
Beberapa hari telah berlalu sejak Frans nekat mencium kening Wenie malam itu, menyisakan kenangan manis dalam hati keduanya.
Kini Wenie mulai kembali bersemangat menjalani kesehariannya dan sedikit melupakan ancaman Pras tempo hari. Ia sedang tak ingin merasa khawatir saat ini dan berusaha menikmati hidupnya.
Namun rupanya ketenangan itu tak berlangsung lama, sisi gelap masa lalu belum hendak melepaskan cengkramannya dari nasib Wenie.
Sebuah pesan bergambar masuk dalam ponselnya saat ia sedang mengganti pakaian kerjanya dengan baju tidur.
'Rupanya begini kelakuanmu di belakangku, sweeheart?!' tulis Pras dalam sebuah foto yang menampakkan dirinya saat makan di restoran bersama Frans.
Belum lagi Wenie sempat membalas, menyusul masuk foto berikutnya saat Frans mencium keningnya. Sepertinya foto itu dibidik beberapa meter dari sisi kiri Frans, namun tampak jelas setiap detailnya.
'Bahagiakah dirimu sekarang bersama pria idaman lain? Bisa ku pastikan hidupmu tak akan semudah itu, sayang!'
Wenie kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa Pras mendapatkan foto-fotonya bersama Frans, sementara dirinya sedang berada nun jauh ribuan kilometer di luar pulau?
Ia hanya terdiam, bingung hendak membalas apa pada Pras yang sedang mendesis marah dalam benaknya. Sebuah panggilan masuk menyadarkan keterkejutannya, ia bimbang dan cemas sekarang.
Dua panggilan pertama dilewatkan begitu saja, tapi akhirnya pada panggilan ketiga ia memberanikan diri untuk menjawabnya juga. Sudah bisa dibayangkan betapa marahnya Pras di seberang sana.
"Halo, sweetheart ..." sapa suara berat di balik telepon.
"Ha, halo Mas ..." Wenie tergagap.
"Kenapa, sayang? Kamu kaget ya, aku menelepon tiba-tiba," tebak Pras.
"Eh, aku ... gak kok, Mas," kilah Wenie gugup.
"Lantas kenapa baru sekarang kamu angkat telepon dariku? Mulai berani mengabaikanku, hm?" Pras menggeram.
"Oh bukan, bukan. Aku baru saja kembali dari toilet, jadi baru tahu kalau kamu telepon. Kamu apa kabar?" bantahnya mencoba lembut.
"Aku sedang dalam keadaan tidak baik, sayang. Foto-foto itu menyakiti perasaan dan mengganggu konsentrasi kerjaku beberapa hari ini," jawab Pras langsung.
"I, itu ... Kamu dapat foto-foto itu darimana, Mas?" suaranya tetap gugup.
"Apa itu penting, sayang? Atau mungkin kamu gak bisa menyangkal bahwa itu memang dirimu?"
Wenie terdiam beberapa saat. "Mm, itu memang aku ..." jawabnya pasrah, ia tidak pandai berbohong.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas yang jelas sekali sedang menahan gusar di seberang sana. Nyali Wenie seolah makin menciut, rasa takut menyergap hati kecilnya.
"Mas ..."
"Aku gak mau dengar alasan apapun, sweetheart! Aku peringatkan dirimu untuk menjaga jarak darinya. Aku tak sudi melihatmu bersama pria lain, apalagi itu Frans!" sergah Pras cepat.
"Tapi, Mas ..."
"Kau sudah mendengarku dengan jelas, Wen ..."
Wenie mulai bergetar. "Please. Biarin aku bebas nentuin pilihanku sendiri sekarang, Mas. Sudah tidak ada apa-apa di antara kita. Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi ..."
"Sayangnya gak semudah itu, sweetheart!" sahut Pras dalam. Ia bisa merasakan ketakutan dalam suara gadis itu. "Kamu tahu, aku gak akan pernah melepaskanmu lagi kali ini, Wen. Kamu hanya milikku seorang!"
Wenie mulai frustasi. "Sekali ini saja, Mas! Biarin aku menentukan jalan hidupku, aku gak pernah minta apa-apa darimu ..."
"Never, sweetheart! Jangan harap aku bisa mengabulkan keinginanmu!" bentaknya kesal. "Rasanya aku ingin kembali ke Jakarta malam ini juga, membawamu pergi dari sana."
"Gak, Mas!" pekiknya panik.
"Aku yang berhak menentukan di sini!" ucap pria itu egois.
"Jaga sikapmu selama aku tidak ada. Jangan sampai kau membuatku memiliki alasan untuk melakukan sesuatu yang nekat padamu, sayang!" ancam Pras, pelan namun menakutkan.
Wenie masih terdiam dan mengatur nafasnya, berusaha keras agar tidak menangis.
"Ingatlah, aku tak akan segan membuat perhitungan dengan Frans jika dirimu berani membantah kata-kataku. Dan aku tidak main-main!" lanjut Pras menekan mentalnya.
"Jangan, Mas! Jangan pernah lakukan apapun pada dokter Frans atau aku gak akan pernah maafin kamu!" jawab Wenie mencoba berani.
"Oh, so sweet sekali. Bahkan sekarang kau sedang memohon keselamatan bagi laki-laki lain, begitukah?" Pras tertawa sumbang. "Sudah ku bilang, semuanya gak akan mudah, sayang!"
"Aku gak peduli, Mas. Jangan pernah kamu menyentuhnya dengan alasan apapun! Dokter Frans tidak tahu apa-apa," ia mulai marah.
"Benarkah? Bukannya dia memang sengaja mendekati karena ingin merebutmu dariku, ya?!" tukas Pras gusar. "Oh, atau memang kamu mulai berniat menyerahkan hatimu untuknya, begitu? Kau benar-benar menguji kesabaranku. Jangan coba-coba berjudi denganku, Wenie! Kamu gak akan pernah menang," pria itu benar-benar murka.
"Aku gak pernah berjudi denganmu atau dengan nasibku, Mas. Aku cuma ingin kebebasanku, hak hidupku. Jadi, tolong jangan menekanku lagi ..." bantahnya dengan suara memohon. Ia takut memikirkan tentang Frans sekarang.
"Jadi, kamu merasa tertekan sekarang, hm? Memang sudah seharusnya begitu, sayang. Karena setiap bagian dirimu adalah milikku, baik di masa lalu maupun masa depan," ujar Pras pongah.
__ADS_1
"Gak sama sekali, Mas! Kamu gak akan pernah mendapatkan apa-apa kali ini. Aku bukan lagi Wenie yang dulu, yang bisa dengan mudah kamu bodohi!" ujarnya benci.
Pras merasa puas bisa membangkitkan amarah gadis ini, tawa sumbang menggema dari dalam dadanya. Ia semakin merasa tertantang untuk mendapatkan kembali gadis ini.
"Tertawalah jika itu bisa memuaskan gangguan dalam jiwamu, Mas!" seru Wenie sarkas, sayangnya Pras tidak terpancing.
"Jangan bicara omong kosong denganku, sweetheart! Kamu tahu seberapa mampunya aku mengendalikanmu dalam kuasaku," ujar Pras kemudian.
Wenie gemetar, hati kecilnya membenarkan hal itu. Ia membekap bibirnya agar suara tangis tak terungkap tapi gagal. Telinga Prasetyo setajam elang, mustahil bagi Wenie untuk terus mendebatnya sekarang. Ia telah kalah. Pertahanan mentalnya runtuh.
"Menangislah, sayang ... Kelak aku akan memberikan kebahagiaan kita yang tertunda akibat kesalahanku dulu, aku sudah berjanji akan menebusnya, kan? Jadi, jangan coba hentikan aku, Wen ..." cecar Pras tenang namun mengguncang.
"Gak, Mas ... Tolong jangan bicarakan itu lagi. Aku sudah benar-benar merelakanmu dengan wanita pilihanmu, bagaimanapun cacatnya diriku sekarang," bantah Wenie lirih.
Pras membuang nafas kasar. "Jangan mulai lagi, sweetheart! Aku tidak mau mendengar bantahanmu, jadi jangan mengajakku berdebat lagi!"
Wenie tak berani menjawab lagi, hatinya benar-benar sakit. Ingin rasanya ia membanting ponsel saat itu juga. Sungguh memuakkan berada dalam kelemahan penuh tekanan batin seperti saat ini.
Pras tentu saja sangat mengerti hal itu, justru inilah momen yang ia harapkan agar gadis itu bisa tetap berada dalam kendalinya.
"Aku tahu kau masih di sana, sayang ..." ujar Pras melembut. "Kamu mendengar semua perintahku dengan jelas, bukan? Jadi, jangan beri aku alasan untuk menyakitimu atau siapapun yang coba merebutmu dariku," ujar Pras tegas.
"Jangan, Mas," rintih Wenie getir, suaranya tertelan isak lirih. "Jangan lakukan itu. Beri aku waktu ... Kamu tahu, gak akan semudah itu untukku menerimamu seperti dulu, Mas. Tolong jangan mengancamku menggunakan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan ini ..."
"Oh, ya ... Siapa orang lain yang kau maksud, sayang? Dokter Frans yang tampan itu atau ada seseorang yang lain lagi," ejek menikam. Jantungnya sendiri masih menggebu oleh amarah yang mendidih.
Wenie benar-benar buntu sekarang, pria tampan yang berhati kejam itu selalu mampu mengendalikan dirinya sejak dulu. Tetes air mata sebanyak apapun takkan bisa menggoyahkan Pras pada obsesi memiliki Wenie, ia akan melakukan apapun hingga tujuannya tercapai.
"Gak, Mas. Please ..." rintihnya di balik telepon, hatinya serasa diremas.
Pras merasa sudah cukup puas menyiksa batin gadis itu. "Baiklah, sayang ... Istirahatlah. Ingat, jangan buat dirimu berada dalam kesulitan, aku selalu memantaumu dari sini," sekali lagi Pras menegaskan ucapannya.
Menit-menit terburuk itu akhirnya akan disudahi oleh Pras, Wenie sedikit bersyukur bisa bernafas lega meskipun menyisakan nyeri dalam hatinya. Ia tahu sebenarnya Pras tidak sejahat itu jika ia mau menurut, sayangnya ia memilih melawan demi masa depannya.
"Setelah ini ku harap kamu bisa menjaga diri baik-baik dari sentuhan lelaki lain. Paham?" tekan Pras lagi.
Wenie hanya bergumam lirih mengiyakan Pras, ia tidak bisa berpikir jernih karena sangat merasa lelah. Rupanya tenaga yang ia kuras seharian ini masih belum cukup sampai Pras tega mengusik ketenangan yang memaksanya meneteskan air mata.
"Selamat malam, sayang ... Tidurlah, aku memelukmu dari sini," ujar Pras dengan suara melunak.
__ADS_1
Pras menutup telepon setelah memberi sebuah kiss jauh yang tak dibalas Wenie. Namun ia tersenyum penuh kemenangan berbalut secercah dendam dalam hatinya. Ia bersiap melakukan suatu rencana licik jika sampai gadis itu mencoba melarikan diri lagi darinya.