
Detik berikutnya Pras bergegas menaiki tangga menuju kamar utama dan menatap rindu pada gadis yang masih belum sadar itu, namun ia tak ingin menyentuhnya sekarang. Ia berbalik sejenak menatap keluar jendela besar yang menunjukkan hari telah jauh malam. Kerlip lampu rumah-rumah penduduk desa dari kejauhan di tengah gelap malam seperti ini menambah ketenangan tersendiri baginya.
Perlahan Wenie mulai tersadar, ia mengerjapkan mata dan merasakan kepalanya sedikit melayang. Dengan mengumpulkan sedikit tenaganya ia berusaha bangun dari posisinya yang tengah terbaring di ranjang empuk. Dimana ini? perasaanku gak nyaman ... batinnya lemah.
Matanya memandang sekeliling dengan nanar dan nampak olehnya seorang pria bertubuh tinggi tegap sedang berdiri memunggunginya bersandar pada bingkai jendela besar. Seseorang itu sedang melempar tatapan keluar sana dan sesekali melihat ponselnya.
"Siapa kau? Di mana aku sekarang ..." ujar Wenie serak.
Si lelaki berbalik dan tersenyum manis. "Ah, syukurlah kau sudah bangun, sweetheart ..."
"Mas Pras!" Wenie memekik kaget. "Bagaimana bisa ... jadi kau yang menyuruh para berandal sialan itu membawaku ke sini?!" pekiknya kesal.
"Tepat sekali." Pras memasukkan ponsel ke saku celananya dan berjalan mendekat. "Tenanglah, sayang ... jangan khawatir. Kau sudah aman bersamaku."
"Omong kosong! Aku mau pulang, Mas ..." ujar Wenie marah, ia hendak turun dari ranjang.
"Kamu gak akan ke mana-mana, sayang ..." Pras menahan bahunya untuk bangkit.
"Lepasin aku, Mas! Biarin aku pergi ..."
"Tak akan pernah, sweetheart! Di sinilah tempatmu sekarang," sergah Pras yang kini menjulang di hadapannya. Wenie menepis lengan kekar itu dan berusaha berontak darinya.
"Jangan mimpi, Mas! Minggir, aku mau pulang ..."
Pras sedikit tersentak dengan perlawanan gadis itu. Sedetik kemudian ia menjambak rambut Wenie dan mendongakkan paksa wajahnya.
Pras menatapnya dalam kemudian mencium paksa bibir yang sedang mengaduh kesakitan. Mendapat serangan yang tiba-tiba membuat tubuh Wenie setengah tertindih, siku kanannya menumpu di belakang tubuh dengan tangan kiri yang otomatis mencengkeram kerah kemeja Pras untuk menahan agar ia tidak makin terhimpit.
Ia terus meronta tak ingin membalas ciuman laknat itu, namun tenaga Pras tentu saja lebih kuat darinya.
Semakin Wenie berontak, semakin ganas pula Pras memaksakan dirinya. Tangannya mulai bergerak liar hendak menarik lepas blus yang di kenakan Wenie. Bagai kelinci dalam terkaman harimau, perlawanan Wenie yang terasa sia-sia akhirnya perlahan mulai melemah.
Nafasnya pendek-pendek karena ia menahan air matanya mengisyaratkan agar lelaki itu menghentikan aksinya, tubuhnya terasa lelah dengan rasa sakit memukul-mukul dalam kepalanya.
Merasakan perlawanan yang mengendur di bawahnya Pras pun mengimbanginya dengan sentuhan yang lebih lembut.
Wenie mendorong dada bidang yang mengungkungnya membuat pagutan mereka terlepas. "Cukup, Mas! Hentikan ... hentikan ..." nafasnya terengah.
"Kau masih saja manis seperti dulu, sayang ..." Pras mengusap bibir Wenie dengan jempolnya, menatap dalam mata gadis pujaannya. "Membuatku semakin menginginkanmu ..."
Wenie menepis tangannya dan berpaling, ia memejamkan matanya untuk menghindari kontak mata dengan Pras. Tersirat jelas nafsu yang membara di sana, tatapan mata dan pembawaan lelaki itu selalu memancarkan aura yang sama setiap kali mereka berada sangat dekat dalam satu ruangan seperti ini.
"Sebenarnya apa maumu, Mas? Kenapa kau sampai melakukan ini ... tolong biarin aku pergi, aku mau pulang," lirihnya tertahan. Ia merebahkan tubuh sepenuhnya.
"Akulah tempatmu pulang, sayang. Dan hanya kamu yang selalu aku inginkan, seperti yang selama ini ku katakan. Tidak pernah berubah ..." jawab Pras, ia mengelus pipi mulus Wenie dengan lembut seolah ia porselen yang mudah retak.
Wenie merasakan dadanya sesak oleh rasa kesal, marah, benci, dan lemah sekaligus. Sulit melawan pria ini kecuali dengan cara melarikan diri. Namun benaknya tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
__ADS_1
Wenie hendak bangkit dari tindihan Pras yang segera dibantu olehnya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Lihat aku, sayang ..." Pras mencengkram dagu Wenie pelan. "Tak lama lagi kau akan segera resmi menjadi milikku dan kita akan memulai kehidupan baru di tempat yang baru. Jadi ku sarankan, mulai sekarang kau harus belajar melupakan kehidupan lamamu di Jakarta."
Wenie menggeleng tak percaya, air mata masih menggenang di kelopak matanya. "Gak akan semudah itu, Mas. Lagi pula kenapa kau sering bersikap arogan seperti ini? Aku gak suka!"
"Aku tidak sedang meminta pendapatmu, sayang. Kau suka atau tidak, itu bukan urusanku ..."
"Tapi ini gak adil. Kau sudah beristri dan aku gak mau menikah denganmu, apapun alasannya. Kamu cuma masa lalu aku, jangan menahan aku dengan egomu, Mas ..."
"Huh!? Apa aku belum memberi tahumu bahwa sidang perceraianku akan dimulai minggu depan. Gak akan ada alasan lagi untuk kamu pergi dariku, sweetheart. Itu yang kamu persoalkan selama ini, kan? Kau seharusnya berterimakasih padaku sekarang," ujar Pras tersulut amarah.
"Tapi ini sama sekali gak benar, Mas ..."
"Tidak ada yang salah, sayang. Kecuali kau masih coba melarikan diri lagi dariku," desis Pras mengancam. "Kau tahu aku tak pernah main-main ..."
Gadis malang itu memeluk lututnya dan mulai menangis lagi. Kali ini ia tidak ingin menahan suaranya, isakannya terdengar jelas di telinga Pras. Pria itu bangkit berdiri, mengambil ponsel dari saku celananya kemudian menelepon seseorang.
Ia nampak memerintah pelayan untuk membawakan makan malam ke kamar ini. Wenie tak mau peduli meski perutnya kini terasa agak perih karena belum makan sejak sore tadi.
Berselang beberapa menit terdengar sebuah ketukan di luar pintu kamar, Pras melangkah pergi untuk membukakannya. Seorang wanita paruh baya masuk dengan nampan besar penuh makanan di tangannya.
Terlihat oleh Wenie semangkuk besar sup daging dengan nasi putih yang masih mengepulkan uap panas, sepiring kentang goreng, beberapa iris buah, segelas susu hangat, dan air putih.
Wenie mengalihkan pandangan dengan isakan yang mulai mereda, tak ingin merasakan perutnya yang semakin lapar karena aroma lezat yang menyeruak di udara. Sang pelayan melangkah menuju meja rendah di depan sofa, ia menata semua dengan sigap dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Wenie diam tak menjawab, tidak pula hendak menyambut telapak tangan lebar yang halus itu. Ia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan simpati pria itu.
Ia sedang menimbang apakah akan menyetujui tawaran makannya sekarang atau masih harus menahan diri sebentar lagi. Tapi rupanya lambung dan usus Wenie sudah kelewat kosong hingga terdengar berkeriuk nyaring.
"Ayolah, kau tidak perlu menahan dirimu seperti itu ..." bujuk Pras lagi sambil menahan senyum.
Wenie masih saja diam merajuk. Tanpa ingin bersabar lagi Pras segera meraih gadis itu dalam dekapannya untuk dibopong menuju meja penuh makanan yang sudah menantinya.
"Aaah ... apa-apaan sih, Mas? Aku bisa jalan sendiri. Turunkan aku ..." pekiknya tertahan.
"Diamlah. Aku hanya membawamu untuk makan," bisik Pras lembut.
Wenie tak bisa memberontak lagi, salah-salah ia bisa terjatuh nanti. Pras mendudukkannya di sofa empuk itu. "Duduk dan habiskan makananmu, aku tak akan mengganggumu sekarang. Masih ada sesuatu yang harus ku selesaikan," tanpa menunggu jawaban ia cepat melangkah pergi keluar kamar.
Setelah Pras keluar dan menutup pintu, Wenie menatap nanar pada makanan yang ada di hadapannya, lapar. Liurnya seolah akan menetes jika ia tidak segera menyendok nasi dan melahapnya dengan semangkuk sup daging hangat yang nikmat.
Ia menandaskan sup, beberapa iris kentang goreng, dan meminum air putih. Perutnya sudah cukup kenyang sekarang.
Setengah jam berikutnya Pras belum juga kembali, Wenie mulai melihat-lihat sekitar kamar ini dan memperhatikan semua detailnya baik-baik, berharap akan ada celah baginya untuk melarikan diri nanti. Sekarang ia hanya perlu mencoba tetap tenang menghadapi semuanya.
.
__ADS_1
.
.
🌷🌷🌷
.
.
.
Malam itu Frans tidak bisa cepat terlelap, pencarian akan dimulai besok. Ia masih menaruh kekhawatiran yang besar pada Wenie seolah sebongkah batu besar menghimpit dadanya.
Frans sudah mencoba melacak sinyal ponselnya namun masih belum mendapatkan hasil apa-apa, ia menyesal tidak memasang GPS pada ponsel Wenie, lain kali ia akan melakukannya.
Tak sabar rasanya menunggu pagi, Frans masih berkutat dengan laptopnya mengerjakan sesuatu yang mungkin bisa membuahkan hasil. Penat mulai menguasai mata dan tubuhnya menjelang subuh hari, ia lantas menyeduh kopi hitam dan memanggang setangkup roti isi untuk menyegarkan lelahnya.
Pikirannya terus berlarian mencari dan menebak kemana lenyapnya gadis itu. Gadis manis yang belakangan menyita perhatian dan waktunya kini semakin menguras energi dan pikirannya dengan menghilang tiba-tiba. Benar-benar membuat emosi dalam dadanya tidak karuan.
Frans berharap akan ada kabar baik dari pihak kepolisian hari ini sambil ia coba merilekskan diri menikmati makanannya meski terasa hambar.
Tatkala sedang mencoba kembali fokus pada laptopnya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dengan sigap ia meraih ponsel yang terletak tak jauh dalam jangkauannya. Nama Wenie tertera di sana menimbulkan getaran kewaspadaan penuh dalam dirinya.
"Halo ..."
Hening di seberang sana.
"Halo, Wen ... Kamu di mana? Apakah kamu baik-baik saja? Jawab aku ..."
Masih senyap tiada jawaban.
"Wen.Jawab aku, berhenti main-main ..." Frans mulai sedikit gusar.
"Tut ...tut ... tut ..." lalu tiba-tiba sambungan mati begitu saja.
"What? Apa-apaan ini?!" Frans menatap ponselnya bingung bercampur kesal.
Pikirannya kini siaga penuh, ia mencoba beberapa kali menghubungi balik ponsel Wenie namun selalu di reject seseorang di sana. Meski hatinya dipenuhi kegusaran namun ia tak hilang akal, Frans mengirimkan beberapa chat padanya.
"Wen, katakan kau ada di mana sekarang? Biar aku menjemputmu ..." send.
Frans mencoba sabar menunggu hingga lima menit berikutnya namun tiada balasan meski sudah centang biru sejak detik pertama terkirim.
"Wenie. Apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu," send.
Bar status pada ponsel Frans menunjukkan ponsel gadis itu sedang online, namun ia harus menahan gemas karena chatnya tiada berbalas.
__ADS_1
"Oke. Kalau kau atau siapapun yang membaca pesan ini, tak ingin membalas pesanku, ketahuilah bahwa aku pasti akan menemukan Wenie secepat mungkin ..." send.