Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Drama


__ADS_3

Anak lelaki itu makin mengerut takut mendengar bentakan wanita cantik itu. Meski pun ia salah semestinya cukup mendapat teguran dan ia sudah menerimanya dari Wenie, tante mungil berwajah manis.


"Kenapa diam? Apa kau bisu? Dimana orang tuamu?" cecar Isti tidak sabar.


Mendengar itu Wenie merasa kesal namun ia hanya terdiam, ia sedang terpaku melihat bagaimana gadis kecil itu memiliki pembawaan dan wajah yang mirip Prasetyo. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya seakan tercubit, nyeri.


Sementara Frans terus menguatkan anak itu agar tidak menangis. "Ayo minta maaf sama ibu ini," ujar Frans lembut.


Anak berusia lima tahun bertubuh bongsor itu tak berani mengangkat wajah. "Maafin saya, Bu. Saya gak sengaja nyenggol dedeknya sampai jatuh," suaranya sedikit bergetar.


Isti mendengus marah. "Kau ini sudah besar, seharusnya bisa berhati-hati. Tidak berlari-larian seperi itu!" makinya kasar. "Lihat anak saya lututnya terluka. Gimana caramu bertanggung jawab, hah!"


Beberapa orang menginterupsi ucapannya, menilai perempuan itu terlalu berlebihan, arogan dan sombong hanya karena masalah sepele, namun tentu saja Isti tidak peduli.


Kemudian Frans berupaya meredakan amarah Isti yang terus mengomeli bocah apes itu. "Tenanglah Bu Isti, ini bisa dibicarakan baik-baik. Anak ini juga tidak sengaja ingin melukai anak Ibu ..."


"Anda bisa berkata begitu karena Raisa bukan anak Anda, Dok," bantahnya kesal. "Dan lagi perempuan ini ... dia juga belum menikah dan tidak tahu rasanya memiliki anak, jadi pasti dia tidak akan setuju denganku, ya 'kan?" sindirnya menusuk.


Wenie membelalak kaget, tak menyangka Isti akan mengatakan hal konyol seperti itu. "Astaga, ternyata kau masih sama seperti dulu," geramnya tertahan. "Dasar egois, bisa-bisanya kau bicara seperti itu!"


"Apa!" tantang Isti. "Aku benar 'kan?"


Frans mengusap bahu Wenie yang bergetar marah. "Begini saja, Bu. Mari kita ke klinik, nanti saya yang akan mengobati lukanya," ujarnya pada Isti lalu menatap gadis cilik itu dengan senyum manis. "Jangan menangis lagi ya, cantik. Ayo, Om obati ..."


Namun Isti tampak keras hati. "Tidak perlu," tolaknya langsung. "Saya bisa mengobati anak saya sendiri, tapi saya ingin anak ini dilaporkan pada orang tuanya agar ia dihukum," katanya ketus.


Beberapa orang kembali terdengar mencela, lalu Isti melanjutkan, "Lho, daripada saya sendiri yang menanganinya, itu pasti kelewatan 'kan?" ia mencari pembenaran entah dari siapa.


Ia benar-benar pantang mundur dalam hal mempertahankan kengototan alias egonya sendiri. Entah salah atau benar ia akan terus bertahan jika itu menyangkut diri dan keluarganya. Diam-diam seseorang pergi dari sana memanggil satpam kalau-kalau keadaan ini tidak menemukan jalan keluarnya.


Tetapi Frans bukanlah pria yang mudah tersulut emosi jika harus berhadapan dengan wanita semacam ini. Raut wajah dan gesturnya sama sekali tidak berubah, tetap tenang seperti biasa. Mungkin baginya ini seperti menghadapi pasien yang keras kepala, terlebih Isti memang mantan pasiennya dulu.


"Lebih baik jangan diperpanjang lagi, Bu. Agar anak Ibu bisa cepat diobati dan beristirahat sebelum lukanya terinfeksi," ucap Frans menyarankan.


"Dokter tidak perlu repot-repot mengaturku," jawab Isti hendak bangkit menggendong Raisa, matanya terus memelototi si bocah lelaki.


Wanita itu baru akan pergi tepat ketika seorang pria datang dengan sebuah bungkusan berisi es krim di tangannya, menyela keributan yang terjadi. Semula ia tak tahu siapa yang ada di sana, hanya saja karena ia tidak dapat menemukan anak dan istrinya duduk di tempat sebelumnya maka ia tertarik datang.


"Ada ramai-ramai apa ini?" tanyanya heran, kemudian pandangannya langsung tertuju pada Raisa yang tersedu dipelukan istrinya. "Raisa! Kamu kenapa, sayang? Kenapa ini, Is?" ia panik menghampiri keduanya.


Wenie yang terdiam di seberangnya terkesima, ia tak mampu berbicara sepatah kata pun. Akhirnya sosok itu hadir di antara mereka dan situasi ini benar-benar canggung sekaligus menjengkelkan.


Hatinya terasa seperti tersayat menatap adegan di depan matanya, terlebih saat mendengar nada suara Prasetyo yang jelas mencemaskan anak dan istrinya. Melihat kebekuan Wenie, Frans lalu menyuruh bocah lelaki itu pergi dari sana, perhatiannya tidak boleh terpecah. Saat ini prioritasnya adalah Wenie, ia tahu sebentar lagi akan ada drama yang lebih seru.


"Hei, bocah. Mau kabur kemana kamu?" teriak Isti marah, rupanya ia melihat Frans melepaskannya begitu saja.


Tatapan Prasetyo otomatis mencari sosok bocah yang dimaksud istrinya namun sudah keburu menghilang di antara keramaian, tapi kini justru netranya melihat dua sosok lain berdiri tidak jauh darinya.


"Kalian!" serunya terkejut, sejenak ia melupakan gadis cilik yang dipegangnya. Tatapannya lebih tertuju pada Wenie. "Sedang apa kalian di sini?"


Gadis itu menegang di sisi Frans, meremas lengan bajunya perlahan. Refleks pria itu menarik Wenie ke belakang tubuhnya agar ia merasa sedikit aman.


Isti tahu mata suaminya sedang terpaku pada siapa. "Mas! Abaikan dia, cepat cari bocah sialan itu!" pekik Isti geram, hatinya semakin mendidih.

__ADS_1


Tak disangka Prasetyo dengan mudah menuruti perintah Isti dan bangkit hendak mencari sasaran yang kabur, namun Frans langsung menghadang jalannya.


"Tunggu, Pras. Biar aku yang bertanggung jawab mengobati anakmu," ucapnya tenang. "Tidak perlu kau cari anak itu, lagi pula ia sudah meminta maaf pada istrimu barusan."


Prasetyo menatap marah dan berkata kasar, "Cih, apa kau mau jadi sok pahlawan di sini, Frans? Minggir! Jangan halangi jalanku!"


Frans tersenyum simpul, ia tidak terusik. "Jangan membesar-besarkan masalah kecil, anak itu hanya tidak sengaja menyenggol anakmu. Itu saja."


"Masalah kecil kau bilang? Anakku terluka hanya masalah kecil kau bilang?" tanpa aba-aba Prasetyo langsung merangsek Frans.


Wenie menjerit, tidak mengira Prasetyo akan bereaksi seperti itu. "Hentikan, Mas!" spontan saja ia maju melerai dua pria besar di hadapannya, berusaha menahan tangan Prasetyo. "Jangan main pukul!" ujar Wenie keras.


Prasetyo hanya meliriknya sekilas dan berkata dengan nada memerintah, "Menyingkirlah, Wen! Biar kuberi pelajaran padanya sekali ini supaya ia tahu bagaimana rasanya 'tersenggol'."


Frans hanya tersenyum miring menatap cengkraman Prasetyo pada bajunya. "Itu memang hanya luka kecil, kenapa kau bereaksi berlebihan begini, Pras? Bukankah wajar jika seorang anak kadang terjatuh?"


Pertanyaan masuk akal itu bukannya meredakan emosi Prasetyo malah justru semakin meruncingkannya. Segera saja sebuah tinju dilayangkan untuk Frans yang sudah berada dalam genggamannya. Tapi Prasetyo tidak semudah itu mendapatkan keberuntungan, Frans menghindar dengan cepat sembari mendorong Wenie agar menjauh.


"Brengs*k! Kemari kau, hadapi aku!" seru Prasetyo marah.


Mendapat serangan bertubi-tubi Frans tidak bisa tinggal diam, ia akhirnya menangkis dan terpaksa memukul balik Prasetyo di tengah keramaian.


Sekali lagi Wenie berteriak mengingatkan Prasetyo. "Mas Pras, hentikan! Di sini masih ada anakmu melihat," ujarnya mengingatkan. "Tolong kendalikan dirimu!"


Kemudian kembali terdengar tangisan gadis cilik itu, ia ketakutan dalam dekapan ibunya saat menyaksikan papanya berkelahi sehingga perhatian Prasetyo teralih padanya. Tapi Isti tak mengatakan apa pun selain hanya menenangkan anaknya saja, sepertinya ia ingin melihat sejauh mana suaminya akan membelanya.


"Berhenti!" terdengar teriakan keras diiringi suara sempritan dari jauh. Dua satpam berlari cepat ke arah mereka dan berkata, "Hentikan sekarang juga atau kalian harus ikut kami ke kantor keamanan!"


"Kami sudah selesai, Pak ..." seloroh Frans dengan wajah berpeluh. "Maaf, saya tidak berniat membuat keributan, dialah yang memulai," tunjuknya pada Prasetyo.


Prasetyo menatap sengit. "Kau!"


"Sudah cukup! Kalian mau berdamai sekarang atau di kantor?" sergah seorang satpam berperawakan mirip tentara.


Frans hanya angkat bahu saja, ia memilih mundur dan mengajak Wenie pergi dari sana secepatnya.


"Mas Frans, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas, ia membolak-balik tangan Frans yang tadi sempat terpukul Prasetyo.


Frans tersenyum kecil. "Jangan khawatirkan aku. Akulah yang sedang mengkhawatirkanmu," ujarnya lembut. "Kau baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa ..."


"Baguslah, ayo kita pergi," ia merangkul erat gadis itu. Ia mengajak Wenie melanjutkan perjalanan ke restoran seafood.


Dua orang satpam masih bersiaga di sana, mereka tidak berusaha mencegah kepergiannya. Di sisi lain Prasetyo juga bukannya tidak melihat dan mendengar percakapan mereka, hanya saja kini ia terfokus menenangkan putrinya yang masih menangis.


Bersamaan dengan Frans dan Wenie yang sudah pergi dari sana, Prasetyo juga segera mengajak Isti dan Raisa pulang. Dan kedua satpam itu masih terus mengawasi hingga mereka benar-benar bubar dan berhenti membuat keributan.


Setelah berjalan agak jauh Frans melihat Wenie tampak tidak nyaman. "Apa kau baik-baik saja, Wen?"


Wenie menahan langkah dan menggeleng pelan. "Kita pulang saja, Mas ..."


"Tapi kau 'kan belum makan," ujar Frans. "Kita makan dulu ya, setelah itu baru ku antar pulang," bujuknya.

__ADS_1


Wenie menghisap kecil bibirnya, hatinya sedang gelisah. "Aku makan di rumah saja nanti," jawabnya lesu, wajahnya seperti menahan tangis.


"Jangan pikirkan masalah ini, anggap kau tidak melihat apa pun," ujarnya coba menghibur.


Namun yang terjadi justru wajah gadis itu semakin kusut. Wenie berjalan menuju sebuah bangku taman yang kosong dan duduk tanpa gairah, Frans mengekor dengan sabar. Ia merasa sedikit menyesal telah datang ke sini saat waktu yang tidak tepat.


"Apa kakimu masih sakit?" tanya Frans khawatir.


Wenie menggeleng lemah, ia melihat kakinya yang beralaskan sandal hak rendah yang tadi mendadak dibelikan oleh pria itu saat perjalanan ke taman.


"Apa aku boleh menangis?" tanya gadis itu tiba-tiba.


Pria di sisinya langsung mendekapnya hangat. "Menangislah ..."


Wenie terisak pelan dalam pelukan Frans. "Maafin aku ya, Mas," ucapnya lirih kemudian menarik diri, ia mengusap air matanya.


"Untuk?"


"Aku gak bisa membantumu saat Prasetyo menyerangmu seperti tadi ..."


Frans menggeleng dan berkata, "Bukan itu yang ingin kau katakan."


Wenie tertunduk dalam, hatinya perih.


"Aku benar?"


Gadis itu mengangguk lemah. "Aku gak bisa menahan diriku soal Pras, apalagi tadi di sana ada-"


"Sstt ... sudah ku bilang jangan dipikirkan. Abaikan saja masalah ini, nanti kau akan terbiasa," bujuk Frans lembut.


Wenie hanya terdiam dan ia pasrah ditarik lagi ke dalam pelukan hangat Frans yang ternyata mampu menenangkan hatinya yang kacau.


Frans mengamati suasana sekitar mulai agak sepi dari pengunjung anak-anak karena hari telah beranjak malam. Tapi di beberapa sudut masih terlihat sejumlah muda-mudi berkumpul menikmati malam di taman yang kini berhias lampu warna-warni.


"Kita pulang?" tanya pria itu setelah beberapa saat memeluknya.


Wenie mengangguk setuju. Lantas ia berpikir hendak mengikuti saja kemana Frans akan membawanya, ia tidak peduli. Dan perjalanan selama setengah jam itu terasa cukup singkat saat ia menyadari bahwa dirinya berada di tempat asing. Sepertinya ia berada di parkiran basemen sebuah gedung tapi ia benar-benar tidak memperhatikan apa pun sejak tadi.


"Kita di mana, Mas?"


"Di apartemenku," jawab Frans.


Wenie menatap bingung. "Eh, benarkah?"


Pria itu tersenyum kecil dan berujar, "Tadi ku ajak pulang kau mengangguk mau ..."


"Eh, itu ..." Wenie ragu-ragu.


Frans lantas menarik rapat Wenie di sisinya. "Malam ini kau milikku," bisiknya nakal.


Seketika Wenie memberontak ingin melepaskan pelukan Frans, jantungnya tiba-tiba berdebar, pikirannya jadi waspada.


Pria setengah bule itu langsung tertawa geli namun tetap tidak mau melepaskan Wenie dari sisinya. Ia terus merangkulnya hingga masuk ke dalam lift yang kelak langsung membawa mereka ke kamar pribadi Frans.

__ADS_1


__ADS_2