Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Kikuk


__ADS_3

Hari seolah berjalan lambat akibat suasana mall yang agak sepi dan perekonomian yang lesu membuat kejenuhan dan stress meningkat dalam diri Wenie.


Tidak betah rasanya ingin segera sore agar ia cepat pulang. Tak banyak pelanggan yang datang membuat dirinya dan sang bos banyak menganggur, demi mengusir bosan lantas ia memilih untuk menyibukkan diri menyortir pakaian berdasarkan stok yang tersisa lalu mendatanya dalam daftar belanja.


Ketika hari belum benar-benar sore si bos nampak menarik nafas jenuh melihat situasi seperti itu dan berujar, "Sudah, Wen. Kita tutup saja."


"Hah?! Seriusan nih bos? Masih tiga jam lagi lho," seru Wenie senang. Jarang-jarang 'kan bisa pulang cepat, yeay! batinnya girang.


"Iya, buruan. Ntar Uda berubah pikiran nih," kelakar si bos.


Wenie terkekeh kecil. "Oke, oke. Tunggu sebentar, aku baru selesai membuat list stok barang, Da," kemudian ia buru-buru bangkit dari duduk dan merapikan toko.


"Habis ini kamu langsung pulang apa gimana?" tanyanya ingin tahu.


Alis Wenie bertaut seperti memikirkan sesuatu. "Ya palingan langsung pulang, Da. Kenapa?" tanya Wenie balik sambil terus merapikan barang-barang.


"Gak apa-apa. Eri 'kan lagi gak masuk kerja, kirain kamu mau mampir ke kosannya."


"Oh iya, dia kenapa gak kerja sih, Da? Lagi sakit ya, kalau gitu aku tengok dia ke kosannya, deh. Uda mau nitip sesuatu?"


"Iya, katanya lagi gak enak badan. Sudah dua minggu juga dia gak libur, 'kan? Capek kali. Nanti tolong kamu beliin saja jeruk sama pir sekilo ya di toko Istana Buah," jawab si bos sambil menyerahkan uang seratus ribuan.


"Gak ada uang pas saja, Da? Nanti aku ribet mulangin kembaliannya ..." keluh Wenie malas.


"Ambil buatmu saja sisanya, anggap saja untuk biaya ongkir ..."


Langsung saja wajahnya berubah senang. "Alhamdulillah, rejeki anak solehah mah emang gak kemana," Wenie mencium uangnya girang.


"Dasar ..."


Seketika sorenya terasa cerah, Wenie senang bisa pulang lebih cepat dan dapat bonus pula, meski pun tidak seberapa tapi ia sangat bersyukur.


Tak melupakan janjinya dengan Indah, selesai mengunci rolling door lalu ia bergegas datang ke toko temannya itu.


Indah menjaga toko aneka perlengkapan ibu dan bayi. Suasana di sana selalu harum lembut khas bayi, sang pemilik toko sengaja menyemprotkan pengharum cherry blossom agar pelanggan merasa nyaman berbelanja di tokonya. Salah satu trik dagang rupanya, pikir Wenie.


"Permisi, Pak Slamet. Aku mau ketemu sama Indah," ucap Wenie sopan pada pemilik toko.


"Eh, kamu Wen. Memangnya sudah pulang jam segini?" tanya Pak Slamet.


"Iya, Pak. Uda Herman menyuruh tutup toko lebih awal," ujar Wenie dengan senyum kecil.


"Hm, begitu? Oh ya, Indah lagi ke toilet sebentar. Kamu tunggu saja di sana," Pak Slamet menunjuk bangku plastik di dekat tumpukan popok dan kosmetik bayi, tempat Indah biasa berjaga.


"Baik. Terimakasih, Pak," lalu Wenie duduk dan mengeluarkan ponselnya.


Ada pesan dari Prasetyo dua jam yang lalu, mengirim dua foto dengan latar belakang Bandara Supadio, Pontianak. Ia mengatakan bahwa dirinya telah tiba dengan selamat dan berpesan agar Wenie menjaga dirinya baik-baik. Cih, memangnya kau siapaku? Wenie kesal namun tak ingin membalasnya.


"Hai, Wen."


"Halo juga, Ndah. Lama banget deh, aku tungguin juga dari tadi ..."


"Ceilaah ... baru juga duduk kamu, Wen. Orang aku cuma lima menit ke toilet," gerutu Indah sambil manyun.


Wenie mengulum senyum. "Hehee, bercanda. Serius amat sih ..."


"Huu ... dasar. Eh, kamu kok ada di sini? Tumben banget, masih siang begini."


"Lho, emang kenapa, gak boleh ya?"


"Boleh sih. Cuma tumben saja, biasanya aku chat dulu baru nongol ..."

__ADS_1


"Iya nih. Habis Uda Her nyuruh tutup cepat, jadi aku bisa pulang kayak biasa sore ini. Lagi sepi ..." keluhnya lirih.


"Sama, di sini juga. Tapi Pak Slamet gak bakal nyuruh tutup cepat kayak bos kamu," bisik Indah hati-hati. "Tetap saja pulang malam kayak biasa," keluhnya sambil mendecih pelan.


"Yah, terus gimana dong ..."


Indah tak punya pilihan. "Ya sudah, kalau kamu mau pulang duluan gak apa-apa."


"Beneran? Lagian aku disuruh sama si Uda buat beliin buah untuk Eri, Ndah ..."


"Iya, gak apa-apa," ujar Indah kalem.


Wenie agak tidak enak hati. "Sorry banget ya, kita gak jadi pulang bareng ..."


"Iya, lain kali 'kan bisa. Kamu hati-hati di jalan, Wen."


"Makasih, Ndah. Aku tinggal ya," ujar Wenie. " Pak, saya pamit pulang duluan. Permisi ..."


"Monggo ... hati-hati di jalan ya, Wen."


"Baik, Pak ..." Wenie menganggukkan kepalanya sebelum berlalu.


Kemudian ia pergi dari sana dan keluar gedung lewat pintu samping, ia mau ke pasar tradisional dulu untuk membeli dua macam buah seperti pesan bosnya di deretan kios buah dengan bagian penjual sayur di belakangnya.


Setelah memilih buah dan membelinya masing-masing sebanyak satu kilogram, Wenie mengantongi uang kembaliannya lalu segera pergi ke rumah Eri.


Di tengah jalan ia mampir ke penjual seblak langganan, memesan satu porsi seblak ceker level sepuluh untuk dirinya. Kemudian beranjak ke kios sebelahnya untuk memesan satu kebab medium yang tidak pedas untuk Eri.


Sambil menunggu makanan pesanannya selesai dibuat, Wenie mengeluarkan ponsel dan mengirim chat pada Eri.


'Ri, kamu ada di rumah, kan?'


Balasan masuk lima detik kemudian, 'Iya, aku ada di rumah kok, Wen. Kenapa?'


'Ok, datang saja. Aku tunggu. Kamu tahu jalan ke rumahku, 'kan ...'


'Hahaa, tahu dong. Siapa sih, yang gak tahu rumah Eri Muslimah?'


'Entah? Ya kali saja kamu nyasar, wkwkwkwkk ...'


'Ntar aku tanya mbah gugel kalau emang nyasar," balas Wenie disertai ikon tawa lebar.


Tak sampai lima belas menit kedua makanan pesanannya selesai dibungkus, hampir berbarengan dan ia lekas berlalu setelah membayar.


Dengan bersenandung kecil Wenie menyusuri trotoar seperti yang biasa ia lakukan bersama Eri saat pulang kerja malam hari, bedanya saat ini matahari sore masih nampak sehingga ia bisa menikmati sinarnya.


Namun saat tiba di mulut gang langkahnya terhenti oleh sebuah motor sport merah yang hendak lewat, ia minggir sedikit.


"Eh, Anton ..." Wenie menyadari orang dibalik helm dengan motor yang tidak asing.


"Hai, Wen," Anton nampak kikuk, ia membuka helmnya dan tersenyum simpul.


"Kamu apa kabar?" tanya Wenie ceria.


Anton sedikit merasa lebih santai. "Kabar baik, kamu sendiri gimana dan mau kemana?" pria bertubuh jangkung itu bertanya balik.


"Aku juga baik. Oia, aku mau ke kosan Eri. Kamu habis dari sana ya?" Wenie menyadari arah munculnya Anton.


"Eh, iya Wen. Itu juga aku cuma kebetulan lewat sini, jadi mampir saja sebentar. Soalnya tadi aku sempat lihat di story nya, dia bilang lagi sakit," ujar Anton menjelaskan.


Wenie menganggukkan kepala. "Oh begitu, terus kenapa terburu-buru? Aku saja baru mau datang nih ..."

__ADS_1


"Ah, gak enak aku kalau lama-lama. Ya sudah kalau kamu mau ke sana, Wen. Mau aku antar?"


"Eh, gak usah. Orang sudah dekat, kok. Kayak aku gak tahu rumah dia saja. Ya sudah, Ton, aku pergi dulu."


"Iya, Wen. Aku jalan ya ..."


"Bye," lambai Wenie.


Wenie melangkahkan kakinya lagi ke tujuan awal, berjarak sekitar lima rumah dari tempatnya barusan.


Ternyata Eri sudah menunggunya di teras, ia duduk meleseh dengan sepiring kacang kulit dan dua botol soft drink yang tersisa separuh setiap botolnya, bekas Anton tadi rupanya.


"Assalamualaikum, Erii ..." Wenie berlari kecil melebarkan tangan seolah tahunan tak jumpa.


"Wa'allaikumsalam, Wenie," merekapun berpelukan macam Teletubbies.


"Kamu sudah sehat?" Wenie melerai pelukan, memandang Eri cermat.


"Lah, memang siapa bilang aku sakit?" jawab Eri bingung.


"Status kamu ..."


"Aku cuma bilang butuh istirahat, kok. Bukan berarti sakit," kilah Eri.


"Orang tadi si bos saja bilang gitu kok sama aku."


"Hahaa, kalau sama bos memang aku bilang lagi gak enak badan," Eri mengakui, wajahnya penuh senyum tanpa dosa.


"Haaaeh, pantesan ... menang banyak kamu. Nih, dari si bos ..."


"Hehee, makasih Wenie cayang ... Yuk ah, duduk dulu."


Wenie memutar mata mendengar gurauan Eri. "Preeet ..."


Eri hanya terkekeh kecil lalu menarik Wenie untuk duduk, sedetik kemudian ia masuk ke dalam mengambil sebotol minuman ringan lagi buat Wenie dan tak lupa membawa sebuah pisau kecil untuk mengupas buah.


"Wait, wait ... Ngapain kamu bawa-bawa pisau, Ri?!" seru Wenie setengah kaget.


"Mau ngupas pir lah, apa lagi?" sahut Eri dengan wajah polos.


"Hish, bikin ngeri saja. Dicuci terus makan, ngapain dikupas ..."


"Ogah, kulitnya pahit," balas Eri sambil terus mengupas.


Wenie angkat bahu saja mendengar jawaban temannya sambil mengunyah kacang kulit sisa Anton tadi.


"Oh ya, Ri. Tadi aku ketemu Anton lho, waktu baru masuk gang. Dia habis jenguk kamu ya? Ciiee ..."


Tersentak, Eri hampir saja menggigit lidahnya sendiri saat menyuap potongan pir. "Aaish, apaan sih ... Dia gak sengaja mampir kok, Wen. Tadi habis anter barang ke rumah customer di dekat sini, terus mampir, gitu."


"Yah, awalnya sih bilang gak sengaja, Ri. Tapi ntar lama-lama sengaja datang deh, mau ngapel. Hihii ..."


"Yee, kalau iya emangnya kenapa? Kamu cemburu ya, hayo ngaku ..."


"Iih, enggak kok ... Aku biasa saja, baperan deh kamu, Ri," Wenie melengos malu, merasa tak enak hati sudah menanyakan soal Anton malah 'disentil' balik oleh Eri.


"Santai saja, Wen. Aku sama dia cuma temenan saja, kok."


"Lebih juga gak apa-apa kali, Ri," Wenie tertawa garing.


"Hahaa, suka gitu ah ..." ujar Eri menertawainya.

__ADS_1


Sebenernya agak nyebelin juga sih, kalau orang yang tadinya ngejar-ngejar kita tiba-tiba malah jadi dekat sama teman sendiri, batin Wenie.


Wen, Wen ... Kemaren waktu dia ngejar kamu sampe nembak berkali-kali, kamunya gak peduli, sekarang kok kayak gak suka gitu Anton main ke sini. Padahal aku juga gak ada rasa kok sama dia, pikir Eri saat merasakan senyum kikuk Wenie.


__ADS_2