Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Ditahan


__ADS_3

Frans menatap Wenie dengan sedikit rasa bersalah sekaligus rasa puas yang meluap dari dalam hatinya. Gadis ini memiliki bibir yang manis dengan lekuk tubuh yang hangat saat dipeluk. Ia bersumpah tidak akan melepaskannya dengan mudah.


Wenie mengerjap tak percaya saat menyadari bahwa ia menikmati ketika pria ini menyergap dan menciumnya. Lalu wajahnya bersemu malu, refleks ia meronta ingin melepaskan diri.


"Kau semakin menggemaskan. Maafkan aku yang memintamu dengan paksa ..." ucap Frans lirih.


Wenie tak bisa menjawab, pikirannya terlalu kacau sekarang. Ia meminta pria itu untuk memberi jarak padanya agar ia dapat bernafas dengan benar.


"Wen, ak—"


Gadis itu mengangkat telapak tangannya ke depan tubuh meminta Frans diam. "Tinggalkan aku, Mas ..."


"Tapi, Wen ..."


"Ibu akan melihatmu di sini ..." tatapannya memohon.


"Sebentar lagi," rengek Frans setengah berbisik, ia meremas pinggul ramping Wenie.


Dada gadis itu kembali berdesir, namun ia tidak boleh gegabah. "Mas ..."


Frans mengalah. "Baiklah, baiklah ... Cepat kembali, jangan buat aku menunggu," desahnya berat.


Jantung Wenie masih berdebar keras ketika Frans melewatinya menuju wastafel untuk mencuci tangan dan menyugar rambut dengan tangan basah. Tanpa menoleh lagi pria itu segera beranjak meninggalkan dapur dengan langkah lebar.


Tepat saat Frans mendudukkan diri di sofanya semula, ibu kos masuk dengan wajah agak kurang senang seperti ada beban di sana.


"Dokter Frans, apa benar bahwa penculik Wenie akan dibebaskan jika dalam waktu dua puluh hari masa penahanan berkasnya tidak memenuhi syarat?" tanya bu Rahma gelisah.


"Benar, Bu ..." jawab Frans tenang meski di dalam hatinya bergemuruh hebat. "Ibu jangan khawatir, kita akan buat polisi tidak melepaskannya dengan mudah."


"Tapi, sa—" bantahannya terhenti ketika Wenie tiba-tiba muncul, Frans menggeleng cepat.


Gadis itu nampak tenang, tak ada perubahan berarti pada gesturnya. Ada kemungkinan ia tidak mendengar percakapan mereka barusan. Ia tetap terdiam saat menata gelas-gelas tinggi dan sebuah teko berisi sirup dengan cekatan lalu kembali ke dapur untuk menaruh nampan.


"Kita bicarakan nanti jika keadaan sudah agak tenang sedikit, Bu," ucap Frans singkat.


Bu Rahma mengangguk setuju, ia perlu menjaga situasi agar tetap kondusif. Maka ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan agar bisa mendatarkan wajah seperti semula.


"Es batunya masih ada, sayang? Kayaknya Ibu lupa belum bikin lagi ..." tanya bu Rahma mengalihkan pembicaraan saat Wenie kembali dan duduk di sisinya.


"Ada kok, Bu. Cukup untuk satu teko ini," jawab Wenie. "Aku juga sudah isi airnya sekalian, jadi besok sudah beku," imbuhnya lagi.


"Terimakasih, sayang ... Kamu memang cepat tanggap melihat sesuatu," puji bu Rahma senang.


Wenie hanya tersenyum kecil lalu tak sengaja menangkap basah Frans tengah memandangnya dengan tatapan tak terbaca. Refleks ia menunduk menghindari kontak mata agar ibu kos tidak menyadari rasa kikuknya.


"Oh, ya sayang ... kemarin pak Herman, menelepon Ibu untuk menanyakan kabarmu," ujar bu Rahma.


"Terus Ibu bilang apa?" wajahnya penasaran, begitu juga Frans.


"Ya, Ibu katakan bahwa kamu masih perlu beberapa hari lagi untuk beristirahat."


"Memangnya Ibu bilang aku ini sedang sakit?"


"Lalu, maksudmu Ibu harus bilang sama bosmu, bahwa kamu hilang di culik si brengsek itu. Begitu?" suara bu Rahma nyaris naik satu oktaf mendengar pertanyaan bodohnya.


Seketika wajah Wenie bersemu malu karena merasa bodoh. "Eh, maaf deh, Bu ... aku kan, cuma tanya?"


"Kamu ini ... seharusnya kamu tahu, Ibu bilang begitu juga untuk kebaikanmu," bu Rahma sudah melunak lagi.


Seketika wajah Wenie berubah agak cerah. "Iya, Bu. Terimakasih banyak ... Ibu memang paling baik," spontan memeluk bu Rahma.


Sang ibu kos pun membalas pelukan anak asuhnya dengan hangat. Frans tersenyum senang melihatnya, terlebih ia semakin gemas dengan keceriaan gadis itu. Kemudian perhatian mereka teralih saat mendengar ponsel dokter tampan itu berdering.


"Ehm, sebentar ya, Bu. Saya terima telepon dulu ..." Frans memberi gestur meminta izin yang segera diangguki bu Rahma.

__ADS_1


"Silahkan, Dok," jawab pemilik rumah. "Eh, Wen. Menurutmu gimana dokter itu?" bisik bu Rahma setelah Frans keluar untuk menerima telepon.


Wajah Wenie agak menegang, ia bingung mau menjawab apa. "Gimana apanya, Bu?" akhirnya malah balik bertanya.


"Iish, kamu ini ..." bu Rahma gemas.


"Yang jelas, dong ... maksud Ibu gimana apanya?"


"Ya, maksud Ibu, dia baik gak sama kamu?"


Wenie bernafas lega. "Oh, dokter Frans baik kok, Bu. Baik banget malah, Wenie gak enak hati jadinya ..." jawabnya lirih.


Bu Rahma tersenyum ambigu. "Tapi dia gak berani macam-macam sama kamu, kan?"


Astaga, tolong jangan tanyakan itu, Bu. Pasti ini kan, pertanyaan sebenarnya ... Wenie menggeleng kaku.


"Kamu tidak tidur sekamar dengannya kan, semalam?"


"Itu, itu ..."


Aduh, ya ampun. Ini aku lagi diinterogasi ya ... aku harus jawab apa?


"Kamu yakin tidak terjadi apa-apa? Ayo, bilang sama Ibu ..." desaknya sambil berbisik.


Wenie baru akan menjawab ketika Frans melangkah masuk dengan agak tergesa. "Bu Rahma, sepertinya saya harus pergi sekarang. Asisten saya di rumah sakit menelepon bahwa ada pasien mendesak yang harus saya tangani," ujarnya sopan.


Ibu kos nampak agak sedikit kecewa. "Ah, begitu ... baiklah, saya mengerti. Terimakasih banyak Dokter Frans sudah mengantarkan Wenie dengan selamat."


"Tentu, tidak masalah. Saya senang melakukannya," jawab Frans dengan senyum manis. "Wen, aku pergi dulu. Istirahatlah dengan baik, nanti aku akan meneleponmu jika urusanku sudah selesai."


Wenie mengangguk pelan. "Baik, Mas. Terimakasih ba—"


"Apa pun untukmu, Wen ..." potong Frans cepat, ia tidak ingin gadisnya sesungkan itu.


Bu Rahma tersenyum simpul. "Sebaiknya kamu antar dulu Dokter Frans sampai ke depan, Wen. Ibu akan tunggu di sini."


Tanpa basa-basi lagi Frans segera menggandeng tangan Wenie lalu berpamitan pada ibu kos.


"Mas ..."


"Hm?"


"Mas ..." Wenie menahan langkahnya sehingga Frans ikut berhenti sebelum mencapai pagar.


"Ada apa?"


Wenie berbisik ragu. "Tadi Ibu tanya soal ..."


"Aku sudah dengar. Jawablah sebagaimana adanya," ujar Frans tenang. "Kau tidak takut, bukan?"


"Eh, tapi ..."


"Kita tidak melakukan apa-apa. Setidaknya belum," Frans mengerling penuh isyarat.


"Iish ... apaan sih, Mas!" Wenie memukul pelan lengan kekar pria itu. "Jangan bicara macam-macam ... nanti kalau ibu dengar kan, gak enak," ia memanyunkan bibir.


Frans tersenyum lebar. "Memangnya kenapa? Lagipula orang pasti tidak akan mudah percaya begitu saja kan ..."


"Apanya?"


"Dua orang dewasa berlainan jenis dalam satu kamar, kira-kira apa yang mereka pikirkan?" Frans menahan senyum jahil.


Wenie memutar bola mata malas. "Itulah yang aku khawatirkan ..."


Dokter tampan itu mengelus kepala Wenie. "Katakan saja apa adanya bahwa kita hanya tidur. Tidak lebih."

__ADS_1


"Apa orang-orang akan percaya?" ia mengembalikan pertanyaan pria ini tadi.


"Mereka mau percaya atau tidak bukan urusan kita," jawab Frans bijak, suaranya tenang. "Yang tahu kebenarannya hanya kita berdua."


"Benar juga sih ..."


"Yah, meskipun sebenarnya semalam aku nyaris benar-benar memakanmu ..." Frans berkata sambil membuang pandang ke mana saja, menahan tawa yang hampir meledak dari bibirnya.


"Mas ini ..." Wenie spontan mencubit pinggang pria itu.


"Aaw, sakit .." Frans meringis manja.


"Jangan pernah berkata begitu, aku gak mau orang salah paham sama kita," ujar Wenie lirih, wajahnya agak sendu.


"Maaf. Tapi itu memang benar," ujar Frans dalam senyuman. "Baiklah, aku pamit dulu nona manis. Istirahatlah, nanti ku telepon," ujarnya sebelum pergi.


Wenie mengangkat pandangan dan tersenyum tipis mendengar janji yang sama untuk ke sekian kalinya. "Iya, Mas."


Frans berbisik di telinga Wenie. "Aku akan selalu merindukanmu," gadis itu tak mampu menjawab, namun telinganya sedikit memerah.


🌷🌷🌷


"Sialan! Kau harus membayar mahal untuk semua ini, Frans!" raungan marah menggema dalam sel sempit yang mengurung dirinya.


"Tenangkan dirimu, Bos. Pasti kita bisa keluar dari sini dengan selamat. Iya, kan ..." ujar seorang body guard Pras dari seberang sel pada teman lainnya.


"Entahlah."


Belum lagi sang body guard menyahut datang seorang polisi menghampiri sel Pras dan membuka gemboknya dengan cekatan.


"Anda mendapatkan kunjungan, Pak. Mari keluar bersama saya," ujar petugas tersebut.


"Siapa?"


"Pak Rafael Pratama, sepupu Bapak. Mari ..."


Ah, cepat juga kau datang, Fael. Awas saja jika kau tidak mampu menyelesaikan kebebasanku dengan baik. Aku tidak akan memaafkanmu. Aku tidak mau jadi pesakitan di sini ... batin Pras geram.


Setelah melewati beberapa ruang tahanan sementara akhirnya mereka tiba di ruang kunjungan yang di sana sudah menunggu sang adik sepupu. Ia tidak melihat istrinya jadi Pras tidak perlu berbasa-basi dengan wanita glamor itu.


Dengan nafas berat Pras menghenyakkan bokong di kursi di seberang Rafael.


"Jam kunjungan anda hanya tiga puluh menit dari sekarang," ujar petugas pada keduanya.


"Baik, terimakasih," jawab Rafael cepat. Petugas mengangguk dan segera pergi.


Pras masih terdiam, auranya tetap menyengat tajam meskipun wajahnya nyaris penuh lebam akibat perkelahian kemarin. Ia menatap adik sepupunya dengan malas.


"Apa kabarmu, Kak?" akhirnya Rafael membuka suara duluan.


"Cih ..." Pras mlengos seolah tak butuh. "Tak usah basa-basi. Katakan, apa kau sudah menyiapkan uang jaminan agar aku bisa keluar dari sini?"


"Aku sudah mengurusnya. Tunggulah sampai besok, mereka akan mengeluarkanmu sesegera mungkin," jawab Rafael tenang.


"Lalu, bagaimana dengan anak buahku?"


"Mereka bukan tanggung jawabku, Kak. Biarkan hukum mengurusnya."


Pras mendelik tajam. "Jika mereka tidak ikut dibebaskan, kelak mereka akan menyusahkanku! Akan ada keluarganya yang menuntut keadilan."


Rafael tersenyum penuh ironi. Ck, sudah terjepit sedemikian masih pula sempat memikirkan nasib orang lain. Kau ini benar-benar ...


"Kau tenang saja, Kak. Kita akan memberikan mereka pengacara terbaik agar dapat membela diri dari hukuman berat karena membantu kejahatanmu ..." ucap Rafael tanpa emosi.


Pras tersenyum miring. "Baiklah. Aku mengandalkanmu, Fael ..." akhirnya Pras menyebutkan namanya. Rafael tersenyum tipis.

__ADS_1


Jika bukan karena kau kakak sepupuku dan bisnis keluarga kita, takkan sudi juga aku kemari ... akan lebih baik kau mendekam di sini agar semua aman seperti sedia kala.


__ADS_2