
Sementara itu di kediaman keluarga Rudolf Ricardo dan Eka Safitri, orangtua Beby, masih sibuk melalui serangkaian upacara midodareni.
Pihak calon mempelai pria beserta rombongan keluarga besar yang datang dengan sembilan mobil telah tiba sekitar pukul tujuh kurang lima menit, sesuai jadwal yang disepakati sebelumnya.
Waktu seakan bergerak lambat dan penuh khidmat dalam kemeriahan acara yang sakral ini.
Beby tak hentinya merasa bahagia meskipun ia berada dalam ruangan terpisah, tertutup tirai putih dan untaian bunga, tak boleh bertemu sang kekasih hingga akad dilaksanakan esok hari.
Ia dirias dengan makeup natural dan memakai stelan kebaya sederhana, tertunduk haru mendengarkan wejangan dari tetua dengan khusyuk.
Hingga tiba saatnya bagian sang papa untuk bicara, ia meraih mic dan mulai bertanya untuk memastikan kesungguhan hati putri tercintanya yang sedang dilamar secara resmi.
"Jadi bagaimana, Ananda Beby Preity Ricardo. Apakah Ananda benar bersedia secara sukarela menerima lamaran Nak Rafael Pratama?" ucap sang papa dengan keharuan yang hampir pecah.
"Benar, Ayahanda. Saya bersedia dan dengan sukarela menerima lamaran Mas Rafael Pratama," jawabnya di balik tirai dengan mic di ujung bibir, menahan haru dan bahagia sekaligus. Tepuk tangan dan seruan syukur segera bergema dalam ruangan. Mereka - para tamu dan keluarga dari kedua belah pihak- saling berpelukan bahagia.
Bu Eka memeluk anaknya dan mencium pelipisnya, "Kelak jaga dirimu baik-baik dan rawat suamimu dengan sepenuh hati, sayang. Rumah tangga itu tidak mudah, tapi kamu harus selalu siap dan sigap dengan apapun yang akan terjadi," nasehat sang mama lembut. "Kau juga harus menjadi wanita yang kuat, jangan cengeng, dan manja," tambahnya lagi.
"Baik, Ma ... Beby mohon doa restunya dari Mama dan Papa," ujarnya seraya balas memeluk sang mama.
"Tentu, sayang ..."
Di luar kamar yang di tempati Beby saat ini acara jamuan makan sedang berlangsung, semua tamu yang datang sangat menikmati masakan bik Yah yang terasa pas di lidah. Para tamu dari keluarga calon besan banyak memujinya dan bu Eka merasa puas akan hal ini.
Ia melangkah keluar kamar meninggalkan Beby seorang diri yang sedang merasa lapar, berniat mengambilkan sepiring makanan.
Namun sebelumnya tentu saja ia harus menemani para tamunya sejenak, mengobrol dan beramah-tamah dengan calon besan.
Karena merasa tak bisa segera kembali, ia lantas memanggil Frans untuk mengantarkan makanan ke kamar.
"Frans. Kemari sebentar, sayang," panggil Bu Eka saat melihat Frans di sudut sedang menikmati sepotong cake.
"Iya, Ma," Frans segera mendekati ibunya. "Ada apa? Beby sendirian di kamar?," tanyanya.
"Iya, tolong kamu bawakan makanan untuk dia. Kasihan, dari tadi belum makan. Kamu minta ambilkan sama Bik Yah saja, ya," pinta sang mama.
"Baik, Ma." Frans segera pergi menemui bik Yah yang sedang menyusun hidangan penutup berupa buah potong dan pudding cokelat di meja prasmanan.
"Bik, tolong ambilkan makanan untuk Beby. Biar saya yang antar ke kamarnya," ucap Frans pelan.
Bik Yah segera menoleh dan berhenti dari kegiatannya, "Baik, Den. Sebentar Bibik ambilkan."
Tak lama menunggu, sepiring nasi dengan lauk pauk lengkap sudah ada di tangannya dan segera diserahkan pada Frans. "Silahkan, Den," yang diterima dengan anggukan terimakasih.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu Frans masuk ke kamar dengan hanya perlu menyingkap sedikit tirai putih. "Beby. Ini makananmu, Mama masih ngobrol dengan Rafael dan orangtuanya. Kamu cepat makan, jangan menunggu Mama ..."
"Iya, Mas. Terimakasih, maaf merepotkan," ucap Beby sambil menerima piringnya.
"Sama-sama. Gak apa-apa, cantik," jawab Frans. "Oh ya, By. Kamu mau pudding? Nanti Mas bawakan buatmu, tadi lupa gak sekalian," tawarnya.
"Hmm, boleh. Kalau Mas gak keberatan," sahut Beby sambil mengunyah sesuap makanan.
"Makan jangan sambil bicara, mengangguk saja kalau mau. Oke?" titah Frans yang kemudian diangguki adiknya.
Ia pun kembali lagi ke meja prasmanan mengambil piring kertas yang diisinya dengan sepotong cake dan pudding.
"Terimakasih, Mas," kata Beby saat menerima makanan penutup dari kakaknya. "Mas sudah makan? Makan bareng yuk ..."
"Sudah, By. Kamu makan saja, habiskan," jawab Frans. Ia duduk di sofa malas bersisian dengan Beby, mengeluarkan ponsel untuk melihat agenda esok hari. Kemudian ia tersadar ada jadwal operasi pukul empat tiga puluh sore di rumah sakit swasta tempatnya bekerja.
Tanpa membuang waktu ia segera beranjak ke jendela mencari sudut agak hening untuk menelpon asistennya di rumah sakit. Wajahnya menyiratkan ketegangan dan kekecewaan sekaligus selama percakapan berlangsung.
"Ada apa, Mas?" tanya Beby penasaran.
"Gak ada apa-apa, By," sahut Frans agak lesu. Beby merasa tak puas hati.
"Beneran gak ada apa-apa, Mas? Tapi kenapa kelihatannya gak semangat gitu sih," selidik Beby. "Apa ada sesuatu yang gak bisa ditunda di rumah sakit?."
Frans menatap layar ponselnya dan mengetik sesuatu, Beby menunggu dengan sabar meski merasa agak diacuhkan.
Ia nampak menghela nafas berat, bahkan cuti sehari tanpa masalahpun susah. Tapi demi tugas sebagai dokter dan kelangsungan kesehatan pasien, aku harus bersikap profesional, tandasnya dalam hati.
Beby merasa bangga pada kakaknya yang lebih mendahulukan keselamatan pasien daripada memikirkan kepentingan pribadinya, meski mungkin saat ini ia yang dikorbankan.
Pekerjaannya sebagai dokter menuntut tanggungjawab dan kesigapan penuh dalam menjaga kestabilan kesehatan pasien, itu sudah resikonya.
"Santai saja, Mas. Itu kan sudah tugasmu sebagai dokter, jangan terlalu khawatirkan aku," ucap Beby seolah tahu isi kepala kakaknya.
"Iya, By. Mas tahu itu. Maaf kalau Mas mengecewakan, karena nanti gak bisa menghadiri hari bahagiamu sampai selesai," kata Frans sambil tersenyum lembut. Ia tahu adiknya bukan seorang yang manja meskipun anak bungsu, namun tetap saja sedikit rasa kecewa itu pasti ada.
.
.
.
.
__ADS_1
🌷🌷🌷
.
.
.
.
"Wenie, sudah pulang?" tanya bu Rahma ketika ia membuka pintu, belum dikunci.
"Eh iya, Bu. Ibu belum tidur?" jawab Wenie sambil mendekat.
"Belum, masih nonton tv nih," ujar bu Rahma. "Oh ya, ini ada baju buat kamu ke undangan besok, Wen," lanjutnya sambil menyerahkan dua paper bag dari atas meja di hadapannya.
Wenie menerima dengan hati berdebar penasaran, ia mengintip kedalamnya yang kemudian berdecak kagum. " Wah .. Bagus banget, Bu. Buat Wenie? Gak salah, nih ..."
Ia membolak-balik blouse di tangannya dan membuka bungkusan rok lilit dengan hati-hati, melebarkan kainnya seolah memakainya.
"Iya, buat kamu. Besok jam sebelas siang kita berangkat ke salon ya," sahut bu Rahma, ia senang melihat ekspresi Wenie.
Bu Rahma menyayangi Wenie seperti anaknya sendiri, ia menyukai sikap Wenie yang tak pernah neko-neko dan selalu sigap ringan tangan membantunya. Sebuah sifat yang menurutnya perlu diapresiasi.
"Tapi, Bu ..."
"Sudah, kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja nanti. Yang penting kamu nurutin Ibu ya," kata Bu Rahma menyingkirkan kekhawatirannya.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya, Bu," Wenie memeluk ibu kos. Ia merasa aman dan nyaman selama tinggal di sini, bu Rahma sangat baik padanya dalam hal apapun.
"Ya sudah, kamu tidur sana. Sudah malam," ujar bu Rahma mengingatkan. "Eh, kamu sudah makan belum?"
"Sudah, Bu. Tadi aku habis traktir Eri makan bakso karena berhasil bantuin aku izin sama bos," jawabnya sembari tersenyum.
Bu Rahma mengelus kepalanya, ia tahu Wenie pasti akan berusaha untuknya setelah pura-pura merajuk kemarin.
"Terimakasih ya, Wen. Pokoknya kamu gak akan menyesal deh, sudah cuti kerja dan ikut Ibu pergi ke undangan besok," kata Bu Rahma. "Kamu gak perlu khawatirkan apa-apa, pokoknya percaya sama Ibu," menegaskan sekali lagi.
"Siap, Bu. Wenie percaya kok sama Ibu, cuma Wenie takut ngecewain saja kalau gak bisa dapat izin libur lagi," terang Wenie.
Memang benar adanya. Kadang ia merasa nyaman dan senang dengan sikap pemilik kos kepadanya, baik dan perhatian. Namun faktanya ia pun punya kepentingan lain yang tidak bisa ditinggal begitu saja, yakni tanggungjawab pada pekerjaan yang membatasi hari liburnya.
Bekerja disektor informal, apalagi hanya sebagai penjaga toko pun ternyata tak semudah itu, Ferguso ...
__ADS_1
Terkadang mereka harus bekerja tujuh hari dalam seminggu selama lebih dari sepuluh jam setiap harinya.
Orang yang bekerja di bidang ini pasti mengerti dan Wenie menikmati itu, memanfaatkan waktunya untuk hal berguna bagi kelangsungan hidup dan menata masa depannya kelak.