Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
I Hate Monday


__ADS_3

Hari Senin yang cerah.


Wenie bangun tidur pagi ini dengan perasaan bahagia, senyum sumringah menghiasi bibir manisnya. Rasanya kejadian malam tadi benar-benar menjadi mood boosternya hari ini.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, ia segera turun membantu bu Rahma dan Maria yang sudah sibuk di dapur lebih dulu untuk menyiapkan sarapan pagi bagi semua anak-anak kos.


"Selamat pagi, Ibu, Maria. Sudah mau selesai ya masaknya? Maaf, aku telat turun," sapa Wenie dengan rasa sedikit bersalah.


"Pagi juga, Wen," jawab Maria yang sedang menggoreng chicken nugget.


"Gak apa-apa, sayang. Kamu tolong bantuin taruh ini saja ke meja ya," titah Bu Rahma sambil menyorongkan wadah sayur pada Wenie.


"Baik, Bu ..." lalu dengan cekatan Wenie segera membantu menyiapkan makanan dalam wadah saji dan menatanya di meja makan.


"Aduh, senang banget kayaknya kamu hari ini, Wen. Sehat?" gurau Iin saat baru turun dari tangga kala melihat wajah cerah Wenie.


"Sehat banget dong ... Kamu gimana, In?" Wenie menoleh sekilas dengan senyum simpul.


"Ciiee ... yang semalam diantar cowok ganteng. Senyumnya ngalahin donat JCo, manis," seru Winona menimpali, rupanya ia baru turun juga bersama Anastasia di sisinya.


"Iya, ya. Manis banget, tumben. Pakai gula apa sih Wenie hari ini?" gurau Anastasia nimbrung.


"Gula cinta ..." sahut Iin dengan nada lebay.


"Suit, suit ... Gak nyangka ya, Wenie diam-diam tahunya dapat gebetan kece badai. Kenalin dong," goda Winona lagi.


"Hooh, bagi-bagi kek. Dia mah gitu sih kalau ada yang caem, lupa deh sama teman," gerutu Iin.


"Haha ... Iin pasti kesel tuh, cowoknya pada jauh," ujar Winona usil. "Makanya gak usah sok LDR-an, ngelihat teman punya cowok mupeng 'kan jadinya ..."


Iin hanya mencebikkan bibir tak peduli. "Belum juga yang duluan dikenalin sama aku, sudah ada lagi yang baru," ocehnya berlanjut.


"Alaa ... kamu, In. Pacarmu 'kan, sudah dua. Masih kurang?" ledek Anastasia sarkas.


"Yee ... terus kenapa, emang masalah buat lo??" Iin pura-pura sewot.


"Ya gak sih. Masalahnya buat lo saja, gak usah bagi-bagi," Anas terkekeh geli.


"Huu ... asem lo," gerutunya dengan bibir manyun.


Wenie hanya senyum-senyum saja tanpa menanggapi serius gurauan teman-temannya. Apalagi bu Rahma juga tidak ambil pusing dengan suasana riuh pagi ini.


Ia senang jika rumahnya ramai dengan suara canda tawa para gadis, sebab jika sudah beranjak siang situasi akan kembali hening seolah rumah ini tiada penghuninya.


Begitulah kehidupan para kawula muda yang selalu sibuk beraktifitas di luaran dengan segudang kegiatan.


"Huush, sudah, sudah ... Ayo, kita makan dulu. Nanti baru diteruskan lagi ngobrolnya," ujar bu Rahma akhirnya menengahi keributan receh mereka.


"Iya. Kuy ah, makan dulu. Sudah lapar nih," celetuk Winona sambil menatap berselera pada hidangan pagi ini.


"Kelihatannya enak," ujar Anastasia.


"Pasti, siapa dulu dong yang masak?" sahut Iin.


"Siapa coba?" tanya Winona.


"Siapa ya?" tanya Anastasia latah.


"Bukan aku dong!" sahut Iin cuek.


"Iiish ... nyebelin," gerutu Winona dengan senyum kesal.

__ADS_1


"Ya kali, Iin mau jalan-jalan ke dapur dari pagi buta? Hujan petir deh ntar siang," seru Maria saat muncul dari dapur membawa wadah berisi lalapan.


Kembali riuh rendah tawa para gadis yang menggema saling melempar lelucon yang kadang terdengar sarkastis. Bu Rahma hanya bisa geleng kepala sambil menahan senyum, tak berniat menimpali.


Setelah sarapan pagi usai, mereka yang tadi tidak ikut memasak, seperti biasa berbagi tugas untuk membenahi meja makan dan mencuci piring di dapur. Ibu kos pun terkadang masih turun tangan membantu pekerjaan agar bersih sempurna.


"Ibu, Wenie pamit berangkat kerja dulu," ia mencium tangan bu Rahma. "Gengs, aku duluan ya. Assalamualaikum," ia melambaikan tangan pada teman-temannya.


"Wa'alaikumsalam," sahut mereka semua berbarengan.


"Hati-hati, Wen," ujar bu Rahma.


"Iya, Bu. Bye ..." ia mengacungkan jempol lalu melambai lagi sekilas sebelum keluar rumah.


Ia berjalan kaki lewat gang kecil yang berjarak empat rumah dari tempat kosnya, hendak memotong jalan agar lebih cepat sampai di jalan besar tempatnya biasa menunggu angkot.


Tepat sebelum berbelok di ujung gang ada sebuah pesan WhatsApp dari Eri masuk, kemudian ia fokus membalas tanpa melihat jalan di depannya.


'BRUUGH'


"Aduh, maaf. Saya gak me—" kata-katanya menggantung saat menatap siapa yang ditabraknya. "Mas Pras!"


"Hai, sweetheart!" Prasetyo menyunggingkan senyum menawannya.


"Kamu lagi ngapain pagi-pagi di sini, Mas. Gak ngantor?" tanya Wenie mencoba tidak grogi, matanya menyelidik curiga.


"Sengaja lagi nungguin kamu," jawab Prasetyo sok manis seraya mendekat.


Wenie sedikit menjaga jarak. "Oh, terus?"


"Ayo, ku antar kamu berangkat kerja. Kita searah."


"Eh, gak usah, Mas. Aku naik angkot saja, itu dia angkotnya sudah dekat."


"Hah?! Jangan bercanda kamu, Mas. Gak lucu ah," Wenie jadi kikuk.


"Terserah kamu saja ..." ujar Prasetyo cuek seraya melangkah menuju mobil yang terparkir di tepi jalan.


Seketika moodnya berubah dan dengan hati kesal akhirnya Wenie mengikuti Prasetyo, benar-benar tidak bisa didebat jika pria itu sudah punya kemauan.


Wenie benci bila harus tunduk tanpa pilihan seperti ini. Namun lagi-lagi ia hanya bisa menurut pasrah demi menghindari kesialan yang lebih besar.


"Tunggu, Mas," panggil Wenie sambil memaksakan diri untuk menyusul Prasetyo. "Kamu janji ya, cuma ngantar aku saja?"


Prasetyo membuka pintu depan sebelah kiri. "Masuklah," perintahnya tanpa ingin menjawab.


Wenie pun masuk dan duduk di sebelah Pras, tak lama kemudian mobil melaju lambat membelah jalanan yang ramai kendaraan berlalu-lalang. Mereka terdiam sampai mobil memasuki halaman parkir di bagian belakang gedung.


"Terimakasih sudah mengantar," kata Wenie saat mobil berhenti, tangannya hendak meraih handle.


"Tunggu, Wen," Prasetyo menahannya.


"Ya?" Wenie menunggu.


Raut wajah pria itu sedikit tak nyaman. "Aku akan berangkat dinas ke Kalimantan siang ini," ujar Prasetyo tak bersemangat.


"Ke Kalimantan?"


"Iya. Cuma tiga bulan kok, aku mengawasi proyek di sana. Habis itu aku balik lagi ke sini."


Mendengar itu Wenie tersenyum, merasa sedikit lega dalam hatinya. "Hm, kalau begitu hati-hati di jalan, Mas."

__ADS_1


"Iya, sayang," jawab Prasetyo menatap lembut. "Tapi ingat, kamu jangan macam-macam kalau aku gak ada! Aku selalu mengawasi kamu, lho."


Deg!!


Wenie langsung terdiam, jantungnya serasa mencelos seperti jatuh dari ketinggian padahal baru saja ia senang bebas dari masalah. Kelopak matanya bergetar menahan rasa kecewa dan khawatir.


"Kamu dengar, sweetheart?" desaknya tak sabar.


Wenie menahan nafas. "Iya, Mas."


"Bagus, kalau gitu aku bisa berangkat dengan tenang."


Wenie mengalihkan pandang, hendak menekan handle pintu. "Ya sudah. Aku turun dulu, Mas. Hampir terlambat ..."


Tapi Prasetyo menyentuh tangan Wenie bermaksud menahannya sebentar lagi, lalu ia mengambil sebuah kartu kredit unlimited dari balik jas dan memberikannya pada Wenie.


"Ambillah, gunakan untuk membeli semua kebutuhanmu selama aku pergi," ujarnya lembut.


Wenie menatap ragu. "Maaf, Mas ... rasanya aku gak pantas menerima ini, aku sudah kerja," tolak Wenie lirih takut Prasetyo tersinggung.


"Kamu tahu aku tidak suka ditolak. Ayo ambil," wajah Prasetyo mengeras.


Wenie menggeleng. "Aku gak mau, Mas."


"Aku memaksa," tekannya. "Kau tidak diizinkan menolak."


Wenie merasa kecut, pria itu selalu coba mendominasi hidupnya dengan cara apa pun. Dengan berat hati ia mengulurkan tangan hendak meraih kartu itu, berharap bisa segera pergi dari sana secepatnya.


Namun baru saja tangannya terulur dengan cepat Prasetyo menariknya dan mendaratkan ciuman di bibir Wenie, melu'matnya sebentar. Wenie yang terkejut tidak sempat lagi menghindar.


Ia mendorong dada Pras sebelum semuanya makin gawat. "Uhm ... Mas, hentikan!" desisnya terengah, ia gelagapan kehabisan nafas.


Prasetyo menyeringai penuh kemenangan melihat bibir Wenie telah memerah basah dan sedikit membengkak dengan nafas yang tersengal.


"Maaf, sweetheart. Tapi salahmu sendiri kenapa selalu nampak menggairahkan di mataku ..."


Wajah Wenie terkesiap ketika mendengar suara penuh hasrat yang terucap dari bibir lelaki itu, namun amarah terlanjur menyembul dalam hatinya yang merasa kecolongan. "Kebiasaan banget kamu kayak gini, Mas! Ngeselin ..."


Prasetyo menahan senyum gelinya. "Tunggu, sayang. Kamu gak usah kerja ya, hari ini? Aku masih kangen," ujarnya dengan wajah merayu.


"Gak bisa, Mas! Aku gak kayak kamu yang bebas keluar masuk kantor semaunya," Wenie menepis tangan Prasetyo dengan kesal.


Lalu ia segera turun dengan tergesa sambil membanting pintu mobil, pria itu hanya menatapnya dengan wajah yang tersenyum bahagia karena berhasil mencuri ciuman dari mantan kekasih yang selalu dirindukannya.


Tak menunggu lama Prasetyo lantas memundurkan mobil dan segera keluar parkiran, pergi dari sana setelah Wenie dipastikan masuk ke dalam mall.


Giliran Wenie yang berjalan menuju tokonya dengan langkah menghentak, merasa kesal bercampur malu bersamaan. Tak ada lagi senyum sapa yang terucap dari bibirnya seperti biasa saat berjumpa dengan teman-teman sesama karyawan toko.


"Heh, kesambet kamu ya, Wen?" tegur Indah tetangga tokonya. "Tumben diam saja ..."


"Gak, Ndah. Cuma lagi males," sahut Wenie pelan, ia sibuk membuka tokonya sendirian tanpa Eri yang sedang mengambil cuti hari ini.


"Nanti sore pulang bareng sama aku ya," tawar Indah.


"Boleh. Nanti kalau kamu sudah nutup, chat aku saja ya," Wenie mencoba tersenyum meski pun masih enggan.


"Sip. Nanti aku chat kamu," ujar Indah menyudahi.


Lantas Wenie berbalik dan mulai merapikan seluruh barang di etalase dan pakaian yang tergantung seperti biasa. Ia menghela nafas berat, hari ini bakal makin tidak semangat karena Eri libur jadi tak ada temannya untuk curhat.


Menjaga toko hanya berdua dengan sang bos bukanlah sesuatu yang menyenangkan baginya karena si bos selalu terkesan cuek, sehingga ia agak canggung untuk bersikap santai.

__ADS_1


Ah, aku merindukanmu, Eri. Betapa menyebalkannya hari Senin.


__ADS_2