
Mobil berhenti di halaman sebuah restoran burger yang terlihat agak sepi, hanya beberapa bangku saja yang terisi oleh orang-orang yang sedang dine in.
Dengan situasi seperti saat ini kebanyakan masyarakat menikmati makanan cepat saji di rumah dengan sistem delivery online, take away, ataupun drive thru.
Memasuki restoran, Frans langsung menuju bagian pemesanan makanan, sementara Wenie memilihkan tempat duduk untuk mereka.
Wenie mengambil sofa di sisi jendela agar dapat memandang keluar dengan leluasa sebagaimana posisi favorit hampir semua orang.
Frans datang membawa baki berisi dua porsi makanan dan dua gelas minuman dingin yang nampak menyegarkan.
Menu makan malam mereka saat ini hanya makanan ringan menurut Wenie yang merasa tidak mantap jika tidak makan nasi. Namun tetap saja ia tak menolak untuk menyantapnya, apalagi jika ia bersama Frans seperti sekarang.
"Ayo kita makan, Wen. Aku sudah lapar dari tadi ..." ajak Frans bersemangat.
"Iya, makanlah, Mas. Maaf ya, kalau tadi kelamaan di jalan gara-gara ngobatin jerawatku dulu," seloroh Wenie agak merasa bersalah.
"Santai saja, itu bukan apa-apa," jawab Frans. "Tapi sebaiknya lain kali kalau ada yang sakit itu cepat diobati, jangan menunggu parah," nasehat Frans lembut.
"Iya, Mas. Itu baru nimbul deh, kayaknya. Soalnya kemaren ku rasa belum ada," gumam Wenie sambil mengingat-ingat.
Frans mendengarkan sambil menyedot es colanya, sementara Wenie meraih kentang goreng miliknya.
"Berarti kamu harus selalu sedia krim antinyeri jika sewaktu-waktu jerawatan lagi," ujar Frans.
"Ah gak perlu, Mas. Aku jarang banget jerawatan, baru ini saja," elak Wenie malu-malu.
Frans tertawa kecil, keduanya menikmati makanan dalam obrolan santai yang menyenangkan.
Kesempatan untuk sekedar makan bersama seperti ini tak bisa selalu dilakukan Frans yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, maka ia tak ingin cepat-cepat mengakhirinya.
"Oh ya, Mas tadi baru banget pulang dari rumah sakit, ya?" tanya Wenie mengalihkan isu soal jerawatnya yang memalukan.
"Iya. Sengaja Mas pengen lewat tempat kerjamu, biar sekalian bisa ngajak kamu makan," jawab Frans jujur.
"Tapi malah jadi lama 'kan? Jam segini baru makan malam," tukas Wenie cepat, ia melirik jam digital di tembok yang menunjukkan angka 20.15
"Untung saja aku lagi gak ikut program diet, soalnya bisa-bisa aku gak bakal mau diajak makan malam," sambung Wenie sembari mengunyah kentang.
"Buat apa sih diet? Kamu itu sudah ideal, kok. Jangan suka cari penyakit, jaga saja kesehatanmu baik-baik dengan makan yang cukup," nasehat Frans sambil mengunyah makanannya.
Wenie terkekeh pelan, "Tapi sekarang kita lagi memakan makanan junkfood lho, Mas ..."
"Lho, aku kan gak bilang makanan yang sehat? Aku bilang makan yang cukup," kelit Frans dengan mimik lucu.
"Oalaah, Mas dokter suka ngeles juga yaa," Wenie menepuk jidat sendiri.
Ia tertawa lepas mendengar jawabannya sampai harus menutup mulut untuk mencegah kunyahan kentang gorengnya melompat keluar. Frans senang melihat pemandangan di hadapannya, gadis itu tak bisa menahan geli karena lelucon recehnya.
Wenie meraih gelas minuman untuk meredakan tawa, ia menyedot lambat-lambat sambil menahan senyum.
Wenie tak menyangka pembawaan sang dokter yang humoris membawa suasana bahagia dalam hatinya.
"Ehm, ehm ..." Wenie berdehem kecil untuk membersihkan tenggorokannya dari sisa tawa, Frans mengulum senyum.
"Emang beda ya, dok, makan yang cukup dengan makan yang sehat?" tanya Wenie jahil.
"Ya beda, dong. Kalau makanan sehat itu memenuhi syarat empat sehat lima sempurna," jawab Frans dalam senyum.
"Lalu kalau ini apa?" tanya Wenie antusias.
"Makanan kayak gini sih cuma cukup sekedar mengisi perut diwaktu sempit saja."
__ADS_1
"Huh? Jawaban macam apakah itu ..." kekeh Wenie, Frans menatap tak berkedip sembari terus mengunyah burgernya.
Frans dan Wenie menghabiskan makanan dalam waktu sekejap saja hingga kemudian seorang pelayan mengantarkan dessert puding cokelat dan ice cream strawberry, masing-masing dua porsi kecil.
Wenie tampak tergugah melihat menu penutupnya yang terlihat menggiurkan. Frans sudah menyisihkan nampan berisi bekas makan mereka sebelum pelayan menukarnya dengan nampan berisi makanan yang dibawanya.
"Terimakasih banyak ya, Mas."
"Sama-sama, Wen. Aku yang harus berterimakasih karena kamu sudah mau menemani aku makan."
Wenie tersipu. "Iya, Mas."
"Oh ya, habis ini kamu mau kemana? Kita nonton dulu atau gimana?" tanya Frans.
"Gak mau, ah. Lain kali saja kalau mau nonton. Nanti kemalaman lagi aku pulangnya, Mas," sahut Wenie.
Frans tampak berpikir. "Hmm, benar juga. Terus kita mau kemana nih, masa langsung pulang?"
"Ya kamu maunya kemana, Mas? Asal gak sampai kemalaman sih aku oke saja," jawab Wenie.
"Soalnya kalau nonton 'kan, bisa sampai dua jam," tambah Wenie sambil menyendok pudingnya.
"Iya, sih. Ya sudah, kita habiskan dulu dessertnya, habis itu kita jalan-jalan saja," Frans menyendok pudingnya juga sambil menatap Wenie diam-diam.
Akhirnya sesi makanan penutup selesai sepuluh menit berikutnya. Hari sudah semakin malam, Frans melajukan mobil dengan kecepatan sedang, berencana mengajak Wenie sekedar berkeliling kota untuk sekedar membuang waktu.
Sebuah chat dari Iin masuk ke ponsel Wenie, mengingatkan dimsum dan softdrink pesanannya.
'Wen, jangan lupa dimsumnya ya?'
"Ya ampun, hampir lupa!" pekik Wenie pelan.
"Kenapa?" tanya Frans.
"Oke, dari sini ke arah mana? Kamu tunjukkan saja jalannya."
"Dari perempatan lampu merah di depan sana kita belok kiri, Mas. Cafenya gak jauh dari sana."
"Oh, yang di samping bengkel motor itu, ya?" tanya Frans.
"Betul. Nah itu kamu tahu, Mas."
"Tahu, dong. Dulu aku pernah ke sana sekali buat servis rantai motor, pas tiba-tiba error di jalan."
"Rantai motor? Sejak kapan kamu suka naik motor?" tanya Wenie heran.
Frans tersenyum saja menanggapi keheranan Wenie, belum mau menjawabnya. Ia menghentikan mobil di pelataran parkir cafe dimsum.
"Sudah sampai. Mau aku temani atau ..." ucap Frans.
"Ah, tunggu sebentar ya, Mas. Biar aku saja yang masuk, gak akan lama kok," jawab Wenie.
"Tunggu. Kamu bawa uangnya, Wen?" tanya Frans menghentikan Wenie.
"Bawa dong. Santai saja, Mas," ia menepuk tas slempangnya, lalu keluar dari mobil.
Frans menunggu selama sepuluh menit, Wenie segera kembali membawa tiga boks dimsum dalam dua plastik terpisah.
"Eh, sudah Wen?" tanya Frans saat Wenie masuk.
"Sudah. Yuk, kita pulang ... Oh ya, ini buatmu satu, Mas. Enak lho," Wenie mengulurkan satu bungkusan padanya.
__ADS_1
Frans menggeleng pelan. "Terimakasih, kamu saja yang makan. Aku masih kenyang, Wen."
"Dimakan nanti saja kalau Mas sudah sampai rumah," bujuk Wenie agar Frans menerimanya.
"Hmm, baiklah. Lalu buatmu mana?" tanya Frans.
"Ada nih," Wenie mengangkat satu plastik yang berisi dua boks, Frans mengangguk kecil sambil menerima bagiannya.
Mobil kembali berjalan meninggalkan cafe. Frans menyalakan radio yang menyiarkan lagu-lagu Indonesia hits guna menghangatkan suasana.
Dan rupanya Wenie juga menyukai hal itu, rasanya klop dan menyenangkan. Apalagi saat mendengarkan Frans menyanyikan salah satu lagu populer dari penyanyi muda Afgan.
Wenie sampai mengangguk-anggukkan kepala menikmati suara Frans yang agak serak-serak basah saat berdendang. Ketika satu lagu selesai dinyanyikan secara spontan Wenie bertepuk tangan gembira sambil memuji kagum padanya.
"Waah, gak nyangka banget! Mas dokter suaranya oke," seru Wenie.
Frans tersenyum simpul. "Ah, biasa saja, Wen."
"Iih, seriusan ... Suaramu bagus banget. Jangan-jangan dulunya kamu anak band ya, Mas?" selidik Wenie penasaran.
"Aku cuma bisa nyanyi lagu yang aku suka saja," jawab Frans masih dengan senyum.
Wenie yang mengetahui hal itu merasa senang dalam hatinya. Sedikit demi sedikit ia bisa mengenali sosok lelaki tampan ini, diam-diam Wenie merasa tingkat kekagumannya naik berlipat-lipat.
Tak terasa mobil sudah mengarah ke kompleks perumahan dimana Wenie tinggal, rumah kos Bu Rahma.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.40 saat ini, Frans mengantarkan Wenie sampai ke dalam rumah menjumpai ibu kos yang masih menonton tv bersama Iin.
Setelah berbasa-basi sebentar pada Bu Rahma, Frans pamit pulang karena sudah malam. Ia keluar rumah diiringi Wenie yang mengantar sampai pagar.
Dalam hatinya Frans merasa berat untuk pergi meninggalkan gadis itu, namun ia harus mengalahkan egonya demi menjaga etika.
Masih ada lain waktu, aku gak akan berhenti sampai di sini, pikirnya menenangkan diri.
Tepat sebelum keluar pagar Frans memutar tubuhnya, mengejutkan Wenie yang berada selangkah di belakangnya hingga nyaris saja mereka bertubrukan.
Wenie mendadak kikuk. "Aduh, kenapa berhenti tiba-tiba sih, Mas?"
"Eh, maaf. Lagian kenapa juga kamu harus jalan di belakangku begitu, Wen?" Frans bertanya balik, ia juga kaget.
"Ya gak apa-apa, sih," cengir Wenie.
Tanpa bicara lagi Frans segera meraih kedua lengan gadis mungil di hadapannya dan meremas pelan jemarinya. Wenie terpana dibuatnya, ia tak kuasa mengelak.
Frans ingin mengulur waktu sebentar. "Kamu baik-baik ya di rumah. Sebenarnya aku belum mau pulang, tapi gak enak sama Bu Rahma. Demi kamu juga, jangan sampai orang menilai kamu yang bukan-bukan."
Wenie terkesima, Frans menarik nafas sambil melanjutkan, "Jika ada sesuatu yang mengganggumu atau kamu butuh apapun cepat hubungi aku ya, Wen. Jangan sungkan ..."
Wenie bingung mau menjawab apa, pikirannya seakan buyar seperti anak bodoh. "Iya, Mas ..."
Hanya satu kalimat setuju yang mampu ia ucapkan, ia merasa terkejut sekaligus senang mendengar kata-kata manis dari bibir sang dokter tampan.
Lalu tanpa aba-aba Frans mencium singkat keningnya dengan sedikit menunduk. "Aku berharap kita bisa lebih dekat dari ini," bisik Frans di telinga Wenie.
Wenie memejamkan matanya seketika dan segera tersipu malu saat tersadar. Ia mengangguk pelan sambil menggigit bibir, Frans agak terganggu melihatnya.
Lalu ia mencubit pipi Wenie dengan gemas, "Sudah ya, aku pulang dulu ..."
"Iya. Hati-hati di jalan, Mas," jawab Wenie sambil melambaikan tangan.
"Tentu, gadis manis. Mimpi indah ya," ucap Frans sebelum berbalik pergi.
__ADS_1
Wenie masih melambaikan tangan pada mobil Frans yang mulai melaju meninggalkannya yang mematung di tempat.
Tanpa diketahuinya Iin melihat semua itu dari balik tirai ruang tamu, merasa sedikit iri dengan keberuntungan temannya. Bu Rahma menyadari hal itu namun ia belum bereaksi, hanya memantau perkembangan anak-anak kosnya dalam diam.