
...🌺🌺🌺🌺...
...13.Ar-Ra'd : 28...
...الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ...
...(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
...
...🌺🌺🌺🌺...
🌼🌼🌼🌼🌼
Cinta kebenaran hakiki dari sang ilahi.
Cinta itu sebuah rasa yang suci.
Bukan lah waktu yang membelenggu cintamu.
Tapi keinginanmu untuk memiliki akan sebuah cinta itu.
Karna cinta yang hakiki adalah Ilahi Robbi.
Dia tidak butuh kamu, untuk hidup.
Tapi kamu butuh dia untuk hidup.
Cinta yang akan memilih mu bukanlah dirimu yang memilih.
Tak peduli banyak hati yang terluka.
Karna cinta hidup hanya untuk cinta.
Dan cinta tak mengenal waktu.
Karna CINTA adalah pemberian sang ILAHIRABBI.
Dan kini aku pun telah dapat jawan dari sebuah tanyaku.
Ternyata bukanlah waktu yang membelenggu cintaku.
Melainkan keinginanku sendiri untuk memiliki sesuatu.
Karna keninginan yg terlalu. dapat mengurung diri ini dalam sebuah waktu.
🌼🌼🌼🌼🌼
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Khairul termenung duduk sendiri tak terasa butiran air mata jatuh membasahi pipinya, Iya begitu sangat kesepian.
Tak terdengar lagi petuah yang biasa disampaikan kakaknya, tak terdengar canda tawa yang biasa dilontarkan Hidayat adiknya, dia pun tak lagi melihat kemanjaan adik tercintanya Anisa Rahma.
Dia pun sudah sangat lama tidak ketemu dengan kakak pertamanya Maryam, begitu sepi suasana hati Khairul sehingga keindahan malam itu tak terlihat olehnya.
Purnama yang begitu indah bersinar, ribuan gemerlap bintang yang menghiasi langit, malam dan hembusan angin malam yang begitu mendamaikan, semuanya seolah tak berarti pada Khairul begitu kesepian.
Kenangan masa lalunya membawa dia mengingat mendiang istrinya, Dia sudah mengikhlaskan kepergian mendiang istrinya.
Dia hanya bisa mendoakan semoga Allah, menempatkan tempat terbaik bagi mendiang istrinya.
Khairul tau apa pun yang terjadi pada dirinya itu adalah takdir yang telah ditentukan, Khairul hanya mencoba untuk bersabar dan selalu tabah untuk menjalaninya.
Karena dia tahu kunci dari kebahagiaan itu adalah bersyukur, kunci dari penghambaan itu ikhlas, dan kunci kesuksesan itu adalah usaha dan doa.
Tentang bersyukur itu sendiri Khairul ingat perkataan imam ghojali dalam salah satu kitabnya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah SWT terdiri dari empat komponen, yaitu:
Syukur dengan Hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah,” (QS. An-Nahl: 53).
__ADS_1
Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.
Syukur dengan Lisan
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah).
Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
“Al” pada kalimat “Alhamdulillah” berfungsi sebagi “istighraq” yang mengandung arti keseluruhan.
Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah.
Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, Allah adalah Pemilik Segala Kebaikan.
Syukur dengan Perbuatan
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhai-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/ wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya,” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
Maksud dari hadis di atas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya.
Misalnya, orang yang kaya hendaknya membagi hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu membagi ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat, dan sebagainya.
Maksud membagi di atas bukanlah untuk pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasari karena-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur),” (QS. Adh-Dhuha: 11).
Menjaga Nikmat dari Kerusakan
Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.
Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman.
Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa.
Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran.
Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur.
Seperti pada firman-Nya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sungguh adzab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim: 7).
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tak jauh berbeda dengan Khairul Halimah pun terbuai dengan lamunannya, malam itu Iya tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Kegundahan hatinya membuat dia tersiksa, Iya tak tahu dengan apa yang ia rasakan, karena ia belum pernah merasakan sebelumnya.
Saat ia menatap Farid yang terlintas dalam bayangan nya wajah Khairul, bayangan Khairul seolah tidak ingin pergi dari pandangannya.
Apapun yang ia lakukan, Apapun yang ia kerjakan, Khairul selalu ada dalam benaknya, semakin dia berusaha untuk menghilangkan, bayangan itu semakin kuat.
Bayangan itu memenuhi alam pikirannya, Mungkinkah ini yang dinamakan Rindu, pantas saja para pujangga mengatakan rindu itu begitu menyakitkan, terasa bagai teriris Sembilu.
Ataukah ini yang namanya cinta? Kenapa cinta itu ada kalau untuk menggores luka di dada, kenapa aku merasakan kan cinta itu begitu menyakitkan, bagai Duri yang menusuk hati.
Duhai Pujaan Hati kekasih yang selalu ku nanti, Apakah engkau merasakan apa yang sedang kurasakan, derita ku yang begitu menyakitkan.
Halimah pun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, Kenapa iya harus merindukan seorang Khairul, padahal Ia tahu, selama ini Khairul hanya melihat dirinya adalah bayangan Shopy.
Haruskah ia Bertahan, ataukah ia harus pergi melepas asa yang Iya punya,Haruskah dia meninggalkan Harapan yang yang sedang ia rasakan, atau membiarkan bibit cinta yang mulai bersemi itu layu tak berkembang.
Kalaulah benar ungkapan cinta itu ada karena terbiasa, mungkin itulah yang Halimah rasakan saat ini, kebersamaannya sama Khairul selama ini telah menumbuhkan bibit-bibit cinta di dalam hati Halimah.
__ADS_1
Nama Khairul sudah terukir indah di dalam hatinya, terpatri dalam jiwanya dan mengalir dalam aliran darahnya.
Dalam irama melodi nan Indah
Yang mengalun didalam kenangan
Kebingungan ku dalam pemahaman
Keraguan ku di dalam keputusan
Mengapa perasaan ini menghantui keinginan
Aku merasa terjatuh namun ingin berdiri
Terasa berdiri namun kaki ini mulai mencapai batas kemampuan
Apa ini adalah semua tantangan
Apa mungkin ini semua ujian
Atau apa ini hanya sebuah hadiah agar aku lebih paham ketulusan
Wahai Tuhan, Ragu bukan ke ingin nan
Menyerah bukan pilihan
Tapi keraguan ku melemahkan keteguhan
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terbesit senyum di wajah cantik Khairunnisa, beban pikiran yang selama ini menindihnya mulai hilang, tak berasa.
Kemantapan untuk memilih telah ia dapatkan, hatinya kini terasa lapang dan melegakan, Iya sadar mungkin lah ini jawaban Tuhan.
Kini dia telah memilih, Apapun Yang Terjadi, Inilah Pilihan Hati, Sebenarnya dia tak ingin ada hati yang tersakiti, tapi ia tak ingin merasakan penyesalan di dalam diri.
Dia tak ingin memberi harapan yang tak pasti, biarlah semua belajar menerima dengan apa yang akan terjadi, biarlah semua belajar menjalani taqdir ilahi
Nisa tak ingin mengesampingkan perasan yang ada dalam hatinya, karna iya tak ingin menjalaninya dengan krikil, dan duri yang akan di hadapinya.
Kalau lah benar hidup itu harus kita jalani, tapi untuk melangkah kedepan itu butuh pilihan, menjalani pun seharusnya pake hati supaya tidak ada penyesalan di dalam diri.
Apa pun yang akan terjadi
Apa pun yang akan ku jalani
Kini hati ini telah memiliki jawaban
Pilihan pun telah di putuskan.
Apapun yang telah terjadi antara kita
Tapi kenyataannya aku juga menyimpan rasa
Rasa yang hadir karna kedekatan.
Rasa yang semakin dalam karna kenyamanan.
Rasa yang mungkin salah yang kurasakan.
Entah kamu atau dia yang sakit.
Saat aku memutuskan untuk memilih.
ketika aku harus memilih.
Menjadi hal yang tersulit dalam hati
Aku tak ingin ada yang tersakiti.
Aku tak ingin menyakiti.
Aku yang tak bisa memilih.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
***SEBELUM YA KERANJANG DOSA MINTA MAAF .
KALAU ADA TULISAN YANG TIDAK, KURANG BERKENAN DAN TIDAK PATAS TOLONG TINGALKAN,
__ADS_1
AMBIL YANG MENURUT PEMBACABERMAMFAAT.
TERIMA KASIH***.