Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Razia


__ADS_3

Pras mengendarai sedannya keluar dari halaman villa dengan kecepatan sedang, sebuah mobil jeep warna hitam yang berisi tiga orang bodyguard pribadinya mengikuti dari belakang.


Memasuki jalan besar, seorang bodyguard yang menunggangi motor sport merah sudah menanti untuk mengawal di depan dan membukakan jalan bagi bos mereka.


Kemudian Pras segera mengenakan nirkabel earphone di telinga kiri guna tetap terhubung dengan para pengawalnya itu.


Sementara itu di dalam mobil Wenie masih saja terus mencoba berontak, membuat Pras nyaris tidak bisa mengontrol emosinya. "Diamlah, sayang. Jangan gaduh. Kau mengganggu konsentrasiku!"


"Turunkan aku, Mas!" ujarnya marah.


"Tidak. Kita belum sampai ..."


"Mas, ku bilang berhenti!"


"Tidak, sayang."


"Kau benar-benar keterlaluan, Mas. Berhenti sekarang!"


"Kita akan berhenti jika sudah sampai di bandara."


"Kita apa? Brengsek, aku tidak mau ikut denganmu. Berhenti, Mas!"


"Diamlah dan jangan memakiku, Wen!" teriak Pras kesal.


"Aku tidak peduli. Cepat berhenti, Mas!" serunya lagi.


"Kalau begitu aku juga tidak peduli!" tukas Pras seraya menginjak pedal gas sedikit lebih dalam membuat Wenie ketakutan.


"Jangan konyol, Mas! Kurangi kecepatanmu ... Apa kau ingin membunuhku sekarang!?" ia memukul bahu kiri Pras sekeras mungkin namun justru tangannya yang kesakitan.


"Ku bilang diam!" perintah Pras marah.


"Tidak mau. Berhentilah sekarang, Mas! Berhenti!" jeritnya lagi.


Namun Pras tetap acuh, mobil terus saja melaju cepat di jalanan berbukit yang berkelok naik dan turun mengikuti motor sport di depannya yang meliuk dengan lincah sambil sesekali membunyikan klakson khas patwal guna membuka jalan untuk mereka.


Celakalah jika pihak berwajib tahu mereka sudah sembarangan menggunakan sirene dan lampu strobo tanpa aturan.


Banyak pengguna jalan baik mobil maupun motor yang segera minggir untuk memberi jalan karena mengira ada orang penting yang sedang dikawal. Hal-hal seperti itu terkadang memang terjadi di kawasan ini.


Wenie terus menangis meminta agar Pras menurunkan kecepatan mobilnya dan segera mengeluarkan dia dari sana.


Pras mencoba tidak menghiraukannya meskipun berkali-kali lelaki itu hampir hilang fokus akibat gangguan darinya.


Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah pick up biru yang penuh bermuatan sayur mayur. Ciiiit ... braaak!!


Pras menginjak penuh pedal rem dan membanting setir ke kiri, maka tak pelak lagi mobil yang mereka tumpangi menghantam sisi tebing berbatu yang tinggi menjulang di hadapan mereka.


Seketika saja tubuh keduanya terdorong ke depan dan terhempas kembali dengan keras ke jok mobil.


Akibat benturan keras itu bodi mobil sebelah kiri penumpang ringsek, bemper depan dan kap mesin mobil hancur tak berbentuk dengan ban mobil yang tergelincir dan kini tersangkut diantara semak berbatu.


Nyaris saja wajah Wenie menghantam dashboard seandainya seatbelt yang dia kenakan tidak bisa menahan tubuhnya dengan baik, membuat gadis itu langsung shock. Matanya menatap terpaku karena kaget yang luar biasa, jantungnya berdegup cepat, tubuhnya bergetar, ia ingin menjerit namun seolah tidak bisa menemukan suaranya.

__ADS_1


Pras pun nampak tersengal, menarik nafas tak beraturan sambil menetralkan detak jantungnya sendiri. Ia juga sama terkejutnya dengan gadis itu. "Sial kau, Boy! Hampir saja kau mencelakaiku. Kenapa orang itu tidak mau minggir!" teriak Pras kesal pada orang di seberang sambungan earphone.


"Sorry, bos. Saya terlambat mencegah mobil itu naik di jalur sempit ini ..." jawab si Boy gugup.


"Cepat kembali kau!" teriak Pras gusar.


"Baik. Segera, bos ..." sang pengawal langsung putar balik, menyusul kemudian jeep hitam yang berisi para bodyguard lainnya datang.


Lalu Pras beranjak keluar dari mobilnya, meninggalkan Wenie yang masih terdiam mematung di dalam. "Bagaimana kau bisa selengah itu, Boy?! Dan kalian, kenapa tidak berjaga tepat di belakangku?" maki Pras pada semua anak buahnya.


"Maafkan kesalahan kami, bos. Apa anda dan nona baik-baik saja?" tanya seorang bodyguard bernama Rudy yang bertindak sebagai driver jeep.


"Masih berani bertanya, sudah jelas mobilku hancur!" sambar Pras jengkel. "Sekarang cepat keluarkan mobil ini."


"Baik, bos. Ayo, guys ..."


"Tunggu, lalu bagaimana dengan mobil pick up yang barusan, bos? Mereka kabur, apa perlu kita kejar?" tanya seorang yang lain.


"Itulah gunanya kalian berjaga di belakangku!" serunya marah. "Nanti saja kau urus. Berikan kunci mobilmu, Rud. Aku tidak punya waktu lagi. Pesawatku akan berangkat dalam dua jam, jika terlambat kalian yang akan menerima akibatnya ..."


"Baik, ini kuncinya bos," supir jeep menyerahkan kunci mobilnya dengan takzim.


"Kalian urus ini, aku pergi dulu."


"Apa tidak sebaiknya Rudy saja yang menyetir mobilnya untukmu, bos?" cegah Edo, pengawal berperawakan tinggi kurus namun berwajah bengis.


"Kenapa?! Maksudmu aku tidak bisa menyetir dengan baik, begitu?" jawab Pras jengkel.


"Bukan begitu, bos. Anda baru saja kecelakaan, akan berbahaya jika anda memaksakan diri berkendara lagi ..." kilah Edo tertunduk takut, hanya Prasetyo yang bisa menciutkan nyalinya.


Pras segera kembali pada Wenie yang masih terbengong, nafasnya masih memburu, "Aku hampir mati, aku hampir mati ..." pikirnya dengan gemetar.


"Ayo keluar, sayang ..." lelaki itu menyadarkannya saat ia menunduk hendak melepaskan sabuk pengamannya.


"Mas ..." cicit Wenie takut, matanya nanar.


"Kau tak apa? Ayo kita keluar dari sini ..."


"Aku takut ..."


"Tenanglah, kau masih hidup sayang. Kau akan baik-baik saja. Ayo kita pergi ..."


Gadis itu terdiam, ia masih agak shock dan kehilangan ingatan untuk melakukan perlawanan. Akhirnya ia menurut saja saat sang pria memapahnya keluar mobil dan berpindah ke mobil jeep milik pengawalnya.


Setelah sang bos berlalu pergi, tanpa membuang waktu lagi para bodyguard segera berjibaku menarik mobil yang sudah ringsek cukup parah itu, sementara mobil pick up tadi dibiarkan pergi begitu saja.


Hampir setengah jam kemudian mobil baru berhasil dikeluarkan dari sana dan antrian kendaraan sudah mengular di belakang mereka. Secara otomatis jalur naik dan turun ikut terhambat membuat sebagian pengguna jalan menggerutu, seseorang kemudian berinisiatif menelpon ke kantor polisi terdekat guna melaporkan bahwa telah terjadi kecelakaan.


Di lain tempat, Pras menyetir jeepnya dengan kecepatan stabil, ia khawatir Wenie akan kembali histeris jika ngebut lagi di jalur ini. "Sayang ..." Pras mengelus kepala gadis itu.


Hening tak ada jawaban, hanya isak tangis yang tertahan dan wajah ketakutan yang terlihat olehnya, "Tenanglah, kau akan baik-baik saja."


Masih sunyi, nyawanya seolah tertinggal di lokasi nahas tadi. Setelah diabaikan seperti itu maka Pras kemudian memilih diam. "Oke ... mungkin begini lebih baik, akan lebih mudah bagi kita untuk mencapai tujuanku ..." gumam Pras senang.

__ADS_1


Namun kegembiraan dalam hatinya tidak bertahan lama. Kelak di depan sana mobil jeepnya dihadang oleh beberapa polisi yang sedang melakukan razia rutin kendaraan roda empat. Sial, dia benar-benar melupakan hal satu ini.


"Mas, banyak polisi ..." lirih Wenie khawatir.


"Tenangkan dirimu, sayang. Biarkan aku mengatasinya," jawab Pras tenang.


Nampaknya Wenie lupa bahwa sedang berada dalam tawanan pria di sampingnya. Yang tergambar dalam wajah gadis itu hanyalah rasa shock akibat insiden tadi.


Kemudian seorang polisi menghadang laju mobilnya dengan melambaikan stick warning, memberi kode padanya agar mobil melambat untuk menjalani pemeriksaan.


Kemudian Pras memasang wajah innocent dan menepikan mobilnya ke kiri.


"Selamat siang, pak ..." sapa petugas memberi salam.


"Selamat siang juga, pak ..." jawab Pras sambil menurunkan kaca mobil perlahan.


"Bapak dan Ibu dari mana mau ke mana, Pak?" tanya polisi.


"Kami dari Cianjur mau kembali ke Jakarta," bohong Pras dengan mimik tenang.


"Baik. Bisa tolong tunjukan kelengkapan surat-suratnya, Pak ..." pinta sang polisi.


"Ini ada razia apa ya, Pak?" tanya Pras berlagak bingung.


"Hanya razia rutin saja, Pak. Untuk mengontrol tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor ..." terang pak polisi sambil menunggu.


"Oo, begitu? Baik sebentar," jawab Pras, ia mencari surat-surat kendaraan yang dimaksud di laci dashboard. "Ini, Pak ..."


Untung saja barusan Rudy menghubunginya, mengatakan bahwa surat-surat kendaraan lengkap semuanya ada di laci dashboard, sehingga Pras tidak kesulitan mencarinya.


Usai memeriksa semua kelengkapan surat-suratnya lalu pak polisi mempersilahkan mereka untuk lewat, namun sedetik kemudian terdengar perintah dari walkie talkie bahwa mobil di hadapannya harus dicegah pergi.


Mendengar hal itu segera saja Pras injak gas hendak melarikan diri dari sana. Ia menyalip beberapa mobil yang berjalan lambat di depannya dan membuat kekisruhan di lokasi razia.


Para polisi pun sigap berlari mengejar dan saling memberi kode untuk menghentikan mobil jeep hitam itu.


Namun Pras berhasil kabur setelah menabrak dua polisi yang nekat menghadang jalannya. Dua tembakan peringatan pun tidak dihiraukannya lagi, ia terus tancap gas.


Wenie kembali panik dan menangis sementara Pras terus saja menyetir dengan kecepatan tinggi menyalip banyak kendaraan dengan lihai, ia ingin segera masuk tol agar bebas dari kejaran para petugas itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya, yaa..


Sabar yaa, smoga minggu depan aku bs update lg. Terimakasih atas dukungan kalian..muuuuaach..


__ADS_2