Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Diselamatkan


__ADS_3

Wenie benar-benar tidak menyangka Pras akan berkata sekeras itu padanya hingga ia tidak bisa tidur semalaman, hanya berguling ke sana-sini dengan gelisah tanpa bisa terlelap sedikitpun.


Terbayang kembali di matanya sifat keras kepala lelaki itu jika sudah menginginkan sesuatu, ia tidak segan menghalalkan cara apapun. Hanya saja dulu Wenie sedang beruntung bisa melarikan diri darinya beberapa tahun ini, meski akhirnya sekarang mereka dipertemukan kembali.


Wenie bangun tidur dengan mata kuyu dan lesu, ia benar-benar tidak memiliki semangat di pagi yang cerah ini. Ingin rasanya ia membolos kerja tapi dirinya tak enak hati pada Eri dan bosnya karena sudah sering mengambil libur.


Akhirnya ia memaksakan untuk segera mandi dan berangkat kerja tanpa pergi sarapan seperti biasanya bersama teman-teman kost yang lain.


"Pagi Bu, teman-teman," sapa Wenie saat turun ke lantai bawah, hendak berpamitan pada ibu kos.


"Pagi juga, Wenie," sahut teman-temannya yang sudah duduk rapi di ruang makan.


"Duduklah, Wen. Kita sarapan dulu," sambung bu Rahma sembari menyendok nasi ke piringnya sendiri.


"Ibu masak ayam serundeng lho, Wen. Enak banget ..." seru Winona bersemangat, itu masakan favoritnya.


"Ada jamur crispy juga, nih. Kamu suka, kan? Yuk ah, cepetan ..." ajak Anastasia yang duduk di sebelahnya.


"Iya, terimakasih. Kalian makanlah, aku mau berangkat duluan. Sudah kesiangan ..." jawab Wenie beralasan. Ia meraih tangan kanan ibu kos lalu menciumnya, "Bu, Wenie berangkat dulu ya."


"Lho, kenapa gak makan dulu, sayang? Apa mau dibawa saja buat bekalmu di toko?" tanya bu Rahma.


"Gak usah, Bu. Nanti Wenie sarapan di kantin saja ..."


"Ya sudah, nanti Ibu pisahkan untukmu makan malam, ya. Jangan pulang terlambat," pesan ibu kos padanya.


"Baiklah, terserah Ibu saja," ujar Wenie tersenyum sebelum akhirnya berlalu.


Sepanjang jalan ia hanya melamun, menatap sekitarnya tanpa semangat. Begitu pula ketika tiba di toko, dia hanya diam saat membuka kunci rolling door dan merapikan barang-barang di etalase.


Eri yang tiba belakangan semula tidak menyadari kebisuan temannya, ia fokus saja membenahi bagian toko yang lain. Sampai beberapa menit kemudian baru ia merasakan suasana yang agak hening.


"Kamu baik-baik saja, Wen?" tanya Eri sedikit khawatir. Sunyi tiada jawaban.


Kemudian Eri mendekat lalu menarik lengan Wenie untuk menyadarkan lamunannya. "Hei, kamu sehat?" ulangnya agak keras.


"Eh, oh ... Kenapa, Ri?" Wenie tergagap kaget.


"Hm, ngelamun nih cewek! Kamu kenapa sih, dari tadi diam saja? Lagi sakit ya ..." Eri meraba kening Wenie.


"Ah, gak kok, Ri. Aku sehat-sehat saja. Gak ada apa-apa," sahut Wenie pelan dengan senyum dipaksakan.


"Yakin? Gak bohong ..."


"Iya, Ri. Tenang saja ..."


"Baiklah," Eri menganggukkan kepalanya meski ragu dengan jawaban Wenie, lalu ia beranjak melayani pembeli yang datang.


Hari berjalan begitu lambat, Wenie mulai merasakan badannya tidak nyaman. Ia teringat sudah melewatkan sarapan pagi dan juga tidak berminat untuk makan siang sekarang. Lantas ia mengambil sebatang cokelat mede dari dalam tas untuk sekedar mengganjal sedikit rasa laparnya.


Pikirannya sedang kalut dan kacau saat ini, namun ia memilih diam tanpa menceritakan pada siapapun dan berusaha bersikap biasa saja meski ternyata ia tidak pandai berakting.


Eri sudah mencoba memancingnya agar mencurahkan unek-uneknya namun Wenie mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Ia berkilah hanya sedang rindu ibunya di kampung halaman.


Tak semudah itu tentunya ia percaya, namun Eri tak bisa berbuat banyak selain menunggu.


Sore mulai menjelang saat sebuah dering panggilan masuk membuyarkan keheningan. Seharian ini Wenie nyaris tidak menyentuh ponselnya, ia sedikit trauma dan merasa takut. Bahkan hampir saja ia melupakan bahwa ia memiliki benda penyambung jarak itu.


"Wen, ponselmu bunyi tuh," colek Eri.


Wenie hanya menatap kosong, tidak tergugah sama sekali. "Biar saja, Ri," sahutnya kemudian.


"Iih, berisik tahu. Sini, aku yang angkat. Sudah dua kali nelpon tuh, siapa sih?" berondong Eri gemas.


Wenie merogoh ponselnya dalam tas lalu menyerahkan pada Eri tanpa melihat siapa yang memanggil. "Bilang saja aku lagi ke toilet ya, Ri," Eri mengangguk.

__ADS_1


"Halo," sapa Eri setelah menggeser ikon hijau.


"....."


"Oh, ada. Tapi sekarang lagi ke toilet. Ponselnya ditinggal."


"....."


"Hm, kelihatannya kayak agak kurang sehat gitu sih," ujarnya lagi.


"....."


"Oh, iya. Baik. Nanti aku sampaikan."


"....."


"Iya, sama-sama. Sore juga," lalu Eri tampak mengakhiri telponnya.


Wenie tetap diam tak bereaksi, ia sedang menyibukkan diri menulis laporan keuangan minggu ini. Eri segera meletakkan ponselnya di hadapan Wenie dengan layar yang masih menyala menunjukkan histori panggilan.


"Pak dokter yang ganteng itu nelpon kamu, Wen. Kenapa gak kamu angkat sih tadi?" ujar Eri padanya.


"Bilang apa dia?," tanya Wenie datar, sebenarnya ia merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar.


"Cuek banget. Ada apa sih? Gak biasanya ..." goda Eri, Wenie hanya tersenyum sekilas. "Lagi ada masalah sama dia ya ..." kejarnya penasaran.


"Gak ada kok, Ri. Cuma lagi agak malas saja," sahutnya pelan.


"Tumben. Pasti ada apa-apanya ini mah," gumam Eri.


"Apa katanya tadi, Ri?" ulang Wenie lagi tak menanggapi Eri.


"Katanya nanti dia mau jemput kamu pas pulang kerja," jawab Eri, seketika Wenie menyambar ponselnya.


Eri agak kaget dan bingung namun diam saja, ia memperhatikan wajah temannya yang nampak cemas. Tapi kemudian perhatiannya teralih saat sang bos memanggil untuk melayani pembeli.


"Oke, baik bos!" Eri langsung menghampiri dan mencari barang dimaksud, ia menunda rasa penasarannya pada Wenie.


"Eh, si Wenie kenapa, Ri? Seharian ini jadi pendiam banget ..." bisik sang boss pada Eri. Rupanya ia juga merasa tak biasa dengan sikap Wenie yang tiba-tiba kalem.


"Entah, Da ... Dari tadi juga cuma bilang gak apa-apa," Eri angkat bahu.


"Masa sih? Gak ada apa-apa tapi wajahnya sedih banget gitu, kayak lagi banyak pikiran," bisiknya lagi.


"Iish, Uda kepo deh. Mau tahu saja apa mau tahu banget?" ledek Eri sembari menaikkan bibir atasnya macam ikan kena kail pancing, lalu mereka terkekeh pelan.


Wenie mendengar percakapan keduanya namun tak menghiraukan, saat ini ia sedang fokus mengetik sebuah pesan untuk dokter Frans agar tidak usah menjemputnya nanti.


Sementara di lain tempat, kening Frans berkerut heran menerima chat dari Wenie. Tanpa membalas ia kembali mencoba menelpon gadis itu, ingin mendengar alasannya langsung. Dalam dering kedua Wenie menjawab teleponnya.


"Halo, Wen. Kamu baik-baik saja?" sapa Frans lembut.


"Halo, Mas Frans. Ya, aku baik-baik saja," jawab Wenie di balik telepon.


"Kenapa gak mau aku jemput? Sudah ada orang lain yang mau jemput kamu ya ..." tanya Frans menyelipkan sedikit canda.


Wenie terkekeh pelan. "Gak ada, kok. Gak usah repot-repot, Mas. Aku pulang sama temanku saja seperti biasa ..."


"Hm, begitu ... Oh ya, tadi temanmu yang angkat teleponku, dia bilang kamu agak kurang sehat," ujar Frans. "Ada apa? Kamu gak enak badan atau kelelahan?" tanyanya perhatian.


Wenie sedikit tersengat. "Aku sehat kok, Mas. Itu mah Eri saja ngarang-ngarang cerita. Gak ada apa-apa kok, beneran ..." dalam nada ceria.


Mendengar jawabannya Frans malah tidak yakin, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada gadis itu.


"Baiklah. Jadi, pulang kerja nanti mau ku jemput atau tidak?" tanya Frans sekali lagi.

__ADS_1


"Gak usah, Mas. Aku pulang bareng Eri saja," tolak Wenie masih dengan jawaban yang sama.


Sebenarnya Wenie sangat ingin berjumpa dengan dokter tampan itu karena mulai tertarik padanya. Namun kali ini ia harus lebih berhati-hati demi keselamatan dirinya dan


Frans dari ancaman Prasetyo sang mantan kekasih.


Setelah tarik ulur sebentar, akhirnya Frans mengiyakan untuk tidak menjemputnya pulang kerja malam ini. Namun rupanya lain di bibir lain di hati, Frans berniat tetap datang menjemput gadis yang sudah menarik hatinya beberapa waktu terakhir.


Frans menyetir mobil menuju mall tempat Wenie bekerja setelah selesai jam praktek di rumah sakit. Kebetulan waktunya juga hanya sedikit lebih cepat dari jam kerja Wenie, jadi ia bisa sekalian lewat untuk menjemput.


Ia memarkir mobilnya di halaman ruko seberang jalan seperti yang tempo hari, namun kali ini ia tetap duduk dibalik kemudi dan hanya membuka sedikit jendela untuk mengalirkan udara segar.


Pria itu memperhatikan segenap manusia yang keluar masuk gerbang mall tiada henti, berharap tak melewatkan sosok gadis mungil yang mungkin terselip di antara mereka.


Dan akhirnya setelah menunggu selama hampir dua puluh menit, sosok gadis yang ditunggu terlihat melangkah keluar gerbang bersama temannya yang tak lain adalah Eri. Mereka berjalan lambat, nampak Wenie sedang berpegangan pada lengan Eri sembari memijit keningnya.


Frans baru saja hendak turun dari mobil ketika sebuah jeritan kecil terdengar dari seberang dan beberapa orang segera berdatangan. Ia langsung berlari tanpa sempat mengunci pintu mobil untuk menghampiri sumber suara. Terlihat Eri yang memegangi Wenie yang terkulai pingsan dalam dekapannya.


"Wen, Wen! Bangun Wen!" seru Eri panik sembari menepuk-nepuk pipinya. "Kau ini kenapa?"


"Kenapa temannya, mbak?" tanya seorang pengojek yang sedang mangkal di dekat situ.


"Gak tau nih, Mas. Tiba-tiba saja jatuh" jawab Eri kebingungan.


"Ayo, kita bawa ke klinik saja, Mbak. Masnya, tolong dibantu ini," ujar seorang ibu yang sedang melintas kepada seseorang lainnya.


Frans menyibak kerumunan orang-orang itu dengan tergesa, "Permisi Pak, Bu. Bisa tolong geser sedikit ..."


Mereka segera menepi memberi jalan pada pria itu dengan sedikit tatapan penasaran. Frans lalu berjongkok di hadapan kedua gadis itu.


"Kenapa bisa begini, nona?" tanya Frans pada Eri sambil menyentuh leher dan kening Wenie yang berkeringat dingin, denyut nadinya terasa agak melambat.


"Entah, Dok. Barusan sebelum jatuh dia sempat bilang kepalanya agak pusing, lalu jatuh begitu saja," jelas Eri dengan khawatir.


"Kalau begitu kau ikut aku ke rumah sakit sekarang. Jangan sampai kita terlambat menolongnya," ujar Frans, dengan sigap ia segera membopong Wenie menuju mobil.


Eri membuka pintu belakang agar Frans bisa meletakkan Wenie di sana, diikuti Eri kemudian. Tanpa menunggu lama mobil segera meluncur dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat praktek Frans.


Mereka tiba di depan UGD dalam sepuluh menit perjalanan, Wenie segera dipindahkan ke atas brankar dan ditangani rekan Frans yang sedang bertugas.


Kini mereka duduk menunggu hasil pemeriksaan sambil berharap semoga tidak ada sesuatu yang membahayakan nyawa Wenie.


Dengan agak panik Eri segera menelepon ibu kos tempat Wenie tinggal dan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Tak lupa ia juga mengatakan bahwa saat ini ia sedang bersama dokter Frans di ruang tunggu.


Selama menelepon Bu Rahma, Eri memperhatikan mimik wajah sang dokter muda yang sedang nampak cemas, ia berdiri mondar-mandir dengan gelisah. Dengan bisik-bisik ia menyampaikan kondisi itu pada lawan bicaranya di seberang sana, yang diberi tahu pun tersenyum penuh arti dan mengatakan akan tiba di sana secepatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kira² gimana ya kelanjutannya..sabar ya manteman, smoga diriku cepet dpet ide baru & bs cpet up lagi. Trimakasih sudah sabar menunggu 😘😘


__ADS_2