Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Surat Undangan


__ADS_3

Awan mendung menaungi langit pagi ini ditingkahi rintik gerimis yang membuat suasana makin syahdu, momen yang tepat untuk sebagian orang bermalas-malasan.


Begitupun Wenie, dengan santai ia meraih ponsel di sisi bantal untuk mematikan alarm yang berdering tepat pukul 05.20 dan segera mengirim chat pada sang bos guna meminta izin cuti.


Sudah hampir dua minggu full ia bekerja dan merasa inilah saat yang tepat untuk liburan.


Hahaa, bolehlah ya sesekali aku malas-malasan di rumah, tersenyum senang sambil menatap layar ponsel.


Kemudian ia beranjak ke kamar mandi yang terletak di luar kamar. Untunglah masih sepi, cuaca begini memang paling enak buat selimutan, gumamnya.


Setelah selesai mencuci muka dan sikat gigi ia turun ke lantai bawah menemui Ibu Rahma, pemilik kos.


"Pagi, Bu," sapanya riang.


"Pagi juga, Wen. Tumben sudah bangun, memang jam berapa ini? Ibu belum mulai masak," tanya Bu Rahma, dipikirnya Wenie ingin sarapan.


Ada jatah makan pagi di sini, itu nilai plus yang disukai Wenie dan teman-teman kosnya.


" Masih jam enam kurang, Bu. Aku mau bantuin Ibu berbenah dulu kalau gitu," ujar Wenie seraya mengambil sapu di sudut ruangan.


"Oh ya, Wen. Nanti kamu tolong ke warung Teh Ade sebentar ya, beli garam dan minyak goreng. Stok sudah habis," pinta Bu Rahma.


"Oke. Ibu mau masak apa hari ini?" tanya Wenie semangat.


"Masak ayam goreng kremes, udang balado, tempe tepung sama sayur sup kimlo," jawab Bu Rahma. "Oh ya, kamu mau dibuatin sambal apa?"


"Apa saja, Bu. Pokoknya kalau Ibu yang masak mantap deh!" seru Wenie mengacungkan jempol.


"Bisa saja kamu," ujar Bu Rahma tersenyum sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan. "Ya sudah sana, kamu ke warung dulu. Nyapunya sudah, kan?" lalu Wenie segera pergi sesuai titah pemilik kos.


Jarak dari rumah ke warung tak sampai seratus meter, bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan ia menyapa orang-orang yang ia kenal sebagai tetangganya. Tersenyum pada siapa saja yang ia temui. Wenie memang seorang gadis yang ramah dan periang, begitu mereka mengenalnya.


Sepulang dari warung, kebersamaan Wenie dengan Ibu Rahma masih berlanjut. Banyak hal yang mereka bahas sambil menyelesaikan masakan dan menata makanan di meja makan yang cukup menampung sepuluh orang.


Rumah ini cukup besar dengan tiga kamar di lantai bawah dan lima kamar di lantai atas yang disewakan untuk kos para karyawati atau mahasiswi. Nyaman dan bersih, begitu kesan pertama saat tiba di sini.


Bagian halaman dan garasinya cukup luas untuk menampung sebuah mobil dan empat sepeda motor. Hanya wanita yang boleh kos di sini dan jika ada pria hendak berkunjung maka hanya boleh duduk di ruang tamu utama di lantai bawah agar bisa terpantau oleh ibu kos.

__ADS_1


Itupun dibatasi hingga jam sembilan malam. Tidak lebih. Kehadirannya pun ditekankan jangan lebih dari tiga kali dalam seminggu yang artinya tidak bisa tiap hari bertamu.


Sungguh peraturan yang menyebalkan bagi sebagian gadis. Kebanyakan dari mereka memutuskan kos itu karena memiliki tujuan ingin kebebasan dari rumah keluarganya.


Sayang mereka tidak mendapatkannya di sini demi keamanan mereka sendiri dan Wenie menikmati itu. Ia merasa aman dan baik-baik saja sementara yang lain terkadang mengeluh padanya.


"Wen, tolong panggilkan teman-temanmu. Bangunkan mereka buat sarapan, sudah hampir setengah delapan," titah Bu Rahma.


"Baik, Bu. Tunggu sebentar ya," Wenie bergegas menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar, membangunkan mereka satu persatu.


Hanya empat orang dari delapan penghuni kamar kos yang keluar termasuk dirinya, yang lain masih merapatkan selimut. Mungkin itu mahasiswi yang masuk siang, pikirnya tak ambil pusing.


"Pagi Bu Rahma," sapa mereka serentak begitu sampai di meja makan, menarik kursinya masing-masing.


"Ya, pagi juga anak-anak," jawab Bu Rahma. "Kalian sudah rapi. Mau sekalian berangkat kerja? Mana yang lain?" cecarnya sambil menyodorkan wadah nasi pada Iin untuk kemudian diedarkan pada yang lain.


"Belum bangun, Bu. Anastasia, Maria, dan Eva habis bergadang ngerjain tugas kuliah. Jadi mereka malas bangun pagi," jelas Winona si gadis berambut sebahu warna mahogany hasil dari salon.


"Begitu? Ya sudah kita mulai saja sarapannya, Ibu juga sudah lapar. Iin silahkan pimpin doanya dulu," titah Bu Rahma.


"Aamiin," ucap mereka bersamaan sedetik kemudian dan mulai menikmati hidangan yang lezat itu.


Sungguh mereka bersyukur dengan semua nikmatnya kehidupan yang dimulai dalam kedamaian seperti sekarang ini.


Setelah selesai mereka membereskan piring bekas makan dan menaruh sisa makanan dalam lemari. Dua orang pergi ke dapur untuk mencuci piring, yang lain membenahi meja makan dan menyapu bekasnya kembali.


Wenie memutuskan untuk mengambil kumpulan sampah dalam trashbag di dapur dan membuangnya ke tong sampah di depan rumah.


Sekembalinya dari luar ia berhenti di ruang tamu saat melihat sebuah surat undangan dalam amplop golden pink yang tergeletak di meja kopi. Diendusnya sebentar menikmati aromanya dan membaca isi undangannya.


Untuk : Ibu Rahma Wijaya dan keluarga.


Diharapkan kehadiran dan doa restunya dalam resepsi pernikahan kami yang akan diselenggarakan pada : Minggu, 27 Oktober 2019. Jam 14.00 - 17.00


Lokasi : Aula Gedung Graha Wanita, jln. Raden Inten Raya.


Dari kami yang berbahagia, Beby Preity Ricardo & Rafael Pratama.

__ADS_1


Wenie mengerutkan kening merasa pernah mendengar nama si wanita, siapa ya? namanya kok mirip artis Meilani Ricardo, apa dia saudaranya? waah, keren banget ini kalau sampe datang kesana. Mana tahu pas ketemu dia kan?? pikirnya geli sendiri. Lalu ia membawa surat itu pada ibu kos.


"Bu!" Wenie berseru sambil mengacungkan amplop. "Ada undangan dari keluarga Ricardo. Yang artis itu bukan sih?" tanyanya tak bisa menahan rasa penasaran.


Bu Rahma tersenyum. "Duduk sini," ia menepuk sofa kosong disisinya. "Bukan dia. Itu lho, kamu ingat gak sama dokter Frans Ricardo? Yang dulu pernah ke sini waktu nemenin mamanya arisan?" tanya Bu Rahma.


"Frans Ricardo?" mencoba mengingat-ingat namun gagal. Bu Rahma terlalu sering mengadakan acara macam-macam di rumah besarnya ini dan jika bisa, Wenie hampir selalu kebagian tugas membantu sebagai seksi repot urusan konsumsi dan peralatan.


"Iya. Anaknya Bu Eka yang rambutnya agak kecokelatan. Waktu itu kamu bilang keren banget pakai kemeja salem," ujar Bu Rahma. "Nah, Beby Preity ini adiknya, Wen," tambahnya lagi.


"Aku lupa, Bu," jawabnya menyerah.


"Nih, lihat fotonya. Kamu pasti ingat deh kalau sama yang ganteng-ganteng, mah. Masa lupa sih," goda Bu Rahma sambil membuka galeri foto di ponsel canggihnya yang berlambang apel tergigit.


"Duh, Ibu mah. Suka bener deh kalau ngomong," Wenie tersipu malu.


Dipandanginya foto seorang pria tinggi besar yang nampak stylish dan tampan berwajah blasteran berdiri di samping seorang wanita paruh baya yang anggun dalam balutan gaun batik yang nampak halus dan mahal. Mereka juga berfoto di antara para ibu-ibu peserta arisan lainnya yang juga membawa pasangan atau anak sebagai kenang-kenangan kebersamaan mereka.


Wenie menatap kagum pada setiap slide foto-fotonya. Beginilah kehidupan orang kaya. Seakan tiada merasa kesusahan sama sekali. Uang bukan masalah dan senyum bahagia selalu menguar dari bibir cantik mereka. Ya Tuhan, seandainya keluargaku juga seperti itu, bisiknya dalam hati tanpa merasa iri.


.


.


.


🌺🌺🌺


.


.


.


.


Hai, readers. Tolong komen dan likenya ya. Masukan dari kalian sangat berarti buatku, makasiiih 😘😘

__ADS_1


__ADS_2