
Dalam bioskop Wenie duduk di sisi Anton dengan gelisah, ada rasa tidak tenang menggelayuti hatinya. Apalagi melihat sikap Anton yang memperlakukannya dengan manis.
Ia selalu berkata-kata dengan lembut, mau mengantri di counter makanan untuk membeli camilan, membersihkan bangku sebelum mereka duduk, juga mengendarai motor sportnya dengan pelan sejak mereka pergi tadi, juga sekarang saat hendak pulang seolah tak ingin lekas sampai tujuan.
Ingin rasanya dia berteriak di telinga Anton saat itu tapi ia masih menggunakan otak warasnya untuk tidak kasar pada oranglain.
Buruan sih, Ton. Sengaja banget deh nyetirnya pelan gini, sudah malam juga? Aaarrrghh, gemasnya dalam hati, namun tetap coba bersabar.
"Wen," panggil Anton memecah keheningan sambil fokus menyetir.
"Ya?," sahut Wenie.
"Kok diem saja sih kamu dari tadi?," tanyanya iseng. "Nahan pipis ya?"
"Iiish ... Apaan sih, Ton. Gak kok, memangnya kenapa?," jawab Wenie mulai sedikit tersenyum. Berhasil, nah gitu dong, pikir Anton.
"Ya lagian wajahmu gitu banget ... Biasa saja dong," candanya, mencoba mencairkan suasana.
"Aduh, ini juga sudah paling biasa kali ah. Baperan banget kamu, Ton," Wenie mencoba menanggapi dengan sedikit tersenyum.
"Wen ..."
"Apa?"
"Hmm, kamu mau gak jadi pacarku?" tanyanya sedikit ragu. Huuuft, jawab iya dong, Wen. Sekali ini saja. Jangan tolak aku lagi please, doa Anton dalam hati.
"Harus jawab sekarang?" Wenie tanya balik setelah terdiam beberapa detik.
"Sebaiknya begitu," jawabnya. "Aku harap sih kamu mau. Ini yang ketiga kalinya lho, aku nembak kamu," sahut Anton cepat.
Terdengar Wenie menarik nafas agak panjang. "Maaf banget ya, Ton. Jawabanku masih sama, kita cuma bisa jadi teman. Dari awal kan, aku sudah bilang begitu."
Anton berkesah di depannya, sementara Wenie membuang pandangan ke mana saja mencoba mengalihkan rasa sesaknya sendiri, sedikit tidak enak hati.
"Kenapa sih, Wen," dia belum menyerah. "Apa gak bisa kamu beri aku kesempatan untuk kita menjadi lebih dari teman?" menatap spion berusaha memandang Wenie.
__ADS_1
"Maaf aku gak bisa, Ton. Lagian dari awal aku cuma cari teman, bukan mau pacaran," jawabnya hati-hati.
Anton terdiam.
"Sekali lagi maafin aku ya. Aku nyaman kita cuma berteman saja, gak lebih."
Lagian kamu aneh, Ton. Nembak cewek kok pas naik motor? Ngeri, kan kalau kamu marah, gak terima, terus ngebut sambil bawa aku gini? diam-diam Wenie khawatir.
Sebenarnya Anton termasuk laki-laki yang baik dari segala segi. Penampilannya selalu rapi, humoris, suka kulineran, sudah punya usaha sendiri, dan dari keluarga cukup berada.
Namun tentu saja manusia tiada yg sempurna. Menurutnya parfum Anton terlalu wangi dan juga sedikit genit, mungkin karena sifatnya yang terlalu ramah menjadikannya nampak seperti playboy. Memikirkannya saja Wenie malas, mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama lewat.
Sepanjang sisa perjalanan dihabiskan dengan obrolan yang berputar-putar, hingga akhirnya mereka sampai di depan pagar rumah kos Wenie.
Ya, hanya sampai pintu depan saja. Ini sudah malam, ibu kos pasti tidak mengizinkan tamu berkunjung melewati jam sebelas. Sekitar dua puluh menit lagi menuju pukul sebelas malam saat ini.
Ia segera turun dari boncengan, "Terimakasih ya traktirannya, Ton."
"Sama-sama," sahut Anton tersenyum manis. "Lain kali bisa kan kita nonton bareng lagi, Wen?" masih saja usaha.
"Hmm, aku gak bisa janji ya, Ton," Wenie memberi tatapan menyesal. "Soalnya aku pulang kerja kan malam terus dan hampir gak ada libur. Aku juga perlu istirahat," ujarnya beralasan.
"Hmm, ya sudah kalau gitu," Anton menghela nafas masih ingin sedikit berlama-lama sebentar lagi. "Tapi kalau kamu ada waktu cepat chat aku ya," tawarnya belum putus asa.
Wenie hanya mengangguk pelan, ia mulai malas dan merasa lelah. "Sudah malam, Ton. Aku masuk dulu ya, hampir jam sebelas. Gak enak sama ibu kos," tandasnya.
"Ya sudah, aku pamit ya. Jangan lupa cuci kaki dan sikat gigi sebelum tidur," pesannya sambil menstarter motor dan berlalu diiringi anggukan kecil dari Wenie.
"Iya, hati-hati di jalan," melambaikan tangan bahagia. Wenie segera masuk rumah dengan perasaan lega.
Ia naik ke lantai atas melalui tangga samping di mana ada lima kamar kos berhadapan dengan dua kamar mandi dan sebuah ruang cuci jemur yang sekaligus juga tempat anak-anak kos bersantai.
Kemudian ia beranjak ke kamar mandi dan bersih-bersih sebelum tidur seperti kebiasaannya (dan juga pesan Anton tadi) ucapnya pada diri sendiri.
Setelah beres ia keluar dari kamar mandi dan berpapasan dengan Iin penghuni kamar di sebelah. "Hai, In. Kamu baru pulang?"
__ADS_1
"Iya nih, Wen. Kamu dari tadi?" jawab Iin sambil bertanya balik.
"Gak kok, aku juga baru saja sampai. Terus langsung cuci kaki, takut sawan," bisik Wenie.
"Hahaa ... Ada-ada saja kamu, Wen. Memangnya kamu bayi? Atau habis lewat kuburan kamu, ya?"
"Gak. Habis dibonceng sama yang jaga kuburan," candanya dengan mimik sebal yang membuat temannya tergelak.
"Jangan gitu ah, ntar tahunya kamu naksir lagi?" godanya geli, Iin paham siapa yang dimaksud Wenie tadi.
"Mudah-mudahan sih, gak In .."
"Alaa, kamu tu .."
Menurutnya Anton lumayan tampan, banyak uang, dan yang pasti punya motor keren. Gak malu-maluinlah kalau diajak jalan atau kondangan, begitu pendapatnya selalu. Wenie kadang jadi pusing sendiri kalau curhat sama dia, bukan dapat solusi malah jadi kemana-mana deh. Hadeeh ...
"Terus, kamu bawa apa dari luar?" tanya Iin lagi. " Ada yang bisa digigit?"
"Gak ada," jawab Wenie. "Aku sudah makan tadi sama dia. Memangnya kamu belum makan?"
"Duuh, cewek ini ya. Kaku banget sih, bawa martabak kek atau kebab gitu, masa pulang malam mingguan melenggang saja?" ledek Iin sarkas. Gak suka orangnya bukan berarti gak bawa oleh-oleh kali, pikir Iin matre.
"Ah kamu mah, In. Ngajarinnya gak bener jadi temen," cibir Wenie menahan senyum. "Aku gak bisa gitu, kasihan dia."
Iin memutar bola mata, malas debat.
"Kamu mau aku temenin cari camilan ke depan sana?," tawar Wenie. "Tadi siomay mang Unang masih jualan ku lihat, terus warung teh Ade juga masih buka."
"Ya sudah, anterin yuk," jawab Iin setelah berpikir sebentar. "Aku masih lapar, nih ..."
"Iya, iya ..."
Wenie tertawa melihat ekspresi Iin. Ia tahu sekali kebiasaan teman kosnya yang satu ini, suka makan dan menggosip. Sebuah tabiat yang hampir pasti melekat dalam diri setiap wanita.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Kira2 di sini ada gak yg kayak gitu, gengs ... nolak orangnya tapi nerima makanannya untuk dibawa pulang. Hahaa ... sadis yaa