Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Kencan Terpaksa


__ADS_3

Setelah sepuluh menit berlalu hanya keheningan yang tercipta di antara mereka bertiga, tidak ada yang mencoba bersuara.


Seakan larut dalam pikiran masing-masing, apalagi Wenie dan Eri yang masih merasa tegang sebab kejadian tadi. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah gang kompleks perumahan.


Wenie sedikit tertegun. Mas Pras kok, bisa tahu rumah Eri di sekitar sini?


Tidak menunggu lama Eri pun segera berpamitan. "Terimakasih sudah mengantar, Kak! Aku duluan ya, Wen. Sampai ketemu besok," Eri menepuk ringan bahu kanan Wenie sebelum membuka pintu mobil.


"Sama-sama," jawab Prasetyo dengan anggukan kecil, ekspresinya datar.


"Oke. Hati-hati ya, Ri," sahut Wenie dengan perasaan tidak nyaman. Ia berusaha tersenyum saat menatap temannya sebelum mobil kembali bergerak maju.


Eri melambaikan tangan di mulut gang kemudian berbalik pergi. Kamu yang harus hati-hati, Wen! begitu arti lambaiannya.


Prasetyo menyalakan musik dari audio mobil dengan volume kecil untuk mencairkan suasana, merilekskan dirinya sendiri.


Ia tidak ingin cepat-cepat mengakhiri kebersamaan ini. Kesempatan yang sudah ditunggunya sejak lama, meskipun harus melalui kejadian tidak mengenakkan seperti tadi. Ia mengalihkan pandang ke sisi jendela berusaha membuang kesalnya.


"Mas," panggil Wenie lirih.


"Hm ..."


"Kita langsung pulang saja, ya?" pinta Wenie. "Tolong anterin aku," sunyi tiada jawaban.


Sementara mobil terus melaju membelah jalanan yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan yang entah dari mana saja, saling mendahului dalam ritme kecepatan yang berbeda.


Hiruk pikuk manusia adalah pemandangan yang sudah biasa terpampang di kehidupan kota Jakarta ini. Kota metropolitan yang seolah tak pernah tidur.


Dan kini mereka sudah berada di tengah kemacetan wilayah Kota Casablanca, Kuningan. Waktu semakin larut, namun Wenie tak berani bicara apa-apa. Ia hanya melirik ponselnya sesekali dan berbalas pesan WhatsApp dengan Eri. Prasetyo tetap diam seolah tak peduli dan terus menyetir tanpa menoleh padanya.


Mobil yang berjalan agak lambat kini berbelok ke kanan, berputar arah kemudian memasuki pelataran sebuah mall.


Prasetyo menyetir mobilnya menuju parkiran yang terletak basemen, lalu memarkirkannya di bagian yang masih kosong dekat lift.


"Ayo turun. Kita makan dulu," ujarnya sambil melepas seatbelt dan melangkah keluar. Wenie menuruti dalam diam.


Setelah keluar dari mobil, Prasetyo menunggunya mendekat kemudian tanpa basa basi lagi menggandeng lengan Wenie.


Mereka berjalan menuju lift yang akan mengantar ke lantai atas dengan posisi tubuh saling menempel seperti pasangan kekasih.


Meski dalam hatinya bergetar takut tapi Wenie hanya diam dan menurut saja, ia tak mau membuat Prasetyo kembali marah disaat seperti ini. Ia khawatir nanti pria itu akan mengamuk lagi lantas menculiknya atau malah meninggalkannya di tengah jalanan yang sepi.


Sebuah skenario mengerikan terbayang di benaknya, meskipun sesungguhnya itu tidak mungkin terjadi. Tanpa sadar iapun menggelengkan kepala.


"Mikirin apa kamu?" ujar Prasetyo menyadarkan lamunannya, suaranya terdengar lebih lunak.


"Eh, gak ada," jawab Wenie tergagap, wajahnya tersipu.


"Jangan suka mengkhayal aneh-aneh," ujar Prasetyo lagi sambil tetap menggandeng tangannya.


"Mengkhayal apa sih? Gak ada kok," jawabnya lirih dengan pandangan menunduk.


Prasetyo mengulum senyum menatap gadis mungil yang berada beberapa inchi lebih pendek darinya. "Kayak aku gak tahu kamu saja," godanya.


Dada Wenie kembali berdebar dalam diam.


"Kamu mau makan apa?"


"Terserah kamu, Mas. Aku sudah kenyang," jawab Wenie.


Prasetyo tersenyum miring. "Kenyang makan apa? Makan angin ..."


"Cuma makan cemilan sih, tapi perutku sudah kenyang," ujar Wenie sambil menoleh khawatir pada Prasetyo. "Aku temani kamu saja ya, soalnya aku gak pengin makan apa-apa."


"Memangnya kamu gak lapar lagi habis ribut sama preman-preman tadi?" desis Prasetyo tidak suka.

__ADS_1


Wenie menggeleng pelan dengan tatapan getir, menggigit bibirnya.


"Aku gak percaya," kata Prasetyo acuh tak acuh.


Setelah keluar dari lift mereka terus berjalan mencari restoran yang tidak terlalu penuh. Agak mustahil memang, apalagi saat malam akhir pekan begini.


Akhirnya Prasetyo memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran Jepang dan segera memesan beberapa menu favorit di situ. Satu set menu shabu-shabu dengan teh matcha khas Jepang, juga beberapa menu penutup.


Mereka duduk dekat kaca jendela yang menjadi penyekat dengan halaman samping mall, sederet tanaman palem hias dengan arus jalanan yang ramai lancar di seberang menjadi suguhan pemandangannya. Kelap-kelip lampu mobil dan lampu jalan saling menerangi memeriahkan gelapnya malam.


Suasana terasa agak romantis. Namun tetap saja Wenie merasa kurang nyaman, ada sesuatu mengganjal di hatinya.


"Mas, aku gak lapar," gumamnya.


"Jangan sungkan ..."


Akhirnya Wenie meraih cangkir teh, agak haus juga rasanya. "Aku minum teh saja ..."


"Ku bilang makan, sayang. Aku sudah pesan porsi untuk kita berdua," ujar Prasetyo lembut namun tak bisa ditolak.


Ia kemudian sibuk mengaduk kuah kaldu shabu-shabu yang mulai mendidih dengan irisan daging sapi di dalamnya lalu memasukkan beberapa potong sayuran, mie, dan juga baso ikan, ia mencicipi rasanya sambil menambahkan sedikit bumbu.


Wenie hanya melihat saja tanpa membantu, ia memperhatikan bagaimana cekatannya Prasetyo mengambil dan mengatur setiap potong makanan dalam mangkuknya menggunakan sumpit.


Lalu perhatian Wenie teralihkan oleh getaran ponselnya, ada sebuah pesan masuk. Membacanya sekilas, pesan dari ibu kos yang mencemaskannya karena sampai jam segini ia belum pulang.


Setelah membalas pesan itu lalu ia masukkan kembali ponsel kedalam tas selempangnya.


"Siapa?"


"Ibu kos ..."


"Ibu kos?" tanya Prasetyo, berhenti mengaduk.


"Iya. Kamu sudah pernah melihatnya waktu itu 'kan ..."


"Sepupu?" giliran Wenie bingung.


"Rafael Pratama. Dia itu adik sepupuku."


"Oh," Wenie mengangguk pelan. "Lalu apa hubungan kamu sama dokter Frans, Mas?" tanya Wenie penasaran.


Prasetyo membeku sekejap. "Dia dokter yang pernah menangani istriku," jawabnya enggan.


"Istrimu sakit?" Wenie merasakan sayatan perih dalam dadanya.


Pria itu terdiam dan gesturnya sedikit menegang. "Kita duduk di sini bukan untuk membahas itu, sweetheart!" ujarnya tegas. "Makanlah dan jangan buat seleraku hilang!"


Wenie menunduk takut lalu mulai makan dalam diam. Mengunyah makanannya lambat-lambat.


"Aku harap kamu gak merusak suasana kencan kita malam ini, sayang," ujar Prasetyo kemudian. "Jangan bicarakan sesuatu yang gak ada hubungannya dengan kita."


What? Kencan mbahmu! Ini penculikan tahu, omel Wenie dalam hati namun bibirnya tak berani mengucap apa pun.


Akhirnya acara dinner nyaris tengah malam pun selesai dalam waktu setengah jam yang terasa sangat panjang.


Wenie melihat ponselnya. "Astaga! Sudah hampir jam sebelas malam sekarang, Mas."


"Lantas?"


"Ayo kita pulang. Aku sudah melewati jam malam kosan," ujar Wenie cemas.


"Kalau aku tidak mau?" ulurnya acuh.


"Mas ..." Wenie merengek pelan, Prasetyo menggeleng enggan. "Ayolah, Mas. Kamu jangan gitu, dong. Aku kan kos di rumah orang, harus ngikutin peraturannya ..." mulai mendesak gelisah.

__ADS_1


"Kita bisa pulang ke apartemenku kalau orang itu mengusirmu," gagasnya enteng.


"Gak bisa gitu, Mas!" Wenie mendelik kesal, Prasetyo tidak bergeming. "Oke. Kalau kamu gak mau nganter ... aku bisa kok, pulang naik ojek online," ia mengeluarkan ponselnya.


'Grab!'


Pras merampasnya cepat, Wenie tersentak kaget. "Siapa yang ngizinin kamu naik ojek?"


"Mas ..."


"Minta yang benar!" titah Prasetyo arogan.


Wenie menghela nafas kesal. "Mas Prasetyo El Farishi yang baik, tolong anterin aku pulang ya? Aku sudah kemalaman," ujarnya dengan nada dibuat-buat.


Prasetyo tersenyum miring mendengarnya. "Sebentar lagi, sayang. Aku belum mau momen baik ini berakhir sekarang." Ia mengamati ponsel Wenie dalam genggamannya. "Kamu mau beli ponsel baru?"


Wenie menggeleng pelan. "Gak usah, Mas. Ponselku belum rusak, kok."


Tanpa banyak bicara lagi Prasetyo segera bangkit yang secara alami Wenie pun mengikuti gerakannya.


Mereka beranjak keluar setelah pria itu membayar bill di kasir, lalu kembali menggandeng tangan Wenie agar tetap di sisinya.


Prasetyo mengajak Wenie berkeliling di dalam mall, menanyakan sesuatu yang mungkin ingin dibelinya sambil melihat-lihat beberapa counter handphone yang menarik minatnya.


Tanpa mereka sadari seseorang berada tidak jauh dari sana sedang memperhatikan gerak-gerik kedua insan itu, menatap dengan rasa penasaran sekaligus jengkel.


"Mas, kembalikan ponselku," bisiknya pada Prasetyo. Nalurinya merasakan suatu firasat tidak enak.


Tanpa curiga ia menyerahkan ponsel Wenie sambil terus berbincang dengan seorang pelayan counter, membandingkan spesifikasi beberapa ponsel dengan cermat dan memaksa Wenie untuk menjatuhkan pilihannya.


'Drrtt ...'


Sebuah pesan WhatsApp masuk tepat beberapa saat setelah ponsel berpindah tangan.


'Sudah larut malam, Nona. Sebaiknya kau pulang. Bu Rahma pasti mengkhawatirkanmu.'


Kening Wenie berkerut bingung, siapa ini? Lalu ia mengetik pesan balasan, 'Maaf, ini siapa ya? Dari mana tahu nomor saya?'


Tak lama balasan masuk, 'Saya Frans. Arah pukul dua.'


Wenie terbelalak membaca pesan itu lalu mengedarkan pandangan mencari sosok yang dimaksud. Seorang pria mengenakan neck turtle hitam nampak mengangguk penuh isyarat dari jarak tidak seberapa jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


God! Bagaimana bisa dokter ganteng itu ada di sini juga? Sial, sial, sial. Jangan-jangan mereka bakal berantem lagi nanti, tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar tak karuan. Macam orang ketahuan mencuri mangga di halaman tetangga.


'Saya tidak akan buat keributan di sini jika kau lekas pulang, Nona. Minta dia mengantarmu sampai rumah atau aku yang akan ke situ untuk membawamu pergi!' Sebuah pesan susulan bernada mengancam masuk seolah tahu isi kepalanya.


Wenie menggeleng cemas sementara Frans hanya menatapnya kaku tanpa ekspresi.


"Ada apa, sweetheart?" tanya Prasetyo heran.


"Tidak ada. Ayo kita pulang, Mas. Sudah malam," jawabnya beralasan demi menepis kegelisahannya.


Beruntung Prasetyo tidak menyadari perubahan itu. "Ya, sayang. Tunggu sebentar biar ku selesaikan dulu pembayarannya," ujarnya sambil menyerahkan kartu debit pada pelayan counter.


Lalu ia menyerahkan paper bag berisi ponsel terbaru pilihan Wenie keluaran Samsung setelah sebelumnya ia menolak memilih ponsel pabrikan Apple dengan alasan tidak mau ribet.


Wenie melangkah dengan tidak sabar. "Ayo cepat sedikit, Mas! Sudah malam banget, aku gak biasa kemalaman gini," ujar Wenie gusar.


"Iya. Ini juga lagi jalan mau pulang, sayang," jawab Prasetyo santai.


"Mas, arahnya bukan ke sana deh?" tegur Wenie tidak sabar.


"Masa?" ia tidak peduli dan terus berjalan seraya tetap menggandeng Wenie.


Wenie terpaksa mengikuti sambil merengut kesal. Aaargh ... kenapa sih kamu selalu seenaknya gini, Mas. Nyebelin banget sumpah!!

__ADS_1


Ternyata Prasetyo mengajaknya untuk berbelanja kebutuhan pokok di supermarket yang berada di lantai tiga, ia membeli banyak makanan ringan dan aneka produk olahan untuk stok camilan Wenie di kosan. Tidak lupa ia juga mengambil beberapa jenis buah-buahan impor untuk memenuhi troli belanjanya.


Setelah cukup berkeliling memilih banyak barang belanjaan dan selesai membayar di kasir barulah Prasetyo mengajaknya pulang. Sudah tidak tergambar lagi bagaimana kesalnya Wenie sekarang.


__ADS_2