Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Gentleman


__ADS_3

Ketika hendak beranjak pulang, Frans mengajaknya untuk kembali ke restoran tempat mereka makan tadi. Rupanya sebelum bersantai di taman, ia telah memesan seekor gurame bakar yang merupakan menu favorit di sini dengan lalapan komplit sebagai buah tangan untuk bu Rahma nanti.


Dan suasana dalam perjalanan pulang kali ini sudah berubah lebih akrab, kecanggungan yang dirasakan Wenie mulai berkurang.


Ia menerima perlakuan baik Frans dengan hati berbunga. Lagipula siapa yang bisa menolak pesona seorang dokter muda yang tampan macam dia?


Frans adalah sesosok pria blasteran bertubuh atletis, memiliki rahang yang tegas, bermata cokelat muda, dan berhidung mancung yang baru diketahui Wenie didapatkannya dari papa yang asli Jerman dan mama yang keturunan Keraton Yogyakarta.


Pantas saja Frans selalu menjaga sopan santunnya yang justru memberi kesan 'dingin' meskipun sebenarnya ia sosok yang ramah. Sungguh perpaduan yang sempurna.


Kini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit saat mobil Frans berhenti di depan rumah kos Wenie. Tapi Wenie merasa takut dan sedikit ragu, apakah bu Rahma akan memarahinya lagi kali ini?


Namun Frans dapat memahami situasi sebelum Wenie mengatakannya.


Maka ia memutuskan untuk mengikuti Wenie turun, mengantarkannya dengan selamat sampai ke hadapan nyonya rumah.


"Biar ku antar kamu sampai ke dalam," ucap Frans melihat wajah khawatir Wenie.


"Serius? Aku jadi gak enak hati nih, Mas. Takut merepotkan ..."


"Hei, tadi 'kan saya yang jemput dan mengajakmu makan malam. Ingat?"


"Iya, sih ... Tapi, aku takut kalau Ibu masih marah sama aku karena kemarin juga pulang larut malam ..." keluhnya lirih.


"Kamu gak perlu khawatir," ujar Frans. "Tadi bu Rahma sudah memberi izin pada saya untuk jalan sama kamu, maka sudah kewajiban saya mengantarmu sampai ke hadapan beliau."


Wenie terdiam, hati kecilnya merasa tersentuh dengan penjelasan Frans. Ia coba menguatkan hatinya untuk percaya pada ucapan dokter muda ini, Frans tidak mungkin berkata dusta, 'kan?


Dengan pelan akhirnya Wenie mengangguk setuju, lalu melangkah keluar mobil diikuti Frans yang membawakan bungkusan makanan.


Namun sebelum melewati pagar, ia memindahkan tentengan di tangannya pada Wenie. "Jangan katakan ini dariku, bilang saja kau yang membelikannya. Oke?"


"Lho, kenapa? Ini 'kan memang Mas Frans yang beli, bukan aku ..."


"Sudah, kamu ikuti saja kataku," Frans mengerlingkan matanya.


"Hm, baiklah. Tapi Mas temani aku sampai ke dalam ya, aku takut sama ibu ..."


"Lho, ini 'kan saya memang mau nemenin kamu," ujar Frans tersenyum.


"Oh, iya ya," Wenie tersipu lagi dibuatnya, merasa salah tingkah.


Mereka pun melangkahkan kaki memasuki


halaman, dari luar sini lampu ruang tamu terlihat masih menyala. Mungkin bu Rahma sedang menunggu kedatangan mereka dari tadi.


"Assalamualaikum," ucap Frans dan Wenie nyaris berbarengan. Frans mengetuk pintu sebelum Wenie menekan handle kemudian melangkah masuk.


"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah pulang, Wen?" jawab ibu kos seraya mengalihkan pandang dari televisi. Ternyata ia sedang berada ruang tengah, Frans dan Wenie berjalan mendekat.


"Iya, Bu. Maaf, aku pulang malam lagi," jawab Wenie.

__ADS_1


"Oh ya, ini ada oleh-oleh ikan bakar buat Ibu," lanjutnya sambil mencium tangan bu Rahma.


"Terimakasih, sayang," sahut bu Rahma. "Oh, Dokter Frans! Mari duduk dulu, saya buatkan minum," baru ia bangkit menyambut begitu tahu Frans ada di belakang Wenie.


"Terimakasih, Bu. Tidak perlu repot-repot. Saya hanya mampir sebentar saja untuk mengantar Wenie," sahut Frans sopan sambil menjabat tangan Bu Rahma.


"Ah, Dokter ... Jangan terburu-buru begitu, anggap saja rumah sendiri," ujar nyonya rumah lalu beralih tatap pada Wenie. "Kamu temani Dokter Frans sebentar ya, Wen ..."


"Gak usah repot-repot, Bu. Sungguh," cegah Frans sekali lagi. "Lagipula ini sudah kemalaman, saya rasa gak baik bertamu lama-lama. Lain kali saya akan datang lebih sore ..."


"Begitu? Aduh, saya jadi merasa gak enak hati sama Dokter," ujar bu Rahma.


Frans menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil. "Saya cuma mau mengantar Wenie dan mengucapkan terimakasih karena Ibu sudah mengizinkan saya mengajaknya pergi sebentar."


"Oh, tentu. Jangan sungkan, Dokter. Sering-seringlah mampir ke sini kalau ada waktu," kata bu Rahma dengan sumringah.


"Baik, terimakasih. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Bu," ujar Frans. "Wen, kamu istirahat ya. Jangan begadang. Oke."


"Iya. Sekali lagi terimakasih banyak, Mas," jawab Wenie. Bu Rahma agak terkejut namun senang mendengar panggilan Wenie pada Frans.


"Ehm, Wen. Sebaiknya kamu antar dulu Dokter Frans sampai ke depan," sarannya lembut.


"Baik, Bu," Wenie menjawab malu-malu. "Ayo ku antar, Mas."


Setelah menganggukkan sedikit kepalanya untuk pamit pada bu Rahma, Frans yang ditemani Wenie segera beranjak keluar rumah.


Tanpa mereka sadari sang ibu kos mengikuti dari belakang, namun ia hanya berdiri di depan pintu menatap Wenie yang sedang membukakan pagar untuk Frans.


Bu Rahma gembira sekali, harapannya untuk menjodohkan anak kos kesayangannya dengan sang dokter tampan anak sahabatnya sepertinya akan dipermudah.


"Saya pulang dulu ya, Wen. Ingat, kamu jangan begadang," ujar Frans sebelum masuk mobil.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan ya," balas Wenie.


"Tentu. Ya sudah, kamu masuk sana. Bu Rahma pasti sudah menunggumu dari tadi."


"Baiklah, Dokter Frans. Aku masuk dulu ya, bye-bye ..."


"Hm, mulai lagi deh," Frans menahan senyum, lalu ia masuk ke dalam mobil. "Selamat malam, nona ..."


"Malam juga Mas dokter," gurau Wenie seraya melambaikan tangan, Frans terkekeh dibalik setir dan kemudian melaju pergi.


Semenit kemudian Wenie kembali menghadap bu Rahma, ia bermaksud memastikan apakah ia masih akan dimarahi atau tidak setelah ini.


"Ibu, belum mau tidur?" tanya Wenie basa-basi.


"Kemarilah ..." panggil Bu Rahma. "Ibu mau bicara sebentar," lanjutnya sambil menepuk sofa kosong di sisinya.


Wenie mendekat dengan lambat, sedikit ragu. "Ibu masih marah ya, sama aku?" tanyanya kemudian.


"Kata siapa? Kamu ini, Ibu kan belum omong apa-apa ..."

__ADS_1


"Hehe, iya maaf. Habis aku takut dimarahi lagi sama Ibu," Wenie nyengir kuda.


"Apa kamu masih merasa bersalah soal kemarin malam, hm?" tanya bu Rahma setelah Wenie duduk.


"Masihlah, Bu. Tadi pagi waktu Ibu pergi senam, aku pikir Ibu lagi ngambek gak mau ketemu aku?" ujar Wenie mengutarakan dugaannya.


"Aduh, kamu ini ya!" kata Bu Rahma pura-pura kesal.


"Tapi baguslah kalau kamu masih merasa bersalah ..."


"Lho? Maksudnya ..."


"Jangan lupa, kamu ini masih dalam masa hukuman. Eh, malah masih berani pulang malam juga?!"


"Mm, itu. A, aku ..."


"Mulai sekarang kamu harus nurutin kata-kata Ibu. Terutama soal hubungan kamu dengan dokter Frans. Mengerti?!" ujar Bu Rahma setengah galak.


"Mm, tapi Bu? Aku sama dokter Frans gak ada apa-apa. Sumpah ..."


"Ibu tahu. Tapi nanti ke depannya pasti akan ada apa-apa," jawab Bu Rahma cepat. "Dengar ya, Ibu gak sudi kalau sampai kamu masih berhubungan dengan Prasetyo! Ibu lebih setuju kamu sama dokter Frans."


Wenie melongo, ia tidak mengerti arah pembicaraan bu Rahma. Maka ia pun hanya mengangguk-angguk saja sambil mencerna kata-kata sang ibu kos di hadapannya ini. Bu Rahma nampak gemas dibuatnya, namun ia coba bersabar.


Bu Rahma akhirnya menarik nafas lelah. "Ya sudah, kamu tidur duluan sana, Ibu akan mengunci pintu pagar sebentar lagi sambil menunggu yang lain pulang."


"Ibu gak mau aku temani?" tanya Wenie, belum ingin beranjak.


"Memang kamu belum ngantuk? Kamu pasti capek. Sudah sana, pergilah."


"Gak kok, Bu," sahut Wenie seraya tersenyum lega karena diperhatikan. "Oh ya, Ibu sudah makan belum? Tadi aku sama dokter Frans makan seafood, lho. Itu aku bawain gurame bakar buat Ibu. Dimakan ya?"


"Makan seafood di mana? Pantesan kamu pulang malam lagi, untung saja sama dokter Frans. Kalau bukan ..." ucapan Bu Rahma menggantung, matanya mendelik pura-pura marah.


"Ibu ..." Wenie merengek kecil.


"Pokoknya awas ya, kalau kamu jalan lagi sama cowok itu!" ancam bu Rahma.


"Iya, aku janji."


"Jangan mudah berjanji, kebiasaan," sergah bu Rahma. "Ya sudah, kamu tolong ambilkan piring, Wen. Sepertinya ikan bakarnya enak," lanjutnya mengalihkan perhatian.


Kini bu Rahma terlihat sibuk membuka box berisi gurame bakar yang beraroma nikmat dan mencicipi secuil, mengecap rasanya. Mantap!


Bu Rahma mengajak Wenie untuk makan bersama namun ditolaknya dengan alasan masih kenyang. Tak banyak bicara lagi, kini bu Rahma nampak menikmati ikan bakarnya dengan lalapan tanpa nasi.


Sampai sepuluh menit berikutnya Wenie masih duduk di sana menemani ibu kos yang sedang makan sambil ia membuka pesan-pesan di ponselnya.


Lalu matanya terpaku pada chat Frans yang baru masuk dua menit yang lalu. Wenie segera membalasnya dan ia mulai nampak senyum-senyum sendiri membuat bu Rahma risih, lantas mengusirnya lagi untuk pergi ke kamarnya.


Tak ingin banyak membantah, Wenie pun segera berlalu setelah pamit pada nyonya rumah. Ia bergegas melangkah menaiki tangga dengan hati senang meski ia tak berani berharap banyak, ia ingin menikmati saja getar-getar perasaan ini.

__ADS_1


Sebuah rasa bahagia yang sudah cukup lama tak berani dimulainya bersama siapapun. Namun kali ini terasa berbeda, meski mungkin ini merupakan awal dari sebuah kemustahilan ia tetap ingin mencoba.


Semangat, Wenie!! teriaknya dalam hati.


__ADS_2