Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Insiden Lagi


__ADS_3

Sudah hampir seminggu berturut-turut kiriman makan siang selalu datang dalam jumlah yang cukup untuk bertiga.


Dan Prasetyo tentu saja selalu mengontrol via telepon memastikan Wenie memakannya. Ia merasa mati kutu, tak bisa berkutik jika mantan kekasihnya itu sudah bersikap demikian.


"Sebenarnya siapa sih yang ngirim makan siang kita tiap hari, Wen?" tanya Eri penasaran di penghujung pekan.


"Jangan bahas itu ah, Ri. Aku lagi males ngomonginnya, sorry ya ..."


"Iish .. gak asyik, ah. Gak mungkin juga kamu bisa menghindari dia terus 'kan?"


"Eh, menghindar? Gak kok, tau darimana kamu? Sotoy deh ..."


"Sudah gak usah pura-pura, Wen. Aku pernah dengar kok, waktu kamu teleponan sama dia."


"Idiih ... ternyata kamu suka menguping ya, Ri!" tukas Wenie pura-pura marah.


"Iya 'kan? Bener kan ..." tuding Eri menggoda.


"Gak juga ..."


Eri mengetuk dagunya. "Kayaknya dia rada galak, ya ..." lanjut Eri mencoba tak acuh. "Serem iih ..."


Wenie menaikkan alis, berpikir sejenak. "Sebenarnya gak juga sih, Ri. Dia lumayan baik, cuma aku saja yang gak nyaman."


"Masa? Tapi kok, suka pucat gitu wajahmu kalau habis ditelepon dia ..."


Wenie hanya bisa tersenyum getir tidak menjawab. Mereka terus melanjutkan langkah menyusuri trotoar, menikmati suasana malam Minggu yang ramai. Banyak pedagang kaki lima dan warung tenda di pinggir jalan yang menjual aneka kuliner murah meriah yang menggiurkan.


Kedua gadis itu membeli beberapa camilan dan dua gelas bubble tea sebelum kembali berjalan menuju taman umum di depan gedung serbaguna, berniat sekedar duduk-duduk di sana.


Banyak orang sudah mengisi bangku-bangku beton di sekitar taman berumput hijau itu untuk menikmati malam akhir pekan seperti mereka.


"Kita duduk di bawah pohon itu saja yuk, Wen," ajak Eri seraya menunjuk sebuah pohon kayu loreng yang tumbuh di dataran yang agak tinggi. Sehingga keseluruhan taman yang ramai pengunjung bisa dilihat dari sana.


"Basah gak rumputnya, Ri? Apa gak ada semutnya itu?"


"Gak ada, aman. Rumputnya juga kering kok," sahut Eri, ia langsung duduk begitu saja di atas rumput tanpa alas.


"Beneran?"


"Iya. Habis mau duduk di mana lagi coba? Taman lagi banyak orang gini," kata Eri cuek. Wenie segera mengikuti duduk di sisinya sambil menikmati camilan yang dibelinya tadi.


Wenie membeli sebuah kebab ukuran medium dan seporsi siomay pedas yang dibungkus plastik, tak lupa juga sebungkus keripik kentang chitato rasa barbeque favoritnya.


Sedangkan Eri membeli seporsi seblak komplit yang tidak pedas dan juga satu plastik penuh gorengan hangat.


Mereka bertukar makanan sambil bercerita banyak hal. Ada kalanya perbincangan terhenti karena Eri ataupun Wenie membaca notifikasi facebook di ponselnya. Tak lupa mereka juga menyempatkan berselfie ria, mengupload foto malam mingguannya di status terbaru instagram masing-masing dengan caption-caption lucu.


"Oh iya, Wen. Gimana si Anton, sudah lama aku gak lihat dia? Apa dia baik-baik saja," tanya Eri.


"Iya, ya. Aku juga gak tau, Ri ..."


"Lho kok, bisa? Bukannya kamu sering chattingan sama doi ..."

__ADS_1


"Gak juga. Kadang dia komen sih, kalau aku bikin status WhatsApp. Tapi ya paling gitu-gitu doang ..."


"Apa jangan-jangan dia sudah punya gebetan baru ya, Wen?"


"Ya sudah biarin saja kenapa sih, Ri? Kepo banget deh kamu ..." Wenie terkekeh. "Apa jangan-jangan kamu naksir dia kali ya? Hayo ngaku, tiba-tiba banget ngebahas dia ..."


"Iish ... apaan sih, Wen. Ngaco saja deh!"


"Ya kali saja gitu 'kan," goda Wenie sambil memainkan alisnya.


"Gak lah ya. Kalau aku naksir dia, kasihan kamunya dong," ledek Eri.


Wenie berkerut bingung. "Kasihan kenapa coba? Aku fine-fine saja, kok ..."


"Masa?"


"Iya, beneran deh."


"Serius nih?"


"Iya, Ri .." jawab Wenie sekenanya. "Eh, aku masih haus nih. Kita ke sana yuk, beli air minum," ajaknya seraya bangkit.


"Lho, kan tadi baru minum bubble tea, Wen," jawab Eri. "Aku tunggu sini sajalah, malas jalannya ..."


"Masih kurang. Ya sudah, diam di sini ya. Kamu jangan kemana-mana," sahut Wenie sambil jalan.


Ia berjalan di pinggir taman dengan hati-hati karena ada genangan air sisa hujan di antara beberapa mobil yang terparkir. Terlihat sebuah warung kecil di sudut taman dekat parkiran motor dengan beberapa pemuda sedang nongkrong sambil merokok.


"Permisi, Bu. Ada air mineral botol?" tanya Wenie pada pemilik warung.


"Iya. Dua ya, Bu," pinta Wenie yang segera ditukar dengan uang sepuluh ribu.


Saat hendak keluar dari warung, seorang pemuda mengerling nakal pada Wenie sambil menghalangi jalannya.


Ia mencoba tak peduli dan terus melangkah. Namun rupanya ia memang sedang apes, seorang pemuda lain iseng menepuk bokongnya saat ia melintas di depan mereka.


"Somse banget sih, neng. Sok kecakepan banget lo!"


"Eh brengs*k, dijaga ya tuh tangan! Songong banget sih, jadi orang!" teriak Wenie kesal. Ia lantas berbalik dan memukulkan kantong plastik berisi dua botol air yang dibawanya.


Lelaki itu menangkisnya dengan gesit. "Wees, galak juga nih, cewek!" ujarnya pada yang lain sambil bersiul menjijikkan.


"Mau apa lo!" ujar Wenie sambil menatap kesal.


Cowok berambut cepak itu berdiri menghadang. "Enaknya diapain ya, ini cewek?" tanya cowok tadi pada teman-teman sedang menertawakannya.


Dihitung sekilas mereka semua ada lima orang. "Terserah lo saja, bray. Gue ikut."


Tanpa dikomando lagi tiga orang lainnya pun bangkit seolah mengepungnya membuat nyali Wenie sedikit menciut.


"Kita bawa saja ke basecamp, bos! Ntar kita apain kek, gampang," sahut seseorang memberi usul.


"Boleh juga ide loe, bray," yang lain menanggapi dengan tawa kurang ajar.

__ADS_1


"Kuy ah, jangan kelamaan!" seorang lainnya melangkah mendekat. "Mumpung masih sore ..."


"Heh, lo semua pada ngancam gue? Jangan cemen lo, beraninya keroyokan!" maki Wenie mencoba tetap berani.


Mereka terkekeh sumbang, tampang mereka mirip pemuda-pemuda pengangguran yang biasa berkumpul di ujung gang menghabiskan malam dengan minum bir murah oplosan, berwajah sangar, dan tak tahu sopan santun.


Semakin dilihat Wenie jadi agak gentar juga, di sudut ada seorang pemuda yang sedari tadi duduk hanya menonton tak peduli.


"Oh, jadi maunya satu lawan satu? Boleh juga itu, neng. Kedengarannya asyik," sahut lelaki berkepala botak dengan wajah mesum.


Ia hendak menyentuh pipi halus gadis di hadapannya yang langsung ditepis dengan kesal. Sementara yang lain masih tertawa senang seolah melihat permainan seru.


"Jangan dicolek pipinya, bray. Gak mau. Kalau ditempat lain pasti senang ..." ujar temannya menimpali, lalu mereka kembali terbahak.


Namun sesaat kemudian suasana mendadak hening. Para pemuda itu terpaku diam di tempat, seolah ada hantu yang menjelma di hadapan mereka.


Wenie yang masih merasakan marah dan takutnya sekaligus tak menyadari seseorang hadir di belakangnya, berdiri tegak mengeluarkan aura mencekam. Sedetik berikutnya ia menoleh mengikuti pandangan takut pemuda di depannya.


"Masuk ke mobil!" titahnya pada Wenie. Wajahnya kelam menahan gejolak amarah.


"Mas Pras!" pekiknya, ia terkesima sejenak.


"Sekarang!" bentaknya lagi. "Akan ku buat perhitungan dulu pada mereka!"


Wenie mengalihkan pandang pada orang-orang itu lalu kembali menatap Prasetyo. "Gak, Mas! Jangan berkelahi, ini gak seimbang. Sebaiknya kita pergi saja," ujarnya khawatir.


Namun ia tak hirau. "Berani sekali kalian menyentuh wanitaku! Sepertinya kalian sudah bosan hidup!" seru Prasetyo murka.


Tanpa peringatan lagi Prasetyo langsung meninju wajah si pelaku pelecehan dan saat orang itu terhuyung ia kembali menghadiahkan sebuah tendangan keras di perut. Pemuda itu tumbang tanpa sempat membela diri.


Kemudian dua orang maju melawan, seorang pria yang dari tadi duduk segera bangkit menolong temannya. Kini ia mulai terusik dan nampak marah, lalu ia meraih botol bir kosong dari meja untuk menghantam Prasetyo.


"Awas, Mas!" teriak Wenie melihat Prasetyo tengah terancam. Pria tinggi kekar berbalik tepat waktu saat musuh mendekat lalu menendangnya hingga tersungkur menghantam motor di belakangnya.


Lima pemuda itu pun tumbang setelah mendapat amukannya. Tidak ada warga yang berniat menolong, mereka hanya berlalu begitu saja saat tahu korbannya adalah para pembuat onar. Begitu juga si ibu pemilik warung yang hanya menatap takut-takut dari dalam.


"Ya Tuhan! Ada apa ini, Wen? Kamu gak apa-apa?" jerit Eri panik. Ia segera berlari dari tempatnya yang agak jauh saat melihat keributan di depan warung.


"Aku gak apa-apa, Ri," jawab Wenie. Wajahnya terlihat agak shock. "Cukup, Mas! Ayo kita pergi," Wenie menarik lengan Prasetyo agar ia berhenti.


Prasetyo terengah, ia menghela nafas kasar dan beralih pada Wenie. "Kau ini benar-benar membuatku khawatir! Untung saja aku datang tepat waktu, gimana kalau terlambat?" tanyanya kesal.


Kemudian pria itu melewatinya dengan wajah marah, Wenie hanya bisa menatapnya takut. Sedangkan Eri hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan hal itu.


"Cepat masuk!" perintah Pras sekali lagi sambil membuka pintu depan mobil untuk penumpang. "Suruh temanmu naik di belakang."


Wenie mendekat dengan ragu. "Tunggu, Mas ..." ujarnya lirih. "Biar aku pulang sama Eri saja, aku gak mau ngerepotin kamu lagi."


Wajahnya semakin kelam. "Bahkan setelah kejadian ini kamu masih mau ngebantah aku?" tanya Prasetyo jengkel. "Masuk!" ia menelengkan kepala dengan marah.


Eri menggenggam tangan kanan Wenie, berusaha menenangkannya. Ini mendebarkan! Ia belum pernah melihat Wenie diperlakukan seprotektif ini oleh seseorang meski ia berstatus gebetannya sekalipun.


Dalam hati Eri jadi agak takut juga, kemudian ia menganggukkan kepala pada Wenie agar menurut saja.

__ADS_1


Tak ingin memperpanjang masalah akhirnya Wenie mengalah masuk, Eri pun segera duduk di jok belakang.


Sedetik kemudian mobil meluncur mulus meninggalkan parkiran taman dengan para preman yang terkapar tak berdaya di malam Minggu yang kelabu.


__ADS_2