Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Mimpi Buruk yang Kembali


__ADS_3

Wenie turun dari taksi biru yang dicegatnya di depan halaman gedung resepsi, meninggalkan bu Rahma yang mungkin masih sibuk melayani obrolan temannya.


Ia segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kamar dengan tangis.


Benar-benar mimpi buruk di siang bolong, sungguh ia tak menyangka akan bertemu si pengkhianat yang telah melukai masa lalunya.


Suatu kenangan buruk yang ingin dikuburnya dalam-dalam. Seseorang yang ingin dilupakan mati-matian dalam pelariannya dari teror-teror mengerikan dua tahun yang lalu.


Memutar ingatan dua hari sebelumnya, kini ia merasa menyesal harus menuruti kemauan bu Rahma pergi ke pesta yang ternyata hal itu membuat ia mengungkapkan dirinya sendiri dari persembunyian selama ini.


Susah payah ia berlari dan bertahan dari kehidupan lamanya yang menyeramkan hingga ia menemukan lingkungan nyaman yang jauh dari tempat tinggalnya dulu di kota kembang.


Kota kelahiran yang bahkan sekarang menengok pun ia merasa enggan. Kalau bisa ia ingin pergi sejauh mungkin, lebih jauh dari ini tapi ia tidak tahu mau kemana?


Lalu ia kembali teringat dengan seseorang, kemudian dengan bibir bergetar ia coba beranikan diri menelepon.


"Halo, Bu ..."


"Halo, Wen. Kamu di mana sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Dokter Frans bilang kamu sudah pulang duluan ..." cecar bu Rahma saat menjawab telepon. "Hei, apa kamu lagi menangis, Wen?" tanyanya khawatir.


Wenie refleks menghapus air mata yang tersisa. "Maaf, Bu. Aku kabur dari sana. Orang itu menemukanku, jadi aku terpaksa ninggalin Ibu tanpa pamit," ucap Wenie terbata.


"Iya. Lantas sekarang kamu ada di mana, sayang?" tanya bu Rahma lagi.


"Aku sudah di rumah. Jangan khawatir, Bu," sahut Wenie sambil menghela nafas pelan.


Bu Rahma seketika merasa sedikit tenang. "Baiklah, Ibu mau pulang sekarang. Kamu baik-baik di rumah, kunci pintu dan jangan buka untuk sembarang orang," titah ibu kos sebelum memutuskan sambungan.


"Tentu, hati-hati di jalan, Bu."


🌷Flashback on🌷


Sebelumnya Prasetyo sempat berkelahi lagi dengan Frans saat ia tak berhasil mengejar Wenie karena sudah dihalangi olehnya.


"Kau berhutang padaku untuk itu, brengs*k! Susah payah aku mencarinya selama ini, sekarang kau malah membuatnya lari," maki Prasetyo padanya.


Frans mendecih. "Kau pikir aku peduli? Sebaiknya kau berhenti mengganggunya, Pras. Sepertinya kau sudah ditolak mentah-mentah," balas Frans tak kalah sengit. "Dia membencimu, sadarilah itu."


"Diam! Aku gak butuh komentarmu, sialan!" teriak Prasetyo sembari melayangkan satu pukulan ke wajah Frans, namun ia berhasil menangkis dan memukul balik.


"Jantan sedikit Pras!" ledek Frans nyaris terbahak dalam amarahnya.


"Jangan senang dulu, brengs*k!" maki Prasetyo yang kembali menyerang.


Sejurus kemudian baku hantam pun tidak terhindarkan, terlebih keduanya sama-sama pemegang sabuk hitam taekwondo, meski dengan mengandalkan trik yang berbeda pertarungan hampir seimbang.

__ADS_1


"Sudah cukup!" seorang security menghentikan perkelahian mereka sebelum makin memanas. "Hentikan, tuan-tuan! Anda jangan membuat keributan di sini. Silahkan pergi," katanya.


Berikutnya datang dua orang security lain yang memaksa mereka bubar. Ketiganya memegang tongkat keamanan yang siap siaga di sisi tubuh, jika sewaktu-waktu perlu digunakan.


Frans segera berhenti, kembali ke mode inocent. "Katakan itu padanya, Pak!" tuding Frans pada lawannya dan segera beranjak pergi. Prasetyo menggeram marah di belakangnya.


"Sialan kau Frans! Urusan kita belum selesai!" teriaknya kesal. Ia menatap benci pada Frans yang telah mengacaukan semuanya.


Melihat situasi tak bisa dimenangkan, ia pun merapikan jas dengan gaya cool dan mengundurkan diri, masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


🌷Flashback off🌷


Saat Frans menemuinya tadi, bu Rahma tak menyangka sama sekali akan ada kejadian ini. Hampir saja ia terkena serangan panik. Untung Frans dapat menenangkannya tanpa membuat kegaduhan dalam aula gedung yang masih ramai tamu berdatangan.


"Tenanglah, Bu. Wenie sudah tiba di rumah dengan selamat," ujar Frans pelan.


"Iya, Dok. Terimakasih sudah memberitahu saya tadi. Kalau anda tidak datang, bisa sampai sore saya mendengarkan bu Selfi mendongeng," jawab bu Rahma asal, mencoba tersenyum.


Frans sedang mengiringi bu Rahma menuju mobilnya saat ada telepon masuk dari Wenie. Ia bisa mendengar jelas seseorang menahan isak tangis di seberang sana.


Kemudian ia memutuskan untuk meminta nomor ponsel Wenie, berniat melindunginya dari kejaran Prasetyo. Entah ide apa yang tiba-tiba merasukinya saat itu.


Tentu saja bu Rahma memberikannya dengan senang hati. Bahkan dalam hati berharap lebih dari ini, berharap agar Wenie berjodoh dengan Frans. Dan ia merasa inilah momen yang tepat meskipun harus melewati adegan berdarah.


Lalu ia berpisah dengan Frans di parkiran dan mulai mengendarai mobilnya dengan hati tenang. Frans pun harus segera pergi ke rumah sakit untuk mengisi jadwal operasi pasiennya.


I got you, sweetheart! You can't running away from me ...


Prasetyo tersenyum licik di balik kemudi. Ia menanti sejenak dan menilai situasi sekitar. Sadar tak bisa menampakkan diri sekarang, maka ia memutuskan untuk segera pergi dengan melewati rumah besar itu dan mengamati sekilas sebelum berlalu dari sana.


Jalan kompleks ini dibuat satu arah sehingga ia harus menyetir hingga ujung jalan sebelum berbelok ke kanan untuk menemukan jalan keluarnya. Deretan rumah-rumah berbagai model berjejer rapi dalam ukuran kavling yang cukup besar, memungkinkan setiap rumah memiliki garasi dengan halaman hijau yang cukup luas.


Sebenarnya kau tinggal bersama siapa di sana, sweetheart? Aku tahu, orang tadi bukanlah ibumu. Apa mungkin kau sudah menikah? Kurasa tidak. Tapi persetan dengan semua itu, sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi kita. Kau akan segera jadi milikku, akan ku pastikan itu.


Wenie menahan debar keras di jantungnya saat mengintip di balik tirai kamarnya yang berada di sebelah kiri balkon lantai atas.


Ia melihat mobil asing lewat dengan lambat beberapa saat setelah mobil ibu kos masuk gerbang.


Ia khawatir bahwa itu adalah mobil Prasetyo, Wenie sangat hafal jenis mobil yang disukai mantan kekasihnya itu. Sebuah sedan hitam mulus keluaran Audi.


"Tok, tok, tok ..." terdengar ketukan berulang di pintu kamar membuyarkan lamunannya.


"Wenie, kau di dalam?" tanya bu Rahma dari balik pintu.


"Ya, Bu. Sebentar," ia segera bangkit membukakan pintu.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa 'kan, Wen?" bu Rahma memeluk dirinya dengan khawatir.


Wenie mendadak ingin menangis lagi. "Aku baik-baik saja, Bu."


"Maaf, Ibu gak tahu akan ada kejadian seperti ini," sesal Bu Rahma. "Kamu pasti ketakutan tadi ..."


Gadis itu mengangguk. "Sedikit. Untung saja ada dokter Frans menolongku, Bu. Kalau gak, aku gak tahu kayak apa jadinya?"


"Kamu belum cerita sama Ibu, Wen. Sebenarnya siapa orang yang kamu maksud dan kenapa bisa kayak gini?"


"Dia mantan pacar aku dulu, Bu," Wenie mengajak bu Rahma untuk duduk di tepi ranjangnya. "Dia orang yang sudah menghancurkan hidupku. Dua tahun yang lalu kami pacaran tapi ternyata dia memilih untuk menikah dengan orang lain. Bahkan si cewek itu ikut menerorku dengan guna-guna."


"Ya Tuhan ...."


"Selama ini aku sudah mencoba kabur tapi sekarang dia malah menemukanku. Apa aku gak boleh hidup tenang, Bu?" tanyanya hampir putus asa.


"Ssttt ... tenang, Wen. Ibu yakin akan ada hikmah dari kejadian ini. Kamu jangan takut. Kita lawan sama-sama," ujar bu Rahma seraya mengelus kepalanya. "Selama kamu di sini, kamu tanggung jawabku. Ibu akan dukung kamu."


"Terimakasih, Bu."


"Sama-sama, sayang."


"Maaf ya, tadi aku ninggalin Ibu."


"Iya. Kamu tega banget sih? Main pergi begitu saja. Ibu gak bisa pergi dari sana kalau dokter Frans gak cepat-cepat ngasih tahu Ibu soal kamu," sahut bu Rahma pura-pura marah. "Kamu tahu 'kan ibu-ibu rempong tadi kayak apa?" keluhnya.


"Iya, maaf. Tadi aku gak bisa mikir apa-apa, soalnya dokter Frans sama Pras langsung baku hantam. Aku takut banget, Bu."


"Oh, jadi namanya Pras!"


"Iya, Bu. Prasetyo El Farishi."


"Orang mana sih, dia? Kamu kenal di mana?"


"Panjang ceritanya, Bu."


"Hm, baiklah. Kita masih punya banyak waktu nanti. Sekarang kamu istirahat, besok kerja 'kan?"


"Iya Bu," jawab Wenie. "Aku gak mungkin izin lagi," sambungnya.


"Ya sudah. Ibu juga mau istirahat dulu. Kalau kamu mau makan malam ke bawah saja ya," ujar bu Rahma sebelum menutup pintu.


Seulas senyum lega melintas di wajah mungil Wenie. "Baik. Terimakasih, Bu. Nanti aku turun kalau lapar ..."


Mungkin ia aman sekarang meski tak tahu sampai kapan harus berlindung di rumah ini, rasa khawatir mulai menyergap hati kecilnya. Ia berharap takkan mengalami sesuatu yang buruk lagi ke depannya.

__ADS_1


Perlahan ia kembali mengintip ke jendela dan menutup tirainya rapat-rapat, khawatir kalau saja pria itu masih ada di bawah sana. Tapi sepertinya ia boleh sedikit tenang sebab tidak melihat mobil asing tadi di luar, hanya ada beberapa mobil milik tetangga yang terparkir di depan rumah masing-masing.


__ADS_2