Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Diintai


__ADS_3

Wenie keluar rumah pukul tujuh lewat dua puluh enam menit dan sedang fokus pada ponselnya saat pamit untuk berangkat kerja pada ibu kos. Ia sibuk berbalas pesan dengan Eri hingga tiba di tepi jalan besar tempatnya biasa menunggu angkot.


Ia tak menyadari sama sekali bahwa seseorang mengintainya dari balik kemudi mobil yang terparkir di seberang jalan.


Kemudian sebuah angkot merah bata berhenti di hadapannya tak lama setelah ia melambaikan tangan menyetop lajunya dari jarak sepuluh meter dan segera masuk.


Ia mengambil tempat di sudut dalam bagian belakang dekat jendela yang terbuka, menikmati belaian angin pagi. Masih jam segini, gak usah buru-buru. Eri juga belum sampai, pikirnya riang.


"Halo Eri," sapanya setelah temannya tiba.


"Hai juga, Wen. Kamu nunggu dari tadi?" tanya Eri saat melihatnya duduk di bangku panjang depan toko.


"Baru lima menit. Sini kuncinya, aku yang buka. Kamu duduk saja, Ri," pinta Wenie.


"Oke. Gantian ya," Eri menyerahkan kunci toko.


"Sip!" Wenie meraih kunci, dengan cekatan ia membuka tiga rolling door tanpa kesulitan.


Tak lama kemudian mereka sibuk merapikan barang dagangan di etalase, menyisihkan debu dari pakaian yang tergantung, dan menyapu lantai.


Semua selesai tepat waktu saat sang bos memunculkan wajah, ia mengamati situasi sebentar, mengoreksi beberapa letak barang lalu duduk di singgasananya di balik meja kasir. Wenie dan Erie menghela nafas lega bersamaan.


"Wen, gimana acara undangan di gedung kemarin. Seru gak?" bisik Eri padanya.


"Seru dong, banyak orang ganteng dan syantik-syantik di sana," jawab Wenie juga berbisik, menjaga suaranya agar tidak terdengar bos.


"Masa? Ceritain dong ...."


"Panjang, Ri. Nanti kalau istirahat kita cerita-cerita ya ...."


"Ah kelamaan, Wen. Sekarang saja kenapa sih," desak Eri. Wenie melirik bos di belakangnya, asyik main ponsel seperti biasa.


"Kemarin aku dikenalin bu Rahma sama cowok ganteng. Katanya dia dokter, lho," bisik Wenie.


"Wah, terus, terus ...."


"Ya aku kenalan. Tapi aku agak minder, Ri. Gimana gitu rasanya ...."


"Yaelaah, biasa saja kali, neng. Minder kenapa coba?"


"Habis dia keren banget, sih. Senyumnya itu, lho." Wenie menutup mata membayangkan senyum dokter Frans.


"Iish ... jadi mengkhayal 'kan," ledek Eri. Mereka tertawa kecil sambil berbalas ledekan.


Sejenak Wenie melupakan bagian menyebalkan kejadian kemarin dan kembali ceria menjalani aktifitasnya seperti biasa.


Hari sudah semakin beranjak menuju jam makan siang saat seorang pria berseragam merah-hitam datang memberi salam. "Permisi. Saya ingin mengantarkan paket," ucapnya sopan. Ia menghadapi Uda Her, sang bos.


"Paket untuk siapa, Mas?" tanyanya memindai bawaan orang itu. Satu paket besar makanan cepat saji.

__ADS_1


"Untuk Mbak Wenie, Pak ...."


"Ween ..." panggil si bos menyela Wenie yang sedang melayani seorang pembeli.


"Ya, bos?" jawab Wenie sambil memberi kode agar Eri menggantikan melayani.


"Ini ada yang kirim paket buat kamu," ucap si bos setelah Wenie mendekat.


"Ini tanda terimanya, Mbak. Tolong tanda tangani dulu," pinta orang itu.


"Dari siapa ya, Mas? Saya gak pernah pesan makanan kayak gini," jawab Wenie bingung.


"Ada kartunya di dalam, Mbak. Nanti boleh dilihat sendiri. Saya permisi dulu, terimakasih," pamitnya mengundurkan diri setelah Wenie tanda tangan.


"Eh, sama-sama," jawabnya ragu.


Kemudian Wenie membawa setumpuk dus paket makanan fastfood itu masuk, meletakkannya di atas meja di sisi mesin kasir. Ia membuka kotak, mencari kartu yang dimaksud.


Tertulis serangkai kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan pengirimnya adalah Prasetyo.


Deg!!


Ya Tuhan, apa lagi ini? Kenapa dia bisa tahu aku kerja disini?


Uda Herman mendekat sambil bertanya, "Kenapa gak dimakan, Wen? Sayang lho, makanan mahal ...."


"Eh iya. Silahkan dimakan, Ri, Da. Banyak banget ini, aku gak bakal habis sendirian," ujar Wenie setelah tersadar dari keterkejutannya.


Lalu si bos ikut meraih sepotong, namun Wenie masih ragu. Ia terdiam menyimak kartunya sekali lagi sampai sebuah dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Sebuah nomor baru namun sepertinya tidak asing.


"Halo?" ucapnya ragu.


"Halo, sweetheart ... Makanan yang ku pesan tadi sudah sampai 'kan?" ujar seseorang di seberang telepon.


Jantung Wenie seketika berdebar takut, ia segera bergeser ke sudut untuk menerima telepon itu di balik gantungan gamis-gamis. "Mas, kamu tahu darimana aku kerja di sini? Buat apa juga kamu ngirim makanan segala," tanya Wenie dengan suara pelan berharap tak ada yang mendengar.


"Aku tahu darimana itu gak penting! Sekarang sudah hampir jam satu siang dan aku tahu kamu belum makan ..."


Wenie mengigit bibir. "Sebelumnya terimakasih, Mas. Tapi ku minta, lain kali kamu gak usah kirim apa-apa lagi buatku."


"Kenapa, sayang? Kamu jangan khawatir, aku gak merasa direpotkan, kok ..." Prasetyo terkekeh santai.


"Please ... aku serius, Mas. Kamu gak usah kayak gini, aku gak nyaman."


"Lantas?"


"Jangan kirim apa-apa lagi," ujar Wenie menekan suaranya demi menahan jengah. "Aku gak suka."


"Aku gak peduli, sayang! Sekarang kamu makan, aku kirim itu untuk kamu, bukan buat mereka!" kata Prasetyo tajam.

__ADS_1


"Hah?!" Wenie mendadak mengedarkan pandangan. Namun tak melihat seseorang yang mencurigakan.


"Kamu gak usah kaget gitu," ujar Prasetyo. "Apa yang gak aku tahu soal kamu?"


"Kok, bisa? Kamu mata-matain aku ya ...."


"Huh! Memangnya aku kurang kerjaan?" jawabnya menahan tawa.


"Jangan bercanda, Mas. Please, jangan kayak gini. Aku beneran gak nyaman," ujar Wenie gelisah.


"Sudah ku bilang, aku gak peduli sayang! Cepat makan atau aku datangi kamu sekarang, menarik kamu pergi dari sana!" ancam Prasetyo galak.


Wenie terdiam, merasa sangat khawatir. "Kamu dengar, Wen? Kamu tahu aku gak suka mengulangi kata-kataku. Tunggu apa lagi?"


Sebenarnya ia kesal pria itu selalu arogan dan bersikap semaunya tapi ia tak mampu menolak. "Iya Mas, aku makan. Kalau gitu aku tutup teleponnya," jawabnya gugup.


Kemudian ia memasang senyumnya saat menghampiri Eri dan si bos. Mengambil seporsi spaghetti dalam cup aluminium foil dan mulai memakannya. Ia tak ingin merusak suasana santai makan siang dan berusaha ikut menikmati makanan bersama mereka.


Wenie menjalani sisa harinya dengan perasaan tidak nyaman. Ia merasa was-was akan sesuatu.


Meski sejujurnya ia senang bisa berjumpa kembali dengan Prasetyo -mantan kekasihnya- namun ia juga merasa takut di waktu yang bersamaan sehingga ia sering tidak punya pendirian.


Kenangan buruk kembali terlintas di kepalanya. Dua tahun itu waktu yang belum terlalu lama, bahkan masih cukup segar dalam memorinya.


Wenie mengingat persis bagaimana ia menjalin kasih dengan Prasetyo yang mengaku tak punya pacar meski terkadang ia sendiri ragu.


Bagaimana mungkin cowok sekeren ini gak punya pacar? Namun lelaki itu selalu bisa meredakan keresahan hatinya. Ia selalu bersikap baik dan manis.


Prasetyo selalu datang di malam Minggu. Mengapel seperti pasangan kencan pada umumnya, sesekali mereka pergi nonton bioskop, atau mengajaknya shopping di mall, makan di restoran, dan selalu ada saja yang dibelikannya meski Wenie tak ingin.


Saat itu Wenie merasa jadi gadis paling beruntung memiliki kekasih yang sudah dewasa dan mapan. Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun Prasetyo masih melajang dan sedang mencari pasangan untuk serius menikah. Meski Wenie tidak tahu persis ia bekerja di mana, di bagian apa.


Hanya saja sesekali Wenie pernah menemaninya menyelesaikan pekerjaan disela kencan mereka. Terkadang ia membawa laptop di mobilnya atau bahkan dalam ransel saat ia datang dengan motor sportnya.


Yang pernah ia dengar dari temannya, Prasetyo bekerja di sebuah perusahaan konstruksi sebagai manajer keuangan dan saat ini karirnya sedang bagus. Hanya itu.


Pantas saja Prasetyo selalu bisa memanjakan Wenie dengan uangnya meski Wenie hampir selalu menolak. Ia tak suka perlakuan berlebihan, menghamburkan uang atau apapun yang menonjol.


Berbeda dengan Prasetyo yang selalu ingin menunjukkan bukti cintanya pada Wenie. Ia merasa baik-baik saja dengan semua itu, seolah tidak memusingkan berapa banyak ia keluar uang.


Sampai suatu saat Wenie mendengar desas-desus di antara teman yang mengenal kekasihnya bahwa ia telah memiliki tunangan di kota asalnya dan akan segera menikah.


Kemudian pertengkaran terjadi di antara mereka, semakin hari semakin meruncing. Setiap pertemuan tidak lagi terasa menyenangkan, bahkan teror-teror mengerikan mulai mengganggunya.


Wenie menangis sedih saat mengetahui kucingnya mati keracunan setelah ia menerima ancaman dari seorang wanita lewat telepon malam sebelumnya.


Berikutnya ibu Wenie tiba-tiba jatuh sakit dengan gejala yang aneh. Waktu itu ada seorang tetangga mengantar ibunya berobat pada Kyai Basri yang mengatakan seseorang mengirim guna-guna padanya namun salah sasaran.


Kemudian adik lelakinya -Kiki- mengalami kesurupan yang mengerikan. Ia mengamuk hendak membunuh Wenie, menghancurkan barang-barang di rumah, dan membuat kehebohan satu kampung. Bulu kuduknya meremang mengingat itu semua seolah baru saja terjadi kemarin.

__ADS_1


__ADS_2