
Sejak semalam Bu Rahma sudah berpesan pada Wenie, mewanti-wanti agar meminta cuti lagi pada bosnya. Dia ingin Wenie menemaninya pergi ke undangan nikah hari Minggu nanti.
Wenie sudah berusaha menolaknya karena ia merasa tidak percaya diri menghadiri acara resepsi orang gedean. Sampai pagi inipun Bu Rahma masih coba mengajaknya lagi.
"Tapi Wenie gak punya pakaian yang pantas, Bu," tolaknya halus. "Ajak Winona saja ya, atau Iin juga boleh kok. Lagipula hari Selasa kemarin aku baru saja libur, kan? Gak enak sama bos ...."
Hening beberapa detik, tak terdengar suara apa-apa. Padahal Wenie yakin tadi Bu Rahma ada di belakangnya, sedang mengelap meja bekas mereka sarapan.
Ia mencoba tetap fokus dengan cucian piring kotor di tangannya meski hatinya penasaran. Akhirnya ia menoleh juga tepat saat Bu Rahma membuka suara.
"Oh, jadi begitu?" sahut Bu Rahma ganjil. "Gak enak sama boss kamu, tapi tega gak mau nemenin Ibu pergi ke undangan," pura-pura merajuk.
"Tega membiarkan Ibu pergi sendirian. Seandainya saja anak-anak Ibu tinggal di dekat sini pasti Ibu bisa minta temani sama mereka."
Wenie bingung. "Eh, mm... Bukan begitu, Bu," potong Wenie cepat. "Ya sudah, nanti aku coba bilang sama boss dulu ya, Bu. Mudah-mudahan dikasih izin," bujuknya. Aduh, ngambek kan ... Ibu nih, paling bisa banget bikin aku gak enak hati. Semoga saja aku boleh libur kerja sehari lagi.
Alhasil selama menjaga toko dan melayani pembeli pikirannya jadi kurang fokus, mengundang kekhawatiran rekannya, Eri.
"Hei kenapa, sih mukamu kok gitu banget, Wen?,"
"Eh gak apa-apa, kok Ri," tersenyum kecil, berusaha biasa saja.
"Beneran? Kayaknya gak deh," Eri tak percaya.
"Iya, beneran ..."
"Masa?"
"He'euh ..."
"Orang dari tadi aku lihatin kamu rada error gitu, nawarin barang saja salah harga terus?! Kalau bos tahu bisa berabe, Non!" cerocosnya lagi.
Wenie nyengir kuda, sulit memang jika harus banyak berkelit dari seseorang yang dekat dengan kita. Ia pasti akan tau saja apa yang disembunyikan meski coba ditutupi.
"Sssttt, jangan gitu dong, Ri. Tega banget sih," Wenie memelas. "Aku cuma lagi bingung. Mau minta cuti lagi sama bos ngomongnya gimana ya?"
"Hah, cuti lagi?! Aku saja belum ambil libur, Wen," protes Eri pura-pura cemberut.
"Tuh, kan. Kamu belum apa-apa juga sudah melotot, Ri," Wenie terkikik pelan takut bosnya dengar.
__ADS_1
"Ya lagian ... Memang mau kemana, sih kamu?" tanya Eri penasaran.
"Mau nemenin ibu kos ke undangan, Ri. Harus aku pula, beliau gak mau sama yang lain. Udah aku tolak, ibu malah ngambek," keluh Wenie.
Eri beralih sebentar menyambut pelanggan yang datang, "Ya sudah, nanti aku bantuin ngomong deh ke bos," ujarnya sambil melayani pembeli memilih pakaian.
"Beneran, Ri?," tanyanya senang yang dijawab anggukan saja. Wenie menarik nafas lega, merasa beruntung temannya ini sangat pengertian.
.
.
.
.
🌷🌷🌷
.
.
.
.
Konsep sudah disusun secara matang, fitting gaun pengantin serta seragam keluarga telah siap, pemilihan menu katering pun sudah beres, termasuk segala macam perintilan seperti souvenir, buket bunga pengantin, dan juga soal area photobooth.
Esok malam akan diselenggarakan acara midodareni yang mana keluarga calon pengantin pria akan datang bersama keluarganya membawa seserahan kepada pihak wanita. Namun kelak sang calon pengantin wanita tidak boleh bertemu calon pengantin pria hingga tiba waktunya alias dipingit.
Acara midodareni harus melewati serangkaian upacara yang cukup melelahkan hingga menjelang tengah malam.
Begitu banyak barang seserahan yang akan diberikan keluarga Rafael untuk Beby, ada sekitar lima puluh lima bingkisan.
Selain karena sudah mapan, ia juga memiliki keluarga besar. Dan Rafael merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dengan dua orang kakaknya yang telah lebih dulu berkeluarga.
Mengetahui akan mendapat hantaran seserahan yang sebanyak itu tentu saja pihak keluarga Beby pun menyiapkan angsulan atau bingkisan balasan yang juga banyak meski tak sama jumlahnya. Hanya sebagai syarat saja.
"Beby," sebuah suara berat menyapa seorang gadis tinggi ramping yang sedang melamun.
__ADS_1
"Iya, Mas Frans," jawabnya seraya menoleh, mengalihkan tatapan sejenak dari jendela. Ia sedang duduk menikmati pemandangan malam dari kamar ini untuk terakhir kalinya.
"Sudah larut. Sebaiknya kau tidur," ujar sang kakak.
"Sebentar lagi, Mas." jawabnya. "Aku baru selesai cek barang hantaran untuk Mas Rafael, belum ngantuk ..."
"Memangnya kamu lagi mikirin apa? Tumben sudah jam sebelas lewat belum ngantuk," balas Frans lembut. Ia mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang, menatap ke luar jendela seperti yang dilakukan Beby.
"Gak ada, Mas," ia tersenyum manis. "Oh ya, ngomong-ngomong kapan Mas akan menikah?" celetuknya tiba-tiba.
Bahu Frans menegang sebentar, tidak mengira pertanyaan itu akan terlontar dari mulut usil adik satu-satunya ini. "Jangan pikirin, Mas. Sekarang ini kita lagi mengurusi pernikahan kamu. Fokus!" jawabnya diplomatis.
"Tapi, Mas ... Umurmu tahun ini saja sudah tiga puluh satu lho," bantah Beby. "Mau kapan lagi coba? Kalau kelamaan nunggu nanti pas nikah dan punya anak, Mas sudah keburu tua." Alamak, keceplosan! Duh, lancar banget sih mulutku, batinnya.
Benar juga, pikir Frans terdiam. Tapi mau gimana lagi? Calonku saja belum ada, sedangkan kamu saja sudah dilamar Rafael sejak setengah tahun yang lalu, keluh Frans dalam hati.
"Semoga Mas nanti cepat menyusul ya," ucap Beby menyadari keheningan kakaknya, merasa sedikit tidak enak hati. "Syukur-syukur sebelum Beby hamil, Mas sudah ada pendamping. Jadi nanti gak keburu punya keponakan dulu," tambahnya lagi.
"Sudah, jangan banyak berpikir yang aneh-aneh," jawab Frans seraya bangkit.
"Iih, aku serius, Mas," ujar Beby dengan mimik gemas. "Atau mau aku bantu cariin jodoh? Sekarang kan banyak aplikasi cari jodoh kayak tind*r gitu," usulnya lagi.
Frans hanya tersenyum simpul, mengacak rambut Beby lalu beranjak pergi. "Sudah cepat tidur," perintahnya lagi. "Jangan sampai pas acara siraman matamu hitam karena kurang tidur ya, nanti kayak panda, lho ..."
"Uugh, rese!" Beby melempar bantal ke arah Frans yang segera berkelit dan menutup pintu cepat.
Ia termenung sejenak di baliknya mengingat ucapan Beby tadi. Apa sebegitu mengenaskannya aku karena belum nikah di usia segini? Tapi kayaknya gak perlu juga aku repot-repot daftar di aplikasi datting macam itu, gumamnya pada diri sendiri.
Ia melangkah menuju ruang tamu yang nyaris kosong karena akan dipersiapkan untuk acara malam pengantin. Tim dekorasi akan datang besok pagi dan sorenya harus sudah siap untuk digunakan.
Ia beralih ke ruang makan, mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Meneguknya langsung, kemudian melangkah kembali ke ruang tamu sambil menatap gundah ke sekeliling. Lalu pergi keluar dan duduk di undakan teras.
"Lho, Den Frans belum tidur?" tegur Bik Yah yang keluar dari samping rumah. Ia masih nampak sibuk untuk persiapan besok, seorang asisten yang handal dan cakap mengurus segala sesuatunya di rumah ini sejak berpuluh tahun silam.
"Ah belum, nih Bik. Bibik sendiri kenapa belum tidur? Dilanjutkan besok saja beberesnya," ujar Frans.
"Iya, Den. Ini juga Bibik sudah mau tidur. Sudah selesai kok," sahut Bibik sambil membawa sapu yang tersandar di garasi dan merapikan ke tempatnya. "Saya tinggal ya, Den," pamitnya. Frans mengangguk kecil.
"Oh ya, Den ... Mau Bibik buatin kopi? Atau susu gitu?," tawar Bik Yah, ia berbalik sebentar.
__ADS_1
"Gak usah, Bik. Saya bawa minum," ujar Frans sembari mengangkat botolnya. Bik Yah tersenyum mengerti kemudian berlalu.
Frans bangkit dari duduk beberapa menit setelahnya, memutuskan untuk pergi tidur juga. Badan dan pikirannya mulai terasa penat. Ia meregangkan otot-ototnya sejenak sebelum masuk ke dalam rumah.