
Semburat kebiruan mulai mewarnai langit, rupanya matahari sudah terbit dengan cerahnya. Tapi suasana hati Frans masih buruk karena merasa jengkel setelah menerima telepon kosong dinihari tadi.
Ia masih menunggu balasan dari pesan-pesan yang sudah dikirimnya, namun hingga setengah jam berikutnya tiada tanggapan apa-apa.
Perlahan ia mulai mengetikkan pesan lagi namun urung dilanjutkan. Setelah merenung sejenak lantas ia memutuskan untuk menghubungi Doni Permana, polisi yang menangani kasusnya.
"Halo ... selamat pagi, Pak Doni ..." ucapnya begitu telepon tersambung.
"Selamat pagi juga, Dokter Frans. Saya baru saja mau menelepon Anda ..." jawab Doni, ada senyum ramah dalam nadanya yang sedikit menenangkan Frans.
"Pas sekali ya ..." balas Frans yang juga menggumamkan senyum. "Jadi bagaimana, Pak? Apakah pencarian sudah bisa kita mulai?" terdengar nada harap-harap cemas.
"Penyelidikan sudah mulai dilakukan anak buah saya sejak semalam dan pagi ini saya hendak memeriksa ulang file rekaman kamera CCTV yang terpasang di sekitar tempat kejadian, Dok," ujar pak polisi menjelaskan. "Apa Dokter Frans ingin ikut melihat rekamannya?"
Frans mulai bersemangat. "Tentu. Apakah Anda sudah sampai di kantor? Saya akan segera ke sana ..."
"Iya, Dok. Saya baru saja sampai di polres, saya tunggu kedatangan Anda," ujar Doni.
"Baik, berangkat sekarang."
Tanpa membuang waktu lagi Frans segera menyambar jaket parka tebal dari gantungan alih-alih menggunakan jas kedokteran, pagi ini cuaca agak sedikit berangin. Lagi pula jadwal prakteknya hari ini kosong, jadi ia bisa meluangkan waktunya untuk ikut melakukan pencarian jejak Wenie.
Ia hendak turun ke parkiran mobil di basemen B1 dari apartemennya di lantai 15 menggunakan lift yang dengan gelisah ditunggunya pintu otomatis itu agar segera membuka.
Kini ia tengah fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor polisi tempat sang polisi AKBP Doni Permana bertugas. Butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk sampai di sana, Frans segera disambut officer yang bertugas dan dengan sigap mengantarnya ke ruang sang kepala polisi berada.
"Permisi, Komandan. Dokter Frans sudah datang ..." ujar sang officer pada atasannya.
Doni yang sedang fokus dengan komputernya mengangkat wajah dan tersenyum cerah menyambut tamunya. "Silahkan masuk, Dokter. Terimakasih, Pak Bagas ..." ujarnya pada Frans dan sang officer sekaligus yang segera pamit undur diri setelah Frans masuk.
"Pak Doni ..." Frans menjabat tangan sang polisi yang berpostur tegap namun bermata teduh.
"Silahkan duduk, Dokter," ujar Doni ramah.
"Terimakasih," Frans menarik kursi di hadapannya lalu duduk dengan berwibawa.
"Oh iya, ini rekaman CCTV yang anak buah saya dapatkan semalam," ucap Doni sembari memutar layar monitor menghadap Frans.
__ADS_1
Frans menyimak sejumlah rekaman CCTV dari berbagai sudut yang polisi dapat dari sekitar lokasi terakhir Wenie berada. Nampak dalam rekaman, sebuah mobil van hitam berhenti tepat di hadapan seorang gadis yang hendak menyeberang jalan kemudian si gadis menghilang seiring dengan perginya mobil itu.
"Sepertinya ini kasus penculikan, Dok. Bukan kasus orang hilang biasa ..." ujar Doni Permana.
"Wenie diculik? Tapi siapa yang ..." pertanyaan Frans menggantung. Tiba-tiba ia teringat hanya satu orang yang kemungkinan akan nekat melakukan hal itu, seketika saja ia merasa geram.
"Dokter, tarik nafas. Tenang sedikit, tim kami sudah melacak plat nomor mobilnya dan sedang melakukan pengejaran terhadap para pelaku," ucap Doni saat menangkap perubahan air muka tamunya, mencoba menenangkan.
"Semoga Wenie baik-baik saja. Lalu apakah Anda sudah mengetahui di mana mereka berada?" tanya Frans menjaga suaranya agar tidak terdengar kesal.
"Saya baru saja mendapat laporan bahwa tim kami berhasil mendeteksi keberadaan mereka di kawasan Puncak, Bogor," jawab Doni.
"Bisa tolong Anda kirimkan lokasinya pada saya?" tanya Frans hati-hati. "Saya ingin ikut melakukan pencarian sebab saya sangat khawatir dengan keselamatan gadis itu," ujarnya menambahkan.
"Tentu. Saya akan kirimkan koordinatnya segera," sahut Doni cepat. "Jika perlu saya akan menemani Anda untuk menyaksikan penyergapan para penjahat itu. Kita berangkat sekarang?"
"Benarkah? Tentu, saya sangat berterimakasih pada bantuan Anda," jawab Frans tersenyum cerah. "Kita pakai mobil saya saja, bagaimana?," lanjutnya kemudian.
"Baiklah, mari kita berangkat kalau begitu ..." sambut pak polisi sembari meraih jaket dinasnya.
Frans merasakan ada aliran energi baru dalam setiap tarikan nafasnya yang melegakan setelah semalaman gelisah tak karuan. Meski dalam hatinya diliputi amarah namun ia berusaha tetap tenang agar bisa berpikir jernih, terutama saat ia sedang menyetir sekarang. Rasanya ia tak sabar untuk tidak menginjak gas dalam-dalam demi ingin lekas sampai di sarang para penculik itu.
Lokasi yang dimaksud hanyalah rumah kecil yang kosong tak berpenghuni. Sebuah mobil rongsok ditemukan di halaman belakang dengan plat nomor sama dengan mobil van yang digunakan para penjahat itu semalam.
Polisi mencocokkan pola jejak ban yang ada di lokasi sekarang dengan contoh yang mereka dapat dari rekaman CCTV, mereka melihat pola yang berbeda. Itu artinya kemungkinan plat mobil sengaja dipindahkan ke mobil rongsok ini setelah mereka melakukan penculikan. Polisi menduga mereka tidak akan jauh dari lokasi awal penyergapan, maka tim buser segera melanjutkan pencarian.
Frans dan Doni turun dari mobilnya begitu sampai di lokasi pertama, beberapa orang polisi sudah menunggu kedatangan mereka dan menjelaskan hasil penemuannya. Sementara sebagian yang lainnya melanjutkan pengejaran sambil terus berkomunikasi dengan petugas yang masih menggeledah rumah kosong itu untuk mencari petunjuk tambahan.
.
.
.
🌷🌷🌷
.
__ADS_1
.
.
Wenie membuka mata dan mendapati dirinya dalam sebuah kamar yang asing, digoyangkan sedikit kepalanya untuk mengenyahkan rasa pusing sesaat yang menyerangnya. Ia berpikir sebentar sambil mengingat-ingat kejadian semalam, rupanya ia tertidur setelah menyantap makan malam dan melihat-lihat sekeliling ruangan ini.
Ia mencoba mengingat kembali detail-detail yang terpatri dalam kepalanya.
Kamar ini memiliki balkon dengan jendela besar dan pintu geser dari kaca yang menampakkan hamparan kebun teh yang berbukit-bukit dengan hutan pinus di sisi lain. Semalam hanya ada kegelapan dan cahaya lampu rumah penduduk dari kejauhan.
Lalu di bagian dalam kamar ada meja kecil berisi jambangan bunga segar di depan pintu yang membatasi dengan dinding kamar mandi dalam, satu set televisi layar datar dengan meja minimalis, sebuah sofa malas lengkap dengan lemari kaca tinggi berisi beberapa buku, dan juga sebuah lemari besar berisi pakaian milik Prasetyo.
Tapi sejak membuka mata dirinya tidak mendapati sang pemilik kamar ada di sini, ia tidak mau dan merasa tidak perlu tahu ke mana lelaki itu pergi. Maka ia segera bangkit menuju kamar mandi, setelah memastikan tidak ada siapapun di sana ia baru masuk ke dalamnya. Sambil membersihkan diri ia memikirkan cara untuk segera kabur dari sini. Bukan hal baik jika ia terus berada dekat dengan mantan kekasihnya itu.
"Rupanya kau di sana, sweetheart!" ujar Pras mengejutkan Wenie yang hendak melangkah keluar kamar mandi. Pras terkekeh melihat reaksi Wenie yang terlonjak di tempat.
"Astaga! Kamu mengagetkan saja, Mas," keluh Wenie cemberut. "Sejak kapan kamu di situ? Ku kira kamu sudah pergi ..." lanjutnya mencoba tak acuh.
"Pergi ke mana? Mana mungkin aku pergi ninggalin kamu sendirian di sini," ujarnya lembut, ia mengamati gadis itu dari atas ke bawah.
Yang dilihat tentu saja merasa risih, "Lihat apa sih, Mas?"
Pras hanya mengulum senyum memandang gadis manis di hadapannya sambil beranjak ke nakas di sisi ranjang. "Ku bawakan sarapan untukmu, makanlah. Aku yang membuatnya sendiri, khusus untuk menyambut kehadiranmu."
Wenie tak ingin terpancing namun diliriknya juga segelas susu hangat dan sepiring nasi goreng yang menguarkan aroma harum lengkap dengan potongan keju, irisan tomat, telur ceplok setengah matang, dan tak lupa taburan bawang goreng di atasnya. Menggelitik cacing-cacing nakal yang riuh dalam perut yang menuntut segera diberi makan, tapi ia tetap diam seolah tak terusik.
"Ayolah, sayang. Jangan jual mahal begitu, ini bukan saatnya. Kau harus makan agar tidak sakit," bujuk Pras lembut. "Aku tidak ingin kekasihku sakit karena mogok makan."
"Tidak usah bersikap manis padaku, Mas. Sebaiknya kau mengantarku pulang sekarang juga atau ..."
"Atau apa, sayang? Kau ingin coba melarikan diri lagi, kau mengancamku, hm ..." sergahnya masih dalam kelembutan yang sama namun memancarkan aura gelap yang menakutkan. "Percayalah, kau tak ingin pergi dari sini tanpa aku di sisimu. Di bawah sana ada tiga ekor anjing pemburu dan para penjaga yang selalu siaga menjaga villa ini. Jangan harap kau bisa lolos dengan mudah."
Wenie terdiam, hatinya sedikit menciut. Berarti benar yang dilihatnya semalam di bawah pohon palem di sudut halaman samping villa ini, beberapa anjing memang nampak dibiarkan berkeliaran beserta sejumlah penjaga yang bertampang seram yang tidak pernah duduk diam.
"Aku mungkin tidak bisa pergi tanpamu, Mas. Tapi aku harus keluar dari sini," ujarnya menguatkan hati.
"Oh ya? Katakan padaku bagaimana caranya ..." jawab Pras dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Wenie tahu itu adalah senyuman licik yang penuh jebakan, ia yakin Pras sudah merencanakan sesuatu, tapi ia juga punya rencananya sendiri. Maka untuk saat ini dia memilih bungkam dan membuang tatapan keluar jendela. Akan ku pikirkan caranya nanti ...