
Bu Rahma mondar-mandir di ruang tengah dengan perasaan cemas dan menahan kesal sekaligus. Sudah jam sebelas lewat empat puluh enam menit sekarang, namun belum ada tanda-tanda kemunculan salah satu anak kosnya.
Tidak biasanya Wenie bertindak di luar batas seperti ini, seingatnya bahkan Wenie tidak pernah sekalipun pergi menginap di rumah temannya.
Bu Rahma kembali meraih ponselnya hendak menelepon Wenie, namun deru halus mesin mobil berhenti di depan pagar rumah terlebih dulu menyapa telinganya. Dengan bergegas ia keluar rumah menyongsong Wenie dan bersiap menyemprot siapapun yang telat memulangkan anak kosnya itu.
Terlihat olehnya seorang pria berperawakan tinggi berpostur tegap memakai kemeja biru gelap dengan lengan panjang tergulung, keluar dari balik kemudi dan Wenie menyusul keluar dari kursi depan penumpang. Ia membuka pintu belakang dan mengeluarkan dua kantong plastik putih besar.
Pria itu tampak membantu membawakannya sementara Wenie membuka pintu pagar yang belum dikunci ibu kos.
Bu Rahma hanya berdiri diam di teras rumah dengan kedua lengan terlipat di dada memperhatikan mereka yang sedang menuju ke arahnya dengan tatapan dingin.
"Assalamuallaikum, Bu. Maaf, aku pulang sangat terlambat," ujar Wenie pelan seraya mencium tangan ibu kos.
"Wallaikumsalam," jawab bu Rahma sambil memindai Pras dari atas ke bawah dengan tajam. "Siapa laki-laki ini, Wen? Ada urusan apa sampai dia berani membawa anak gadis orang pergi hingga larut malam?!"
"Iniβ"
"Maaf, Bu. Kami tidak bermaksud pulang selarut ini tadinya, tapi berhubung jalanan macet, apa boleh buat?," sela Pras cepat saat melihat Wenie gugup.
"Perkenalkan saya Prasetyo, teman lama Wenie," jawab Pras dengan suara tegas berusaha sopan, sedikit membungkukkan badan tanpa menyalami pemilik kos.
"Oh, jadi kamu yang bernama Prasetyo?!" sembur bu Rahma tak ingin basa-basi, ia sudah menahan marah dari tadi.
"Saya harap kejadian ini tidak sampai terulang lagi! Ah, bukan, bukan. Maksud saya, kamu tidak perlu menemui Wenie lagi! Saya tidak mau kehadiranmu akan membawa dampak buruk baginya. Mengerti?!!," ralatnya dengan kesal.
"Sayang sekali sepertinya saya tidak bisa menjanjikan itu, Bu," jawab Pras lugas, ia tidak berniat menantang namun juga tidak hendak mengalah.
"Apa maksudmu? Belum apa-apa saja kamu sudah berani tidak sopan begini," sambar bu Rahma terpancing.
Pras tersenyum tenang melihat bu Rahma yang makin meradang.
"Ibu ... sudah ya, kita masuk. Tidak enak ribut-ribut didengar tetangga," bujuk Wenie pada ibu kos. "Mas, kamu boleh pulang. Terimakasih sudah mengantarku."
"Tidak, Wen. Kamu gak boleh lagi ketemu sama dia. Ibu yakin kejadian seperti ini pasti akan terulang lagi nanti!" sergah bu Rahma keras.
Pras tidak merasa gentar menghadapi sikap tajam ibu kos. "Soal kejadian ini, saya janji tidak akan sampai terjadi lagi, Bu."
"Omong kosong. Kamu tahu saya tidak akan percaya!" balas bu Rahma. "Cepat angkat kaki dari sini! Dan kamu, Wenie. Peraturan Ibu sudah jelas bukan? Saya yakin kamu tahu resikonya," tudingnya pada Wenie.
__ADS_1
Wenie hanya terdiam, menunduk menahan rasa malu dan penyesalan sekaligus. Ia tidak bisa berpikir apa-apa menghadapi perdebatan dua orang di hadapannya, merasa buntu.
"Cukup, Mas! Tolong jangan berdebat lagi sama Ibu, kamu tahu kita yang salah," ucap Wenie getir. "Sekarang pulanglah."
"Baik. Aku akan pergi jika kamu yang meminta," ujar Pras santai, bu Rahma membuang muka. "Saya pamit dulu. Selamat malam."
Tanpa menunggu dijawab ia segera berbalik keluar halaman dan menutup pintu pagar sebelum memacu mobilnya pergi.
Ia berlalu dengan perasaan puas. Kini ia bisa merasakan kebahagiaan hampir berada dalam genggamannya lagi. Wenie masih seperti gadis yang dulu dikenalnya, manis namun agak penakut, nyaris selalu mudah didominasi olehnya.
Meski pun terkadang sikap garang bagai kucing liarnya keluar juga jika sudah terdesak dan Pras menyukai itu. Kombinasi yang unik.
Pras tak henti mengulum senyum bahagianya, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sampai ia tiba di apartemennya di bilangan Cawang.
Sebuah apartemen yang tidak tergolong mewah namun ia merasa cocok tinggal di sini, dekat dengan jalan utama kota dan pusat bisnis, memudahkan mobilitasnya.
Ia berencana memboyong Wenie tinggal di apartemen ini kelak jika waktunya sudah tepat. Memulai kembali sebuah hubungan spesial yang telah lama terkubur dengan awal yang baru bersama kekasih pujaan hatinya itu.
Namun sesungguhnya itu hanyalah angan seorang Prasetyo yang bertolak belakang dengan keadaan Wenie sekarang. Ia tak akan pernah sudi kembali lagi padanya meskipun mungkin harus melalui banyak drama macam sinetron ala Indo'siar.
π·π·π·
Sementara Wenie masih menghadapi sidang oleh ibu kosnya yang mendadak sangar seperti induk ayam menetaskan telur. Galak.
Selama lima belas menit berikutnya setelah Pras pergi, Wenie hanya diam menyimak setiap nasehat dan peringatan keras dari Bu Rahma, bahwa kelak ia tidak akan menoleransi kesalahannya lagi.
Ini sudah sangat kelewatan, begitu katanya. Ia tidak mau rumah kosnya menjadi bahan pergunjingan orang bahwa anak-anak kos putri di rumahnya suka keluyuran dan pulang tengah malam.
Belum lagi jika ketua RT sudah angkat bicara, bu Rahma benci membayangkannya. Wenie hanya mengangguk-angguk dan menjawab dengan lirih setiap kata-kata yang di tujukan padanya.
"Ya sudah. Sekarang kamu masuk kamar dan tidurlah! Kamu bikin Ibu kesal saja malam-malam begini," ujar bu Rahma mengakhiri ceramahnya.
"Iya, Bu. Sekali lagi maafin Wenie. Aku janji, lain kali gak akan pulang kemalaman lagi," jawabnya. "Wenie tidur dulu, Bu," pamitnya sambil mencium tangan ibu kos, meminta maaf.
Ia menaiki tangga dengan perasaan sedikit lega, untunglah bu Rahma tidak mengusirnya saat ini juga.
Bisa berabe urusannya.
Ia mau pergi kemana lagi di tengah malam begini? Tidak mungkin ia kembali ke kota yang sudah dua tahun belakangan ia tinggalkan atau malah menginap di apartemen Prasetyo. Mantan kekasih yang sudah bertindak konyol, secara sengaja membuatnya dalam masalah.
__ADS_1
Geram sekali rasanya ia mengingat malam minggunya kali ini.
Ia membanting tubuh lelahnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dengan gelisah. Rasa kantuknya buyar entah kemana, sulit pula ia menenangkan pikirannya saat ini.
Berbagai kejadian sepanjang sore tadi berkelebatan di benaknya, kemudian ingatannya berhenti pada bagian di mana ia tengah dipergoki oleh dokter Frans sedang memilih handphone bersama Pras.
Ya ampun, kenapa bisa begitu sih?! Tengsin banget deh kalau sampai dokter ganteng itu ngirain aku cewek matre. Tengah malam jalan di mall sama cowok, beli ponsel baru pula. Apa kata infotainment?? Haaeeh, semoga dia gak sejahat itu menilaiku ....
Kemudian ia beranjak keluar kamar hendak menuju toilet, melakukan ritual bersih-bersih sebelum tidur seperti biasa.
Dalam sepuluh menit ia menyelesaikan kegiatannya lalu bergegas kembali ke kamar, karena suasana rumah sudah sepi membuatnya merasa sedikit horor.
Wenie mengganti baju kasualnya dengan kaos oblong dan celana pendek, ia lebih suka tidur dengan baju semacam itu daripada memakai piyama sebagaimana umumnya para gadis berangkat tidur.
Ia menyempatkan diri melihat notifikasi pesan di ponselnya sambil berniat mencharge ulang baterai. Sudah pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit saat ini, kemudian sebuah pesan whatsapp dari Frans masuk.
'Kau sudah sampai di rumah, nona?'
'Sudah, dokter,' balasnya lima detik kemudian.
'Bagus. Sudah lewat tengah malam, tidurlah. Tidak baik sering begadang.'
'Iya. Ini baru mau tidur, dok.'
Wenie berpikir sebentar lalu membalas lagi, 'Terimakasih anda sudah menyelamatkan saya sekali lagi ...'
'Tidak masalah. Tapi saya sarankan kamu tidak dekat-dekat dengannya. Jika mungkin hindarilah sebisanya.'
'Kenapa? Apa dokter tahu sesuatu?.'
'Saya tidak bisa menjelaskannya disini,' balas Frans. 'Oh ya, kamu tidak perlu menyebut saya dokter karena saya tidak sedang chatting dengan pasien sekarang.'
Wenie senyum-senyum membaca balasan dokter Frans kali ini. Lah terus, kau mau dipanggil apa coba? Babang tamvan gitu ...
'Lalu saya harus memanggil apa?'
Balasan dari Frans masuk dua menit berikutnya, 'Tidurlah, nona. Kita bisa bahas ini lain kali. Selamat tidur.'
Seketika Wenie merasa bete, padahal ia masih ingin berlama-lama chattingan sama dokter ganteng itu.
__ADS_1
Dengan malas ia menarik selimut menutupi pinggangnya untuk mengistirahatkan tubuhnya dan memejamkan mata seperti perintah dokter Frans tadi.
Tak terasa sejenak kemudian ia jatuh tertidur masuk ke alam mimpi dengan segaris senyum menghiasi bibirnya.