
Wenie merasakan seluruh bagian di tubuhnya bereaksi tidak wajar ketika mereka duduk bersisian dalam mobil. Terutama bagian hati dan jantung yang tidak mau tenang sejak Frans berani merangkulnya di depan sang adik dan menyebutnya sebagai calon kakak ipar.
Ya ampuun ... tolong kalian tenang sedikit kenapa, siih. Jangan buat aku seperti orang bodoh begini. Jangan ge'er, jangan ge'er ...
"Kau baik-baik saja, Wen?" Frans menoleh padanya.
Namun Wenie tak mendengar dan masih sibuk menenangkan degup jantungnya.
"Hei ..." Frans menepuk bahunya.
"Eh, iya. Kenapa, Mas? Apa kita sudah sampai ..." Wenie gelagapan.
"Ckk ... kau ini suka sekali melamun. Sepagian ini sudah berapa kali kau melamun coba?"
"Gak melamun kok, Mas. Orang aku lagi fokus lihat pemandangan di luar," jawabnya berkelit.
"Memangnya ada apa di luar?" selidik Frans menggoda.
Wenie menggeleng malu. Ya tidak ada siih ... cuma persawahan doang, kita kan lagi di jalan tol, gumam Wenie dalam hati.
"Jangan banyak berpikir. Setidaknya sampai kita bisa menyelesaikan masalahmu dengan si brengsek itu ..." ucap Frans tenang.
Mata Wenie menatap penuh pertanyaan.
"Tapi perlu kau tahu, aku serius dengan kata-kataku tadi di hotel," ungkap Frans.
"Huh? Yang mana, Mas ..." tanyanya penasaran.
Frans hanya tersenyum simpul. "Coba kau ingat-ingat lagi."
"Itu ... aku tidak yakin."
"Apanya ..."
"Yang Mas maksud kata-kata yang mana?"
"Ya yang itu ..."
Wenie tersenyum kesal. "Mas ini senang sekali bikin orang grogi ..." ia memukul bahu Frans.
"Aduuh ..." Frans meringis, pura-pura kesakitan.
"Bicara yang jelas ..."
"Siapa yang grogi?" godanya.
"Mas ngeselin iih ..." Wenie pura-pura merajuk.
"Jangan memancing di air keruh ..."
"Apa?"
"Itu wajahmu ..."
"Kenapa wajahku?" kedua tangan Wenie refleks menyentuh pipinya.
Sadar sedang dikerjai, Wenie langsung mencubit pinggang Frans. "Aduh, aduuh ... Sudah, sudah ..." Frans terkekeh geli.
"Jelaskan, wajahku kenapa?" tuntutnya belum mau mengalah.
Frans berusaha menguasai dirinya. "Jangan cemberut begitu, bikin aku gemas ..." tersirat sesuatu di dalamnya.
Wenie kembali tersipu, ia membuang muka untuk menyembunyikan ronanya. Frans mengulum senyumnya, ia tahu tidak seharusnya menggoda Wenie, tapi ia tidak tahan. Seolah ada aliran energi baru setiap dirinya dan gadis itu terus berinteraksi, dan itu membuatnya nyaman.
Frans memberanikan diri meraih tangan gadis itu dan meletakkan di pangkuannya, meremasnya pelan seolah tak ingin ditinggalkan. Wenie pun tak mampu menolak, antara tidak mau dan mulai merasa nyaman juga sebenarnya. Tidak munafik, jujur ia menyukai pria ini sejak beberapa waktu sebelumnya.
Pipi Wenie yang merona kemerahan akibat perasaan yang berbunga bercampur sedikit malu rupanya masih bertahan hingga perjalanan mereka sampai di tujuan yaitu rumah kos bu Rahma.
Frans menatapnya dengan mata berkabut dan senyum terulas di bibir, menahan gemas sebenarnya agar jangan sampai ia menerkam gadis ini sekarang juga. Konyol. Ia perlu menata gejolak hatinya sejenak sebelum keluar dari mobil.
__ADS_1
"Rapikan wajahmu," ujarnya lembut, tangannya terulur menyentuh pipi Wenie.
Wenie semakin gugup. "Ehm ... iya, Mas. Sebentar," ia merapikan wajah dan helai rambut yang sempat berantakan. "Sudah ..."
Frans kemudian segera turun dan membukakan pintu untuk Wenie. "Hati-hati ..."
"Terimakasih, Mas."
"Sudah ku bilang, jangan sungkan."
Wenie mengangguk patuh, lalu mereka berjalan beriringan ke dalam rumah yang nampak sepi siang ini.
"Assalamualaikum. Ibu ..." panggil Wenie dengan suara rendah.
Sepi, namun pintu tidak terkunci. Maka Wenie memutuskan untuk langsung masuk.
"Masuklah, Mas. Tunggu di sofa. Aku mau cari ibu di kamarnya," pinta Wenie sopan.
"Iya. Katakan pada ibu, kau baik-baik saja. Jangan membuatnya khawatir," pesan Frans.
"Tentu, Mas ..." lantas Wenie meninggalkan Frans di ruang tamu.
Sebelum masuk tadi ia sempat melihat AC di luar menyala, itu artinya bu Rahma ada di dalam kamarnya. Lalu ia mengetuk pintu kamar perlahan.
"Ibu ... Wenie pulang," ujarnya.
Tidak menunggu lama sosok dari balik pintu muncul dan langsung memeluknya.
"Wenie! Syukurlah kamu sudah pulang, sayang ..."
"Iya, Bu. Alhamdulillah, aku bisa pulang. Wenie kangen sama Ibu," Wenie balas memeluk ibu kosnya.
"Bagaimana keadaanmu? Katakan, apa yang terjadi ..."
"Tenanglah, Ibu. Kita keluar dulu, ya ..." ajak Wenie.
"Lalu kamu pulang sama siapa, sayang? Kenapa gak telepon Ibu dulu ..." berondong bu Rahma belum mau berhenti.
Bu Rahma terkejut kemudian merasa senang. "Benarkah? Dimana dia sekarang ..."
"Sedang menunggu kita di ruang tamu. Ayo, Bu."
"Kamu berhutang cerita selama dua hari ini pada Ibu, oke!" nada yang tidak bisa ditawar.
"Iya, Bu ..." Wenie tersenyum patuh.
Lalu mereka berjalan ke ruang tamu dengan posisi bu Rahma yang merangkul erat Wenie seolah ia seekor kelinci yang hendak lari.
"Dokter Frans!" sapa bu Rahma riang.
"Bu Rahma ..." pria tampan itu bangkit untuk menyalami tuan rumah.
"Duduklah ... Bagaimana keadaan anda, Dok?"
"Saya baik, Bu ..." Frans tersenyum sopan.
"Anda pasti sangat kerepotan mencari Wenie kami yang hilang ..." ujar bu Rahma bersimpati. "Terimakasih sudah membawa Wenie kembali dengan selamat."
"Sama-sama, Bu. Tapi saya tidak mencari Wenie sendirian, dibantu pihak kepolisian juga," jawab Frans merendah.
"Tentu. Tapi pokoknya saya sangat berterimakasih sekali pada Dokter Frans ..." balasnya cepat. "Oh iya, kalian tunggu di sini sebentar. Ibu akan buatkan minum."
"Eh, biar Wenie saja, Bu. Ibu duduk di sini temani Mas Dokter ..." ujar Wenie seraya bergegas bangkit.
"Sudah, diam di sini. Kalian kan, baru sampai. Biar Ibu yang ke dapur."
Maka Wenie tidak bisa lagi membantah, ia duduk sambil meremas jemari tangannya yang lentik. Ia merasa tidak nyaman dilayani empunya rumah meskipun itu wajar untuk saat seperti ini. Frans yang duduk di sofa single menatapnya tak berkedip membuat Wenie agak salah tingkah.
"Setelah aku pulang kau harus segera istirahat,"ujar Frans tiba-tiba.
__ADS_1
"Hah, apa?" ia gelagapan. "Oh iya, baik ..." jawabnya setelah menyadari pertanyaan Frans tadi.
"Hentikan itu."
Wenie mengernyit bingung.
Frans semakin tidak tahan. "Jangan menggigit bibirmu, Wen!" desisnya.
"Ehm, aku ..." matanya menunduk menghindari pandangan.
Ekor matanya menangkap Frans memicing dan menggeleng penuh isyarat, Wenie semakin salah tingkah. Oh, ya ampun ... kenapa di sini dingin sekali, tapi tubuhku berkeringat!
"Silahkan diminum, Dokter, sayang ..." tawar bu Rahma sambil menyajikan teh manis panas dan sepiring cemilan.
"Terimakasih, Bu ..." jawab keduanya serempak. Bu Rahma tersenyum penuh arti.
"Pelan-pelan, masih panas," ujar ibu kos pada gadis di sampingnya.
Wenie mengangguk kecil. "Ehm, Bu ... tumben kok, sepi sekali di rumah. Yang lain pada kemana?" tanya Wenie.
"Semua pergi kerja dan kuliah. Kecuali Iin, tadi pagi dia baru pulang dari shift malamnya. Mungkin sekarang sedang tidur."
"Oh, begitu ..."
"Kamu pergi kemana saja dua hari kemarin, sayang? Ibu jadi gak bisa tidur mikirin kamu," ujar bu Rahma sendu.
"Ibu, ak—"
"Kami menemukannya di wilayah Bogor, Bu," sambar Frans cepat. "Bersyukur para polisi benar-benar ada saat dibutuhkan, sekarang dia baik-baik saja ..."
Frans sengaja mengucapkan kata jamak kami agar bu Rahma tidak terfokus berterimakasih padanya saja. Ada pihak kepolisian yang juga perlu dihargai. Ia tidak suka terlalu diagungkan orang lain kecuali mungkin oleh seseorang yang ia sukai. Dan kini seseorang itu sedang duduk resah di hadapannya.
Sial! Aku tidak tahan lagi. Berada sedekat ini tanpa bisa menyentuhnya membuatku gila! Frans frustasi.
Bagi Frans waktu seakan bergerak sangat lambat, bahkan obrolan ringan tiga puluh menit saja terasa seperti sedang menunggu bedug magrib berkumandang sementara sekarang baru saja dzuhur. Lama sekali.
"Duh, tehnya habis ... sebentar ya, ku buatkan yang baru, Mas," seloroh Wenie ketika melihat cangkir Frans kosong, pria itu mengiyakan.
"Oh iya, kau benar, Wen. Buatkan sirup dingin saja, sayang," jawab bu Rahma tersadar.
"Baik, Bu. Ibu juga ku buatkan sekalian ya?"
"Boleh ..."
Frans kini tersenyum kaku melihat si gadis berlalu meninggalkannya. Sedetik kemudian ia meminta izin ke toilet tepat saat ponsel di tangan pemilik kos berdering. Setelah mempersilahkan dengan ramah lantas bu Rahma keluar untuk menerima teleponnya.
Wenie sedang membungkuk mengambil sirup dari rak paling bawah di pintu kulkas saat Frans mendekatinya. Ia yang tidak sadar segera membalikkan badan dan nyaris saja terpekik kaget. Namun dengan sigap Frans membekap mulutnya.
"Ssstt ... ini aku!" meletakkan telunjuk di bibirnya.
Wenie menelan ludah kasar, jantungnya nyaris saja terlonjak keluar. "Astaga ... apa-apaan sih, Mas! Kebiasaan banget suka ngagetin gitu ..." gerutu Wenie mencebikkan bibir.
Ia melangkah menuju konter untuk mengambil gelas tapi Frans langsung menghimpitnya di meja dapur. Gadis itu menjengit kaget untuk ke sekian kalinya.
Wenie menahan nafas saat tatap matanya bertemu dengan mata pria itu, jelas sekali sedang menahan gejolak hebat dalam dadanya. Frans merengkuh pinggangnya dengan tidak sabar seolah ingin memakannya sekarang juga.
"Mas!" gadis itu mencicit khawatir. Lengan kecilnya berusaha mendorong dada Frans yang menghimpit tubuhnya, namun sia-sia.
"Aku sungguh tidak tahan lagi, Wen. Kau benar-benar membuatku gila ..." desisnya lirih.
Kemudian tanpa aba-aba lagi Frans meraih tengkuk gadis itu dan merunduk untuk mencium bibirnya. Wenie yang tidak siap mendapat serangan tiba-tiba ini tidak mampu menghindar. Selama beberapa menit Frans ********** dengan beringas hingga rasanya ia kehabisan nafas.
Ia meremas kemeja Frans, memohon agar pria itu mengakhiri serangannya. Akhirnya ia dilepaskan setelah nafasnya mulai terengah. Seolah pria itu benar-benar meluapkan hasrat yang sejak semalam dibendungnya mati-matian.
"Hentikan, Mas ...hentikan ..." ia terengah. Bibirnya agak membengkak akibat hisapan pria di hadapannya.
"Kau semakin menggemaskan. Maafkan aku yang memintamu dengan paksa ..." ucap Frans lirih.
Jemarinya menahan dagu Wenie agar tetap mendongak ke arahnya, sementara matanya menatap sayu seakan menyesali perbuatan mesumnya barusan.
__ADS_1
Wenie hanya tergugu diam, matanya mengerjap bingung. Ia sibuk mengendalikan debar jantungnya yang berombak seperti laut pasang dan kini ia terhempas pada kenyataan bahwa pria ini sudah menaklukkan hatinya.