingga tengah hari, Imam Ahmad terus diajari ilmu pengetahuan oleh sang ibundanya.


Ibunda Ahmad pernah berpesan, “Anakku, pergilah untuk menuntut ilmu Hadis karena hal itu adalah salah satu bentuk hijrah di jalan Allah!” Sang ibu mengemas seluruh keperluan sang anak dalam perjalanan, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah jika dititipi sesuatu, Dia akan selalu menjaga titipan tersebut. Jadi, aku titipkan dirimu kepada Allah yang tidak akan membiarkan titipannya terlantar begitu saja.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


NB:


Seorang anak bertanya kepada bapaknya,


“Apa perbedaan antara senyumanku dan senyumanmu ayah?”


Sang bapak pun menjawab,


“Perbedaannya adalah engkau tersenyum saat dirimu bahagia, dan aku tersenyum saat melihatmu bahagia.”


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2