
🌹 menyerahkan pada guru🌹
...🌷🌷🌷
...
...Jadilah yang terbaik di mata Allah, jadilah yang terburuk di mata diri sendiri, jadilah sederhana di antara manusia.
...
...Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
...
...🌷🌷🌷
...
...
...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah.
(HR. Al-Baihaqi)
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Guru Sayuti menanyakan tentang masa depan Khairul, dia meminta Khairul segera berumah tangga kembali,
Guru sayuti menasehati khaitul, ada beberapa tujuan menikah menurut pandang Imam Ghazali di dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin.
Tujuan menikah yang pertama menurutnya adalah untuk beribadah kepada Allah.
Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa yang sudah melaksanakan perkawinan maka dia telah membentengi setengah agamanya, maka bertakwalah kepada Allah dari separuh lainnya.”
Pernikahan juga lanjutnya dapat menggandakan nilai pahala sebuah ibadah. Shalat jama’ah seorang yang berkeluarga akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Mencari nafkah untuk istri dan keluarga, bersabar dengan akhlak mereka yang kurang baik, bersabar di dalam mendidik anak, semua juga mengandung pahala yang sangat besar.
Tujuan nikah dan niat yang benar yaitu beribadah kepada Allah. Maka Allah akan menjaga keutuhan rumah tangga.
Tujuan kedua menikah adalah Taksiru Al-Asir atau memperbanyak kekeluargaan.
Pernikahan adalah untuk meneruskan kelangsungan hidup jenis manusia di muka bumi. Ini selaras dengan perintah Nabi dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad: “Kawinlah kalian supaya kalian berketurunan.
Dalam redaksi hadits yang lain Nabi Muhammad juga bersabda: “Kawinlah kalian sehingga kalian akan banyak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan kalian kepada umat yang lain pada hari kiamat, walaupun dengan bayi yang gugur.” “Tujuan nikah yang kedua untuk menambah kekeluargaan. Seseorang setelah menikah akan memiliki dua ayah dan dua ibu, ayah kandung dan mertua,”
Tujuan selanjutnya adalah thalabul syafaat (meminta pertolongan) dari anak. Jika anak Adam meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga hal, di antaranya anak shaleh yang selalu mendo’akannya.
__ADS_1
Bahkan sebagian ulama lanjutnya mengatakan, walaupun anak itu tidak shaleh namun bila berdoa maka akan bermanfaat untuk orang tuanya. Orang tua juga bisa mendapatkan syafa’at dari anaknya jika meninggal sebelum baligh.
Selanjutnya thalabul syafaat dari anak, karena dengan menikah akan memiliki anak, dan anak yang shaleh dan sholehah akan mendoakan orang tua.
Islam tidaklah seperti agama yang dianut oleh para hewan berwujud manusia yang selalu menuhankan syahwat dan hawa nafsunya. Islam juga bukan agama yang mengajarkan kemunafikan dengan berbalut suci baju kerahiban. Suci dalam kepura-puraan dan hewan dalam wujud dan perbuatan.
Inilah islam, agama sempurna yang semua ajarannya bersumber dari wahyu tuhan semesta alam. Menikah …! Ya itulah solusinya. Kenikmatan yang bernilai ibadah. Solusi syar’i untuk menyalurkan syahwat insani.
Islam sangat memperhatikan fitrah suci manusia. Tidak mengajarkan pemeluknya untuk mengumbar syahwatnya, tidak pula memerintahkan membuang jauh syahwat yang memang sudah menjadi fitrah manusia. Islam sangat menganjurkan bagi mereka yang telah mampu agar segera menikah.
Pernikahan…! Di dalamnya ada ketenangan. Di dalamnya ada kebahagiaan. Ada suami, imam gagah dengan mahkota qawwamah. Ada istri, sosok yang menebarkan sakinah dalam rumah tangga. Juga ada anak-anak yang menjadi penyejuk mata.
Hadits yang diriwayatkan oleh dua pakar hadits terkemuka Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas ibn Malik tentang tiga orang sahabat Nabi SAW yang datang menemui para istri Nabi SAW dan menanyakan tentang ibadah beliau.
Ketika mereka diberitahukan perihal ibadah Nabi SAW seakan-akan mereka masih menganggap kecil ibadah-ibadah yang telah mereka kerjakan selama ini. Mengapa? Karena Nabi SAW saja yang sudah mendapat jaminan ampunan dari Allah SWT baik dosa yang terdahulu maupun dosa yang belum dilakukan, masih terus beribadah dengan sungguh-sungguh. Sedang mereka yang belum mendapat jaminan ampunan, maka logikanya mereka seharusnya beribadah dengan lebih keras dan sungguh-sungguh lagi.
Lantas kira-kira apa yang ada dibenak mereka? Laki-laki pertama mengatakan: “Saya akan shalat sepanjang malam dan tidak akan tidur”. Yang kedua lantas menimpali: “Adapun saya, saya akan puasa terus menerus”. Kemudian yang ketiga berujar: “Adapun saya, saya akan meninggalkan wanita dan tidak akan menikah”.
Kemudian datanglah Rasulullah SAW dan bersabda: “Kalian berbicara begini dan begini padahal aku adalah yang seorang yang paling takut kepada Allah SWT dan paling bertaqwa kepadanya, akan tetapi aku shalat dan juga tidur, aku puasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), dan aku juga menikahi wanita, siapa saja yang tidak suka terhadap sunnahku maka dia bukan termasuk dariku (umatku)”. (Muttafaqun ‘Alaihi).
“Apakah kamu sudah ada calon, yang akan menjadi istrimu nak? Tanya guru Sayuti setelah menasehati murid ya.
“untuk saat ini belum ada abah? Jawab Khairul singkat.
“Terus gimana apakah ada wanita yang mberatkan mu nak” tanya guru Sayuti lagi.
“Sebenarya ada wanita yang ingin Irul jadikan istri, tapi beberapa hari lalu , Irul mendapat kabar dia sudah di pinang orang, sebenarnya niat Irul sepulang dari kalimantan Irul ingin mengkhitbahnya. Tapi teryata dia sudah di pinang, Irul sudah merelakan dia Abah.
Untuk urusan pernikahan Irul sudah memutuskan Irul ingin meminta tolong abah untuk mencarikan seorang wanita yang menurut Abah cocok buat Irul.
“kamu sudah yakin nak, akan menyerahkan urusan pendamping hidupmu pada abah?” tanya Guru Sayuti menyakinkan Khairul.
“Irul yakin bah, siapapun dia kalau menurut abah baik untuk Khairul Irul akan menerima” jawab Khairul mantap.
“Urusan jodoh untuk mu insyaallah tar kita bahas lagi sekarang temanin abah ke kebun” Ajak guru Sayuti pada Khairul.
Di perjalan menuju kebun guru Sayuti menceritakan kisah seorang yang shaleh
Yang begitu menjaga dirinya dari sesuatu yang haram dia adalah idris bapak dari imam Syafii.
Dikisahkan bahwa suatu hari Idris tengah menyusuri sungai dalam kedaan perut kosong. Di bawah pohon rindang, Idris menyadari ada sebuah buah delima yang hanyut dibawa air. Dengan spontan, Idris segera mengambil dan memakan delima tersebut.
Setelah hampir setengah buah delima itu dimakan oleh Idris, ia baru menyadari. Bahwa buah delima ini pasti ada yang memiliki. Tentu tanpa seizin pemiliknya, delima tersebut jadi haram apabila dikonsumsi.
Karena tak ingin makan sesuatu yang haram, maka Idris memutuskan untuk menyusuri hilir sungai. Idris hendak meminta restu dari sang pemilik agar delima yang sudah di dalam perutnya tersebut jadi halal.
Maka sampailah Idris di depan rumah yang memiliki pohon delima di pekarangannya. Sepanjang mencari, ia yakin bahwa rumah inilah satu-satunya yang memiliki pohon delima.
Tanpa ragu, Idris memberi salam hendak bertemu dengan sang pemilik rumah. Tak lama kemudian, munculnya seorang lelaki setengah baya dari dalam rumah seraya menjawab salam.
“Saya telah memakan buah delima Anda yang jatuh ke sungai. Apakah delima ini halal untuk saya? Apakah Anda mengikhlaskannya?” kata Idris membuka pembicaraan.
Mendengar penuturan Idris, orang tua tadi terdiam sebentar, kemudian barulah ia berkata.
__ADS_1
“Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa digaji,” ucap pemilik rumah.
Syarat yang diajukan orang tua tadi sempat membuat Idris ragu. Namun, demi memelihara perutnya dari sesuatu yang haram, maka Idris menyanggupinya.
Setelah bekerja selama sebulan penuh tanpa digaji, Idris kembali menemui sang pemilik rumah.
“Aku sudah bekerja selama sebulan penuh, apakah Anda sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?” tanya Idris.
“Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya. Ia seorang gadis buta, tuli, bisu, dan lumpuh,” kata pemilik rumah justru menambahkan syarat tambahan.
Lagi-lagi Idris dibuat bimbang. Ia sempat goyah ketika diberitahukan kalau harus menikah dengan gadis yang seluruh indranya lumpuh.
Namun, hati kecilnya mendorong Idris mencari kehalalan makan yang sudah masuk ke dalam perutnya. Itulah niat awal Idris menemui sang pemilik rumah, mencari restu. Oleh karena itu, Idris segera mengiyakan syarat yang baru diajukan padanya.
Saat hari pernikahan tiba dan akad dilangsungkan, Idris diminta menemui pengantinnya di kamar. Ia lantas menuji sebuah kamar yang sudah dibertahukan sebelumnya. Saat pintu dibuka, ia justru menemui sosok perempuan yang cantik jelita.
‘Aku pasti salah kamar,’ pikirnya.
Maka Idris kembali menemui pemilik rumah dan mengatakan bahwa ia telah salah menemui istrinya. Ia menjelaskan bahwa perempuan yang ada di dalam kamar tersebut jauh dari yang digambarkan oleh sang mertua.
Namun berkali-kali mertua Idris meyakinkan bahwa ia tidak salah. Perempuan yang ada di kamar tersebut benarlah seorang istrinya. Matanya buta karena tidak pernah digunakan untuk bermaksiat. Telinganya tuli karena tidak pernah digunakan untuk mendengarkan gunjingan. Bibirnya bisu karena tidak pernah digunakan untuk mencibir. Terkahir, ia lumpuh karena tidak pernah pergi selain ke tempat ibadah.
Rupanya sang pemilik rumah melihat kejujuran Idris sejak awal. Ia semakin yakin dengan ketukunan Idris selama bekerja dengannya. Oleh sebab itu, ia tak ingin melepas Idris dan memilih pemuda tersebut untuk dijadikan menantu dan dinikahkan oleh putrinya, Ruqoyyah—riwayat lain menyebut Fatimah.
Dari pernikahan keduanya, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abu Abdullah Muhammad bin Idris Al Syafi’i.
Tak terasa mereka berdua pun telah sampai di kebun, tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri terlihat dua orang wanita muda, satu wanita sangat Khairul kenal, wanita bercadar yang tak lain adalah wanita yang sebenarnya ingin Khairul khitbat.
Di sebelah Nissa terlihat wanita cantik, dengan kecantikan khas wanita kalimantan, Khairul menubdukan pandanganya iya tak mampu untuk memandang pujaan hatinya itu.
Nissa yang melihat kedatangan mereka berdua langsung mengucapkan salam dan mendatangi guru Sayuti dan Khairul.
🍁🍁🍁🍁
🍀🍀🍀
Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya apabila Allah hendak membinasakan seorang hamba maka Allah akan mencabut rasa malu darinya, apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka dia akan selalu bertemu dengan orang yang memuakkan dan suka menebar kebencian.
Apabila ia sudah sering bertemu dengan orang seperti itu, maka sifat amanah pada darinya akan hilang.
Apabila sifat amanah telah dicabut darinya, maka dia akan selalu bertemu dengan orang yang suka berkhianat (menipu) dan dikhianati (ditipu).
Jika dia sudah sering bertemu dengan orang seperti itu maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang, dan apabila dicabut darinya sifat kasih sayang maka dia akan selalu bertemu dengan orang yang terlaknat.
Dan apabila dia sudah sering bertemu dengan orang yang terlaknat, maka ikatan Islam akan terlepas daripadanya.
(HR Ibnu Majah No: 4044)
🍀🍀🍀
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Maaf baru bisa up, keranjang dosa kerja malam jadi waktunya rebutan sama kerjaan🙏🙏🙏🙏
Terimakasih.