Teratai Yang Mekar

Teratai Yang Mekar
Dijemput Sang Dokter Tampan


__ADS_3

Pagi ini Wenie terbangun dengan wajah kuyu karena kurang tidur, padahal sekarang sudah pukul enam tiga puluh, sangat terlambat dari biasanya.


Setelah melamun sejenak untuk mengumpulkan kesadaran, akhirnya ia bangkit juga dari ranjang meski hatinya enggan untuk melepaskan pelukan bantal gulingnya yang hangat.


Hatinya diselimuti kegelisahan, harus bagaimana ia menghadapi ibu kosnya setelah kejadian semalam. Rasanya ia membutuhkan topeng ksatria baja hitam saat ini juga, demi menutupi malu di wajahnya. Tukang mainan mana tukang mainan??


Setelah mandi dan berganti pakaian ia memutuskan untuk turun, ia merasa tak ada gunanya berlama-lama mengulur waktu.


Toh nanti akan bertemu juga dengan sang nyonya rumah, begitu pikirnya.


Namun begitu sampai dilantai bawah ia celingukan sambil keheranan, sepi. Tiada siapapun ditemuinya, seharusnya ini kan waktunya sarapan? Ia mematung sesaat ketika sampai di dapur, lengang seperti tak ada tanda kehidupan di sana.


Lalu ia melangkah ke meja makan, membuka tudung saji dan menemukan secarik kertas pesan beserta dua bungkus penuh roti gandum, aneka selai, dan juga beberapa roti manis siap makan.


Ia baru ingat, hari Minggu pagi adalah jadwalnya bu Rahma senam jantung bersama ibu-ibu kompleks tempat tinggalnya. Pantas saja suasana begitu sunyi.


Ada sedikit rasa lega sekaligus aneh terselip dalam hatinya. Rasanya kosong dan menyesakkan, mungkinkah itu kecewa?


Tapi kecewa karena apa, ia sedikit ragu. Ia berusaha menepis dugaan buruk tentang ibu kos yang sedang menghindarinya karena masih kesal.


"Wen ..." Iin memanggilnya dari tangga, ia baru turun juga rupanya. "Kamu lagi ngapain disitu? Sudah sarapan?"


"Eh belum, In ... kamu baru bangun, ya? Hari ini berangkat kerja gak?" tanya Wenie balik.


Iin mendekat lalu mengambil dua helai roti setelah melihat isi meja, bermaksud mengolesnya dengan mentega dan meises.


"Aku lagi dapat shift sore, Wen," jawab Iin, menuju kompor lalu memanaskan teflon untuk memanggang rotinya. "Cuma ini doang ya, yang disiapin bu Rahma?"


"Iya. Kayaknya Ibu pergi senam pagi-pagi deh, beliau ninggalin catatan nih," sahut Wenie sambil mengulurkan secarik memo.


Iin hanya melirik sekilas. Seolah ia sudah tahu, paling isinya hanya permintaan maaf untuk menu sarapan pagi ini dan pesan agar setiap anak kos menjaga kebersihan setelah menggunakan dapur atau meja makan.


Wenie mendudukkan dirinya di seberang Iin, mengoles sehelai roti dengan selai cokelat tanpa berselera.


"Kenapa sih, wajahmu kok gitu banget. Bikin aku gak ***** makan saja," canda Iin.


"Eh iya maaf, In ... lagi gak enak hati saja," jawab Wenie sambil mengunyah rotinya.


"Kenapa ... soal semalam?" sambar Iin antusias. Wenie terkejut sesaat, lalu mendatarkan wajah kembali.


"Memangnya kamu tahu? Ku kira kamu sudah tidur jam segitu ...."


"Haha ... ya belumlah. Aku saja baru pulang jam sebelas kurang sedikit. Mana bisa langsung tidur?"


"Hah? Seriusan ... terus bu Rahma ngomelin kamu gak?"


"Ya enggaklah. Lagian kan aku pulangnya bareng sama yang lain juga."


"Masa ... sama siapa?"


"Eva dan Winona," jawab Iin. "Tapi sudah chat Ibu dulu pastinya, kalau gak bisa repot nanti dikunciin pintu." Wenie mengangguk-angguk, lalu hening beberapa detik.


"Jadi, siapa cowok ganteng yang semalam nganterin kamu pulang naik mobil? Kenalin dong," Iin mulai penasaran.


Wenie tersedak lalu tertawa, " Aduh kamu, In. Gak boleh banget lihat cowok kelimis sedikit."


"Ayolah, bagi-bagi kenapa sih? Masa ngenalin saja gak mau. Kamu gak kasihan sama aku yang masih jomblo ini," ujar Iin sok memelas. "Eh, jangan bilang dia itu pacar kamu?!" lanjutnya tersadar.


"Oh, bukan, bukan ..." Wenie tergagap.


"Haha ... baguslah kalau begitu. Boleh ya kenalan. Ya, ya, ya?"


"Mm ... iya. Kapan-kapan deh, aku kenalin ya. Sekarang aku berangkat dulu," putus Wenie seraya menghabiskan rotinya. Iin mengulum senyum jahilnya, merasa senang.


Dasar Iin, sudah punya dua pacar saja masih berani menyebut dirinya jomblo. Aduh, benar-benar gak habis pikir jadinya.


Disaat seseorang susah payah untuk setia memegang satu cintanya, ternyata seorang yang lain bisa dengan mudahnya menikmati hidup menjalani hubungan dengan lebih dari satu orang sekaligus.


Wenie hanya bisa menggeleng heran pada teman kosnya yang satu ini. Benar-benar berani, salut empat jempol sekalian.


.


.


.


.


🌷🌷🌷


.


.

__ADS_1


.


.


Wenie tiba di toko tempatnya bekerja hampir pukul sembilan. Sudah jadi peraturan umum bahwa hari Minggu seperti ini para karyawan boleh datang agak siang dan membuka toko dengan santai, karena seharusnya ini hari libur se-Indonesia.


Eri sudah sampai terlebih dulu dari yang lain seperti biasanya. Ia membuka toko dan mulai merapikan gantungan pakaian, sampai Wenie akhirnya tiba sepuluh menit belakangan.


Wenie merasa agak bersalah, kemudian ia bergegas merapikan bagian toko yang lain, lalu menyapu, dan mengepel seluruh lantai ruangan sebelum bos besar keburu datang. Ia menghela nafas puas saat selesai, kemudian membenahi peralatan kebersihan di sudut.


"Kamu baik-baik saja, Wen?" tanya Eri. Ia agak terganggu dengan diamnya Wenie sedari tadi. "Weniee ...!"


Gadis itu terlonjak kaget. "Astaga ... ada apa, Ri? Bikin kaget saja ...."


"Ku tanya, kamu baik-baik saja?" ulang Eri gemas.


"Aa ... aku baik-baik saja, kok. Ada yang aneh ya?" Wenie tergagap.


"Iiish ... gak usah pura-pura. Coba bilang sama aku, semalam kamu pulang jam berapa ke rumah?"


"Aku —"


"Hayo, kamu gak ngapa-ngapain kan sama dia? Siapa namanya? Kurasa dia agak mencurigakan," desak Eri.


"Gak kok, aku gak ngapa-ngapain. Semalam aku langsung pulang ke rumah," elak Wenie.


"Yakin?" Wenie mengangguk cepat. "Tapi kok bu Rahma chat aku terus ya, Wen ...." Eri nampak sok berpikir.


"Mm, itu ...." Wenie mati kutu, ketahuan bohong. Kemudian ia memasang wajah nyengir kuda, lalu beralih ke sudut yang lain untuk menghindari Eri.


Eri hanya geleng-geleng.


Wenie beruntung hari ini toko sangat ramai pengunjung jadi Eri tidak sempat menanyakan lagi perihal kejadian semalam. Apalagi Uda Herman juga turut serta membantu melayani pembeli, membuat keduanya tak leluasa mencuri waktu untuk mengobrol.


Wenie senang hari ini berjalan lancar tanpa insiden apapun. Tidak ada chat WhatsApp ataupun telepon yang mengganggu. Juga tidak ada pengiriman makanan dari restoran fastfood atas nama Pras seperti hari-hari kemarin. Wenie merasa baik-baik saja mengetahui itu, ia masa bodoh dan tak mau ambil pusing.


Wenie dan Eri baru bisa meregangkan badan saat hari mulai malam, sudah saatnya menutup toko. Sang bos sedang duduk di bangku tunggu di luar toko, menikmati rokok sambil bermain game online di ponselnya ditemani secangkir kopi sore pesanan dari kantin mall.


"Wow, nikmatnya hidup ...." canda Wenie. Bosnya menoleh sekilas dan tertawa kecil, kembali menyimak ponselnya.


"Sudah cepetan nutup! Mau pulang gak? Gak usah capek-capek komentarin hidup bosmu ini .... Nanti uang transpor kalian gak saya ganti lho, mau?" balas si bos jahil.


"Eh, eh ... jangan, dong! Yaelah ... gitu saja ngambek," sergah Wenie cepat.


"Kalau sekarang gak dapat uang transpor, besok kita demo si bos yuk, Ri. Biar buka toko sendirian baru tau rasa ..."


"Ayo, boleh ..."


"Oh masa? Coba saja kalau kalian berani ..."


"Haha ... ya enggaklah, bos! Bercanda iih..." seru Wenie.


"Tau nih serius banget! Jangan gampang sewot ... ntar cepet stroke lho, bos."


"Siaul ... kamu nyumpahin?"


Merekapun tertawa renyah diselingi ledekan-ledekan kecil. Begitulah sikap mereka jika sudah di luar jam kerja, santai dan akrab.


Lalu mereka membubarkan diri setelah mengunci rollingdoor dan dua orang karyawan itu menerima uang transpor harian dari sang bos.


Wenie dan Eri berjalan beriringan sambil bercakap-cakap. Biasanya mereka membutuhkan waktu sekitar lima belas menit berjalan kaki untuk sampai di depan gang perumahan tempat tinggal Eri, sebelum akhirnya Wenie melanjutkan dengan sekali naik angkot untuk pulang ke kosannya.


Namun kali ini Wenie merasa ingin lekas pulang, lantas ia mempercepat langkah kakinya yang mana membuat Eri protes.


"Pelan-pelan sih, Wen. Aku masih capek nih ..."


"Eh, iya maaf, Ri. Aku pengen cepat sampai rumah, buruan yuk ..."


"Kenapa?"


"Gak apa-apa. Cuman capek saja, pengen buru-buru rebahan di kasur rasanya."


"Kita gak makan bakso dulu di tempat langganan?"


"Hmm ... aku mau makan di rumah saja, Ri. Ngirit."


"Haaeh ... ngirit apaan? Tumben banget pengen ngirit segala, biasanya juga ngabisin uang transpor dulu baru pulang," ledek Eri.


Wenie hanya mesem-mesem tanpa menjawab. Eri benar, ia bukan tipe gadis yang gemar menabung. Irit bukanlah sifatnya, maka dari itu meski Eri terang-terangan mengoloknya, tapi ia diam saja karena tidak ingin berdebat.


Namun tiba-tiba matanya terpaku pada sesosok pria tinggi tegap di parkiran klinik 24 jam yang ada di seberang jalan saat mereka baru saja keluar halaman mall yang masih ramai pengunjung.


Orang itu bersandar pada kap mesin mobil CRV abu-abu gelap sambil menatap ke gerbang mall, seolah sedang menunggunya keluar. Tangannya tampak memegang ponsel.

__ADS_1


'Akhirnya ku temukan, your my guardian angel..


Kumohon selamanya, seindah ini..


Baby , I love you..'


Ponsel Wenie berdering melantunkan sebuah lagu, ada panggilan masuk. Otomatis ia merogoh saku jeansnya dengan cepat dan hendak mengangkat telepon. Frans!


"Halo, dokter ..."


"Halo ... kemarilah, nona. Kau sudah melihatku kan," sapa Frans di telepon sambil melambaikan tangan sekilas.


Eri mengikuti arah tatapan Wenie, lalu terpana. Apalagi sekarang? Siapa dia? Pikir Eri penasaran. Namun ia tetap diam menunggu reaksi Wenie yang masih menerima panggilan. Temannya itu nampak mengangguk dan berbicara dengan pelan.


"Ayo ikut aku, Ri" ujar Wenie seraya menggamit lengan Eri.


"Siapa itu, Wen?"


"Nanti aku kenalin." Merekapun menyeberang jalan sesaat kemudian, menuju seseorang yang menunggu di sana.


"Selamat malam, dok," Wenie mengulurkan tangan.


"Malam," jawab Frans, menjabat tangan Wenie. "Sudah kubilang, kamu gak usah panggil saya dokter," lanjutnya sambil tersenyum manis.


Wenie hanya nyengir saja, "Apa kabar?"


"Saya baik."


"Syukurlah. Oh ya, kenalkan ini teman saya Eri. Dan Eri, ini dokter Frans ..."


"Oh, jadi ini dokter ganteng yang waktu itu kamu ceritain ya, Wen?" Eri lekas menyambar tangan Frans.


"Ssstt ... apaan sih kamu, Ri," Wenie langsung membekap mulut Eri sebelum ocehannya berlanjut.


Dahi Frans agak mengerut heran, namun ia akhirnya hanya tersenyum melihat dua gadis di depannya saling bekap.


"Ehem ... Maaf, kalau saya datang tiba-tiba tanpa mengabari kamu dulu," ucap Frans menengahi Wenie dan Eri yang sekarang jadi salah tingkah.


"Oh, ya. Tidak apa-apa —" Wenie menjawab ragu.


"Frans. Panggil Frans saja," jawabnya cepat. Suaranya cukup merdu seolah membelai telinga kedua gadis yang kini melongo.


"Ah ... ku rasa gak pantas begitu. Usia kita sepertinya berbeda jauh ...." sahut Wenie kemudian.


"Iya, betul. Apalagi dokter sudah keliatan dewasa, keren lagi. Uuuh ...." puji Eri sambil cengar-cengir macam lihat Ji Changwook mendarat dari busway.


Frans tertawa renyah mendengarnya, "Ah, kalian ini. Ayo, cepat masuk. Saya antar kalian pulang sekarang."


"Eh, aku gak ikut ya. Rumahku sudah dekat kok. Tinggal lurus saja ke sana sedikit," sela Eri cepat seraya menunjuk arah yang dimaksud.


"Tapi, Ri ...."


"Gak apa-apa, biar saya antar sekalian ...."


"Gak perlu. Sudah ya, aku pulang duluan. Kalian hati-hati di jalan. Bye," pamit Eri dan segera berlalu.


Wenie menggeleng gemas menatap Eri yang menjauh. Ingin sekali ia mencubit teman kerjanya itu. Frans sekali lagi hanya mengulum senyum melihat hal itu sambil membukakan pintu depan penumpang.


"Mari, nona ..."


"Ah, panggil saja Wenie, dok ..."


"Kamu mau mulai lagi?" Frans bergumam dalam senyumnya. Wenie hanya balas tersenyum malu. Makin salting kan.


Setelah Wenie masuk dan memasang seatbelt dengan aman, Frans segera melajukan mobilnya dengan halus. Mereka terdiam sampai beberapa menit kemudian, lalu ponsel Frans bergetar karena ada sebuah panggilan masuk dan ia segera mengangkatnya menggunakan earphone.


"Halo, Bu Rahma ...." sapanya, Wenie menegang seketika.


Frans menjawab telepon sambil tetap fokus menyetir, nampak sesekali mengiyakan dan tertawa pelan. Ia berbincang santai seolah tiada siapa-siapa disini selama dua menit berikutnya.


"Baik. Terimakasih, Bu. Selamat malam," ujarnya mengakhiri telepon.


"Maaf, dok. Apa benar tadi Bu Rahma yang menelepon?" tanya Wenie ragu.


"Seperti yang kamu dengar," jawab Frans kalem. "Oh ya, tolong panggil saya senyaman kamu, bisa? Supaya kita bisa berteman baik ..."


"Berteman baik?," Wenie memastikan pendengarannya.


"Iya. Boleh kan?" senyum kembali terulas di bibir dokter muda yang tampan itu.


Wenie pun tersenyum grogi, ada sedikit rasa senang dan kaget sekaligus terselip dalam hatinya. Ia menggigit bibirnya lalu membuang pandang keluar jendela demi menetralkan debar di dadanya.


Apa Bu Rahma yang meminta dokter Frans jemput aku ya? Apa beliau sudah gak marah sama aku? Ada apa sih sebenarnya ... kok tiba-tiba saja dokter ganteng ini nongol, kenal juga belum. Semoga saja gak akan ada kejadian apa-apa lagi habis ini. Aduuh, aku harus gimana coba ... grogi kan jadinya. Jujur, aku jadi gak nyaman kalau gini. Ibuuu, aku rindu padamu..

__ADS_1


__ADS_2