
Wenie masih belum sadarkan diri dalam ruang gawat darurat, ia nampak terbaring lemah dengan selang infus yang mengalirkan cairan bening melalui pembuluh darah di punggung tangan kirinya.
Eri masuk setelah dipersilahkan oleh seorang perawat pria yang membantu mengurusnya, sementara Frans juga baru selesai mengurus administrasi dan sedang berbincang dengan dokter yang tadi menangani.
"Bagaimana hasilnya, Ram ... Apa ada sesuatu yang membahayakan?" tanya Frans segera saat dokter Ramdan keluar dari balik tirai pembatas.
"Hanya kelelahan dan kurang nutrisi, Frans. Sebentar juga siuman, aku sudah memberinya infus," jawab dokter Ramdan tenang.
"Ya Tuhan! Kurang nutrisi bagaimana maksudmu? Huh, benar-benar anak itu ..." gerutu Frans sedikit kesal.
"Sepertinya dia kurang istirahat dan belum makan, makanya bisa drop seperti itu," analisis dokter Ramdan. "Tekanan darah dan gula darahnya juga rendah sekali," imbuhnya lagi.
Frans mengangguk paham dengan penjelasan teman seprofesinya, Ramdan hanya selisih dua tahun lebih muda darinya. Pria jangkung itu nampak berwibawa dalam balutan jas kedokterannya yang berwarna putih bersih.
"Lalu, apa kau sudah meresepkan obat atau beberapa vitamin untuknya?" tanya Frans.
"Tentu, aku sudah menuliskan resepnya. Nanti kau bisa mengambilnya di apotek," ujar dokter Ramdan sambil menyerahkan sehelai kertas berisi resep obat.
"Baiklah ... terimakasih, Ram. Sekarang biar ku lihat dia dulu ke dalam," ujar Frans.
"Tunggu sebentar, Frans," dokter Ramdan menahan lengannya. "Apa kau mengenal gadis itu? Dia siapamu, hm?" tanyanya penasaran.
Frans tersenyum simpul. "Kau ini mau tahu saja ..."
"Apa dia gadis yang kamu ceritakan padaku tempo hari?" mata dokter Ramdan berbinar. "Lumayan manis juga, gimana kalau lagi senyum, ya?"
Frans tertawa renyah menanggapinya. "Kau akan tahu nanti," lalu ia pamit sekali lagi dan beranjak meninggalkan dokter Ramdan yang masih diam di tempat.
Dokter itu tersenyum heran melihat sikap Frans yang agak lain dari biasanya.
Di lingkungan kerjanya, di rumah sakit manapun pria itu pernah berdinas, Frans dikenal sebagai pribadi yang menjaga sopan santun namun selalu serius sehingga menimbulkan kesan dingin. Tapi kali ini Ramdan menemukan sisi yang baru pada diri Frans.
Di dalam ruangan terlihat Eri sedang duduk di kursi yang berada di sisi brankar, menunggu Wenie siuman dengan sabar. Ia menggenggam lengan kanan dengan rasa khawatir yang terpancar jelas dari raut wajahnya. Ia tak menyadari kedatangan Frans sampai lelaki itu berdiri di seberangnya.
"Belum sadar juga, ya?" tanya Frans pelan.
"Belum, dok. Kenapa lama banget, ya? Rasanya sudah hampir setengah jam dia pingsan ..." Eri bertanya balik.
"Kata dokter Ramdan dia kurang istirahat dan kelelahan, jadi biarlah dia istirahat dulu sekarang," jawab Frans masih dengan suara pelan. "Oh iya, bu Rahma mau datang jam berapa katanya?"
Eri melihat jam di ponselnya, "Harusnya sebentar lagi beliau datang, Dok."
Frans mengangguk mengerti, "Baiklah, tolong kamu jaga Wenie sebentar, ya. Saya mau menebus obat dulu ke apotek di ujung sana."
Eri mengiyakan saja lalu berpaling lagi sambil mengelus lengan Wenie, sementara Frans yang sudah hampir keluar pintu bergegas kembali lagi padanya.
__ADS_1
"Maaf, saya hampir lupa. Kau mau pesan apa, nona? Kalian pasti belum makan malam, kan? Biar sekalian saya belikan nanti," ucap Frans menawari.
"Ehm, tidak usah repot-repot, Dok. Nanti saya makan di rumah saja. Dokter tebus obat untuk Wenie saja dulu," tolak Eri halus.
"Jangan sungkan, kau pasti lapar. Katakan saja, jadi kau tidak perlu ke mana-mana sampai bu Rahma datang," ujar Frans sedikit memaksa.
Eri nampak berpikir sebentar. "Beneran gak ngerepotin nih, Dok?"
Frans menggeleng pasti.
"Kalau begitu aku pesan nasi goreng saja, telurnya dipisah, ya ..." ujarnya malu-malu.
"Oke, tunggulah sebentar. Kalau ada apa-apa cepat kabari saya. Kamu pegang ponsel Wenie, kan?" tanya Frans.
"Baik, Dok. Ponselnya ada di dalam tas, kok," jawab Eri seraya menepuk tas Wenie dalam pangkuannya.
Tanpa banyak kata lagi Frans pergi meninggalkan keduanya dengan langkah cepat. Ia ingin segera pergi mengambil obat sekaligus membeli makanan untuk mereka bertiga dan secepatnya kembali. Terselip rasa khawatir yang begitu menekan dalam hatinya, namun ia harus tetap bersikap tenang saat ini.
Langkahnya terhenti saat ia baru keluar dari ruang apotek, seseorang memanggilnya dari parkiran mobil. Rupanya bu Rahma baru saja sampai, ia datang bersama dua teman kos Wenie. Mereka mendekat dengan tergesa.
"Dokter Frans!" panggil Bu Rahma, wajahnya sedikit panik. "Bagaimana keadaan Wenie, Dok?"
"Bu Rahma," Frans menyalaminya dan mengangguk pada dua orang lainnya. "Dia baik- baik saja dan sekarang masih di ruang UGD"
"Belum, Bu. Jika dalam beberapa jam ke depan kesehatannya belum pulih baru akan dipindahkan ke ruang rawat inap," jelas Frans.
"Tolong tunjukkan saya ruangannya, Dok," pinta Bu Rahma.
"Mari ikuti saya ..."
Setelah melewati pintu UGD wanita paruh baya itu langsung menghambur pada Wenie, ia begitu cemas saat mendengar kabar gadis itu pingsan di jalan.
Frans meletakkan obat yang baru ditebusnya di atas meja nakas dan menemani Bu Rahma sebentar sebelum pamit pergi untuk melanjutkan tujuan semula.
Bisik-bisik di antara dua teman kos Wenie mulai terdengar saat Frans meninggalkan mereka. Keduanya kagum pada sosok dokter muda itu yang menurut mereka sangat tampan dan berkharisma.
Bu Rahma sibuk berbicara dengan Eri, sehingga ia tidak menghiraukan keseruan dua gadis itu.
Beberapa menit berikutnya mata Wenie mulai mengerjap, perlahan ia mengumpulkan kesadarannya. Ia menyesuaikan pandangan mata dengan cahaya terang lampu ruangan seraya menarik nafas letih.
"Kamu sudah sadar, sayang," ucap Bu Rahma senang, ia meremas pelan telapak tangan Wenie.
Teman-temannya segera memusatkan perhatian mereka dan bersyukur dengan kesadaran Wenie yang sudah kembali. Bergantian mereka menyapa Wenie yang masih menatap lemah, mencoba mengenali mereka satu persatu lalu mulai tersenyum kecil.
"Aku ada di mana? Rasanya kok lemas banget ..." keluh Wenie lirih, ia memicingkan mata karena silau.
__ADS_1
"Kamu ada di rumah sakit, sayang. Dokter Frans dan Eri yang membawamu ke sini," jawab bu Rahma lembut. "Istirahatlah, jangan bangun dulu," ia menahan bahu Wenie yang ingin bangkit.
Kini Wenie merasa tenggorokannya sedikit kering. "Ri, tolong beri aku minum, haus ..."
"Oh, ini ... minumlah pelan-pelan, Wen," jawab Eri sigap. Ia mengangsurkan segelas air mineral dan membimbing Wenie dengan sabar.
"Ini sudah jam berapa, Ri?" tanya Wenie saat menyudahi minumnya.
"Baru jam delapan malam, Wen. Kenapa?" sahut Eri sambil bertanya balik.
Wenie menggeleng pelan, ia masih merasakan kepalanya sedikit berputar. "Ibu sudah dari tadi di sini?" tanyanya pada bu Rahma.
"Baru saja, sayang. Untung Anastasia dan Iin sudah ada di rumah waktu Eri menelepon, jadi Ibu ada yang menemani ke sini," terang bu Rahma. Wenie mengangguk berterimakasih pada mereka semua.
Lima belas menit kemudian Frans kembali sambil membawa dua plastik berukuran sedang, yang satu berisi snack dan minuman ringan untuk bu Rahma dan teman-teman kos Wenie. Lalu yang satu lagi berisi satu boks bubur ayam komplit, sebungkus nasi Padang untuk dirinya, dan sebungkus nasi goreng pesanan Eri.
Frans merasa lega mendapati Wenie sudah sadar dan mempercepat langkahnya mendekat. Ia menyerahkan sebuah plastik yang berisi makan malam mereka pada Eri dan meletakkan yang satunya di atas ranjang agar bisa dijangkau para pembesuk yang datang.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik?" tanya Frans lembut.
Wenie mengangguk lemah. "Sudah mendingan, Mas. Cuma masih agak pusing sedikit."
"Kalau begitu kamu makan dulu, ya? Barusan ku belikan bubur ayam," ujar Frans mengambil boks bubur dari dalam kantong.
"Nanti saja, Mas. Aku belum selera," tolak Wenie serak.
"Tapi sudah seharian tadi kamu belum makan apa-apa, Wen," bantah Frans. "Kamu harus makan sekarang, tubuhmu perlu asupan nutrisi. Setelah itu minum vitamin dan obatnya agar lekas pulih," cerocos Frans, ia tidak berusaha menutupi rasa khawatirnya.
Tapi dasar Wenie, ia masih saja menolak dengan alasan yang sama. Teman-teman kos Wenie hanya saling tatap menyaksikan percakapan keduanya yang terdengar sedikit mesra di telinga mereka.
Bu Rahma dan Eri bersikap tenang seolah tidak kaget lagi, merekapun ikut membujuk Wenie agar mau makan meski sedikit saja.
Akhirnya Wenie menyerah pada bujukan Frans yang setengah mengancam bahwa ia akan dirawat di rumah sakit ini dan tak diizinkan pulang sampai benar-benar sembuh.
Wenie tak suka berada lama-lama di rumah sakit, apalagi sebagai pasien. Maka dengan terpaksa ia mau juga memakan buburnya dengan disuapi oleh ibu kos.
Namun Wenie ingin menyudahi makan saat bubur ayam baru habis setengah porsi. Tanpa memaksa lagi bu Rahma pun menyetujui dan Frans bersiap meminumkan obat dalam waktu sepuluh menit berikutnya.
Ia melayani gadis itu dengan sabar dan telaten, membuat para pembesuk merasa senang melihatnya. Wenie ada bersama orang yang tepat, begitu pikir mereka.
Setelah Wenie selesai meminum obat dan vitamin, dokter Ramdan datang mengontrol kondisinya. Menilai kesehatan pasiennya yang belum benar-benar stabil ia menyarankan agar Wenie segera pindah ke ruang rawat inap.
Mendengar itu bu Rahma menyerahkan sepenuhnya pada dokter agar memberikan yang terbaik bagi Wenie. Lalu bu Rahma dan teman-teman berpamitan pulang. Bersyukur ibu kos bersedia memberikan tumpangan untuk Eri pulang ke rumah.
Kini hanya tinggal Frans dan Wenie saja di sana. Ia menunggu untuk dipindahkan ke ruang rawat yang tersedia. Tanpa sepengetahuannya Frans berpesan pada dokter Ramdan supaya Wenie dimasukkan ke dalam ruang VIP agar ia bisa istirahat dengan nyaman.
__ADS_1