Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Penyidikan


__ADS_3

Wenie segera diamankan polisi setelah terlepas dari sanderaan Prasetyo. Ia menahan histeria saat melihat dua lelaki di hadapannya berduel habis-habisan hingga seorang petugas terpaksa mengakhirinya dengan satu tembakan untuk Prasetyo agar dapat dibekuk dengan mudah.


Tidak menunggu lebih lama lagi lelaki itu pun segera digelandang masuk ke salah satu mobil polisi guna menjalani penahanan sementara di polsek terdekat. Namun ternyata luka tembak di kakinya tidak mampu melunturkan sorot kebencian dan senyum sinis pada Frans, meskipun yang ditatap bergeming tak peduli.


"Anda beruntung menghentikannya tepat waktu karena kerbau lepas itu, Dokter ..." gurau Doni Permana.


"Anda benar, Pak," sahut Frans dalam senyum. "Benar-benar kerbau pembawa keberuntungan. Mungkin lain kali saya harus pelihara satu ..."


Doni terkekeh. "Sebaiknya segera anda temui dulu gadis itu, Dok. Nampaknya ia masih agak syok. Setelah itu segera bawa dia ke kantor polisi untuk pemeriksaan awal."


"Baik. Nanti saya akan segera menyusul Anda, Pak," jawab Frans.


"Oh ya, dan jangan lupa untuk merawat luka-lukamu, Dok," ujar sang komandan menunjuk wajahnya.


Frans refleks menyentuh tulang pipi sebelah kiri dan menggerakkan rahangnya karena mulai merasakan sedikit nyeri di sana. "Tentu, Komandan ..."


Di undakan teras depan rumah salah satu warga, seorang polisi wanita dengan sabar menenangkan Wenie, ia menerima secangkir teh hangat yang diberikan oleh pemilik rumah untuk membantunya sedikit rileks. Banyak warga yang merasa bersimpati padanya namun tidak berani mendekat.


Frans menghampirinya perlahan lalu memberi isyarat dengan sedikit anggukan pada polwan itu untuk meninggalkan mereka berdua. Lalu polwan itu segera undur diri dan bergabung dengan beberapa petugas yang masih berjaga.


"Wenie , apa kau baik-baik saja?"


Gadis itu mendongak sesaat lalu membuang muka, sepertinya ia sedang kesal dan sedih bersamaan.


"Maafkan aku yang terlambat datang ..." ujar Frans lagi.


"Tidak perlu minta maaf, Mas. Aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah merepotkanmu," jawabnya lirih, masih tak ingin menatap.


"Wen ..." Frans menyentuh bahu gadis itu tapi langsung ditepis.


"Sebaiknya kau tidak melibatkan dirimu lebih jauh lagi, Mas."


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada ..."


"Tatap mataku, Wen," Frans meraih dagunya dan berlutut dengan satu kaki. "Katakan dengan jelas, apa maksudmu?"


Wenie merasakan matanya kembali memanas dan hatinya terasa sedikit sakit. "Tidak ada. Kau terluka karenaku dan aku tidak ingin menambah masalah dengan melibatkanmu di dalam masalahku bersama Pras," gelengnya sambil tersenyum menguatkan diri.


"Kau bilang apa? Hei, aku melakukan ini karena aku khawatir padamu dan ini cukup sepadan dengan keselamatanmu ..." bantah Frans lembut, Wenie masih terdiam menolak. Sebutir air bening bergulir dari matanya yang sedari tadi sudah sembab.


"Maaf, Nona. Sudah saatnya kita berangkat ke polsek agar anda bisa memberikan keterangan sebagai saksi," sela seorang polisi dengan sopan.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan ikut," jawab Wenie yang segera menghapus air matanya dengan tergesa. "Maaf, Mas. Aku harus pergi."


"Mari, Nona ..."


"Tunggu," sela Frans cepat, ia mencekal lengan Wenie dan segera berdiri dari posisinya. "Aku akan mengantarmu dengan mobilku ..."


"Tidak usah, Mas. Aku ikut dengan mobil polisi itu saja, lebih baik kau merawat luka-lukamu dulu di rumah sakit," jawabnya sembari ingin melepaskan tangannya. Namun cekalan Frans ternyata lumayan kuat.


"Kau tidak akan pergi tanpaku. Lagipula, apakah kau tidak ingin sedikit membantu merawatku, hm?"


"Perawat akan menolongmu dengan baik, lagi pula kau kan dokter ..." kilahnya namun Frans bergeming. "Lepasin, Mas ..."


"Aku hanya ingin kau yang merawatku," ujar Frans tersenyum penuh arti, membuat pipi Wenie menegang malu.


"Nona, jika mau Anda boleh naik mobil Dokter Frans dan kami akan mengiringi dari belakang," saran polisi itu saat melihat dua orang di hadapannya berdebat hal tak penting. "Hari sudah semakin sore, Nona," ujar polisi sedikit mendesak.


"Gadis ini akan naik mobil saya, Pak," jawab Frans tenang tidak terbantah.


"Baik, kalau begitu saya tunggu di sana," ujar sang polisi menunjuk mobil patroli yang bersisian dengan mobilnya, Frans mengangguk kecil.


Tatapannya kembali teralih pada gadis di sisinya yang masih berusaha melepaskan cengkramannya. "Aku akan bersamamu hingga selesai, Wen. Kau tidak boleh menolak."


Wenie menggeleng keras kepala, ia masih sakit hati karena kata-kata kejam Frans masih terngiang di benaknya. "Sudah cukup, Mas. Terimakasih atas bantuan dan perhatianmu, aku tidak pantas menerima lebih lagi ..."


Namun Wenie tak peduli, rasa kecewa memenuhi hatinya dan sebenarnya ia masih ingin menangis tapi ditahan sekuatnya. Ia terus memalingkan muka tak ingin menatap Frans hingga pria itu mencengkram kedua bahu Wenie, memaksa agar ia menatap matanya. "Lihat aku! Dengar baik-baik, jangan menilai dirimu rendah hanya karena aku khilaf mengucapkan hal-hal bodoh itu. Dirimu jauh lebih dari menarik, Wen. Bahkan diriku sudah sangat tersiksa sejak kemarin kau menghilang dari pandanganku ..."


Wenie tertegun menatap mata cokelat Frans, ia mencari-cari kebohongan yang mungkin tersirat di sana namun nihil. Tatapannya serasa menghujam ke dalam jantung bahwa kata-katanya jujur tanpa dibuat-buat. Tapi ia masih tak mau percaya.


"Ku mohon, Wen ... maafkan aku. Jangan persulit semua ini, buang seluruh pemikiran negatif itu ..." ucapnya lembut.


Kelopak mata Wenie kembali memanas, bibirnya seolah tak mampu berucap apapun. Lagi-lagi hanya sebutir air mata yang turun mengungkapkan perasaannya.


"Maafkan aku ..." ucap Frans sekali lagi kemudian meraih gadis mungil itu dalam dekapannya. "Jangan minta aku pergi, Wen, sebab itu takkan pernah terjadi."


Wenie tak mampu menolak pelukan hangat Frans yang jelas sekali menyalurkan kerinduan dan kekhawatiran sekaligus padanya. "Aku takut, Mas. Aku takut tidak akan mampu melewati semua ini ..."


"Tenangkan dirimu, Wen. Aku akan selalu berusaha ada di sisimu apapun yang terjadi, oke?" ujar Frans sambil menunduk untuk mencium puncak kepalanya. "Kita berangkat sekarang?" Wenie segera mengangguk.


Wenie berjalan di sisi Frans yang merangkul pinggangnya agak posesif, namun wajahnya tertunduk malu. Ia tak mau melihat orang-orang sekitar yang menatapnya penasaran.


Sebelum membukakan pintu mobil untuk Wenie, Frans berbincang sejenak dengan sejumlah petugas yang bersiap mengawal mereka ke kantor polisi.


Sepanjang perjalanan menuju polsek mereka saling terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Wenie sibuk menelaah perasaannya sendiri, sementara Frans fokus menyetir sembari menyusun rencana untuk melakukan pembalasan pada Prasetyo. Ia harus dihukum berat, begitu tekadnya.

__ADS_1


Sesampainya di polsek keduanya segera diarahkan ke ruang penyidikan yang berada di lantai dua guna membuat laporan BAP dan Frans diizinkan menemani Wenie selama pemeriksaan berlangsung, maka ia terus berada di sisi gadis itu sampai selesai.


Awalnya pemeriksaan yang sudah berjalan beberapa waktu masih lancar tanpa kendala berarti, Wenie dapat menjawab semua pertanyaan penyidik dengan baik. Namun suasana mendadak tegang saat pintu terbuka dan dua orang pria masuk ke dalam ruangan itu, yakni seorang pria kekar berseragam polisi bersama seorang pria tinggi tegap berwajah suram dengan tangan terborgol dan langkah berjingkat yang tidak lain adalah Prasetyo.


Wenie menatap penuh rasa terkejut bercampur takut, secara refleks ia menggeser kursinya mendekati Frans. Sementara Pras nampak sekali sedang menahan amarahnya melihat pemandangan di depan matanya itu.


Meskipun dengan langkah yang sedikit kepayahan tapi ternyata tidak memudarkan aura negatif yang menguar kuat dari dirinya. Petugas yang menggiringnya menempatkan ia di sisi kiri Wenie dengan jarak kurang dari satu meter. Ia dihadapkan pada penyidik yang berbeda namun dalam satu ruangan yang sama.


Wenie sungguh merasa semakin gugup dan takut, ia tidak bisa duduk dengan tenang di kursinya sekarang. Melihat hal itu Frans langsung bangkit untuk bertukar posisi dengan Wenie.


Ciiih, bahkan sekarang dokter sialan itu bertingkah seakan dia pahlawannya, Prasetyo nampak sekali mengepalkan tangannya menahan geram tapi tentu saja ia tidak bisa mengekspresikannya karena itu akan semakin memberatkannya kelak.


Setelah menghabiskan waktu sekitar enam jam pemeriksaan barulah Wenie dan Frans diizinkan keluar ruangan terlebih dahulu, meninggalkan Prasetyo bersama penyidiknya. Sepertinya ia masih harus diperiksa lebih lama lagi dan akan segera dikurung dalam rumah tahanan sementara di kantor polisi itu.


"Syukurlah, sementara ini pemeriksaan sudah selesai. Sekarang kita harus istirahat dulu, nona manis," gurau Frans sambil meregangkan tubuhnya lelah.


"Iya, Mas. Aku juga sudah lelah dan lapar ... oia, sudah jam berapa sekarang?" tanya Wenie.


Frans melirik jam di tangannya. "Sudah hampir jam dua belas malam. Ternyata lama juga ya, kalau sudah berurusan sama polisi," ujar Frans lelah. "Sebaiknya kau ikut aku."


"Kemana?"


"Mencari peristirahatan. Kau lelah dan lapar bukan?" tanya Frans yang segera diangguki Wenie.


"Tapi, apa tidak sebaiknya kita mencari klinik dua puluh empat jam agar bisa merawat lukamu dulu, Mas?"


"Aku sudah memiliki perawatku sendiri," ujar Frans yang langsung menggandeng lengan Wenie tanpa basa-basi lagi. Ia menggenggam jemari lembut itu dengan hati-hati dan penuh perasaan hingga gadis itu bisa merasakan debar jantungnya jadi tidak karuan.


"Katakan dulu kemana tujuanmu, Mas?"


"Kau akan tahu nanti, yang penting kita bisa mengistirahatkan badan dan pikiran dulu ..."


"Benar, aku juga sudah lelah ..." ujar Wenie sembari mengelus sebelah bahunya yang merasa kedinginan. Frans refleks melepas jaket parkanya dan mengenakannya pada Wenie.


"Eh, tidak usah, Mas."


"Pakailah, udara malam diluar dingin. Tidak baik untuk gadis kecil sepertimu, kau akan mudah sakit ..." ujar Frans sambil sedikit menepiskan sedikit debu yang masih tersisa akibat perkelahian sore tadi. "Jika sudah di mobil, kau boleh tidur dulu sampai aku menemukan peristirahatan untuk kita."


"Benarkah?" tanya Wenie yang merasa tidak enak hati, Frans hanya mengangguk dengan senyum simpulnya.


Maka Wenie memilih tidak ambil pusing, saat sampai di mobil ia segera merilekskan diri di posisi duduknya Matanya sudah sangat berat dan tak mampu lagi dilawannya rasa kantuk bercampur letih. "Terimakasih, Dok ..."


Frans ingin protes namun segera terdiam melihat gadis itu telah memejamkan matanya yang masih menyisakan sedikit sembab, lalu memilih melanjutkan menyetir mobilnya keluar halaman polsek.

__ADS_1


__ADS_2