Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Penculikan


__ADS_3

Sudah empat hari sejak Wenie dirawat waktu itu dan selama itu pula Frans rutin mengontrol keadaannya. Ia sering menelepon atau mengirim chat sekedar untuk mengingatkan waktu makan dan istirahat, juga tidak lupa mengantar jemputnya saat ia mulai kembali bekerja.


Sebenarnya Frans memaksanya untuk cuti lebih lama namun Wenie tentu saja menolaknya karena merasa sudah sangat sehat, ia tidak mau lama-lama menyusahkan ibu kos yang harus merawatnya di rumah.


Sampai hari ini Wenie belum mendapat kesempatan untuk menanyakan pada Frans soal telepon dari Pras tempo hari yang entah siapa yang menjawabnya. Ia merasa masih penasaran namun tetap ditahannya sambil menunggu waktu yang pas, namun selama itu pula ia tidak mendapat kabar apa-apa dari Pras yang seolah menghilang ditelan bumi. Menyadari hal itu ia bisa sedikit tenang sekarang.


Malam ini Frans hendak menjemputnya pulang kerja seperti biasa. Sebelum sampai, Frans sudah menelepon lebih dulu akan tiba pukul berapa sehingga Wenie tidak perlu berdiri menunggunya di pinggir jalan, selalu seperti itu.


Namun kali ini Eri mengatakan tak bisa pulang bareng dengan Wenie dan Frans. Ia memilih pulang bareng Indah, karyawan toko sebelah, agar tidak lagi menjadi nyamuk bagi dua sejoli itu.


Meski hanya beberapa menit dalam mobil yang sama tapi Eri merasa agak kurang nyaman. Sungguh pengertian sekali, hatinya memang cukup peka terhadap suatu situasi. Itu yang Wenie suka dari sahabatnya ini.


Wenie memutuskan untuk keluar gedung mall sepuluh menit lebih awal saat tahu Eri akan menunggu Indah untuk pulang bersama, karena Indah belum waktunya menutup toko. Ia segera beranjak pergi untuk membeli beberapa cemilan di kaki lima sembari niatnya menunggu Frans di pinggir ruko seberang tempat biasa dokter tampan itu memarkirkan mobilnya.


Wenie melangkah pelan menyusuri trotoar sebelum menyeberang jalan yang tanpa disadari bahaya besar tengah mengintainya. Ia berhenti sejenak untuk menunggu jalan sedikit kosong agar ia bisa menyeberang dengan selamat di jalanan yang cukup ramai itu. Namun saat ia hendak melangkah maju sebuah mobil van hitam berhenti tepat di hadapannya, seseorang keluar lalu mendorongnya masuk dengan paksa.


Wenie terkejut tapi tak sempat memberontak, ia begitu panik dan takut. Ada empat orang laki-laki bertubuh kekar mengenakan masker scuba dan berpakaian hitam-hitam di dalam mobil tersebut.


Dua orang duduk di kursi depan sementara dua lainnya mengapit Weni duduk di jok tengah. Mobil kemudian melesat membelah keramaian dengan cukup lihai tanpa sempat disadari masyarakat sekitar bahwa telah terjadi penculikan.


"Apa-apaan ini! Turunkan aku. Toloong ..." teriak Wenie panik.


"Diam! Gak ada gunanya kamu ngelawan, nona. Tenanglah ..." ujar seseorang di sisinya sambil menahan tangan Wenie yang meronta.


"Gak mau. Turunkan aku. Brengsek!" makinya lagi sembari memukul dan menendang ke sana-ke mari.


"Diamlah, nona!" bentak yang lainnya.


"Gak mau. Siapa kalian?! Cepat turunkan aku ..." suaranya bergetar takut namun terus meronta. Dua orang penculik cukup kelimpungan menahan perlawanannya.


"Hei, diamlah! Kami tidak akan melukaimu ..."


"Bohong! Berhenti sekarang atau kulaporkan kalian ke polisi ..." ancam Wenie berusaha berani, mereka menertawainya.


"Kau ini berisik sekali, nona... Sudah bius saja. Cepat!" perintah orang yang duduk di samping supir, ia melemparkan sehelai saputangan yang sudah disemprot obat bius yang segera disambar oleh seorang lainnya.


"Aku gak mau ... hmmph ...." Wenie terus meronta saat dibekap, lalu sedetik kemudian melemas pingsan.


"Kita harus cepat. Dokter Frans sebentar lagi pasti tiba, jangan sampai dia menyadari gadis ini sudah kita ambil paksa," ujar pria tadi, nampaknya ia ketua penculiknya.


"Oke bos," mobil semakin tancap gas.


"Bos, cewek ini sudah ada sama kita. Sekarang mau diantar ke mana?" pria itu nampak menelepon seseorang.


"......"


"Baik ...."


"......"

__ADS_1


"Siap, bos!" ia tersenyum puas. "Kita langsung ke villa bos besar saja di luar kota, bro," perintahnya pada sang supir.


"Oke. Kita meluncur, bos," jawab supir sumringah, mereka senang mendapatkan buruannya dengan mudah, bahkan di tempat keramaian pun tak ada yang bisa menghalangi kejahatan mereka.


Tawa mereka terhenti saat mendengar dering ponsel Wenie, mereka saling pandang karena kaget. Lalu seorang di sisi kanan Wenie, pria berwajah oval penuh brewok menyembul dari balik masker mengambil ponselnya dari dalam tas. Panggilan dari Frans.


"Reject saja," ujar pria yang duduk di depan enteng. "Habis itu turn off ponselnya atau buang sekalian. Merepotkan saja!" gerutunya kesal.


"Eh, jangan bos. Nanti kita kasihkan saja ke bos besar supaya dokter itu makin kelabakan," usul si supir cepat.


"Hah, betul juga. Kadang otakmu memang encer ..." pujinya sambil menepuk si supir.


Mobil mulai memasuki tol lingkar luar, kecepatan pun stabil di angka 100km/jam. Mereka memburu waktu agar cepat sampai di villa karena bos besar sudah menunggu kedatangan mereka.


Sementara di lokasi kejadian Frans sudah datang dan tak mendapati Wenie dalam waktu dua puluh menit berikutnya. Ia menunggu dan terus coba mengontak gadis itu namun panggilannya selalu direject dan terakhir malah ponselnya sudah tidak aktif.


Kemudian Eri dan Indah muncul keluar mall, sepertinya mereka baru mau pulang. Tak membuang waktu lagi, Frans langsung menghampiri dua teman Wenie.


"Maaf, nona. Apa Wenie masih di dalam?" tanya Frans tergesa. Dua gadis muda di hadapannya saling pandang.


"Tidak ada, dok. Dia sudah pulang setengah jam yang lalu," ujar Eri.


"Bukankah dia biasanya selalu bersamamu?" selidik Frans lagi, ia mulai agak kesal sekarang.


"Iya, tapi tadi Wenie bilang mau nunggu dokter di depan sini sambil beli sesuatu ..." jawab Eri sedikit ragu.


"Coba di telepon, Mas," ucap Indah yang sedari tadi diam mengagumi pria berhidung bangir di hadapannya.


"Apa mungkin sudah sampai di rumah?" ujar Eri lagi. Lalu Frans nampak menelepon seseorang, mereka diam menyimak.


"Tidak ada ..." keluh Frans. "Ya sudah, maaf menganggu. Saya pergi dulu," ujarnya yang diangguki Eri dan Indah.


Frans melangkah lebar-lebar dan segera menyetir mobilnya pergi dari sana. Indah mulai menggosip tentang Wenie dan pria tampan itu, namun Eri berusaha menjawab pendek-pendek saja. Ia tak mau menggosipkan Wenie di belakangnya, apalagi sekarang ia ikut merasa khawatir mengetahui hal ini.


Frans menerka-nerka apa yang terjadi pada gadis muda itu, ia menyetir ke arah rumah kos untuk memastikan keberadaan Wenie. Bu Rahma menyambut Frans dengan wajah khawatir dan panik, ia mempersilahkannya untuk masuk lebih dulu.


"Jadi bagaimana, Dok? Apa Wenie benar-benar sudah pulang dari tempat kerjanya?" tanya Bu Rahma cemas.


"Menurut teman-temannya begitu, Bu. Saya juga sudah menunggunya hampir setengah jam dan coba menelepon dia tapi akhirnya gak aktif lagi ..." keluh Frans.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Semoga gak ada sesuatu yang membahayakan dia," ucap ibu kos sembari menahan tangis.


"Tenang dulu, Bu. Coba kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia akan pulang," bujuk Frans lembut, berusaha menenangkan Bu Rahma meski ia sendiri merasa cemas.


"Apa sebaiknya kita cepat lapor polisi, Dok?" usul Bu Rahma.


"Saya akan coba nanti, Bu. Jika Ibu memiliki kontak teman-teman atau keluarganya coba tolong dihubungi dulu ...."


"Baik, dok. Saya coba ..." bu Rahma mulai nampak menghubungi beberapa orang yang mungkin di datangi Wenie tapi hasilnya nihil.

__ADS_1


Keduanya duduk termenung memikirkan hal ini, lalu teman-teman kos Wenie ikut berkumpul bersama mereka di ruang tengah, menambah hiruk pikuk suasana. Frans tak ingin diam di sana lebih lama, maka ia segera bangkit untuk pamit pada bu Rahma dan semua penghuni kos.


Frans memutuskan untuk pulang ke apartemennya lebih dulu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak agar dapat berpikir jernih. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia meraih ponselnya untuk menghubungi seorang temannya yang berprofesi sebagai dokter forensik di kepolisian, dokter Chairil.


Ia hendak meminta pendapatnya mengenai hal ini, kemudian dokter Chairil memberinya koneksi pada pihak kepolisian.


Beruntung, tanpa perlu menunggu lama Frans segera terkoneksi melalui sambungan telepon dengan AKBP Doni Permana, lalu ia segera menceritakan semua permasalahannya. Mereka kemudian memutuskan untuk bertemu di suatu tempat dan membentuk tim investigasi di bawah komando Doni Permana.


.


.


.


.


🌷🌷🌷


.


.


.


.


Sementara itu di lain tempat, mobil van yang dibawa para penculik sudah memasuki wilayah pedesaan di bilangan Puncak, Bogor. Sudah lewat satu jam setengah sejak dibius, Wenie belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran.


Setelah sampai seorang penculik membopongnya masuk ke dalam villa besar bercat putih yang letaknya jauh dari gerbang masuk. Seseorang telah menunggu mereka di ruang tamu utama dengan tidak sabar.


"Bos besar, kami datang!" seru ketua penculik senang.


"Tom!! Syukurlah kalian sudah sampai. Bawa gadis itu ke kamarku," ujar pria itu sambil menunjuk ke lantai atas.


"Baik, bos ..." sahut Tom tanggap. "Ayo, kau ikuti aku ..." lalu seorang penculik lain menemaninya ke atas untuk membukakan pintu.


Mereka meletakkan Wenie di atas sebuah ranjang king size dalam kamar tidur yang cukup luas yang bernuansa maskulin dan segera turun menghadap boss besarnya yang tak lain adalah Prasetyo.


Ya, lelaki itu memilih cara curang ini sebagai langkah terakhirnya untuk tetap bersama gadis pujaan hatinya. Ia tidak lagi dapat bersabar menunggu Wenie melunak untuk membuka hatinya kembali. Ia tidak ingin Frans memiliki gadisnya seperti beberapa hari lalu.


Pemikiran itu membuatnya marah dan kalap, ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Tanpa banyak berpikir lagi ia segera memutuskan untuk secepatnya kembali dari Kalimantan meskipun masa tugasnya belum selesai dan mengutus suatu tim hitam untuk menjemput paksa Wenie.


"Bos, nona cantik itu sudah ku letakkan di ranjang. Sepertinya sebentar lagi ia akan sadar ..." lapor Tom padanya.


"Bagus! Ini upah kalian, sekarang kalian boleh pergi ..." ujar Pras santai. "Tapi ingat, tutup rapat mulut kalian. Aku tidak mau ada kesalahan!" ancamnya tegas.


"Siap, bos! Kami pamit dulu, kalau ada apa-apa cepat hubungi kami. Kami selalu standby di villa bawah ..." jawab Tom.


"Sudah, pergilah," Pras mengibaskan tangannya, merekapun segera berlalu.

__ADS_1


Villa bawah yang dimaksud adalah sebuah villa kecil milik Pras juga yang letaknya sebelum villa besar ini. Villa itu menjadi markas sementara para penjahat selama orang yang menggunakan jasa mereka masih membutuhkan.


__ADS_2