
Jantung Wenie mulai berdebar tidak karuan lagi setelah mendengar pertanyaan yang to the poin itu. Ia menata nafasnya perlahan demi menahan senyum yang hendak terbit dari bibirnya tanpa perintah. Tak lupa kedua pipinya yang selalu bersemu merah, tentu saja semua itu tidak luput dari sudut mata Frans yang jeli.
Mobil yang dikendarai pria itu sudah menyusuri jalanan yang ramai selama kurang lebih dua puluh menit hingga akhirnya ia menemukan sebuah tempat makan yang tidak begitu padat pengunjung.
"Kita makan di sini saja ya," ujar Frans saat mobil memasuki halaman parkir sebuah cafe, itu bukan pertanyaan.
Wenie mengangguk setuju. "Terserah kau saja, Mas. Aku ikut ..."
"Apakah kau pernah ke sini?" tanya Frans sembari melangkah keluar.
"Pernah sekali. Itupun rasanya sudah agak lama," Wenie juga bergegas turun, mencegah dirinya dilayani.
"Terburu-buru sekali ..." gumam Frans mengulum senyum melihat tingkah gadis itu. "Kalau begitu kau bisa merekomendasikan menu terbaik di sini?"
"Hm, aku tidak yakin ..." jawab Wenie sambil angkat bahu.
"Baiklah. Kenapa tidak kita coba saja langsung?" Frans lantas menggandengnya masuk ke cafe yang bernuansa tropis itu, ciri khas cafe lokal yang friendly dan kekinian.
Seorang pelayan menyambut mereka di depan pintu dan merekomendasikan ruang duduk yang nyaman untuk dua orang. Setelah duduk, Frans dan Wenie menerima buku menu dan menyimaknya sejenak lalu memesan dua set menu yang berbeda serta hidangan penutup.
Momen makan siang berjalan santai dengan obrolan ringan yang diselingi tawa kecil. Frans nampak begitu rileks menikmati suasana yang cozy dengan pemandangan gadis manis di hadapannya. Begitu pula dengan Wenie, ia merasa Frans adalah sosok pria yang sempurna, lembut dan humoris. Jangan lupakan wajah blasteran yang tampan dengan alis tebal, mata jernih yang menatap teduh, hidung mancung dan juga bibir seksi yang pernah mencuri ciuman darinya.
Astaga, dadanya jadi kembali berdentum tidak tenang. "Eh, aku tinggal ke toilet sebentar ya," ujar Wenie setelah ia menyelesaikan makan.
"Iya. Jangan sampai tersesat ya, Wen ..." pesan Frans jahil. "Hm, atau perlu ku antar?" tawarnya.
Wenie mencebikkan bibir. "Aku cuma mau ke toilet, Mas. Sungguh terlalu kalau sampai nyasar di cafe sebesar ini ..."
Frans hanya terkekeh kecil menanggapinya. "Iya, iya. Percaya ..."
"Awas jangan kabur lho, ya," gurau Wenie setengah mengancam.
"Hamba setia menunggu tuan puteri," balas Frans dengan senyum jenaka.
"Iish, lebay banget ..." Wenie tidak bisa menahan tawanya, lalu ia beranjak pergi sebelum pria itu menggodanya lagi.
Wenie memasuki toilet wanita di sudut bangunan, bersisian dengan toilet pria yang bagian luarnya diberi partisi pemisah agar tidak saling bersinggungan antar pengunjung berbeda jenis.
Setelah beberapa menit ia selesai merapikan riasan wajahnya, Wenie segera keluar toilet. Tepat saat langkah ketiga, muncul seorang pria muda mengenakan jaket hoodie warna hitam berjalan cepat dari arah kiri dan menabraknya cukup keras.
"Aaa ..." Wenie terpekik kaget, tubuhnya pun oleng seketika namun pria itu berhasil menahan tangannya tepat waktu.
"Aduh, maafkan saya, Kak! Saya tidak sengaja, sedang buru-buru ..." ujarnya dengan nada bersalah.
Wenie segera menarik tangan yang berada dalam genggaman pria itu. "Oke, tidak apa-apa. Terimakasih sudah menahanku, kalau tidak aku bisa jatuh tadi ..." jawab Wenie sambil merapikan dress yang nyaris tersingkap.
"Itu hanya refleks. Sekali lagi maafkan saya," ujar orang itu seraya membungkukkan tubuh.
Wenie sebenarnya agak kesal tapi kini ia jadi tidak enak hati melihat sikap orang itu. "Iya, iya ... sudah. Kalau gitu saya pergi dulu ya," pamit Wenie buru-buru.
Ia sempat melihat wajahnya sekilas, cukup tampan juga. Pria itu berkulit putih dengan mata agak sipit khas asia dan sedikit rambut jatuh di wajahnya menyerupai poni. Astaga, apalagi ini? Aku harus cepat-cepat pergi, Mas Frans sudah menungguku.
Tak disangka pria itu tersenyum puas di belakangnya. "Misi sukses, bos!" lapornya melalui headset di telinga, kemudian menyelinap keluar melalui pintu belakang.
Wenie tidak menyadari orang tadi menaruh alat penyadap dalam tasnya dan bahaya sudah mulai mengintai. Ia bergegas kembali pada pria yang duduk menunggunya dan makanan penutup juga sudah dihidangkan beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Maaf aku agak lama, Mas ..."
Frans mendongak dari ponselnya dan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Ayo, dimakan es pudingnya mumpung masih dingin ..."
Wenie tertawa kecil. "Jadi pengen tahu, kalau es nya hangat itu gimana ya?" ucapnya sambil menyendok es pudingnya.
Frans hanya terkekeh. "Oh ya, habis ini kau mau langsung ku antar pulang saja atau ikut denganku, Wen?" tanya Frans di sela makannya.
Alis Wenie mengerut bingung. "Ikut kamu kemana, Mas?"
"Ke rumah sakit," jawabnya. "Barusan asistenku menelepon, masih ada beberapa jadwal pasien yang akan berkonsultasi siang ini."
Seketika Wenie merasa tidak enak hati. "Maaf ya, Mas. Aku jadi ganggu waktu kerja kamu ..." ujarnya lirih.
"Hei, jangan begitu. Ini bukan salahmu," jawab Frans lembut. "Lagi pula kan, aku yang mengajakmu makan siang?"
"Iya sih ..."
"Lalu masalahnya di mana?"
"Aku cuma merasa gak enak saja," bantahnya cepat. "Kalau begitu aku akan pulang sendiri naik taksi, biar Mas bisa langsung pergi ke rumah sakit," ujar Wenie memutuskan.
Frans berdecak tidak suka. "Ck! Sebaiknya kau ikut aku, Wen ..." ia segera meyelesaikan makannya.
Wenie menatap bingung. "Lho, untuk apa, Mas?"
"Anggap saja kau membayar waktuku," jawab Frans riang.
"Eh, maksudnya?"
Wenie berusaha menolak ikut dan berkata ingin segera pulang namun tentu saja alasan itu tidak diterima. Pria itu tetap membawanya serta ke rumah sakit tempatnya berdinas.
Setelah sampai Wenie diantar ke dalam ruang kerja pribadi Frans, sementara pria itu pergi menemui pasien yang sudah menunggu untuk konsultasi dan meminta resep obat lanjutan. Banyak di antara mereka yang memilih rawat jalan pasca-operasi karena kesehatannya sudah lebih stabil.
Hampir dua jam Wenie menunggu dalam ruang kerja dokter tampan itu padahal hari semakin sore. Selama itu pula tidak banyak yang bisa dilakukannya selain scroll-scroll medsos di ponsel dan sesekali membaca tabloid kesehatan terbitan rumah sakit. Bahkan seorang pramusaji sudah dua kali datang mengantarkan minuman dingin dan camilan atas perintah Frans, namun dokter itu belum muncul juga.
💐💐💐
Sementara di lain tempat Prasetyo nampak menahan geram saat melihat laptopnya menerima sinyal dari alat penyadap suara yang sekaligus berfungsi sebagai GPS itu menunjukkan lokasi Wenie saat ini.
"Sial! Apa yang kau lakukan di sana, Wen?" Prasetyo mengertakkan rahang kuat-kuat. "Rupanya kau mengabaikan peringatanku tempo hari," ia meremas gelas kopi di tangannya.
Penat sekali rasanya tubuh dan pikiran Prasetyo saat ini, namun amarah lebih menguasai dirinya akibat masalah yang datang bertubi-tubi. Pagi tadi Istianti memaksanya untuk pulang menemui anak mereka, bersyukur kesehatannya sudah lebih baik. Demam tingginya sudah reda berkat dua kantong infus yang diberikan secara berkala oleh seorang ners (perawat) atas resep dari dokter anak yang dipanggil ke rumah.
Sekarang Prasetyo sedang berada dalam ruang kerja di rumahnya yang berada di lantai atas. Di sini ia biasa menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas kantor sekaligus menghindari istrinya yang sejak awal sudah tak sepenuh hati dicintai. Namun kini sudah lahir seorang anak perempuan yang lucu dari rahimnya, maka hal itu menjadi pengikat yang kuat di antara mereka meskipun hatinya enggan.
Ponselnya berdering, panggilan video call dari istrinya. Setelah dering kelima barulah Prasetyo menerima panggilan.
"Halo, Pa ..." Raisa berteriak senang di layar ponsel.
"Hai ,sayang ..."
"Papa di mana?" tanya Raisa terbata, ia belum lancar bicara di usianya yang memasuki delapan belas bulan.
Seketika raut wajah Prasetyo melunak. "Papa di atas, sayang. Sebentar lagi turun, tunggu ya ..."
__ADS_1
Raisa mengangguk senang, Isti membisikkan sesuatu di telinganya yang kemudian membuat gadis kecil itu semangat. "Pa, jalan-jalan ..."
Spontan Prasetyo menaikkan alis curiga. "Ica atau mama yang minta jalan-jalan, nih?" ia menyindir Isti yang sengaja tidak menampakkan wajahnya dalam layar.
Raisa tertawa polos. "Mama ..."
Prasetyo tersenyum kesal, tapi ia menahan diri. "Ya sudah. Ica siap-siap dulu sana, nanti Papa turun langsung jalan ya ..."
"Horee ..." teriak putrinya senang. "Ica siap-siap ya, Pa."
Prasetyo mengangguk kecil kemudian menutup panggilan. Sialan kau, Isti! Bisa-bisanya menghasut Raisa yang sedang sakit buat minta jalan-jalan. Awas saja kalau anak itu nanti demam lagi!
Di kamar bawah Isti tertawa gembira bersama gadis kecilnya. "Yeay! Akhirnya kita bisa jalan-jalan sama papa, sayang ..."
"Beli boneka, Ma," pinta Raisa.
"Oke. Kamu mau apa lagi? Nanti bilang sama papa, ya. Minta yang banyak, papamu baru gajian ..." ujar sang mama menghasut.
Raisa yang masih polos tentu saja mengingat pesan mamanya, ia segera berganti pakaian dan menunggu sang papa di ruang tamu. Menyusul Isti yang sudah rapi dengan gaun santai yang cantik dan polesan make up yang glowing. Rambutnya dikuncir kuda hingga menampakkan leher jenjang yang berhias kalung mutiara, tak lupa kacamata keluaran merk ternama bertengger di atas kepala.
Sayangnya semua itu tidak mampu menggugah perasaan Prasetyo sebagai pasangannya. Seringkali pria itu hanya menanggapi seperlunya saja dengan berbagai alasan, selebihnya ia bersikap dingin dan menghindar.
Setelah menunggu selama lima belas menit akhirnya Prasetyo turun, ia hanya mengenakan kaus putih dengan celana denim pendek dan sneaker yang membuatnya terlihat santai. Berbeda dengan tampilan biasanya yang seringkali memakai kemeja dilengkapi jas body fit yang elegan khas eksekutif muda.
"Papa ..." pekik Raisa saat melihatnya turun.
Prasetyo segera meraih anaknya dalam dekapan. "Ica minta jalan-jalan, memangnya sudah sembuh?"
"Sudah, Pa. Gak ada infus," ujarnya seraya menunjukkan lengan kecilnya.
Prasetyo menoleh pada seorang ners wanita yang berdiri dekat sofa, gadis muda itu baru saja melepas infusan Raisa dan sedang bersiap kembali ke klinik.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Pak, Bu," ujarnya sopan. "Dek Ica, nanti obatnya jangan lupa diminum ya?"
Prasetyo tersenyum ramah. "Ica bilang apa? Terimakasih Kakak ..." ujarnya mengajari Raisa.
"Makasih, Kakak ..." Raisa meniru papanya.
"Nanti obatnya Ica minum," bimbing Prasetyo lagi.
"Nanti minum obat ..." ujar Raisa sedapatnya.
Perawat dengan name tag Dahlia di dada kirinya itu tersenyum mendengar kepatuhan Raisa, kemudian beranjak pergi dan kini Isti mencoba buka suara. "Ayo, Mas. Nanti keburu sore, takut hujan ..."
"Sudah tahu setiap sore hujan, kamu malah ngajarin anak minta jalan keluar," gerutu Prasetyo sembari berjalan meninggalkan istrinya.
Isti hanya mencebikkan bibir tak peduli. "Kalau buat anak haruslah, Mas. Kapan lagi kamu bisa manjain anak yang lagi sakit?"
Prasetyo tidak membalas, ia berjalan menuju garasi sambil menggendong Raisa dan masuk mobil tanpa menunggu Isti yang berada dua langkah di belakangnya. Setelah wanita itu naik di sisinya barulah Prasetyo menyetir mobil menuju taman kota yang biasanya cukup ramai di sore hari.
Raisa yang berada dalam pangkuan sang mama terus saja mengoceh dan tertawa-tawa riang, tak mengerti ketegangan antara kedua orangtuanya. Isti dan Prasetyo mencoba bersikap harmonis di depan putri semata wayang mereka meski dalam hati saling baku tuduh dan tidak tenang.
Benar saja, taman kota saat ini cukup ramai pengunjung. Banyak anak-anak berlarian ke sana kemari, ada yang bermain di kolam pasir, ada yang berebut menaiki aneka wahana permainan, ataupun sedang mengantri membeli camilan bersama orangtuanya.
Isti dan Prasetyo sepakat tidak membiarkan anaknya bermain di sini sebab semua permainan itu tidak cocok untuk anak usia di bawah dua tahun, jadi mereka hanya berjalan-jalan menikmati angin sore. Sebuah kesempatan yang cukup langka bagi Isti dan Raisa untuk bisa merasakan kebersamaan mereka seperti saat ini.
__ADS_1