Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Makan Siang (1)


__ADS_3

Prasetyo memasuki kamarnya diikuti oleh Isti yang masih nampak patuh meskipun ia tahu istrinya bukan tipe wanita pendiam. Tapi ia masih harus dapat mengendalikan semua dalam genggamannya tak peduli seberapa keras istrinya melawan nanti.


Ia menghenyakkan diri di sofa dan membuka beberapa kancing kemeja yang membuatnya terlihat sedikit menawan, namun Isti tidak ingin terkecoh dengan pemandangan ini walaupun dulu ia sangat menyukainya.


"Tolong ambilkan aku minum," pinta Prasetyo dengan nada agak melunak.


Isti dengan cekatan beralih ke meja bar dan mengambil air mineral yang tersedia di sana. "Ini, Mas ..."


Prasetyo menerima dan langsung meneguknya dari botol. " Duduklah ..." ia menunjuk sofa di seberangnya, tak ingin dekat dengan istrinya.


"Kapan kau akan pulang ke rumah, Mas?" tanya Isti tak ingin basa-basi.


"Apa aku sudah menyuruhmu bicara?" Pras mendelik sinis.


Isti hanya mengedikkan bahu tak acuh. "Aku sudah terlalu lama menunggu, apakah sekarang bertanya pun masih harus menunggu kau suruh juga?"


Prasetyo meremas botol mineral dengan geram. "Kau mulai berani sekarang! Sepertinya sudah lama aku tidak mendidikmu dengan baik ..."


Wanita itu menghela nafas kasar. "Sudahlah, Mas. Aku tidak mau bertengkar denganmu lagi. Anakmu menunggu di rumah, Raisa sedang sakit ..."


Satu nama itu cukup untuk membungkamnya saat ini. Prasetyo membuang muka dengan kesal. "Untuk apa kau mengatakannya padaku? Bawa saja dia ke dokter."


"Kau pikir selama ini aku tidak merawatnya dengan baik? Setiap kali dia sakit aku langsung membawanya berobat. Tapi bukan itu yang dia butuhkan!" Isti merasakan segenap emosi ingin menyeruak dari dalam dadanya. "Dia butuh ayahnya!"


Prasetyo mendecih malas. "Kau boleh carikan ayah lain untuknya."


"Jangan keterlaluan, Mas!" Isti benar-benar tersinggung sekarang. "Apa ini karena ja'lang sialan itu lagi? Dia sudah sangat jauh mempengaruhimu," air matanya sudah mau merebak.


"Jaga ucapanmu!" Prasetyo berdiri penuh amarah. "Dia bukan ja'lang seperti yang kau pikirkan. Tarik kata-katamu!"


"Tidak! Kalau dia memang wanita baik-baik, dia tidak akan merebutmu dariku ..." bantah Isti tak kalah sengit. "Dasar pelakor, aku pasti akan mencekiknya nanti!"


Seketika satu tamparan keras mendarat di pipi mulus istrinya. "Berani sekali kau mengancam dia di hadapanku!" teriak Prasetyo murka.


Tak diduga Isti malah tertawa. "Kau bahkan tega menampar istri sahmu demi pela'cur itu, Mas. Sangat mengesankan ..." ia mengusap pipinya yang terasa kebas, tamparannya benar-benar sepenuh hati.


"Tutup mulutmu, Isti!" hampir saja Prasetyo merangsek istrinya jika bel pintu tidak segera berbunyi, seseorang datang. Isti berpaling namun enggan pergi membuka pintu.


Dengan langkah menghentak Prasetyo akhirnya melangkahkan kaki menuju pintu yang belnya tidak henti memekik. Ia mengintip terlebih dulu dari lubang kaca sebelum membukanya, ternyata hanya Rafael dan istrinya.


Rafael nampak berwajah cemas menatap kakaknya. "Kalian tidak apa-apa, Kak? Aku mencarimu tadi di restoran, ternyata kau sudah di sini ..."


"Masuklah kalau kau ingin tahu ..." ujarnya kaku, sorot matanya menandakan situasi tidak kondusif.


Rafael masih mematung, menimbang apakah akan masuk atau tidak. "Ah, sepertinya tidak perlu. Aku tidak mau mengganggu kalian," ia memutuskan tidak masuk karena Beiby mencubit pinggangnya. "Aku akan ke kamarku dulu, sampai jumpa ..."


Prasetyo tak menjawab, ia hanya memandang suram kepergian adik dan iparnya yang memasuki kamar di sebelah kanan ruangannya.


"Sayang ... apa menurutmu kakakmu sedang bertengkar dengan istrinya?" tanya Beiby saat mereka sudah berada dalam kamarnya.


Rafael menghela nafas berat. "Entahlah ... apa kau lihat wajahnya tadi? Sepertinya mereka sedang ribut besar. Apa lagi ini jelas-jelas Kak Pras sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan," ia mondar-mandir dengan gelisah.


Beiby duduk di sofa lebar dan menumpangkan kaki dengan anggun. "Sepertinya watak mereka berdua sama-sama keras. Tapi sejujurnya kakakmu itu sangat menjengkelkan, Mas. Sudah salah masih ngotot pula ..." komentarnya agak kesal.


"Kau benar, sayang. Kak Pras itu bukanlah orang yang mudah mengalah dan istrinya juga bukan jenis wanita yang berhati lembut, ia akan menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya ..." jawab Rafael setuju.

__ADS_1


"Kalau begitu ini akan sangat rumit ke depannya," sahut Beiby prihatin, kemudian ia tersenyum jahil. "Lalu, kalau kau tipe pria yang seperti apa, sayang?" tanyanya dengan nada menggoda.


Seulas senyum terkembang di wajah tampan Rafael. "Aku akan jadi tipe pria apa saja yang kau sukai, sayang ..." ia duduk di sisi Beiby dan mencium bibir manis istrinya.


Beiby membalasnya sebentar lalu mendorong dada bidang itu menjauh. "Mana boleh begitu? Kau harus punya prinsip, sayang," protesnya.


Rafael tampak berpikir sebentar. "Ya, prinsipku adalah apa pun yang membuatmu bahagia maka itulah yang ku lakukan."


"Kalau bahagiaku jauh darimu selama berbulan-bulan gimana?" matanya mengerling usil.


Rafael tersentak. "Hei, kau ini mau cari masalah ya ..." lalu ia menerjang istrinya di atas sofa.


"Aaw, ampun ... ampun, sayang ... itu geli," Beiby tertawa lepas dalam tindihan Rafael yang mendadak posesif seperti kucing yang takut kehilangan umpan, wanita itu memang sedang memancing masalah sekarang dan ia menikmatinya. Mereka saling menggoda dan bercum'bu sepanjang sisa waktu.


Berbeda dengan kondisi di kamar sebelah yang penuh kehangatan, sekarang Prasetyo sedang menghadapi amukan istrinya yang tidak hendak diam sekembalinya ia ke sana. Isti menyambut bendera perang dengan gagah berani karena merasa harus mempertahankan rumah tangganya demi Raisa, anak mereka.


Apa lagi masalah itu karena Wenie, gadis yang sejak awal mereka menikah sudah menyebabkan keretakan yang makin parah hingga kini. Isti tidak gentar sedikitpun meski terang-terangan suaminya membela Wenie. Bahkan ia sudah menyiapkan langkah darurat jika semua perlawanan ini sia-sia, ia sudah lebih dulu menghubungi 'orang pintar' yang pernah membekingi di masa lalu.


Cara ini bukannya Prasetyo tidak tahu, hanya saja ia masih memberikan toleransi pada mereka. Sejauh Wenie masih baik-baik saja maka ia hanya harus tetap waspada agar tidak kecolongan seperti dulu. Itu sangat menjengkelkan, sebuah kenangan buruk yang tak bisa dibuang dari benaknya hingga kini.


💐💐💐


Siang ini Wenie sedang mematut diri di depan cermin, ia mengenakan dress setali warna pastel dengan bolero rajut off white untuk menutup bahunya yang halus. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan lembut dan dijepit cantik di sebelah kiri. Untuk melengkapi penampilannya ia memakai heels tiga senti dan sebuah tas kecil.


Hampir setengah jam yang lalu Frans mengabari Wenie bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kosan, maka ia segera turun untuk menemui bu Rahma yang sedang menonton tv. Tepat pukul setengah satu siang sebuah mobil sedan hitam mengkilat milik Frans sudah sampai di depan rumah kos.


"Masuk dulu, Mas," pinta Wenie saat menyambutnya di depan pintu.


Frans mengangguk kecil lalu masuk untuk menyapa bu Rahma. "Siang, Bu Rahma ..."


"Tidak perlu, Bu. Saya mau izin mengajak Wenie pergi makan siang sebentar," ucapnya sopan.


Bu Rahma tersenyum senang. "Pergilah, hati-hati di jalan. Semalam Wenie juga sudah izin pada saya," jawabnya.


Frans menatap penuh sayang pada gadis yang duduk berjarak setengah meter darinya, sementara Wenie membalas dengan senyum kecil. "Terimakasih, kalau begitu kami langsung pamit pergi sekarang ya, Bu ..."


"Ah, ya. Silahkan, Dok ..." jawab bu Rahma. "Wenie, jaga dirimu baik-baik ya, sayang," pesannya berbisik, gadis itu mengangguk patuh.


Keduanya berjalan beriringan tanpa diikuti oleh tuan rumah yang sangat pengertian dan menyayangi Wenie. Baginya Wenie seperti pengganti anak perempuannya yang sudah lama menetap di luar negeri mengikuti suaminya dan hanya sesekali mereka pulang ke rumah besar ini.


Sampai di luar pagar Wenie sempat heran melihat mobil Frans. "Mobilmu ganti, Mas?"


"Hanya sementara, mobilku sedang diperbaiki di bengkel ..." jawab Frans. "Ayo, masuk," ia membukakan pintu penumpang sisi depan untuknya.


Wenie mengangguk kecil, pipinya sedikit memerah. "Baik. Terimakasih, Mas."


Frans hanya tersenyum manis lalu menutup pintu dan segera berjalan ke arah kemudi di sisi kanan. "Jangan canggung begitu ..." tegurnya lembut saat sudah mulai menyetir.


"Aku gak terbiasa, Mas. Agak aneh saja rasanya ..." bantah Wenie.


"Mulai sekarang biasakanlah, oke?"


Wenie hanya bisa setuju. Lagipula itu hanya perlakuan manis kecil yang tidak akan selalu ia dapatkan, hanya sesekali saja pria itu melakukannya jika sedang tidak terburu-buru. Suatu hal yang umum tapi selalu mampu membuat hatinya tersentuh.


Bersyukur cuaca siang ini tidak begitu panas karena segumpal awan putih berarak di langit biru sehingga sinar matahari tidak langsung menerpa permukaan bumi. Setidaknya itu cukup cerah bagi dua sejoli yang sedang berencana pergi kencan makan siang.

__ADS_1


Jalanan tak terlalu padat, sambil menyetir Frans sesekali mencuri pandang pada gadis yang duduk manis di sebelahnya. Mengetahui hal itu Wenie jadi agak salah tingkah dan ia sibuk menenangkan desiran halus dalam dada agar rona wajahnya tidak berubah lebih merah dari sekarang.


"Dress itu cocok denganmu," celetuk Frans memecah kesunyian.


Wenie tersenyum tipis. "Terimakasih ... tapi, sebenarnya aku tidak terbiasa mengenakan dress ..."


"Kenapa? Kau nampak makin cantik saat memakainya ..." tanya pria itu ingin tahu.


"Aku lebih senang mengenakan baju kasual, lebih leluasa bergerak ..." jawab Wenie hati-hati.


Frans mengulum senyum. "Lantas, kenapa kau memaksakan diri untuk memakainya, hm?"


"Hanya menyesuaikan dengan situasi saja," jawabnya cepat. "Mas mengajakku makan siang, maka setidaknya pakaianku harus agak 'pantas' sedikit, kan?"


"Kau selalu pantas mengenakan apa pun," bantah Frans lembut. "Lagi pula, gerakanmu justru akan lebih leluasa jika memakai dress seperti ini," matanya mengedip penuh isyarat.


Wenie tersentak, wajahnya bersemu malu. "Iish, jangan bicara macam-macam, ah ..." ia pura-pura merajuk. Selalu saja nyerempet-nyerempet kalau bahas apa pun, kenapa sih? Kamu gak tahu ya, aku jadi suka deg-degan gak jelas kalau kamu asal bicara ...


Frans terkekeh ringan. "Iya, maaf. Aku hanya bercanda ..." ujarnya.


"Oh ya, Mas. Sepertinya dalam beberapa hari aku akan pergi," ucap Wenie mengalihkan topik.


Pria itu langsung memasang telinga baik-baik sambil menoleh. "Kau apa, Wen?"


"Hei, fokus menyetir, Mas. Aku takut nabrak ..."


"Aku bisa aktifkan auto-drive. Kau mau pergi kemana?" tanyanya mulai tidak sabar.


Sudut bibir gadis itu melengkung manis merasakan kepanikan dalam suara Frans. "Aku hanya mau pulang ke rumah beberapa hari, kangen mamaku ..."


Jawaban yang sedikit menenangkan. "Aku antar, ya? Dimana rumahmu?"


"Hm, tidak perlu, Mas. Aku sudah pesan travel," tolaknya halus.


Dahi Frans mengerut tidak suka. "Lalu kenapa kamu baru bilang sekarang?"


"Itu juga dadakan. Semalam mama telepon minta aku pulang, ku pikir ibu sudah cerita?" jawab Wenie lirih, ia merasakan ketidak-nyamanan.


Pria itu menarik nafas perlahan. "Jadi, kapan kau akan berangkat ... ninggalin Mas?"


Wenie terkekeh pelan. "Apaan deh ... drama banget, aku cuma pulang kampung tiga harian saja kok, Mas."


"Tapi kau kan, tetap ninggalin aku di sini ..." keluhnya. "Kayaknya kamu sengaja gak mau ngajak, ya? Aku curiga, jangan-jangan kamu mau dijodohkan?"


"Eh, astaga ... gak gitu," ia jadi tidak enak hati. "Mana ada jodoh-jodohan, sudah gak jaman kali ..."


Bibir Frans menekuk tidak suka. "Itu masih jaman dan masih akan selalu ada di manapun," bantahnya.


"Mas, aku cuma pulang kampung sebentar habis itu balik lagi, kerja. Mana ada waktu untuk hal semacam itu, aku belum siap," ujar Wenie santai.


Pria itu kembali menoleh padanya, matanya menelisik ingin tahu kemudian bibirnya menyeringai jahil. "Benarkah? Bagaimana jika orang yang dijodohkan itu aku, hm?" tembaknya langsung.


Wenie terkesiap, bingung untuk menjawab. "Kalau itu ... aku belum memikirkannya, Mas," ia menunduk malu.


Frans tidak ingin mendesaknya lagi, baginya sudah cukup mengetahui reaksi kecil gadis ini. Kau masih ingin menjaga diri rupanya, baiklah ... akan ku berikan waktu. Tapi jangan harap aku akan mundur, kau milikku, manis ...

__ADS_1


__ADS_2