Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Izin Kerja


__ADS_3

Siang ini bu Rahma pergi ke butik kecil langganannya di Jalan Mawar Putih VI no.29 dengan menyetir mobil Yaris-nya sendiri, hendak mengambil gamis pesanannya.


Ia sudah menelpon Bu Maisarah selaku pemilik Angels Boutique agar menyiapkan baju lainnya untuk Wenie dengan ukuran yang pas. Bu Maisarah memilihkan satu stel blouse baby peach dengan rok lilit bermotif batik yang menampilkan kesan etnik modern dan feminin.


Saat tiba di bangunan rumah dua lantai itu bu Rahma memarkirkan mobil di halaman dan langsung masuk ke dalam.


"Assalamuallaikum, Jeng Mai," ujarnya memberi salam.


"Wallaikumsalam. Eh, sudah sampai Bu? Mari duduk dulu," sambut bu Maisarah sembari menghentikan aktifitasnya yang sedang membuat sketsa desain kebaya pengantin.


"Iya, terimakasih. Eh gimana, Jeng. Baju buat Wenie sudah ada kan?," tanya bu Rahma setelah mendudukkan diri di kursi.


"Ada dong, Bu. Tenang saja," jawabnya ramah, kemudian mengalihkan pandang sejenak. "Mbak Ira, tolong buatkan jus jeruk dingin buat Bu Rahma, ya," pemilik butik memerintah seorang karyawannya yang sedang merapikan pajangan tas-tas branded di etalase depan.


"Baik, Bu. Tunggu sebentar," Ira mengangguk dan segera pergi ke pantry di bagian belakang ruang galeri butik.


"Semalam waktu Ibu kirim foto via whatsapp, saya langsung cek barang. Untung saja masih ada stok dan saya sudah pilihkan yang terbaik yang kami punya," ujar bu Maisarah seraya beranjak menuju etalase pakaian yang berkilau karena cahaya lampu di dalamnya.


Ia mengambil sebuah blouse dari gantungan yang dibungkus plastik laundry dan satu kemasan plastik bening berisi kain batik yang terlipat rapi. Tanpa ragu sedikitpun bu Rahma langsung setuju, ia percaya pilihan desainer ini tak akan salah.


"Bagus banget, Jeng," bu Rahma mengelus pakaian di tangannya, merasakan kehalusan bahan dengan jemarinya. "Sampeyan memang pintar, paham sekali dengan selera saya," pujinya tulus.


"Ah, Bu Rahma," pemilik butik tersenyum kecil. "Saya hanya coba pilihkan yang kira-kira cocok untuk Wenie setelah melihat fotonya. Semoga Ibu suka," ujarnya merendah.


"Suka. Suka banget, Jeng. Wenie pasti cantik pakai ini. Dia itu tipe gadis yang simpel, gak pernah aneh-aneh kalau dandan," sambut bu Rahma semangat. "Biar nanti saya makeover dia ke salon, supaya gak kelihatan ndeso lagi ..."


Pemilik butik tersenyum senang mengetahui pelanggannya puas, "Lalu, apa Bu Rahma sudah menyiapkan sepatunya juga? Saya punya beberapa sepatu selop di sini, lho," ujar Bu Maisarah menawarkan.


"Oh ya ... Biar saya lihat dulu, Jeng. Kira-kira Wenie akan cocok pakai yang mana dengan baju ini?" jawab Bu Rahma berbinar.


Bu Maisarah berjalan kesudut kiri ruangan yang memiliki luas 6 x 15 mΒ² yang diikuti oleh bu Rahma. Ada rak khusus setinggi 120 cm untuk menyimpan beragam sepatu pesta, baik yang berhak rendah maupun tinggi dengan berbagai model cantik.


Bu Rahma terdiam sembari mengamati satu persatu jajaran sandal dan sepatu pesta di depannya. Bu Maisarah meraih sebuah kotak merah dari susunan rak kedua dan mengeluarkan isinya, sepasang selop kitten heels dengan warna silver peach yang manis namun tidak mencolok. Tampak sesuai dengan stelan yang sudah dipilihnya tadi.


"Wah ... Ini cantik sekali, Jeng," ucap bu Rahma kagum, ia tersenyum lebar. "Cocok. Sempurna. Oke, saya ambil ini."


"Syukurlah kalau Ibu merasa cocok," jawab Bu Maisarah sumringah. "Mari saya bungkuskan."


"Iya, Jeng. Tolong cepat dibungkus, saya gak sabar pengin lihat Wenie pakai ini," tandas bu Rahma sambil mengekori bu Maisarah ke mejanya.


Di sana sudah tersedia segelas jus jeruk dingin sesuai pesanan dan secangkir latte yang sudah tinggal separuhnya, milik bu Maisarah.


"Silahkan diminum dulu, Bu Rahma," tawar Bu Maisarah padanya.


"Iya. Terimakasih banyak, Jeng," jawabnya sambil menyeruput jus lewat sedotan. Bu Maisarah menghabiskan latte-nya.


"Ya ampun, hampir lupa," Bu Maisarah menepuk pelan jidatnya. "Mbak Ira, tolong ambilkan gamis Bu Rahma yang kemaren sudah kamu dry clean. Payetannya sudah selesai semua, kan?" tanyanya pada Ira.


"Iya. Sudah selesai semua kok, Bu. Sebentar, saya ambilkan," jawab Ira, dengan gesit ia mengambil barang yang dimaksud dan menarik sebuah paper bag dari laci untuk membungkus pakaian.


"Ini, Bu. Silahkan dicek lagi apa yang kurang? Apakah semua sudah sesuai dengan keinginan Ibu?" bu Maisarah menyerahkan sehelai gamis yang dibawa Ira.

__ADS_1


Sebuah gamis kaftan bernuansa pastel berbahan sutera yang lembut beraksen kerut dengan detail payet dan taburan swarovski bagian dada.


"Saya coba dulu ya, Jeng," ujar Bu Rahma, ia bangkit dari duduk.


"Silahkan, Bu," pemilik butik menunjuk kamar ganti dengan sopan, mempersilahkan masuk.


Kemudian tak lama Bu Rahma keluar sambil melenggok dan berputar di depan cermin besar dekat lemari kaca.


"Sempurna," decaknya kagum. "Jeng Mai benar-benar pintar memilih bahan dan mendesain gamis sesuai selera saya," pujinya lagi.


Kembali bu Maisarah tersenyum senang, "Terimakasih juga atas kepercayaan Ibu pada saya. Semoga Ibu puas dengan pelayanan kami," ucapnya sopan.


Setelah berbincang beberapa waktu dan membayar tagihan dengan sejumlah uang, Bu Rahma pulang menenteng tiga buah paper bag yang dua diantaranya akan diberikan pada Wenie sebagai hadiah.


.


.


.


.


🌷🌷🌷


.


.


.


.


Hening tiada jawaban, sibuk bermain game online di ponselnya. Fokus.


Nyaut oii, hape saja dilihatin ...


"Huh? Jadi kamu mau libur lagi?" tanya sang bos tiga detik kemudian memastikan pertanyaan karyawannya. "Tapi besok hari Minggu, lho. Toko pasti ramai."


"Iya, saya tahu, Da. Minggu lain gak libur lagi deh, sekali ini saja. Ya, ya, ya?" Wenie memasang wajah memelas.


Lalu bosnya terdiam lagi, kembali fokus dengan ponselnya. Terdengar hembusan nafas pelan, "Oke. Kamu boleh libur," ia melirik jam tangannya. "Sudah hampir jam tujuh malam, cepat tutup tokonya! Kita pulang."


Horeeee ... Dari tadi kek, bos!


Wenie dan Eri tertawa gembira. Ini malam minggu, mereka harus menikmatinya. Terlebih Wenie sudah berjanji akan mentraktirnya jika Eri berhasil membantunya bicara pada boss.


Mereka berencana akan makan bakso di warung langganan setelah pulang kerja.


Suatu kebiasaan yang umum dilakukan saat seseorang pulang kerja bersama rekannya adalah makan-makan.


Begitu pun Wenie dan Eri, mereka masuk ke toko kue kering kiloan yang menjual aneka makanan ringan & permen untuk membeli beberapa bungkus keripik. Seolah tak takut gemuk, mereka melahap apa saja tanpa memantang.

__ADS_1


Dua sekawan ini sepakat merayakan malam akhir pekan yang indah meskipun sebenarnya agak mendung. Menjelang penghujung tahun ini musim hujan belum benar-benar turun sempurna sejak awal bulan, suhu masih cenderung panas.


Setibanya di warung bakso 'Sumber Berkah' langganannya, Wenie mengajak Eri duduk di kursi agak ketengah agar berada dekat dengan kipas besar di atas plafon. Mengambil daftar menu, menyimaknya sejenak sambil berpikir apa yang akan dipesan.


"Bang!" Wenie berseru sambil melambaikan tangan. Suasana sedang ramai para pelanggan yang tengah menikmati menu pilihan mereka.


"Saya pesan bakso campur sama es teh satu ya. Kamu mau pesan apa, Ri?" ujarnya pada seorang pelayan yang mendekat sembari menanyai Eri.


"Aku mau mie ayam pakai bakso urat ya, bang. Minumnya es kelapa muda saja," pesan Eri.


"Oke, non. Ditunggu ya," ujar pelayan sambil mencatat pesanan.


"Oh ya, bang. Jangan lupa pakai tetelan ya?" pinta Wenie pada pelayan yang mengangguk cepat.


Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan datang, mengunyah sebungkus kerupuk udang pedas kemasan di meja yang akan dihitung sekalian membayar nanti. Tak sampai sekitar sepuluh menit kemudian bakso dan mie ayam serta minuman pun tiba.


"Iih ... Jangan banyak- banyak sambalnya, Wen. Nanti perutmu sakit," tegur Eri, terpana melihat Wenie menuang saos dan sambal cukup banyak di mangkuknya.


"Segini mah belum seberapa, Ri. Kalau ada aku pengen ngeletukin cabai rawit malah," jawab Wenie sambil nyengir.


Eri memutar bola matanya malas, "Cabai lagi mahal kelees ... Lagian kenapa sih, sama cabai kok doko banget?"


"Menyehatkan jantung tahu," ujar Wenie santai. "Coba saja, biar gak penasaran," ia mulai mengaduk bakso dalam mangkuk yang nampak menyeramkan di mata Eri karena merah menyala oleh saos dan sambal.


"Ogah, makasih," sahut Eri mengedikkan bahu. "Nanti kalau sakit perut aku sendiri yang ribet," bantahnya.


Ia lebih suka menuangkan sedikit saos dan kecap tanpa sambal ke dalam mangkuknya seperti biasa. Wenie hanya tersenyum sambil terus menikmati makanannya tanpa menghiraukan cibiran Eri.


Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Sudah bisa dipastikan tidak ada angkot yang lewat lagi. Eri mengusulkan agar ia menginap saja di kosannya yang tidak jauh dari mall, namun Wenie menolak.


Ia memilih untuk memesan ojek online saja agar segera tiba dirumah, takut ibu kos mengkhawatirkannya.


.


.


.


.


🌺🌺🌺


.


.


.


.


*doko (bahasa betawi totok) \= doyan.

__ADS_1


__ADS_2