
Malam ini Wenie merasakan dirinya tidak bisa tidur, bosan rasanya mengisi waktu istirahat di rumah hanya dengan bermain ponsel hingga larut malam.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas saat ia keluar kamar. Sudah tiada lagi anak-anak kos berkumpul di ruang tv atas dan di lantai bawah pun nampak sunyi, lampu-lampu telah dipadamkan.
Sepertinya bu Rahma juga sudah tidur, lantas ia kembali ke atas setelah mengambil segelas susu dingin dari kulkas di dapur.
Wenie duduk pada kursi kayu berlapis busa yang biasa mereka gunakan untuk bersantai di balkon. Ia melonjorkan kaki menikmati belaian angin malam yang bertiup semilir, nampaknya membawa awan mendung di atas sana.
Pikirannya yang sedang berlarian entah kemana tiba-tiba dibuyarkan sebuah panggilan telepon WhatsApp. Dari Prasetyo. Dengan enggan ia mengangkat juga setelah mengabaikan panggilan pertama yang berakhir sendiri.
"Halo ..." Wenie melemahkan suaranya seolah terbangun dari tidur.
"Halo, sweetheart. Kamu belum tidur 'kan?" tanya Pras lembut.
"Aku baru saja terlelap, Mas. Masih mengantuk. Ada apa?"
Prasetyo tiba-tiba merasa tidak sabar. "Hei, ayolah ... Aku tahu jam segini biasanya kamu belum tidur."
"Itu 'kan dulu, Mas ..." Wenie berakting menguap. "Sekarang aku terbiasa tidur agak sore."
"Dulu dan sekarang apa bedanya? Kamu tetaplah kamu ..." ujar Prasetyo mencoba bergurau.
Wenie terdiam enggan menanggapi, ia tahu pembicaraan ini akan menjalar ke hal yang lebih sensitif.
"Sebentar saja, Wen," pinta Prasetyo melembut.
Wenie menarik nafas perlahan. "Aku mengantuk, Mas. Dilanjut besok saja ya, teleponnya ..."
Prasetyo masih gigih merayunya. "Aku janji tidak sampai setengah jam. Temani aku sebentar saja ..."
"Tapi mataku sudah sepet banget. Besok saja telepon lagi ya, Mas," tolak Wenie sekali lagi.
"Gak mau. Coba saja kalau kamu berani tutup teleponnya ..." ujar Pras, pelan namun mengancam. "Besok akan ku kirim seseorang untuk menjemputmu ke sini."
Wenie terkesiap dan berusaha menemukan suaranya. "Mas ..."
"Hm ..."
Gadis itu agak merinding saat mendengar nada acuhnya. "Sudah larut malam, kenapa kamu gak tidur?" tanya Wenie lirih. "Besok kamu harus kerja 'kan ..."
Prasetyo menjawab malas, "Memangnya kenapa kalau besok aku kerja? Gak boleh nelepon kamu gitu ..."
Wenie menghembuskan nafas pelan, menekan suaranya agar tidak terdengar kesal meski pun sejujurnya iya. "Ya boleh, sih ... Tapi ini sudah larut, seharusnya kita istirahat."
"Aku gak butuh istirahat, aku butuhnya kamu," jawab Prasetyo cepat. "Di sini suhunya cukup dingin, aku malah jadi susah tidur, keingetan kamu terus ..."
Wenie hanya terdiam mendengar nada nakal itu, hanya tarikan nafasnya saja samar terdengar oleh Prasetyo.
"Sweetheart ..." panggilnya berat.
"Ya?" Wenie melemahkan suaranya lagi.
Sekali lagi Prasetyo merasa diacuhkan. "Aku tahu kamu belum tidur," desaknya.
"Hm ... iya, Mas."
"Wen, setelah aku pulang dari sini aku mau bicara serius," ujarnya mencoba menarik perhatian.
__ADS_1
Dibalik telepon dahi Wenie mengernyit bingung. "Soal apa?"
"Soal hubungan kita ..."
Oh, pikirannya baru tersambung. "Kita sudah gak ada hubungan apa-apa, Mas," jawab Wenie cepat.
"Aku tahu, sayang. Justru itulah aku ingin kita bicara serius. Aku ingin membangun hubungan kita seperti dulu lagi ..." bujuk Prasetyo.
Seketika dada Wenie terasa sesak. "Mas, kamu itu sudah menikah. Dan aku juga bukan cewek gak waras! Lagipula hubungan kita sudah lama berakhir, jadi tolong jangan bahas itu lagi," Wenie hampir saja berteriak.
"Hei, tenanglah, sayang. Soal itu bisa diatur, mudah saja buatku menceraikan dia ..." ucapnya enteng.
"Oh my God ..." Wenie menutup mulut tak percaya apa yang didengarnya. "Gampang banget kamu berkata akan menceraikan istrimu sendiri, Mas," ujar Wenie kecut, hatinya sakit.
Prasetyo tersenyum miring. "Aku yang lebih tahu keadaan rumah tanggaku, sayang. Jadi aku bisa memutuskan tindakan apa yang tepat untuk diriku," ujarnya membela diri.
"Untuk dirimu. Apa kamu gak mikirin perasaan anak dan istri kamu? Tega banget kamu, Mas."
"Sweetheart, jangan mendebatku soal rumah tanggaku. Kamu belum tahu cerita sebenarnya 'kan?" suara Prasetyo terdengar serius. "Kau bahkan tidak tahu kenapa dulu aku sampai ninggalin kamu dan Isti nekat meneror keluargamu dengan guna-guna. Jangan kamu pikir aku gak tahu itu!" jawabnya hampir tersulut amarah.
Wenie hampir tidak bisa berpikir, ia berusaha bernafas dengan normal tapi rasanya ada segumpal kapas di tenggorokannya saat ini. Kabut mulai mengambang di matanya. "Cukup. Jangan bicarakan itu lagi, Mas. Aku sudah ikhlasin semuanya," suaranya mulai bergetar.
"Termasuk bagian dirimu yang hilang?" tanya Prasetyo sarkas, segenap emosi yang sudah lama ditahan seakan meluap dari dadanya. "Tidak, Wen! Aku sama sekali gak bisa lupain semuanya, sampai saat ini aku merasa berhutang padamu dan aku akan bertanggungjawab soal itu."
Wenie merasa hatinya teriris, tiada sekeping pun kenangan masa lalu yang ingin diingatnya tentang hubungan mereka.
Ia mengambil nafas dalam. "Cukup, Mas. Jangan memaksakan diri. Sekarang semuanya sudah berbeda, biarkan kita berjalan sesuai pilihan masing-masing. Dulu kamu yang memilih seperti ini, aku gak bisa menolak. Sekarang biarin aku jalanin hidupku sendiri."
Prasetyo kesal. "Aku tahu, aku yang salah di sini. Tapi beri aku kesempatan, Wen. Kalau waktu itu aku bisa memilih, aku sangat gak ingin meninggalkan kamu dan menikah dengannya ..."
"Apa kamu ingat, dulu aku pernah bilang bagaimanapun caranya aku harus dapatkan kamu."
"Kamu sudah dapat yang kamu mau, Mas," sahut Wenie serak.
Lagi-lagi Prasetyo terusik. "Bukan itu, Wen! Aku serius. Bagaimanapun aku harus menikah denganmu. Gak peduli apapun caranya!" nadanya mengeras.
Wenie masih menahan tangis agar tidak terdengar, sementara Prasetyo juga merasakan hancur dalam hatinya. Sekian lama ia menahan beban mental karena perpisahannya dengan Wenie, gadis sederhana yang amat dikasihinya namun sekarang ia malah mendapat penolakan.
Ia bersumpah akan meluruskan semua kesalahan yang telah dibuatnya, tak peduli apa yang akan dihadapinya nanti. Wenie harus tahu, bukan hanya dia yang sakit dan kecewa, namun ia akui memang dirinya sangat pengecut saat itu. Dan kini ia harus berjuang, hanya itu yang terpatri dalam benaknya.
Di sisi lain sebenarnya Wenie juga masih merasakan getar-getar rasa cinta yang dulu pernah ada, namun rasa kecewa, sakit hati, dan ketakutan lebih menguasai alam bawah sadarnya setelah peristiwa yang lalu. Tidak mudah ia tepis begitu saja.
Ia seringkali tidak bisa mengendalikan perasaannya jika berhadapan dengan pria berwajah manis memikat itu, makanya sebisa mungkin ia ingin menghindar jauh. Namun disaat yang sama ia merasa lemah dan payah, bahkan sekedar untuk mempertahankan keinginannya.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku gak mau dengar apa-apa lagi, biarkan saja dia pergi. Ini sungguh menyakitkan buatku, jerit Wenie dalam hati.
"Mas ..." panggil Wenie lirih, mencoba meredakan amukan Prasetyo di seberang sana.
"Jangan berusaha mencegahku, Wen. Biarkan aku berusaha, aku yakin kita masih bisa kembali seperti dulu," ujarnya keras kepala. "Ini hanya masalah waktu."
"Mas, dengarkan aku. Kita gak bisa bicarakan masalah ini di telepon. Kamu benar, kita harus bicara serius nanti," bujuknya perlahan.
Prasetyo menghela nafas lega. "Sungguh kamu berpikir begitu?" bibirnya terulas senyum kecil. "Aku tahu kenapa sejak dulu aku gak pernah meragukanmu, karena kau selalu bisa memahamiku, sweetheart ..."
Wenie menyeka sisa air matanya. "Iya, Mas. Tapi sebaiknya kamu jangan berharap lebih saat ini. Kamu tahu kecewa itu sakit."
"Kamu jangan lupa, Wen. Aku juga merasakan kekecewaan seperti dirimu dan aku tidak akan pernah terbiasa dengan itu ..." bantah Prasetyo cepat.
__ADS_1
Wenie menggigit kecil bibirnya, menahan nyeri yang tak kunjung hilang dalam hatinya.
"Semakin aku kecewa semakin aku ingin membalasnya, kamu paham?!" lanjutnya mengancam.
"Aku tahu ..." Wenie mengalah, tak ada gunanya terus-terusan menentang lelaki keras kepala itu. Ia meneguk perlahan susu dinginnya. "Sekarang aku boleh tidur?" bisik Wenie takut-takut.
Raut wajah Prasetyo seketika melunak, ia terlalu banyak marah malam ini. "Baiklah kau boleh tidur, tapi dengan satu syarat ..." ujarnya berakal bulus.
"Apa?"
"Berikan aku satu ciuman."
Gadis itu menaikkan alis dan menatap ponselnya bingung. "Hah?"
"Lakukan ..." desaknya.
Wenie masih tak mengerti. "Apa maksudnya ..."
"Cium saja. Hanya sebuah kiss jauh, apa susahnya ..."
"Astaga! Mas ..." rengek Wenie memelas, ia malu harus bertingkah konyol meski tidak ada yang melihat.
"Cepat!"
Wenie mencebikkan bibir dengan kesal. Prasetyo tetap mendesaknya memberi kiss jauh.
"Kamu gak mau? Baiklah, kalau begitu jangan tidur. Aku masih kuat kok, menemanimu ngobrol sampai pagi."
Aku matiin sajalah, cerewet banget sih kamu, batin Wenie kesal.
"Jangan coba-coba kamu tutup teleponnya, sayang ..." seolah Prasetyo bisa membaca pikirannya.
"Eh, aku ..." suaranya tercekat. Menakutkan sekali instingmu, Wenie bergidik.
"Ayo lakukan ... tunggu apalagi? Kalau aku di sana aku akan mengambilnya langsung darimu, remember?" ancamnya kelam.
"Aku, mm ..." Wenie masih ragu-ragu.
Prasetyo menajamkan telinga. "Ya?"
"Muuach ..." Wenie mendecakkan bibir asal.
"Gak terasa," cela Prasetyo tidak puas. "Lakukan dengan jelas!"
Wenie menatap ponselnya kesal. "Aku sudah mengantuk, Mas," ia berkelit.
"Kalau begitu cium aku dengan benar," ujar Prasetyo masih belum mau melepaskan.
Ia menggigit bibirnya untuk menguatkan hati. "Muuach ... selamat malam, Mas."
"Muuach juga, sayang. Selamat tidur, mimpikan aku ..." jawab Pras sambil menahan senyum di balik telepon.
"Hm ... iya Mas," gumamnya malas dan langsung memutus sambungan.
Tanpa membuang waktu lagi ia segera meneguk cepat sisa susu dan masuk kamar. Wenie merebahkan diri dengan kesal, kini ia merasakan lelahnya semakin bertambah. *D*asar telepon sialan, kenapa juga harus bunyi sih, tadi?! Kalau tidak membutuhkanmu, kau pasti sudah ku banting!
Wenie menyesal, lain kali ia harus mematikan ponselnya jika sudah jam tidur. Satu pelajaran lagi didapatnya malam ini. Lalu ia menarik nafas panjang sambil meregangkan tubuhnya sedikit sebelum akhirnya jatuh tertidur.
__ADS_1