Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Hari-hari Seperti Biasa


__ADS_3

Jam menunjukkan hampir pukul 8 pagi, kurang 15 menit dari sekarang. "Sial, aku kesiangan lagi! Semoga boss belum sampai," gerutu seorang gadis sambil berlari hendak mencegat angkot.


Sekitar lima menit menunggu akhirnya angkot yang dimaksud tiba, dengan tergesa ia masuk.


"Eriii ... Wait, wait," teriaknya pada gadis lain yang akan membuka kunci toko.


"Ya ampun, Wen ... Kamu kebiasaan deh, udah jam berapa ini?," oceh Eri pada Wenie sedikit kesal. Seharusnya hari ini Wenie yang datang lebih cepat darinya, bergiliran setiap hari.


"Sssttt, masih ada dua menit. Ayo buruan mumpung bos belum nongol," sergahnya supaya ocehan temannya tidak berlanjut.


"Yuk deh, cepetan bantuin," Eri meminta Wenie membantu mendorong rollingdoor.


Benar saja, belum sepuluh menit mereka membenahi baju-baju di gantungan sang bos datang dengan wajah khasnya yang datar.


"Eh sudah datang, Da Her," sambut Wenie berbasa-basi.


"Hemm," dehemnya. "Kalian juga baru sampai ya?" tebaknya telak.


"Hehee, iya Da," jawab keduanya sambil tersenyum malu.


Uda Herman nama bosnya, tipe orang yang berwajah datar namun tidak pelit soal upah karyawan. Satu rahasia yang membuat Wenie dan Eri memaksakan diri untuk betah bekerja di sana.


Hari pun berlalu dengan kesibukan seperti biasa. Toko biasanya mulai ramai pembeli di jam sepuluh pagi dan akan tutup pada pukul tujuh malam.


"Ri, aku ke toilet sebentar ya, sekalian beli makan siang di kantin. Kamu mau titip apa?" ujar Wenie disela melayani pembeli yang mulai lengang.


"Boleh. Nasi pakai soto ayam saja, Wen. Yang di warung Kang Fadil yah," pesan Eri sambil menyerahkan dua lembar sepuluh ribuan.


"Oke, ditunggu ya nona manis ... Da, aku izin sebentar ya," pamit Wenie pada bos yang duduk di balik meja kasir.


"Hemm," sahutnya. "Eh, Wen ... Sekalian titip pesan ke Uda Edi, bawain nasi pakai bawal bakar gitu ya," teriak si boss tanpa menitip uang.


"Oke, bos," secepat kilat Wenie melesat pergi, sudah dari tadi ia menahan pipis.


Tujuan pertama tentu saja toilet. "Haaish ... Antri deh jam segini. Mau pesan makan jam berapa coba?" gerutunya saat menunggu antrian toilet wanita sambil iseng membaca pesan di ponselnya.


"Ting!" ada sebuah pesan messenger masuk. "Hai, Wen. Apa kabar?"

__ADS_1


"Anton," gumamnya. "Mau apa lagi dia?" malas rasanya membalas pesan itu namun diketiknya juga sebuah balasan.


"Aku baik. Kamu?"


"Aku juga baik. Sabtu sore nonton yuuk," balas Anton to the point. Lama Wenie berpikir, ia tidak mau memberi harapan palsu pada pria ini. Orang yang sudah lima bulan ini coba mendekatinya.


"Lihat nanti ya. Aku gak bisa janji," balasnya.


"Oke. Kabari aku secepatnya ya," pinta Anton agak memaksa.


Wenie hanya membalas dengan emoticon jempol biru yang besar.


Kemudian orang dari bilik toilet muncul, "Silahkan, Mbak ..."


"Oh ya, terimakasih," ucap Wenie lalu segera masuk.


Setelah selesai urusannya ia segera beranjak ke kantin memesan makanan berbeda untuk dua orang dan membeli untuk dirinya sendiri.


"Kang, tolong bungkusin nasi pakai hati ampela, sambel, sama tumis kangkung ya," ucap Wenie begitu sampai di warung Kang Fadil.


"Oke, neng. Ada lagi?" sambut Kang Fadil ramah sembari melayani pelanggan lain.


"Sip. Ditunggu ya, neng," sahut Kang Fadil sambil melayani nasi bungkus untuk Wenie.


Kemudian setelah membayar ia pergi ke warung nasi Padang untuk memesan makanan bagi si bos dan secepatnya kembali ke toko.


"Lama banget sih, Wen!" kata Eri dengan wajah cemberut, ia juga ingin ke toilet rupanya.


"Iya maaf deh, Ri. Toiletnya tadi ngantri," jawabnya sambil senyum-senyum.


"Gantian kamu jaga ya. Oh ya, pesanan ku mana, Wen?" tanya Eri.


"Sudah dibuat, sebentar lagi diantar. Punya Da Her juga," sahutnya lagi.


Si bos cuek saja sambil main ponsel,entah apa yang disimaknya. Eri pun berlalu sesaat sebelum pesanan makan siang tiba.


Wenie tampak menikmati nasi bungkusnya, untung pengunjung toko sedang sepi sampai Eri kembali dan mereka makan siang bersama.

__ADS_1


Mereka cukup senang bekerja di sini. Lingkungan yang menyenangkan, sebuah pasar semi modern yang di mana pada lantai dasar seperti ini ada toko-toko elektronik, sepatu, pakaian, dan aksesoris dari brand-brand menengah.


Kemudian di lantai satu ada foodcourt dan swalayan. Lalu lantai dua dan tiga berisi departementstore ternama juga arena bermain indoor semacam playland.


Tidak lupa ada pula pasar sayur tradisional di bagian gedung terpisah yang masih satu area dengan mall ini, cukup lengkap untuk ukuran kelas menengah di kota ini.


Wenie bersyukur menjadi bagian dari kehidupan di sini, menjalani hari-hari dengan baik seolah tak ada hal menyedihkan yang pernah terjadi dalam hidupnya.


Sepulang kerja biasanya ia akan menghabiskan waktu di rumah, atau sesekali pergi makan malam dengan Eri, Indah, atau Sofia tetangga toko pakaian sebelah.


Hari-hari berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa sampai akhirnya malam minggu pun tiba.


Wenie menarik nafas berat saat menerima telpon messenger dari Anton. Sengaja ia tak ingin buru-buru mengangkatnya yang mana membuat Anton sedikit kesal.


"Halo ..."


"Halo, Wen. Kamu di mana?" cecar Anton begitu telpon diangkat. "Aku sudah depan gang kosanmu, nih. Kamu masih di kosan yang lama, kan?"


"Masih. Tunggu ya, aku lagi agak gak enak badan nih. Mau minum obat dulu," Wenie beralasan.


"Ada obatnya gak? Apa perlu aku beliin dulu? Kamu sakit apa? Atau aku main saja ke kosan mu ya, kita gak usah jadi nonton," kejar Anton di balik telpon.


"Eeh, gak usah. Jangan, jangan, Ton," Wenie gelagapan cepat-cepat menolak. Iish, nyebelin banget sih kamu, Ton. Gak tahu orang lagi ngeles apa?


"Ya sudah, jangan lama-lama ya. Aku keburu kering nih nungguin kamu," sahut Anton agak kecewa, dipikirnya tadi akan ada kesempatan berkunjung ke kos gadis idamannya.


"Iya, iya. Emang mau nonton film apa sih?," tanya Wenie, sedikit mengulur waktu lagi.


"Kita liat saja nanti di sana ada film apa?," jawab Anton santai. "Kalau gak ada film bagus kita makan malam romantis saja, gimana? Kamu mau makan di resto mana, aku yang traktir deh," sambungnya lagi.


What?? Aduuh, bener-bener nih orang, gak ngerti banget sih kalau guenya males!, gerutu Wenie dalam hati. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk mengendurkan rasa kesal di hatinya.


Sepuluh menit kemudian akhirnya ia keluar juga dari rumah kosnya, ia mengenakan celana jeans dengan sweater biru muda dan tas selempang kecil untuk membawa dompet dan ponselnya.


Anton menatap tak berkedip. Sesederhana inipun dia cantik, manis. Meskipun agak ketus, tapi aku tahu dia gadis baik hati. Tuhan, semoga dia mau nerima cintaku malam ini.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Notes : Ada yg pernah ngerasain disukai seseorang tapi kitanya gak suka? Santai aja ya, nanti kalau udah gak ada nyariin lho 😁😁


__ADS_2