
Tak banyak yang dibicarakan selama dalam perjalanan pertama mereka ini, terlebih Wenie yang masih saja sibuk menata ritme jantungnya.
Ia belum terbiasa untuk memanggil nama saja seperti yang Frans minta atau bahkan menatap matanya saat mereka bercakap-cakap, membuat Frans sedikit gemas.
Ada kesan tersendiri bagi Frans saat menatap gadis muda yang duduk di sampingnya ini. Apalagi saat menyadari Wenie yang didengarnya masih berbicara dengan nada yang agak canggung meski Frans sudah berusaha sesantai mungkin.
Setengah jam kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah restoran seafood 'Pesona Laut', yang berlokasi di taman kota dengan view menghadap ke danau buatan yang cukup ramai.
Pemandangan malam yang indah dengan kelip cahaya lampu sulur warna-warni menghiasi pohon-pohon di sepanjang area tepian danau, ditambah dengan sejumlah pergola cantik yang sengaja dijadikan sebagai spot untuk berselfie-ria, juga ada banyak bangku besi yang tersebar di lapangan berumput hijau yang biasa digunakan masyarakat untuk menikmati waktu bersantai.
Beberapa pasang orangtua nampak membawa serta anak-anak mereka untuk sekedar duduk lesehan di rumput dengan ditemani segelas es kopi ataupun menikmati makanan ringan yang banyak dijual di stand-stand kuliner sepanjang parkiran taman.
Di sebelah barat danau ada juga tempat penyewaan beraneka wahana permainan, ada bebek dayung, balon raksasa, dan perahu naga bagi pengunjung yang ingin berkeliling danau secara berombongan.
Wenie tertegun sesaat menyaksikan pemandangan yang terhampar di depan matanya sebelum mereka keluar dari mobil.
"Ada apa, nona? Kau tidak suka kita berhenti di sini ..." tanya Frans. "Kalau gitu, kita cari tempat makan yang lain saja," ia mulai menstarter mobilnya lagi.
"No! Bukan begitu, Dok," jemari Wenie refleks menahan lengan Frans, seketika pria itu membeku.
"Ya?"
"Di sini bagus. Aku suka. Ini Danau Eden Light Park, kan?"
"Benar. Bagus kalau kau suka" jawab Frans senang. "Kita akan makan seafood di sini. Ayo, turun ..."
"Eh, seriusan kita makan di sini, Dok?"
Frans tersenyum simpul. "Tentu saja. Ini salah satu lokasi favorit saya."
"Lokasi favorit?"
"Iya. Terkadang saya menyempatkan untuk makan seafood di sini," jawab Frans. "Yah, meskipun gak terlalu sering juga sih, karena pekerjaan saya cukup sibuk."
"Hm, begitu ya? Jujur saja aku baru kali ini datang ke sini," ujar Wenie seraya mengedarkan pandangan.
Frans terdiam menyimak penuh perhatian. "Benarkah?"
"Iya. Terimakasih sudah mau mengajakku ke sini, Dokter. Biasanya aku cuma bisa lihat danau cantik ini di postingan instagram orang lain saja," lirihnya.
Gadis itu nampak masih terpana dengan pemandangan malam yang meriah di tepian danau yang gemerlap memanjakan mata.
Frans hanya mengangguk dan tersenyum manis. "Gimana, kita turun sekarang?" tanya Frans memulihkan kesadarannya.
"Ah, iya. Maaf, aku jadi kayak orang norak ya," jawab Wenie tersipu malu. "Yuk, kita turun ..."
"Tak apa. Dulu waktu pertama ke sini saya juga merasa kagum seperti kau ini. Suasana malamnya bagus sekali. Ya kan?"
"Iya, betul. Instagramable banget. Banyak spot fotonya."
Frans tersenyum senang, ia mulai bersemangat sekarang. Rasanya tidak sia-sia mengajak Wenie bertandang ke taman kota ini yang ternyata merupakan hal baru baginya.
Frans dan Wenie memutuskan untuk segera keluar dari mobil dan berjalan bersisian menuju restoran, membuat perbedaan tinggi badan di antara keduanya nampak kentara. Tinggi Wenie ternyata hanya sebatas dagu Frans yang membuatnya terlihat mungil.
Saat memasuki restoran mereka disambut seorang pelayan wanita yang ramah berseragam kemeja batik kombinasi hitam polos yang membalut tubuh semampainya, membuat restoran ini nampak berkelas. Ia mengantarkan keduanya pada saung panggung terpisah yang biasa disewakan jika pelanggan ingin lokasi privat.
__ADS_1
Frans memilih lokasi itu karena ingin bersantai dengan duduk lesehan dan Wenie hanya menurut saja sambil sesekali mencuri pandang padanya saat memilih menu dalam buku, sementara pelayan tadi masih menunggu.
Frans menghela nafas. "Jadi, kamu mau pesan apa, nona? Apa sudah memilih menunya ..."
"Hm, aku jadi bingung mau pesan apa? Gimana kalau menunya disamakan saja dengan pesanan anda, Dok ..."
"Oh, apa gak masalah?" tanya Frans, Wenie mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya pesan dua gurame bakar ukuran jumbo dengan sambal jeruk nipis, satu porsi kepiting saus padang, satu porsi cumi saus tiram, satu bakul nasi medium, cah kangkung, dan dua ice lemon tea ya, Mbak," ujar Frans pada pelayan.
"Baik, saya catat. Ada lagi tuan, nona?" tanya pelayan itu sopan.
"Sebentar," sahut Frans kemudian beralih pada Wenie. "Kamu mau pesan apa untuk menu penutupnya?"
"Tidak usah," jawab Wenie cepat.
"Baik. Silahkan menunggu sebentar, kami akan segera menyiapkan makanannya," pamit pelayan.
"Maaf, Dok. Apa gak kebanyakan anda memesan dua ikan bakar, kepiting, dan cumi-cumi sekaligus, kita kan hanya berdua?" bisik Wenie pelan.
"Tenang saja, nanti pasti habis kok," jawab Frans juga dengan berbisik. "Makanan di sini enak, kamu gak akan kecewa. Percaya deh sama saya."
"Eh, iya. Aku percaya kok. Dokter kan, sudah lama langganan di sini ya," sahut Wenie malu dan merasa konyol.
"Kamu ini masih kaku saja, nona? Santailah sedikit ..."
"Maaf, rasanya aku masih belum terbiasa ..."
"Makanya mulai sekarang biasakanlah, oke? Kita sudah berteman, kan?" ujar Frans.
"Sepertinya begitu ..."
Sejujurnya Wenie hanya merasa belum yakin untuk bersikap biasa saat menghadapi seseorang dengan status yang berbeda jauh darinya, maka dari itu tetap saja ia merasa canggung.
Selama menunggu hidangan yang sedang diolah, mereka terlibat percakapan ringan yang menyenangkan. Banyak hal menarik yang mereka bahas, terutama mengenai keseharian Frans sebagai dokter karena Wenie yang selalu merasa penasaran. Maka sedikit demi sedikit Wenie mau membuka dirinya untuk mulai bersikap santai pada sang dokter muda.
Frans tidak sekalipun bersikap lebih pintar dari Wenie, meski jelas ia bukan sosok sembarangan. Ia bisa mengimbangi Wenie yang masih awam dengan dunia kedokteran yang serba higienis, serba cepat, dan harus selalu sigap saat keadaan darurat.
Dalam hatinya Wenie makin terpesona dibuatnya, namun tentu saja ia hanya diam tanpa berani mengungkapkannya.
"Permisi. Ini pesanan anda, tuan, nona," ujar seorang pelayan pria yg membawa banyak makanan dalam troli dengan nampan stainless mengkilat.
"Jika masih ada yang diperlukan, silahkan panggil saja saya. Anda bisa menekan bel ini," lanjutnya sambil menunjuk bel tekan dan dengan ia cekatan menata makanan di atas meja pendek. "Selamat menikmati.."
"Baik, terimakasih," jawab Frans ramah. Kemudian si pelayan pamit setelah menganggukan kepalanya.
"Wah, ini banyak sekali, Dok," gumam Wenie.
"Benarkah? Padahal saya cuma pesan tiga menu saja untuk makan malam kita sekarang."
"Hm, tapi aku masih belum yakin. Apakah kita bisa menghabiskan semua ini?"
"Kamu ini suka bergurau ya," kekeh Frans.
"Aku serius, dok."
Frans tersenyum. "Sudah, ayo kita makan. Pilih saja mana yang kau mau," ujar Frans seraya menyendok nasi dari bakul ukuran medium ke dalam piringnya sendiri.
__ADS_1
Wenie menelan liurnya hati-hati.
"Kita gak perlu terburu-buru menghabiskan semua ini, tempatnya juga sudah kita sewa secara privat. Jadi santai saja," imbuhnya lembut.
Wenie tersenyum kecil. "Terimakasih. Oh ya, tolong panggil aku Wenie saja, Dok. Rasanya aneh disebut nona, seperti bukan diriku."
Frans menjawab lima detik kemudian, "Baik. Kalau begitu saya juga ingin kamu memanggil saya dengan sebutan Mas Frans saja, gimana? Kamu gak keberatan kan ..."
Wenie tersentak sekejap, Frans mengedipkan sebelah mata memaksanya untuk setuju. "Baiklah, Dok. Eh, Mas Frans .."
"Kita deal?"
"Deal ..."
"Bagus. Ayo, kita makan ..."
Lalu merekapun menikmati makan malamnya dengan hati senang, menghabiskan hidangan yang dipesan tanpa tersisa. Frans sudah mengatakan pada Wenie untuk pelan-pelan saja saat menikmati makanan mereka agar perutnya tidak 'kaget' karena kepenuhan.
Lagipula Frans sudah mengantongi izin untuk mengajaknya makan malam sampai batas waktu yang telah disepakatinya dengan bu Rahma tadi melalui telepon.
Tak terasa waktu beranjak semakin malam, kini mereka sedang duduk menikmati semilir angin di sebuah bangku besi di tepi danau yang masih ramai sejumlah muda-mudi berkumpul.
Mereka duduk membentuk lingkaran kecil, salah seorang di antara mereka ada yang membawa gitar dan menyanyikan sebuah lagu, membuat suasana jadi ceria seolah waktu tak bergerak maju.
Wenie nampak memperhatikan dan sesekali ikut bersenandung menyanyikan lagu yang mereka dendangkan. Melihat hal itu Frans hanya mengulum senyum dan tidak hendak mengusiknya.
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit saat alarm bergetar intens dalam saku jaket Frans. Sudah dua jam rupanya mereka berada di sini, dengan berat hati ia membuyarkan perhatian Wenie yang masih terpaku pada sekumpulan pemuda seusianya itu. Mereka nampak seperti sekumpulan mahasiswa yang sedang menghabiskan waktu libur sebelum esok hari akan sibuk belajar kembali.
Ah, bahagianya mereka, seandainya saja aku bisa kuliah juga, mungkin saat ini aku akan melakukan hal yang sama. Senangnya bisa berkumpul dengan teman-teman satu kampus, pikir Wenie.
"Ehm, Wen," panggil Frans pelan.
"Ya, Dok?" sahut Wenie tanpa melihat, hening. Dengan penasaran ia pun menoleh. "Eh, maaf..."
Frans mengangkat alis.
"Ada apa, Mas?" Wenie tersadar dan mengulang ucapannya.
"Sudah malam, kita pulang."
"Pulang?" Wenie lekas melihat jam di ponselnya.
"Oh, iya. Gak terasa, ya ... Perasaan baru sebentar deh kita di sini, Mas," ia nyengir menampakkan sederet gigi putihnya.
"Lain kali kalau saya ada waktu, kita bisa mampir ke sini lagi. Gak bakal pindah kok, danaunya ..."
"Iya. Sekali lagi terimakasih banyak sudah ngajak aku jalan-jalan ke danau ini."
"Ya, sama-sama."
"Oh ya, sebentar, Mas Frans. Tolong fotoin aku dulu di pergola yang sebelah sana, boleh?" pinta Wenie.
"Boleh. Yuk, kita ke sana," sambut Frans. Tadinya ia sama sekali tak kepikiran untuk mengambil gambar, tapi sekarang bahkan ia memiliki kesempatan untuk foto bersama gadis manis ini.
Wenie berlari-lari kecil ke arah pergola berbentuk hati yang dihiasi tanaman bunga rambat yang diterangi lampu sulur membuatnya nampak kemilau di malam hari.
__ADS_1
Ia memasang senyum ceria saat Frans mengambil beberapa gambar dengan ponselnya, lalu ia juga meminta untuk foto bersama sang dokter sebagai kenang-kenangan. Frans tentu saja tidak menolaknya.
Setelah merasa puas berkali-kali memotret dan mengulanginya lagi jika ada tampilan yang menurut Wenie kurang bagus, lalu mereka memutuskan untuk menyudahinya. Mereka segera beranjak untuk pulang meski berat rasanya mengakhiri malam yang indah ini, menyisakan sekeping kehangatan di hati masing-masing.