Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Pembebasan


__ADS_3

Frans selesai mengoperasi pasien daruratnya saat hari sudah menunjukkan pukul delapan malam kurang lima belas menit. Masih ada waktu, pikirnya. Lalu ia mendial nomor ponsel Wenie, tapi belum lagi panggilannya terhubung tiba-tiba ia menyadari bahwa sebelumnya ponsel gadis itu sudah rusak parah.


Maka tanpa membuang waktu lagi ia segera mencari kunci mobilnya dalam laci meja kerja dan segera pergi dari rumah sakit. Perjalanan akan memakan waktu tiga puluh menit dengan kecepatannya saat ini.


Ketika tiba di rumah kos Wenie, Frans tidak langsung keluar dari mobil. Sepertinya tuan rumah sedang banyak tamu malam ini dan sebelum turun ia sedikit menilai penampilannya. Masih cukup rapi meskipun belum mandi sore. Astaga, ia bahkan melupakan hal sepenting itu dari tadi. Tapi, ya sudahlah ...


Pria itu melangkahkan kaki dengan percaya diri dan memberi salam tanpa ragu. Lalu, tanpa bisa dicegah lagi semua mata menoleh padanya, rupanya mereka hanya teman-teman kos Wenie yang sedang berkumpul menyambut kepulangan gadis itu siang tadi.


"Dokter Frans ... silahkan masuk!" seru bu Rahma riang.


Frans tersenyum kecil di ambang pintu menunggu tuan rumah mendekat untuk menyalaminya. Ia tidak berniat masuk sekarang, karena di dalam ruangan itu penuh dengan para gadis yang berwajah penasaran.


"Tidak apa, saya di sini saja ..." ujarnya setelah berhadapan dengan tuan rumah. "Sepertinya saya tidak melihat Wenie, Bu?" tatapannya mencari-cari.


Bu Rahma tersenyum simpul. "Hm, dia sedang ke dapur sebentar untuk mengambil camilan. Kebetulan sekali anda datang, mari duduk di dalam, Dok," ajaknya ramah.


"Ya terimakasih, Bu. Saya akan menunggu Wenie di sini saja ..." tolaknya sekali lagi dengan sopan.


Bu Rahma mengerti, ia tidak ingin memaksa tamunya. "Oh, baiklah ... kalau begitu silahkan duduk dulu, Dok. Sebentar saya panggilkan Wenie," ujarnya sembari menunjuk satu set kursi teras.


Frans mengangguk kecil, lalu ia duduk sendiri di sana. Tidak menghiraukan para gadis di dalam yang sibuk berbisik-bisik membicarakan dirinya. Beberapa menit kemudian Wenie muncul dengan dua gelas sirup dingin dan sepiring cookies.


"Mas, sudah dari tadi?" sapa Wenie dengan seulas senyum. Ia meletakkan bawaannya di tas meja kopi lalu duduk di seberang Frans.


Pria itu melihat jam di pergelangan lengan kirinya. "Belum satu jam ..." gurau Frans.


Wenie terkekeh pelan lalu mendudukkan dirinya di seberang kursi Frans. "Ah, bisa saja. Silahkan diminum dulu ..."


"Sebenarnya tadi aku ke sini itu mau mengajakmu keluar," ujar Frans langsung. "Tapi sepertinya ..."


Wenie tertegun sejenak. "Semua teman-teman kos ku sedang kumpul, Mas. Gak enak kalau aku tinggal pergi," sahutnya agak lesu.


"Iya, Mas tahu ..." Frans menatap lembut. "Kalau begitu besok kita keluar makan siang. Nanti ku jemput, gimana?"


"Hm, gimana ya?"


Frans tidak sabar. "Ayolah, mau ya ..."


Wenie memutar mata seolah berpikir, Frans menatap gemas. "Hm, baiklah jika Mas memaksa ..."


"Bagus! Itu baru gadisku ..." Frans spontan menowel dagunya senang. "Gitu saja kok, lama ..."


"Iih, apaan sih, Mas ..." Wenie terlambat mengelak dari sentuhan jahil Frans, kini ia merasakan pipinya menegang karena malu.


Pria itu selalu saja bertindak spontan sehingga membuat Wenie seringkali merasa salah tingkah, tapi justru Frans sangat menikmati semua itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Tak terasa waktu sudah mendekati pukul setengah sepuluh malam. Frans meregangkan tubuhnya sejenak, Wenie menatap penuh kagum. Tubuh yang atletis berbalut kemeja putih bersih dengan lengan tergulung itu nampak seksi di matanya.


"Capek, Mas?"


Frans menoleh dengan senyum manisnya. "Tidak juga, hanya sedikit kaku karena dari tadi duduk saja ..."

__ADS_1


"Hm, maaf ya ..." gadis itu agak merasa bersalah.


"Untuk apa?"


Wenie mengangkat bahu. "Karena tidak jadi pergi keluar mungkin?"


Frans menipiskan bibir. "Sebenarnya kau harus mengganti malam ini dengan makan siang besok," ucapnya santai. "Ingat, kamu sudah janji, lho ..." imbuhnya cepat.


Refleks Wenie mengatupkan bibirnya kembali, baru saja ia hendak menyangkal tapi rupanya Frans sangat tanggap. Dengan senyum kesal akhirnya ia menyerah diskak mat pria tampan ini.


"Oke, oke ... aku akan pergi denganmu," ujar Wenie pasrah.


Frans tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu Mas pulang dulu ya, kamu istirahat. Jangan begadang ..." ia lantas bangkit dari duduk dan mencubit kecil pipi Wenie.


"Aaww, sakit ..." gadis itu pura-pura meringis sambil mengelus pipinya


Frans melangkah mendekat, kemudian mencondongkan tubuh pada Wenie yang masih duduk di kursi. Ia mengecup pipi gadis itu sekejap mata.


"Masih sakit?" tanya Frans sambil menahan senyum.


Wenie mematung, otaknya seolah mendadak lumpuh karena mendapat serangan tiba-tiba dan sialnya tubuh kecilnya juga seakan tidak menolak sedikitpun.


"Hei!" Frans menjentikkan jari di depan wajahnya. "Kau baik-baik saja?"


Wenie tergagap. "Eh iya, Mas ..." ia tersipu malu. "Mas senang banget ngagetin orang iih ..."


Frans tersenyum lebar melihatnya, sepertinya gadis di hadapannya mudah sekali tersipu meskipun ia tahu Wenie tidak sepolos itu.


Setelah pamit pada ibu kos dan teman-teman Wenie, Frans segera beranjak pulang. Seperti biasa Wenie mengantarnya hingga pintu gerbang dan masih berdiri di luar pagar sampai mobil Frans hilang dari pandangan.


"Masuklah, sayang. Ini sudah malam ..." panggil bu Rahma dari depan pintu rumah.


Wenie menoleh dan segera masuk lalu mengunci pintu pagar. "Iya, Bu. Sebentar ..."


Ruang tamu nampak sepi dan sudah dirapikan, tidak ada lagi bekas makanan yang berantakan seperti saat mereka sedang berkumpul tadi. Sepertinya teman-teman Wenie sudah masuk kamar masing-masing.


"Jangan tidur terlalu larut ya, Wen," ujar bu Rahma. "Kau masih perlu istirahat."


Wenie mengangguk patuh. "Iya, Bu. Wenie mau tidur sekarang." Tapi langkahnya berhenti di tengah tangga. "Bu, besok siang aku boleh izin pergi sebentar?"


"Kemana?"


"Entah, Bu? Mas Frans mau ngajak makan siang ..." sahut Wenie hati-hati.


Bu Rahma tersenyum simpul. "Boleh. Yang penting kamu pandai membawa diri, ya. Hati-hati," pesannya.


Wenie tersenyum lebar. "Tentu. Makasih, Bu ... sekarang Wenie tidur dulu ya," pamitnya riang.


Bu Rahma mengangguk kecil seraya menatap kepergian anak kosnya yang satu itu. Begitu banyak hal yang sudah terjadi padanya dalam beberapa waktu terakhir. Dan tentu saja hal itu mengusik naluri keibuannya untuk selalu siap melindungi setiap anak gadis yang tinggal di rumahnya, mungkin itu juga bagian dari resiko pemilik kos?


💐💐💐

__ADS_1


Hari penebusan Prasetyo pun berlangsung lancar dan tanpa banyak drama yang berarti, ia bersama Rafael dan seorang penasehat hukum keluar polsek dengan hati lega. Namun tentunya dalam benak Prasetyo tidak semudah itu ia merasa puas, meskipun nampak tenang tapi gestur tubuhnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia sedang sangat gusar karena sesuatu.


Rafael mencoba acuh saja dan tetap fokus mengemudikan mobilnya menuju hotel di mana istrinya berada. Ya, sang adik sepupu berniat mengajak Prasetyo beristirahat sejenak sebelum kembali ke Jakarta. Tentu pak Wiryo, sang penasehat hukum, setuju-setuju saja dengan ide itu.


"Pesanlah sesuatu, Kak. Aku akan menelepon istriku dulu," ujar Rafael pada Prasetyo. "Bapak juga silahkan pesan, jangan sungkan ..." sambungnya pada pak Wiryo.


Pria setengah baya itu mengangguk sopan. "Terimakasih Pak Rafael ..." lalu ia memesan secangkir kopi hitam dan beberapa kue pada pelayan yang mencatat pesanan.


Sedangkan Prasetyo masih belum ingin memesan apa pun, tapi akhirnya ia meminta air putih dingin untuk meredakan tekanan darahnya yang dirasa masih tinggi. Pelayan segera kembali dengan pesanan mereka yang dibawa dalam nampan stainles mengkilat.


"Fael ..." panggil Prasetyo. "Apa kau tahu dimana Wenie sekarang?"


Rafael tampak menimbang sejenak. "Ia berada ditempat yang aman. Kau tenang saja, Kak ..."


Prasetyo nampak tidak senang. "Tempat yang aman? Katakan dengan jelas, jangan mempermainkan ku ..."


"Ck, kau ini pemarah sekali. Dia sudah aman berada di rumah kosnya, puas?" ujar Rafael agak sarkas. "Lupakan dia sejenak, Kak. Istirahatkan dulu tubuh dan pikiranmu itu supaya permasalahan ini segera selesai," Rafael tidak mempedulikan tatapan tajam Prasetyo padanya.


Prasetyo menyandarkan punggung ke sofa sembari memijat pelipisnya pelan, wajahnya penuh ketegangan. Ia menghembuskan nafas kasar mengingat semua kejadian hari-hari kemarin yang sangat mengesalkan. Seandainya saja waktu itu ia berhasil membawa Wenie keluar kota, mungkin ceritanya akan lain. Ia tidak mungkin berakhir bermalam di sel yang suram itu.


Meskipun cuma semalam tapi itu cukup melukai egonya sebagai lelaki. Ia merasa telah dikalahkan oleh Frans yang notabene adalah dokter yang dulu pernah merawat istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri. Ia sungguh-sungguh ingin segera melepas status 'suami' yang saat ini disandangnya.


Berbagai rencana jahat berkeliaran dalam benaknya. Tapi ia masih harus bersabar sebentar lagi sambil menunggu saat yang tepat.


"Sayang, kau sudah datang?" seorang wanita memanggil Rafael, tapi secara otomatis Prasetyo ikut menoleh.


Betapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa tidak hanya adik iparnya yang sedang menuju ke arah mereka, melainkan juga bersama Istianti Maheswari, sang istri.


"Iya, sayang. Kemarilah ..." Rafael tetap duduk sambil merentangkan tangan.


Beiby mengangguk sopan pada pak Wiryo kemudian duduk di sisi Rafael, diikuti Isti pada sisi sofa yang lain. "Apa kabar Mas Pras?" sapanya dengan senyum ramah.


Prasetyo memutar mata enggan. "Seperti yang kau lihat," ia tidak sungguh-sungguh menjawab pertanyaannya.


Beiby tersenyum sekilas tak peduli reaksi Prasetyo, baginya ia hanya berbasa-basi saja dan tidak penting balasannya seperti apa. Ia membisikkan sesuatu di telinga suaminya yang lantas pria itu berdiri untuk berpamitan.


"Kak, aku ada sedikit urusan. Ku tinggal sebentar tidak apa kan?" tanya Rafael hati-hati.


Prasetyo mendelik tidak suka, namun dianggukinya juga permintaan Rafael. "Berikan kunci kamarku ..." ujarnya dengan nada tidak ingin dibantah.


"Ini ..." Rafael menyerah sebuah kartu pass. "Kamarku tepat di sebelah kamarmu."


"Hm ..."


Kemudian Rafael berpamitan pada pak Wiryo dan segera beranjak dari sana meninggalkan mereka bertiga. Tak lama pak Wiryo pun beralasan ingin pergi ke toilet yang mana membuat Prasetyo makin jengkel. Kini ia hanya berdua dengan Isti yang masih terdiam sejak datang tadi.


Lalu, Prasetyo bangkit dari duduknya. "Kita perlu bicara, ikutlah denganku ..." nadanya kaku.


"Ya ..." jawabnya lirih. Selebihnya ia banyak diam dan mengikuti kemana suaminya melangkah.


Prasetyo menaiki lift yang menuju kamarnya di lantai tiga hotel ini dan berjalan dengan tenang, auranya nampak mencekam. Isti tidak ingin banyak bicara sekarang meskipun hatinya juga diliputi amarah mengetahui keputusan Prasetyo yang hendak menceraikannya demi kekasih masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2