Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Hujan


__ADS_3

Langit mulai nampak mendung lagi sore ini, Wenie merasakan tekanan udara agak berat, mungkin akan segera hujan. Sudah beberapa hari langit Jakarta hanya diliputi awan mendung yang kemudian pergi tertiup angin tanpa sempat turun ke bumi membuat suhu terasa lembab.


Wenie dan Erie melangkah cepat saat gerimis mulai menetes. Setengah berlarian mereka menuju teras sebuah ruko yang sudah tutup untuk berteduh sebentar saat secara tiba-tiba gerimis jadi deras.


"Apes banget sih kita, Ri. Tau gini tadi gak usah buru-buru keluar mall ya?" gerutu Wenie.


"Iya, lagian kamunya saja yang pengen buru-buru pulang tadi. Memang mau kemana sih? Ada janji sama orang ..." balas Erie yang ikut basah kehujanan.


"Gak ada, sih. Cuman keinget saja sama cucian kotor numpuk, sudah empat hari belum dicuci," Wenie nyengir kuda.


"Iish, cewek jorok. Di kosanmu ada mesin cuci 'kan? Males banget sih tinggal giling doang," omel Eri komat-kamit.


"Hehee, ada sih ... Tapi 'kan tetap saja harus dikerjain, Ri ..."


"Ya iyalah harus dikerjain, masa dipelototin doang bisa kelar sendiri? Sulap kali," Eri tambah manyun.


Wenie senyum-senyum saja mendengar ocehan Eri. Ia memang sedang merasa malas akhir-akhir ini, tidak biasanya ia menunda mencuci pakaian kotor lebih dari dua hari. Selain makan tempat juga mengurangi kebersihan kamarnya. Mengesalkan rasanya saat melihat sekeranjang cucian kotor di sisi tempat tidur, karena tidak mungkin juga ia menaruhnya di kamar mandi, bisa-bisa teman kos akan meneriakinya seperti Eri tadi.


Tapi begitulah Wenie jika sudah datang kejelekannya, ia berubah jadi pemalas dan tidak pedulian, apa yang diucapkan orang lain hanya dianggap angin lalu. Sebagai temannya, Eri sudah tak heran lagi dengan sifat Wenie yang satu itu. Hanya saja Eri sering gemas sendiri meski akhirnya iapun angkat bahu menyerah.


"Sudah setengah jam nih, Wen. Kok gak berhenti juga ya hujannya? Parah banget," keluh Eri yang lelah menunggu, wajahnya jelas menahan kesal sekaligus letih.


"Iya, ya ... Mana gak bawa payung lagi? Rempong deh ah," sahut Wenie setuju.


"Aduh, sudah lapar nih ..."


"Sama."


"Huuft ..."


"Sabar sebentar lagi ya, Ri. Sudah agak reda nih, tapi kalau dipaksain jalan basah kuyup juga nanti," bujuk Wenie sembari menadahkan tangan ke udara.


"Iya, sih. Tapi kapan berhentinya ini? Sudah kruyukan nih perut ..." Eri memegang perutnya.


Wenie kemudian teringat sebatang wafer cokelat berlapis rice crispy dalam tas slempangnya. "Nih, buat kamu, Ri. Makan dulu ya, biar gak perih banget ..."


"Lah, kenapa gak bilang dari tadi?" jawab Eri yang langsung menyambarnya.


"Yaelah, bilang laparnya saja 'kan barusan. Gimana mau bilang dari tadi?" Wenie menggeleng kepala, masih senyum-senyum. Galak banget, sih kamu kalau lagi lapar, Ri.


"Iya, iya. Makasih ya, Wen. Lumayan," cengir Eri dengan wajah tak berdosa.


Tak lama kemudian dering ponsel melerai percakapan keduanya.


"Halo," Eri menjawab ponselnya.


"...."


"Iya. Belum nih, masih nunggu hujan reda."


"...."


"Di ruko pinggir jalan. Eh, gak usah. Rumahku sudah dekat sini, kok. Lagian aku bareng sama Wenie."


"...."


"Gak bawa, 'kan aku gak tahu kalau cuacanya bakal hujan gini."


"...."


"Iya, iya. Sudah dulu ya, bye," tutup Eri. Suaranya pelan, tapi terdengar sumringah.


Wenie agak penasaran lalu bertanya, " Siapa, Ri? Cengar-cengir gitu, senang banget kayaknya ..."


"Mm, itu ..."


"Itu siapa, hayo ..."


"Bukan siapa-siapa. Cuma si Anton, iseng saja dia nelpon aku," ujar Eri malu-malu.


"Ciiee ... iseng apa iseng? Tapi senang 'kan diisengin," goda Wenie.

__ADS_1


"Iish kamu, Wen. Suka nyindir, nih. Biasa saja tuh, nelepon temen boleh 'kan?" jawab Eri cuek sambil terus mengunyah wafernya.


"Boleh, boleh ... Gak ada yang larang kok, santai saja. Aku juga gak masalah," Wenie terkekeh kecil.


Eri membesarkan matanya. "Serius?"


Wenie mengangguk seraya tersenyum lebar. "Iya, serius ..."


Eri terbahak tanpa bisa ditahan, tapi Wenie malah menatap heran.


"Bercanda, Wen. Aku gak ada apa-apa kok, sama Anton, serius banget sih kamu ..."


Wenie berdecak sebal melihat tingkah Eri. Ia tahu temannya itu sedikit menaruh hati pada Anton sejak awal mereka dulu bertemu, tapi sayang Anton justru mengincar dirinya. Sekarang setelah sekian lama kesempatan itu datang malah Eri seolah tak punya rasa apa-apa. Padahal Wenie sengaja menjaga jarak dengan Anton untuk memberi peluang pada Eri.


"Tin ... tin ..." sebuah suara klakson mobil membuyarkan pikiran Wenie yang sempat melayang.


Eri menyenggol bahu Wenie yang tingginya sepantar dengannya. "Wen, si dokter ganteng tuh kayaknya."


"Hah, yang bener?" Wenie memicingkan mata melihat mobil SUV abu tua yang berhenti sekira lima meter dari mereka.


Halaman ruko cukup lebar memisahkan jarak antar mobil dan tempat mereka berdiri saat ini. Lalu jendela sisi penumpang depan turun, tampaklah wajah tampan yang mengisyaratkan mereka untuk naik.


"Hai, kalian. Ayo, masuklah," Frans memberi kode dari balik kemudi.


Wenie dan Eri saling pandang, lima detik kemudian akhirnya mereka melangkah mendekat menembus gerimis yang tersisa.


"Terimakasih, Mas. Kok, tumben sih lewat sini?" ujar Wenie setelah masuk di kursi penumpang depan dan Eri masuk di belakang.


"Iya, sengaja. Mana tahu pas kamu lagi kehujanan 'kan? Eh, betul juga," sahut Frans seraya tersenyum simpul.


"Oh, gitu .."


"Tapi kok, bisa pas banget ya?" tanya Eri memancing saat ia menyadari Wenie dan Frans sudah lebih dekat.


"Entah? Feeling saja," Frans menjawab santai sementara Wenie terus menatapnya.


"Ehem !" Eri berdeham untuk menyadarkan lamunan Wenie.


"Ada yang salah, nona?"


Namun Wenie masih terdiam tanpa berkedip.


Eri menowel bahu Wenie dari belakang. "Hei, biasa saja dong lihatnya ..."


"Eh, iya. Apa sih, Ri?" Wenie gelagapan seakan jiwanya dikembalikan paksa. Frans terkekeh.


"Kalian mau langsung pulang apa gimana, nih?" tanya Frans.


"Saya langsung pulang saja, Dok. Tolong berhenti di pertigaan sana saja ya," pinta Eri sopan.


Ia menatap Eri lewat spion. "Kenapa terburu-buru? Kamu gak mau ikut kami makan dulu sebentar?" tawar Frans pada Eri.


"Eh, makan?" tanya Wenie bingung.


"Hm, gak usah, Dok. Terimakasih. Saya makan di rumah saja. Lagi pula pengen cepat ganti baju," Eri menolak halus.


"Iya, aku juga langsung pulang saja, Mas. Takut kemalaman lagi nanti, soalnya tadi kelamaan nunggu hujan reda," Wenie menyetujui ucapan temannya.


"Maaf ya, kalau saya telat datang," ujar Frans lembut, Eri terpana mendengarnya sementara Wenie hanya tersipu.


Kemudian mobil melambat dan berhenti tepat di pertigaan yang dimaksud Eri, lalu ia pamit turun setelah mengucapkan terimakasih. Setelah Eri menghilang masuk ke gang menuju rumah kosnya, barulah Frans melajukan mobilnya kembali.


Wenie meremas tali sabuk pengaman di dadanya, ia agak cemas jika duduk bersisian dengan dokter tampan ini dan selalu saja sibuk menata debar jantungnya. Frans tentu saja menyadari hal itu namun ia mengulum senyum dalam diam.


Mereka berbincang kecil sementara Frans tetap fokus mengendarai mobilnya dan hujan sudah reda saat tiba di rumah bu Rahma. Ia berbasa-basi menawari Frans untuk mampir barang sebentar demi kesopanan.


"Mas, mau mampir dulu," ujar Wenie.


"Bolehkah?" Frans tertarik.


Wenie berpikir sejenak. "Ku rasa, ibu harus tahu kalau Mas yang mengantarku pulang malam ini."

__ADS_1


"Hm, baiklah jika kau memaksa," Frans tersenyum simpul dan segera turun mengikuti Wenie.


Tapi langkah mereka terhenti saat Frans menyadari sesuatu. "Oh ya, tapi aku gak bawa apa-apa untuk bu Rahma, Wen."


Wenie tersenyum geli. "Ya gak apa-apa, Mas. Memang ada aturannya kalau bertamu harus bawa bingkisan?"


"Ya, gak sih. Tapi kayak ada yang gak sreg saja gitu," ucap Frans beralasan.


Wenie memutar matanya. "Jadi, Mas Frans mau masuk atau gak, nih?"


"Eh, iya dong. Masa sudah sampai sini pulang lagi?" tukas Frans cepat, ia menertawakan sikap konyolnya.


Wenie terkekeh melihat tingkah Frans, lalu ia membuka pagar dan mendahului masuk.


"Assalamualaikum," ucap Wenie sambil melepas sepatu di teras.


"Wa'alaikumsallam," jawab bu Rahma dan seseorang berbarengan.


Wenie membuka pintu dan dua orang menoleh berbarengan.


"Eh, Wenie, Dokter Frans. Mari masuk," sambut bu Rahma seraya bangkit dari sofa. Ia sedang menonton tv bersama Iin rupanya.


Wenie agak terkejut. Aduh, kenapa pas ada Iin coba? Plis jaga matamu, In.


Wah, asli ganteng banget. Ini cowok yang waktu pernah nganter Wenie juga 'kan? girang Iin dalam hati.


Iin ikut bangkit menyambut Wenie dan Frans yang sudah lebih dulu menyalami ibu kos. Ia tak mau ketinggalan menjabat tangan Frans yang dibalas sekilas.


"Silahkan duduk dulu, Dok. Hujan-hujanan ya, tadi?" tanya bu Rahma ramah.


"Gak kok, Bu. Saya 'kan naik mobil," jawab Frans dengan senyum simpul.


"Oh iya, benar. Wenie, tolong buatkan teh hangat untuk Dokter Frans," titah bu Rahma.


"Biar saya saja yang buatkan, Bu ..." sambut Iin sok akrab.


"Terimakasih, gak usah repot-repot," ujar Frans.


"Gak, kok. Saya malah senang direpotin, eh ..." Iin menutup mulutnya yang kelepasan.


Frans hanya tersenyum kecil, ia beralih menatap Wenie di sisinya, menyadari bagaimana Wenie menahan diri melihat tingkah temannya.


"Ya sudah. Tolong kamu buatkan empat, In," titah bu Rahma bermaksud melerai tatapannya pada Frans.


"Tentu, Bu. Ditunggu sebentar ya, Dok," Iin tersenyum manis dan segera melesat pergi ke dapur.


Tak lama kemudian Wenie juga pamit pada ibu kos dan Frans untuk mengganti pakaian di kamarnya. Frans menatap punggungnya yang menjauh dengan penuh syukur, tak salah tadi ia memutuskan pulang dari rumah sakit melewati mall tempat gadis itu bekerja sehingga ia bisa berada di sini sekarang.


Beberapa menit berikutnya Iin muncul dengan empat cangkir teh panas dan setoples kue kering yang diambilnya dari lemari dapur.


"Silahkan diminum, Dokter, Bu ..." tawar Iin dengan suara yang dilembutkan sembari menata cangkir satu persatu di meja.


Kemudian ia duduk di seberang sang dokter agar bisa mengagumi wajahnya namun Frans hanya bercakap-cakap dengan pemilik kos. Iin sedikit merasa tak dianggap di sini, tapi ia berkeras bertahan demi melihat pemandangan indah di depannya.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya readers, baru sempat up lagi nih, tadi sore masih terhalang karena sesuatu.


Apakah Wenie cemburu sama Iin?? Trus gimana reaksi bu Rahma kalau tahu Iin juga mengincar dokter Frans? ditunggu lanjutannya ya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2