Taqdir Cinta

Taqdir Cinta
Pengumuman


__ADS_3

...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Berkata Al Hasan Al Bashri :......


...โ€œYang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya....


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Tiada hari terlewat tanpa hp, tv, dan gadget. ๐Ÿ“ฑ


Seakan-akan para pemuda lebih menikmati hidup di dunia maya daripada dunia nyata.


Mereka merasa bangga dan menganggap orang yang ikut trend zaman itu keren.


Padahal hati-hati! nggak semua yang disuguhkan di medsos itu baik dan manfaat loh.


๐Ÿ”ช Ibarat pisau, jika kita tau penggunaannya, pasti digunakan untuk yang manfaat. Kalau nggak, ya bisa mencelakai orang, bahkan dirinya sendiri.


โ” Lalu, gimana nih solusi agar bisa selamat dari kecanggihan di zaman ini?


๐Ÿ‘ณ๐Ÿปโ€โ™‚๏ธ Habib Umar bin Hafizh punya jawaban untuk kita. โœจ


๐Ÿ—๏ธ Kuncinya, kita harus tetap berhati-berhati, selalu waspada dan kuatkan pondasi keimanan. Karena disini diuji keimanan kita.


๐Ÿ’ญ Langkah pertama dengan kita kenali Allah dan perbaiki hubungan dengan Rasulullah. Kita harus tau, apa tujuan Allah menciptakan kita.


Allah berfirman:


ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ูฑู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽ ูˆูŽูฑู„ู’ุฅูู†ุณูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ููŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ู


"Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi(beribadah) kepada-Ku."


Jadi tujuan kita diciptakan bukan untuk berleha-leha menikmati keindahan & kenikmatan dunia yang sementara.


Tapi, perbanyaklah ibadah dan jauhi kemaksiatan!


Semua ini bisa kita jalankan dengan benar dengan adanya bimbingan dari seorang guru. ๐Ÿ‘ณ๐Ÿปโ€โ™‚๏ธ


Maka cari dan jalin ikatan dengan guru yang bisa mendekatkan kita kepada Allah.

__ADS_1


Kalau kita nggak punya pondasi agama yang kuat, bagaimana mau selamat?


๐ŸŠ๐Ÿปโ€โ™€๏ธ Ibarat orang yang menceburkan dirinya ke arus air yang deras, padahal ia tidak pernah belajar berenang, maka ia akan tenggelam.


โœจ Cara menguatkan pondasi itu dengan memperkuat keimanan kepada Allah, Rasulullah, iman dengan berita hari akhir dan akhirat. Semua itu dibarengi dengan melaksanakan kewajiban, menjauhi yang diharamkan, mengerjakan kesunnahan, serta adanya lingkungan pertemanan yang baik dan guru pembimbing.


Tanpa disadari dengan perkembangan zaman yang canggih ini, sebenarnya kita sedang diperalat sama orang jahat untuk membuat keadaan kita semakin memburuk.


๐Ÿ  Memang lingkungan sekitar kita banyak yang buruk dan menyimpang. Maka perkuatlah benteng kita dengan banyak berdoa kepada Allah. ๐Ÿคฒ๐Ÿป


Karena seseorang akan mampu memilih dan memilah mana yang baik untuknya dengan taufiq dari Allah SWT.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sebelumnya keranjang dosa yang miskin ilmu agama, lemah hapalan dan kurang pamahana minta maaf yang sebesar-besarnya kalau dari awal penulisan cinta dalam taqdir sampai tamat Bayak kata-kata yang kurang pantas, ada bahasan yang ga sesuai dengan kaiddah, semua itu karna kebodohan dan kurang pemahaman keranjang dosa yang doif ini.


tolong abaikan yang di angap kurang berkenan, keranjang dosa yang doif ini pun berharap tegur sapa dari saudara sekalian.


untuk cerita Khairul dan Khairunisa insyallah kita akan lanjutkan lagi tapi dalam judul yang berbeda karna kisah Khairul di sini berjudul cinta dalam balutan taqdir. dan taqdir cinta ya Khairul adalah Khairunisa dan mereka sudah bersatu berarti sudah selesai ceritanya sesuai dengan judulnya.


insalloh kita akan lanjutkan tapi keranjang dosa minta maaf sebelumya karna kesibukan pekerjaan keranjang dosa sebagai karyawan di salah satu perusahan swasta jadi kemungkinan keranjang dosa hanya punya sedikit waktu untuk menulis.


keranjang dosa minta doa dari semuanya mudahan bisa istiqomah nulis. sebelum dan sesudahnya keranjang dosa ucapkan bayak terima kasih, atas dukungannya selama ini.


sekali lagi keranjang dosa minta halal nya dari Segala kehilapaan keranjang dosa kita berelaan mudahan Alloh swt menggolongkan kita dalam golongan orang yang lepas dari kebencian dan pemaaf serta mendapat Keridhoan Alloh SWt.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


TERIMA KASIH


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


silaturrahim ini menuntut upaya maaf-memaafkan. sikap yang perlu dilakukan manusia dalam menghadapi seseorang yang melakukan kesalahan.


Jika merujuk pada Qurโ€™an Surat Ali Imran ayat 134, akan ditemukan bahwa seorang Muslim yang bertakwa dituntut atau dianjurkan untuk mengambil paling tidak satu dari tiga sikap dari seseorang yang melakukan kekeliruan terhadapnya, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadapnya.


Hal itu bisa ditegaskan bahwa bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya.


Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah. Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya.

__ADS_1


Oleh karena itu, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya.


Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya.


Keranjang dosa kira hal demikian juga yang menjadi syarat bertaubat seorang hamba kepada Tuhannya. Taubat menuntut penyesalan yang mendalam atas segala salah, khilaf, dan dosa yang diperbuat seorang hamba.


Esensi taubat juga bukan hanya satu arah saja, yakni hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah perilaku sosialnya di tengah masyarakat menjadi laku yang positif.


Bahkan dalam urusan meminta ampunan kepada Allah atas segala kesalahannya kepada orang lain, Allah tidak akan mengampuni jika yang bersangkutan belum meminta maaf kepada orang tersebut.


Jadi, keseimbangan hidup di bumi perlu diperhatikan ketika ingin memperoleh kebaikan di langit. Terkait dengan kesalahan ini, kenyatannya memang tidak mudah menyampaikannya kepada orang yang telah kita sakiti.


Apalagi jika kesalahan tersebut sebelumnya tidak diketahui orang yang kita sakiti, biasanya dalam bentuk fitnah.


Mungkin bukannya maaf yang kita terima tetapi justru kemarahan dan putus hubungan. Dalam hal ini, Quraish Shihab mengungkapkan doa yang dibaca Nabi Muhammad kala menghadapi situasi di atas: Rasulullah SAW mengajarkan doa:


โ€œYa Allah, sesungguhnya aku memiliki dosa kepada-Mu dan dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu. Aku bermohon Ya Allah, agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan kepada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu.โ€


Dalam doa Nabi tersebut tersirat bahwa diharapkan dosa-dosa yang dilakukan terhadap orang lain yang telah dimohonkan maaf kepada yang bersangkutan akan diambil alih oleh Allah walaupun yang bersangkutan tidak memaafkannya.


Pengambilalihan tersebut antara lain dengan jalan Allah memberikan kepada yang bersangkutan ganti rugi berupa imbalan kebaikan dan pengampunan dosa-dosanya.


Tentu hal ini kembali kepada Allah, Sang Maha Pengendali segala sesuatu. Maaf tingkat tinggi Maaf-memaafkan tidak terlepas dari dampaknya terhadap kehidupan yang luas di tengah masyarakat.


Meminta maaf membutuhkan sikap ksatria untuk mengakui segala kesalahannya kepada orang lain. Hal ini berangkat dari diktum bahwa meminta maaf tak semudah memberi maaf.


Namun tidak lantas bahwa memberi maaf juga persoalan mudah, karena ia menuntut kelapangan dada untuk menerima maaf orang yang pernah menyakiti hatinya.


Mengingat dalamnya arti meminta dan memberi maaf, sebuah pertanyaan terlontar, adakah yang lebih tinggi tingkatannya daripada maaf (al-afwu)? Al-Qurโ€™an mengajarkan bahwa dalam maaf-memaafkan butuh sikap ksatria dan kelapangan dada, ini benang merah yang dapat ditarik.


Tingkatan yang lebih tinggi dari al-afwu adalah al-shafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan. Lebih jauh, Pakar Tafsir Al-Qurโ€™an itu menjelaskan, dari al-shafhu dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti berjabat tangan.


Seseorang melakukan al-shafhu seperti anjuran ayat yang dipaparkan di awal, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.


Al-shafhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu, lebih tinggi nilanya daripada memaafkan. Bukankah masih ada satu-dua titik yang sulit bersih dalam lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus?


Atau bukankah lembaran yang telah ternoda walaupun telah bersih kembali tidak sama dengan lembaran yang baru?


Dari renungan-renungan tersebut, dapat ditarik esensi bahwa membuka lembaran baru merupakan langkah yang sangat penting. Sama signifaknnya ketika masing-masing orang yang terlibat dalam sebuah kesalahan untuk menutup lembaran lama. Wallahu aโ€™lam bisshowab.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2